
Waktu berlalu, Qilin sedang siap siap hendak berangkat kerja. Karena Rena tidak lagi bekerja di sana, jadi Qilin berangkat sendiri.
" Qilin, ini surat pengunduran diriku, jangan katakan pada siapapun bahwa aku tinggal denganmu, oke?" Ujar Rena.
" Iya, kalau begitu aku pergi dulu, hati hati di rumah. " Ujar Qilin, dan Rena mengacungkan dua jempolnya.
Qilin pun keluar dari rumahnya, dan langsung menuju ke cafe. Sesampainya di Cafe, terlihat Fendy yang seperti sedang melamun.
" Selamat malam." Ujar Qilin di depan Fendy dan Fendy pun terkejut.
" Eh, Qilin.." Ujar Fendy dengan tatapan terkejutnya.
" Kak Fendy kenapa? Tumben melamun, hati hati nanti ada hantu yang hinggap." Ujar Qilin.
" Tidak apa apa." Ujar Fendy sambil tersenyum.
" Kak, semalam Rena datang ke rumahku, dan menitipkan ini. Dia bilang dia mau berhenti kerja, dia mengundurkan diri. " Ujar Qilin.
Terlihat Fendy yang tampak terkejut dan terdiam, Qilin pun masuk kedalam karena tidak ada sahutan dari Fendy. Tak lama Qilin kembali keluar dan langsung menggantikan rekannya yang shift siang.
Fendy menatap Qilin tanpa berkedip, entah mengapa wajahnya menjadi sangat sendu saat ini.
' Aku sudah tidak lagi pantas untuk Qilin, apakah akhirnya aku harus mengubur rasaku bahkan sebelum aku bisa menyampaikannya.' Batin Fendy.
Fendy menengadahkan wajahnya ke atas, dan menghela nafas. Saat ini Fendy sedang menahan sesak di hatinya. Dia mau tidak mau mundur tentang perasaan nya dari Qilin.
' Dimana kamu Rena..' Batin Fendy.
Qilin bekerja dengan semangat seperti biasanya, dan tak lama muncul tamu yang tidak di sangka sangka dan tidak di duga duga.
" Selamat data... Justin??" Gumam Qilin ketika melihat Justin datang ke tempat kerjanya.
Justin melangkah masuk dan duduk di kursi dimana saat ini Qilin berdiri. Sebenarnya Justin mengenakan masker seperti dulu saat Justin masih idiot, tapi Qilin tetap mengenalinya.
" Semangat kerjanya, Qilin sayang." Bisik Justin di telinga Qilin, dan itu berhasil membuat Qilin merona.
" Apa yang kamu lakukan di sini?" Bisik Qilin agar tidak ada pelanggan yang curiga.
" Menemani Qilinku bekerja." Bisik Justin.
" Siapa yang Qilinmu." Ujar Qilin merona dan hendak pergi.
Justin langsung spontan mencekal tangan Qilin, lalu mengatakan..
" Tolong buatkan aku menu malam yang special dari cafe ini." Ujar Justin sambil mengerlingkan matanya.
" Baik, tunggu sebentar. " Ujar Qilin ramah.
Qilin pun pergi menyampaikan pesanan Justin pada Fendy dan chef di belakang. Justin menatap Fendy yang menatap Qilin sangat dalam, Justin pun duduk sambil menunggu pesanan nya datang.
__ADS_1
Qilin melayani banyak tamu, karena meskipun malam, cafe itu tetap ramai karena itu bukan hanya cafe sebenarnya, tapi juga resto.
Justin baru tahu bahwa Qilinn bekerja sangat keras di cafe itu, selama ini dia tidak pernah tahu sama sekali selama dia menjadi idiot.
' Dia bekerja sangat keras bahkan sampai pagi untuk menghidupi aku yang idiot dulu. Maaf kan aku sayang, kamu pasti lelah selama ini..' Batin Justin.
Tak lama Qilin datang menghampiri Justin dengan senyum manisnya.
" Pesananmu.." Ujar Qilin.
" Terimakasih, sayang." Ujar Justin, dan Qilin melototkan matanya karena Justin memanggilnya sayang dengan nada yang sedikit keras.
Sebenarnya Justin bicara biasa saja, hanya saja suara Justin memang besar dan bass. Suara seperti itu membuat siapapun akan memuji dan jatuh hati.
" Justin.." Ujar Qilin, dan Justin terkekeh.
Banyak yang menatap ke arah Qilin, terutama Fendy. Fendy yang sebelumnya tidak memperhatikan keberadaan Justin kini menatap ke arah Justin.
' Bukankah itu kakak Qilin, tumben dia ada di sini.' Batin Fendy yang masih mengira bahwa Justin adalah kakak Qilin.
" Aku akan menemanimu bekerja di sini." Ujar Justin pada Qilin.
" Kamu... tidak, kamu pulang saja. Kamu akan sakit jika begadang." Ujar Qilin.
