
Sore harinya setelah Qilin bangun, Justin pun meminta chef di rumahnya untuk membuatkan makan siang untuk Qilin, rupanya Qilin tertidur cukup lama hingga sore hari.
" Sayang, kamu ingat saat kamu mengatakan kepadaku bahwa kamu akan menikah dengaku jika aku sudah menemukan keluargamu, bukan?" Ujar Justin, kini keduanya berada di ruang tv.
Qilin langsung menatap Justin dengan tatapan terkejut.
" Apakah kamu menemukan keluargaku?" Tanya Qilin antusias, dan Justin mengangguk. Qilin pun berkaca kaca.
" Aku menemukan ibumu, tapi ayahmu sudah meninggal." Ujar Justin.
" Ibu?" Gumam Qilin.
" Ibumu orang yang baik, dan kamu bukan di buang, sayang.. kamu di titipkan di panti asuhan itu." Ujar Justin.
" Malam ini kamu bersiaplah, lalu kita temui ibumu." Ujar Justin, menghapus air mata Qilin.
" Sungguh?" Ucap Qilin dengan berlinang air mata, dan Justin mengangguk.
" Terimakasih, Justin.." Ujar Qilin, dan masuk kedalam pelukan Justin.
Dan setelah waktu berlalu, kini Qilin sudah siap untuk menemui ibunya. Qilin sedang berjalan bersama Justin menuju ke sebuah restoran yang di pesan oleh ibu kandung Qilin.
Saat hendak memasuki ruangan itu, Qilin berhenti sejenak dan menatap Justin.
" Bukalah, ibumu ada di dalam, sayang." Ujar Justin.
Qilin berdebar dan bahkan tangannya bergetar hebat saat ini. Seumur hidup, akhirnya dia akan menemui wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
Qilin pun membuka pintunya, dan ketika pintu terbuka, seorang wanita paruh baya yang memiliki warna rambut serupa dengannya tampak berdiri menatap kearahnya, ibu kandung Qilin.
Ibu Qilin tersenyum dan berkaca kaca ketika melihat Qilin, dia pun berjalan menghampiri Qilin dan langsung memeluk Qilin.
" Putriku.." Ujar ibu kandung Qilin.
Lolos begitu saja air mata Qilin, dia diam namun menangis. Rasa rindu, kecewa, haru, marah, semua bercampur menjadi satu. Dan di hati Qilin sejak dulu hanya satu kata yang ingin dia pertanyakan pada orang tuanya.
" Kenapa??" Ujar Qilin.
Ibu Qilin melerai pelukannya dan menghapus air matanya lalu menatap Qilin.
" Apa, nak?" Tanya ibu Qilin.
__ADS_1
" Kenapa anda melahirkanku, jika akhirnya anda membuangku?" Ujar Qilin.
Justin merasa mungkin Qilin butuh privasi untuk meluapkan segala emosi dan perasaan di hatinya, jadi dia pun keluar dari ruangan itu, meninggalkan Qilin dan ibunya berdua.
" Mama tidak pernah membuangmu, nak.. mama sangat menyayangimu." Ujar ibu Qilin.
" Lalu kenapa anda tidak pernah datang menjemputku lagi?" Ujar Qilin.
Ibu kandung Qilin memegang kedua tangan Qilin, lalu meminta Qilin untuk duduk. Sakit rasanya mendengar putri yang sangat di rindukannya itu tidak memanggilnya mama, tapi dengan kata fotmal.
" Apa Justin tidak menceritakannya kepadamu?" Tanya ibu kandung Qilin.
" Justin mengatakan padaku bahwa dia menemulan orang tua kandungku, tapi ayahlu sudah meninggal dan hanya ada ibuku. Justin juga mengatakan kepadaku bahwa aku tidak di buang, tapindi titipkan di pati, tapi kenapa??" Ujar Qilin mengulangi pertanyaannya.
Ibu Qilin tidak bisa menahan sesak di dadanya, dia menangis sambil membelai wajah putrinya itu.
" Semua mama lakukan demi agar kamu tetap hidup, sayang.." Ujar Ibu Qilin.
Ibu Qilin pun menceritakan apa yang pernah dia ceritakan juga kepada Justin, Qilin hancur mendengarnya. Mendengar bahwa ayahnya di bunuh, dan ibunya di paksa untuk menikah dengan pria lain.
" Mama tidak punya pilihan lain, demi agar kamu teyap hidup, mama harus menitipkan kamu di panti asuhan. Awalnya mama pikir mama akan bisa sering datang mengunjungimu, tapi mama di bawa pindah ke luar negeri setelah mama menitipkan kamu di panti." Ujar ibu kandung Qilin.
