
Esok malam harinya..
Di hotel milik keluarga besar Edward saat ini sedang ramai dengan tamu undangan. Ballroom yang luas dan megah itu tampak penuh dengan tamu undangan yang menghadiri acara pertunangan Justin dan Qilin.
Dan saat ini, di sebuah salah satu kamar di hotel itu Qilin sudah selesai di make up oleh penata rias profesional di temani oleh Rena. Rambut Qilin sudah kembali lagi menjadi perak, setelah selama satu harian ini dia menjalani perawatan di salon.
Walau warna perak nya tidak seindah warna perak alami rambut Qilin, tapi setidaknya jati diri Qilin sebagai gadis berambut perak sudah kembali. Dan kini rambutnya di kepang dengan sangat indah oleh penata rambut profesional juga.
" Wah, Qilin.. kamu cantik sekali." Ujar Rena.
" Terimaksih.. kenapa jantungku begini berdebar." Ujar Qilin, dan Rena terkekeh.
" Belum juga berjalan ke altar.." Ledek Rena.
" Astaga, kamu malah menambah kepanikan. Apa semua orang sudah turun ke bawah?" Tanya Qilin.
" Sudah, tinggal kamu dan menunggu tuan Justin datang, bukan?" Tanya Rena.
" Iya, tapi dia belum datang juga." Ujar Qilin.
" Mm.. aku merasa mual, sebentar aku ke kamar mandi dulu." Ujar Rena, dan Qilin mengangguk.
Tiba tiba pintu di ketuk dan Qilin berjalan untuk membukanya. Saat pintu di buka munculah entah siapa itu.. Antara Justin atau Dustin, Qilin tidak bisa membedakan.
Tampak sosok di depan Qilin itu tersenyum sangat manis pada Qilin tapi hanya diam saja, dan itu membuat Qilin bingung.. apakah itu Justin atau Dustin..
'' Kenapa kamu terlihat bingung, ayo..'' Ujar nya dengan tersenyum manis sembari mengulurkan tangan nya.
Qilin tersenyum dan yakin bahwa itu adalah Justin, namun saat Qilin hendak menyambut uluran tangan itu, sosok yang Qilin pikir adalah Justin itu menarik kembali tangan nya.
'' Kamu tidak bisa membedakan kami, benar?'' Tanya nya tiba tiba.
'' Kamu..'' Ujar Qilin menggantung.
'' Dustin, calon adik iparmu.'' Ujar sosok itu yang rupanya adalah Dustin.
'' Oh maaf.. aku hanya sedikit tidak fokus karena terlalu semangat. Kenapa kamu yang datang, dimana Justin? '' Tanya Qilin.
'' Oh, iya kah? aku pikir kamu memang tidak bisa membedakan kami.'' Ujar Dustin dengan senyum nya.
Rena keluar dari toilet, dan Dustin pun mulai berdiri dengan tegak dan berkata pada Qiin..
'' Kakak sudah menunggu di bawah, dan aku terpaksa menyusulmu kemari karena tidak ada yang tahu letak kamar ini kecuali keluarga inti. Nona Rena.. tolong dampingi calon kakak iparku turun ke bawah, oke..'' Ujar Dustin dan berbalik pergi.
'' Wahh.. dia kah tuan Dustin? Astaga.. dia benar benar sama dengan tuan Justin.'' Ujar Rena yang terpukau.
'' Ayo Ren, kita turun.'' Ujar Qilin dan Rena mengangguk.
__ADS_1
Qilin pun turun menggunakan lift dan kini dia berada di ujung tangga, terlihat banyak sekali tamu yang datang dan Justin tampak berdiri di ujung tangga dan tersenyum kearahnya.
Kali ini Qilin yakin bahwa itu Justin karena jas yang Justin kenakan senada dengan gaun yang dia kenakan, yaitu biru malam, sementara tadi Dustin mengenakan stelan jas berwarna putih.
'' Qilin, pangeran Justin mu ada di bawah sana. '' Bisik Rena.
Qilin tersenyum dan mengangguk, lalu kemudian dengan perlahan dia pun turun dengan menuruni satu persatu anak tangga yang di desain mewah itu.
'' Kamu cantik sekali, sayang..'' Ujar Justin ketika Qilin sudah sampai di bawah, sembari terpukau.
'' Terimakasih, kamu juga sangat tampan.'' Ujar Qilin tersenyum manis.
Justin pun menggandeng Qilin berjalan menuju ke aula dimana para orang tua dari kedua belah pihak sudah berdiri di sana.
Semua gadis benar - benar merasa iri tapi juga terkagum kagum dengan Qilin yang bisa mendapatkan hati seorang Justin Xander Edward. Terlebih Qilin sangat cantik dan mereka merasa memang Qilin adalah pasangan yang cocok untuk Justin.