Justin terharu mendengarnya, Qilin masih saja menomor satukan kondisinya. Qilin tidak tahu saja, Justin adalah si gila kerja dan pemimpin TITANES, tidak tidur selama beberapa hari itu hal biasa bagi Justin.
" Aku tidak mau, aku ingin menemanimu, sayang." Ujar Justin dengan nada manja.
" Astaga.." Gumam Qilin.
" Kamu bekerja saja, aku akan duduk manis di sini menunggumu." Ujar Justin, dan Qilin hanya bisa menepuk keningnya.
' Kenapa dia sudah sembuh jadi keras kepala.' Batin Qilin.
" Ya sudahlah.." Ujar Qilin, lalu berjalan perg, namun lagi lagi Justin menghalanginya.
" Justin.. aku harus bekerja." Ujar Qilin lembut.
" Makanlah dulu." Ujar Justin, dan Qilin mengernyit bingung.
" Ini kan makanan pesananmu." Ujar Qilin.
" Ya, dan aku memesankannya untukmu, kamu belum makan, bukan?" Ujar Justin.
" Aku akan makan di jam istirahat, ini belum waktunya." Ujar Qilin.
Justin menggeleng, dan berdiri. Justin menggiring Qilin untuk duduk dengan tubuhnya, Qilin pun berjalan mundur hingga akhirnya jatuh di kursi.
" Patuh ya.. aku tidak mau kamu sakit, sayang." Ujar Justin, lalu mengusap kepala Qilin.
__ADS_1
" Nanti aku di marahi." Ujar Qilin.
" Tidak akan ada yang berani memarahimu, makanlah." Ujar Justin lembut.
Fendy melihat pemandangan itu, tapi Fendy pikir Qilin sedang di palsa kakaknya, jadi Fendy pun datang menghampiri meja Justin.
" Tuan, apakah ada yang salah dengan menunya? Saya lihat anda mempersulit karyawan kami." Ujar Fendy.
" Anda atasannya di sini?" Tanya Justin dengan wajah datar.
" Ya, bukankah anda kakak Qilin? Kenapa anda memaksa adik anda sendiri?" Tanya Fendy.
' Kakak? Apakah Qilin memperkenalkan aku sebagai kakaknya pada pria ini?' Batin Justin.
" Kak Fendy, tidak apa apa. Dia tidak menggangguku, tapi menyuruhku makan, apakah boleh?" Tanya Qilin.
Fendy menatap Qilin lalu kembali menatap Justin yang saat ini berdiri dengan tatapan dinginnya.
" Tentu boleh, silahkan." Ujar Fendy.
" Terimakasih, kak." Ujar Qilin.
Fendy mengangguk sambil tersenyum dan hendak mengusap kepala Qilin, namun di halangi oleh Justin.
" Jangan sembarangan menyentuhnya, aku peringatkan kau." Ujar Justin dengan tatapan datar.
Fendy merasa terintimidasi dengan tatapan Justin, hanya tatapannya saja sudah membuat Fendy merasa terpojok, dia pun menarik kembali tangannya.
" Ah, maaf.. silahkan kamu makan dulu Qilin." Ujar Fendy dan pergi.
" Kamu mengatakan bahwa aku kakakmu pada pria tadi, sayang?" Tanya Justin dengan nada lembut, sambil membantu Qilim memotong ayam di piring.
Justin sama sekali tidak mau gegabah dalam menghadapi suatu masalah, dia akan lebih dulu mendengarkan sebelum mengambil kesimpulan dan keputusan.
" Ya, kita bukan keluarga, tapi kita tinggal satu atap. Jika aku mengatakan bahwa kamu bukan keluargaku, pasti kita akan di datangi warga dan di pukuli karena mereka pasti mengira kita kumpul kebo." Ujar Qilin menjelaskan.
" Jadi aku katakan saja pada semua orang yang bertanya siapa dirimu, kamu kakakku." Ujar Qilin.
Justin tersenyum mendengarnya, rupanya bukan hanya pada pria tadi, tapi pada semua orang yang bertanya, dan itu juga demi kebaikan mereka.
" Qilinku sangat baik, nah makanlah.. aku sudah potongkan ayamnya." Ujar Justin, dan Qilin tersenyum manis.
" Terimakasih." Ujar Qilin, dan Justin mengerlingkan matanya.
Qilin makan, tapi dia sedikit buru buru karena tidak enak dengan rekannya yang lain, karena cafe sedang ramai, tapi Qilin makan.
" Aku selesai, aku akan kembali bekerja." Ujar Qilin dan Justin mengangguk sambil membantu Qilin mengelap bibir Qilin dengan tangannya langsung.
Setelah Qilin pergi, tatapan Justin langsung berubah menjadi dingin kembali, tidak hangat seperti saat ada Qilin di hadapannya. Mungkin yang di katakan orang orang itu benar, sekeras apapun pria dia akan menjadi lembut ketika bersama dengan orang yang di kasihinya, pawangnya.
__ADS_1
TO BE CONTINUED.