" Mama tidak pernah membuangmu, sayang.. mama dan papa sangat mencintai dan menyayangi kamu." Ujar ibu Qilin.
" Mama.." Gumam Qilin sambil menangis haru.
Dan setelah mereka saling menangis haru, kini Justin sudah bergabung masuk ke dalam. Terlihat juga meja makan sudah penuh dengan makanan yang Justin pesankan, Qilin juga terlihat masih sesekali menghapus air mata bahagianya karena akhirnya dia memiliki ibu, dan bukan di buang oleh ibunya.
" Makan, sayang.." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
" Terimakasih nak, kamu sudah menjaga dan melindungi Qilin." Ujar ibu Qilin pada Justin.
" Aku mencintainya, itu tugasku." Ujar Justin.
" Qin Lian Nehemia, itu nama panjangnya.." Ujar Ibu Qilin.
" Nama.. nama panjangku??" Tanya Qilin, dan ibunya mengangguk sambil tersenyum.
" Iya sayang, papamu yang memberimu nama itu, tapi saat mama akan menitipkanmu di panti asuhan, mama hanya menuliskan nama pendek yang mama ambil dari singkatan namamu menjadi Qilin." Ujar ibu Qilin.
" Dan nyonya, saya ingin menikahi putri anda, mohon anda merestui hubungan kami." Ujar Justin tiba tiba.
__ADS_1
Ibu kandung Qilin dan Qilin tentu saja terkejut mendengarnya, Justin melamarnya langsung di hari pertama pertemuan Qilin dan ibunya.
" Jika kamu mencintai Qilin dan ingin menikahinya, maka panggi saya dengan sebutan mama, nak. Mama tidak bisa menghalangi kalian, apalagi kamu yang sudah menjaga Qilin dan berhasil mempertemukan kami." Ujar ibu kandung Qilin.
" Mama merestui kalian berdua, dan jawabannya tergantung dari Qilin sendiri." Ujar Ibu kandung Qilin lagi.
" Bagaimana, sayang?" Tanya Justin pada Qilin.
Qilin juga sudah terlalu sering mengundur Justin dengan menolak menikah dengan halus, tapi kini dia sudah tidak memiliki alasan lagi, dia juga mencintai Justin.
" Aku mau.." Ujar Qilin, dan Justin langsung senang mendengarnya.
" Aku akan memberi tahu mommy dan daddy agar pulang, lalu kita akan melangsungkan pertunangan kita beberapa hari lagi." Ujar Justin.
" Sebelum hari itu tiba, apakah Qilin boleh tinggal dengan mama? Mama sangat ingin melepaskan kerinduan mama dengannya." Ujar Ibu kandung Qilin.
" Tentu.." Ujar Justin.
Dan tentu juga Justin akan mengerahkan anak buahnya untuk melindungi Qilin dan ibunya.
Dan akhirnya, Justin mengantar Qilin dan ibunya pulang ke rumah ibu Qilin. Meskipun ibu Qilin kabur dari luar negeri dan tanpa bantuan siapapun, nyatanya rumah ibu Qilin termasuk mewah meski tidak semewah rumah Justin dan keluarga Edward.
" Bersenang senanglah, aku akan datang lagi nanti, hum?" Ujar Justin pada Qilin.
" Kamu akan menjemputku?" Tanya Qilin.
" Jika kamu ingin pulang, maka aku akan datang menjemputmu nanti." Ujar Justin.
" Baiklah, terimakasih." Ujar Qilin.
Justin mencium kening Qilin di saksikan ibunya yang ikut senyum senyum sendiri melihat kedekatan Justin dan Qilin.
Justin pun pergi dari sana setelah Qilin dan ibunya masuk kedalam rumah. Rumah itu sebenarnya bukan rumah yang berada di perumahan elit, rumah dengan gaya american klasic itu berdiri dengan sederetan rumah lain yang serupa.
Namun setelah mobil Justin pergi dari sana, muncul mobil mewah lain berwarna hitam dan berhenti di seberang rumah ibu Qilin.
" Aku menemukannya, dan tampaknya kita punya harta karun, dia menemukan putrinya yang kita cari cari selama ini." Ujar seorang pria lewat teleponnya.
" Hm.. baiklah." Ujar pria itu lagi.
Pria itu tampak tersenyum smirk, lalu menggerakan jari tangannya dan pergi dari sana.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..