Mc mulai memandu acara dan meminta Sierra untuk maju mengantarkan kotak berisi cincin pertunangan yang akan Justin pakaikan pada Qilin.
Dewi pun maju menemani Qilin, dia berdiri di sisi Qilin dan membantu penerimaan cincin tersebut.
" Aduh.. yang mau di ikat cantik sekali." Ujar Sierra, dan Qilin terkekeh.
" Mommy juga cantik." Ujar Qilin.
Cincin sudah di berikan pada Justin, dan siap di pakaikan pada Qilin. Justin tersenyum dan meminta tangan kiri Qilin, Qilin pun mengulurkan tangan Kirinya.
" Aku mencintaimu, Qin Lian Nehemia." Ujar Justin lantang menyebut nama asli Qilin.
Qilin hanya bisa menahan persaan yang berbunga bunga tapi juga membuatnya haru di saat yang bersaan, Qilin sampai menangis dalam tawanya.
" Hadirin sekalian, undangan pernikanan Justin dan Qilin akan segera menyusul, dan pernikahan mereka akan di langsungkan bulan depan." Ujar Sierra dengan lantang.
Semua tamu pun kembali bertepuk tangan dengan meriah. Sementara dua sejoli itu kini terlihat saling berpelukan, level status mereka sudah meningkat dari lekasih menjadi tunangan.
Seluruh dunia kini tahu bahwa Qilin, adalah milik Justin Xander Edward.
Setelah sesi pemasangan cincin itu selesai di lakukan, kini semua orang pun menikmati jamuan makan malam mewah di sana.
" Selamat untuk pertunanganmu, kak." Ujar Luca pada Qilin.
" Terimakasih." Ujar sahut Qilin.
" Aku bahkan belum selesai bermain denganmu, tapi sebentar lagi kakak jadi istri orang." Ujar Cio.
" Kau bermain dengan keponakanmu saja nanti." Ujar Justin menyahut.
" Ha? Apa sudah ada?" Tanya Cio.
__ADS_1
" Kalau kami sudah menikah, otomatis ada." Ujar Justin, dan Qilin hanya bisa tersipu menahan malu.
" Selamat kak, akhirnya kalian bertunangan." Ujar Dustin dan memeluk Justin.
" Kenapa kau jadi sering minum anggur? " Ujar Justin.
" Bagaimana lagi, aku di tinggal seorang kakak yang akan menikah." Ujar Dustin dan semua orang terkekeh.
" Selemat Qilin, kamu akan menjadi kakak iparku." Ujar Dustin dan memeluk Qilin.
Qilin sampai terkejut sampai tidak bisa berkata apa apa, tapi kemudian dia menepuk punggung Dustin seperti dia memeluk Cio dan Luca.
" Terimakasih." Ujar Qilin, tapi Dustin tidak juga melepas pelukannya.
" Aku titip kakakku." Ujar Dustin.
" Sudah peluknya, anak pemabuk." Ujar Justin, dan Dustin terkekeh.
" Toh aku tidak akan membawa kabur kakak iparku.." Ujar Dustin.
Di situ hanya Sierra yang berulang kali menyeka air matanya, karena hanya dia yang tahu apa uang di rasakan oleh putra bungsunya tanpa orang lain tahu.
" Kamu sangat terharu sampai berulang kali menangis?" Ujar Sahara pada Sierra.
" Iya, mi.. melihat mereka yang bisa akur begitu, semakin membuatku mengingat dengan masa kecil mereka." Ujar Sierra berbohong.
" Dustin juga pasti akan mendapatkan gadis baik seperti Qilin." Ujar Sahara dan Sierra mengangguks.
" Iya, semoga dia mendapatkan yang seperti Qilin." Ujar Sierra.
" Kita akan menjadi keluarga besar, tuan Khan." Ujar Arthur pada Agra Khan.
" Haha, Ya benar tuan." Ujar Agra tertawa bersama Arthur.
Hingga pesta malam kian larut dan pesta pertunangan yang megah itu pun akhirnya berakhir. Semua tamu sudah pergi tapi dua keluarga inti itu malam ini tidur di hotel itu.
Terlihat Dustin yang sedang berdiri di balkon menatap bulan, kemudian Sierra tampak masuk dan menghampiri putranya yang sedang diam sendirian.
" Kamu tidak apa apa, nak?" Tanya Sierra.
Dustin sadar dari lamunan nya dan tersenyum pada Sierra.
" Aku tidak apa - apa mom, hanya tidak sabar menunggu hari pernikahan mereka tiba, agar aku bisa segera pergi." Ujar Dustin, dan Sierra memeluk putra nya itu.
" Kamu akan mendapatkan penggantinya yang lebih baik, lupakan Qilin." Ujar Sierra.
" Apa maksudnya??" Ujar Suara Arthur yang muncul dan itu membuat Sierra dan Dustin terkejut.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..