Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 106. WEDDING day 2.


__ADS_3

Dan pada akhirnya, kedua orang yang saling mencintai itu mengucapkan janji suci pernikahan mereka.


" Saya Justin Xander Edward, mengambil engkau Qin Lian Nehemia, menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus." Ujar Justin dengan lantang.


Dan Qilin pun mengucap sumpah yang sama pada Justin di hadapan Pendeta. Dan setelah mengucap janji pernikahan, Justin pun menyematkan cincin pernikahan yang dia desain sendiri di jari manis Qilin.


" Aku mencintaimu, sayang." Ujar Justin, dan mencium Qilin dengan penuh rasa haru dan bahagia.


Semua orang bertepuk tangan dengan meriah melihat momen bahagia Justin dan Qilin. Apalagi saat mereka berciuman, cahaya matahari yang mendukung suasana sore itu bersinar dengan indahnya.


" Aku mencintaimu." Ujar Justin berkali - kali.


" Aku juga." Ujar Qilin.


Dan acara pun di lanjutkan dengan doa doa dan yang lainnya, hingga akhirnya malam itu menjadi malam pesta pernikahan yang begitu megah dan meriah.


" Selamat untuk pernikahan kalian berdua." Ujar Dustin menghampiri Justin dan Qilin.


" Terimakasih, Dustin." Ujar Qilin tersenyum dengan manis.


" Ini kado dariku, semoga kalian suka." Ujar Dustin dengan senyumannya dan memberikan sebuah kotak kecil.


" Astaga, terimakasih." Ujar Qilin lagi.


Justin memeluk adiknya itu, entah mengapa dia merasa Dustin sedang sangat bersedih saat ini. Tapi dia mengira kesedihan Dustin adalah karena kekasih Dustin yang berada di luar negeri.


" Aku pamit, kak." Ujar Dustin.


" Kau mau pergi sekarang?" Tanya Justin terkejut.


" Hm.. dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Ujar Dustin.


" Apa kamu yakin tidak butuh bantuan kakak?" Tanya Justin, dan Dustin menggeleng.


" Aku bisa menanganinya, jangan khawatirkan aku. Aku pergi.." Ujar Dustin lagi, dan Justin mengangguk.


" Ada apa dengan Dustin?" Tanya Qilin.


" Nanti akan aku ceritakan, sekarang kita nikmati dulu pestanya." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.


Sementara Dustin, dia menghampiri Sierra dan Arthur yang saat ini sedang mengobrol dengan Sahara dan Cornelius.


" Mom, dad.." Ujar Dustin, dan Sierra langsung mengangguk mengerti.


" Sebentar ya Mi." Ujar Sierra pada Sahara, dan Sahara mengangguk.


Sierra pergi bersama Dustin, dan kemudian tak lama Arthur pun menyusul mereka. Dan kini mereka bertiga berada di kamar hotel Dustin.

__ADS_1


" Aku pergi, mom." Ujar Dustin.


Sierra lengsung menangis dan memeluk Dustin, Dustin pun mengusap usap punggung Sierra dengan sayang.


" Apa harus hari ini, nak?" Ujar Ujar Arthur.


" Hatiku.. sakit dad. Jika aku lebih cepat pergi dari sini, maka aku tidak akan melihatnya lagi. Aku akan lebih mudah melupakannya." Ujar Dustin.


Arthur memgangguk mengerti, bagaimanapun rasa itu adalah rasa yang salah, yang tidak boleh tumbuh.


" Baiklah.. Jika sudsh berhasil melupakannya, pulanglah lagi kemari. Mommy dan daddy akan sering mengunjungi kamu ke sana." Ujar Arthur.


" Iya, dad." ujar Dustin.


" Hati - hati sayang." Ujar Sierra, dan menghapus air matanya.


" Iya, mom.. Dustin sayang kalian semua. " Ujar Dustin.


Dan akhirnya, setelah berpamitan dengan singkat, Dustin pun pergi dari hotel itu. Tidak ada yang curiga dengan kepergian Dustin, karena Dustin lewat jalur belakang.


Sebelum benar benar menghilang, Dustin berbalik menatap ke arah Qilin yang saat ini sedang tersenyum sangat manis pada tamu yang memberinya ucapan selamat.


' Qilin.. mengenalmu, membuatku mengerti bahwa aku juga bisa merasakan jatuh cinta, sayangnya rasa cintaku ini salah. Aku tidak menyalahkan takdir, juga tidak menyalahkan Tuhan yang mempertemukan kita dengan cara seperti ini..' Batin Dustin.


' Kamu adalah cinta pertama sekaligus ujian terberat bagiku. Jika ada kehidupan selanjutnya, aku akan berdoa pada Tuhan, agar aku bisa memilikimu. ' Batin Dustin lagi.


' Untuk sekarang, aku akan melupakan rasa cintaku padamu.. demi kebaikan semua orang. Selamat tinggal, cinta pertamaku.' Batin Dustin, lalu berbalik badan dan pergi dengan tersenyum.


Tapi Justin pun demikian, akhirnya mereka hanya saling memeluk sembari berdansa.


" Istriku.." Bisik Justin di telinga Qilin, dan itu membuat Qilin menjadi merona.


Ya, sekarang mereka sudah menjadi sepasang suami istri yang sah. Status Qilin saat ini sudah menjadi istri seorang Justin Xander Edward.


" Kenapa kamu hanya diam, hum?" Bisik Justin.


" Aku harus bilang apa?" Ujar Qilin.


" Panggil aku, suamimu." Bisik Justin, dan Qilin kembali merona.


Justin suka melihat Qilin yang menjadi merona begitu, terlihat begitu menggemaskan.


" Malu." Ujar Qilin.


" Ya sudah, nanti saja saat kita hanya berdua." Ujar Justin.


Sierra dan Arthur yang melihat sepasang suami istri baru itu pun ikut bahagia.

__ADS_1


" Mereka adalah pasangan yang sangat romantis, benar bukan, nyonya Edward?" Ujar Dewi.


" Benar nyonya Khan, aku tidak sabar melihat mereka versi mini." Ujar Sierra dengan antusias, dan Dewi terkekeh.


" Wah, Ar.. kau sudah memiliki menantu lebih dulu dari pada aku." Ujar Sammy.


" Hm, siapa yang menyangka itu." Ujar Arthur.


" Aku jadi ingat dengan pernikahanmu dengan Sierra dulu, sama sama di Bali dan sama - sama mengharukan." Ujar Sammy lagi.


" Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, bukan?" Ujar Malvin.


" Ngomong - ngomong kapan kau akan pensium menjadi bawahan Arthur, huh? Kau tidak bosan dengan dia dari kecil sampai tua?" Ujar Sammy.


" Mana ada dia bawahanku, dia adalah keluargaku, adikku." Ujar Arthur.


" Aku juga tidak bekerja, aku bertahan dengan Arthur karena hanya padanya aku memiliki rumah." Ujar Malvin.


" Istrimu tidak di anggap." Ujar Tobias.


" Tentu saja di anggap, hanya saja.. terlalu banyak hal indah, pahit manis semuanya sudah aku lalui dengan Arthur." Ujar Malvin.


" Jangan menceramahinya, dia adalah kepala batu." Ujar Sammy sambil terkekeh.


" Kita seperti reuni di pernikahan Justin." Ujar Malvin, dan semua terkekeh.


Hingga akhirnya acara pernikahan yang begitu meriah itu pun berakhir, semua tamu pun sudah pulang, tapi ada beberapa yang masih menginap di hotel itu.


Justin dan Qilin pun kini sudah kembali ke kamar, kamar yang sebelumnya di tempati oleh Qilin.


Tapi saat membuka pintu, baik Qilin maupun Justin terkejut dengan pemandangan kamar itu. Semua yang terpasang di sana serba putih, kecuali bunganya yang berwarna merah.


Kamar itu sudah di hias menjadi kamar pengantin dengan sedemikian rupa, kain putih yang menjuntai indah, hiasan lilin romantis, bunga bunga yang di tata dan di sebar di lantai, begitu membuat ruangan sangat romantis.


" Apa aku salah masuk kamar? Sepertinya kamarku bukan seperti ini." Ujar Qilin dan berjalan keluar melihat nomor kamar nya.


" Tapi nomornya benar." Gumam Qilin.


Justin menutup mulutnya menahan tawa, Qilin belum menyadari bahwa itu kamar pengantin mereka.


" Aku akan bertanya dulu pada mama." Ujar Qilin hendak berjalan pergi, tapi Justin mencekal tangan Qilin dan langsung mengangkat Qilin.


" Justin." Ujar Qilin karena terkejut, dan reflek mengalungkan tangannya di leher Justin.


Justin membawa Qilin masuk dan menutup pintu kamar itu dengan kaki, gaun panjang Qilin bahkan masih menjuntai di lantai dan terseret saat Justin berjalan membawa Qilin menuju ranjang.


" Justin, sepertinya kita salah kamar, aku ingat kamarku bukan seperti ini." Ujar Qilin.

__ADS_1


" Ini kamar pengantin kita, sayang." Ujar Justin dan seketika Qilin terdiam karena terkejut.


TO BE CONTINUED...


__ADS_2