Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 57. Terlalu menggoda


__ADS_3

Justin membawa Qilin pergi ke perusahaannya, jika Justin membawa Qilin ke rumahnya, Qilin mungkin akan bosan sendirian, jadi Justin membawa Qilin ke perusahaan nya.


Untungnya di perusahaan Justin, Lift untuk karyawan dan atasan di bedakan. Justin juga masuk dari basment khusus parkiran mobilnya, jadi tidak ada seorang pun yang melihat Justin datang dengan Qilin.


" Justin, ini tempat apa?" Tanya Qilin ketika mereka di dalam lift.


" Ini kantorku, sayang." Ujar Justin.


" Kantormu? Kenapa kamu bawa aku ke kantor? " Ujar Qilin bingung.


" Kita harus memberikan dua orang itu waktu untuk bicara, jadi aku membawamu pergi." Ujar Justin.


" Ya, tapi kenapa harus ke kantormu? kamu harus bekerja, kan?" Ujar Qilin.


" Aku tidak mungkin membiarkan kamu sendirian di rumah, jadi lebih baik kamu disini bersamaku. Jadi aku bisa memastikan keadaanmu." Ujar Justin, dan pintu lift terbuka.


Ian sedikit terkejut ketika melihat Qilin ikut bersama Justin, tapi dia pun menunduk untuk memberikan hormatnya kepada Qilin dan Justin.


" Selamat pagi, nona dan tuan." Ujar Ian.


" Pagi." Sahut Qilin dan Justin hanya mengangguk.


Justin dan Qilin masuk ke dalam ruangan khusus Justin, itu adalah pertama kalinya Qilin melihat ruangan Justin.


Justin menekan sebuah remot dan tiba tiba dinding yang terdapat tv bergeser dan menjadi sebuah pintu, sungguh sebuah kecanggihan teknologi.


" Ayo, sayang." Ujar Justin dan menggandeng Qilin.


Rupanya di dalamnya adalah sebuah kamar. Kamar selayaknya seperti di rumah, ada sofa, tv, lemari pakaian yang besar dan sebuah kamar mandi di dalamnya. Itu adalah ruangan untuk Justin beristirahat jika dia lelah, dan Justin dulu sangat jarang pulang ke rumah dan selalu tidur di sana.


" Wah, kamar siapa ini?" Tanya Qilin terpukau.


" Kamarku, dan sekarang menjadi kamarmu juga, kamar kita." Ujar Justin dan Qilin melotot mendengarnya.


" Mana ada ini kamarku.." Gumam Qilin, dan Justin terlekeh.


" Di sana ada kamar mandi, kamu mandi dulu saja agar lebih segar." Ujar Justin sambil terkekeh.


" Tapi aku tidak punya baju ganti." Ujar Qilin.


" Nanti aku minta Ian belikan, sementara kamu pakai dulu baju milikku, hum?" Ujar Justin dan Qilin mengangguk.


Setelah Qilin masuk kedalam kamar mandi, Justin pun keluar dan memulai pekerjaan nya.


Ian masuk ke dalam dan tidak mendapati Qilin, ia pun bernafas lega. Ian tidak mau di suruh mencabuti rumput jika sampai ia membiat Justin cemburu.


" Tuan, ini laporan laporan yang harus di tanda tangani, lalu siang ini tuan ada rapat." Ujar Ian.


" Oke, tolong belikan pakaian baru untuk Qilin. " Ujar Justin.

__ADS_1


" Baik tuan." Ujar Ian.


Justin pun fokus bekerja, tak lama Qilin pun keluar dari kamar dengan kemeja milik Justin. Hanya kemeja, karena di lemari hanya ada celana formal, kmeja formal, jas, dan kaos milik Justin. Tidak mungkin Qilin menggunakan kaos, karena itu terlalu tipis.


Justin menelan ludahnya ketika melihat betapa menggodanya Qilin di matanya saat ini.


" Justin, apa Ian belum sampai?" Tanya Qilin.


" Ekhem, belum sayang." Ujar Justin mencoba menetralkan dirinya.


Justin pun bangun dari duduknya dan membawa Qilin duduk di sofa.


" Kamu mau makan sesuatu? Aku akan minta staf untuk membelikannya." Ujar Justin, sambil mengusap kepala Qilin.


" Aku makan apa saja." Ujar Qilin.


" Baiklah, aku akan minta staf untuk belikan sarapan untukmu." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.


Justin menghubungi stafnya di bawah untuk membelikan beberapa jenis makanan, dan langsung menutup kembali sambungan teleponnya.


Dan kalian tahu? Staf pria yang baru saja menerima panggilan dari Justin saat ini sedang melongo bagai raga yang kehilangan nyawanya.


" Hey, kau kenapa?" Tanya rekan pria tadi.


" CEO.." gumam pria tadi.


" Kenapa dengan CEO?" tanya rekan pria itu.


" Sungguh? Itu sungguah CEO?" Tanya rekan pria itu.


" Iya." Ujar pria tadi.


" Maka cepat lakukan, CEO tidak suka karyawannya bekerja lelet." Ujar rekan pria itu.


" Oiya, benar." Ujar pria tadi dan langsung lari.


Karena memang Justin tidak pernah meminta stafnya untuk membeli makanan, biasanya Justin akan keluar atau Malvin yang mengantarkan makanan.


Sementara Justin kini sedang bekerja di ruangannya dan Qilin sedang berjalan jalan melihat lihat sederet tumpukan buku yang tersusun rapi, sayangnya dari sekian banyak buku di sana, tidak satupun yang bisa Qilin baca.


Karena kebanyakan di sana adalah buku tentang bisnis, hingga Qilin melihat sebuah buku yang menarik perhatiannya, dan mencoba meraihnya.


Tapi karena buku itu sangat tinggi, Qilin tidak bisa meraihnya. Justin yang melihat Qilin dari kursi nya pun bangun lalu menghampiri Qilin.


Tanpa aba aba Justin mengangkat tubuh Qilin hingga Qilin terkejut dan hampir jatuh, untungnya tubuh Justin benar benar kuat dan seimbang, jadi dia bisa menahan tubuh Qilin.


" Pegangan, sayang." Ujar Justin.


" Kamu membuatku kaget." Ujar Qilin, dan Justin terkekeh.

__ADS_1


Qilin pun mengambil buku yang ingin dia ambil, tapi lalu dia manyun. Rupanya buku bersampul putih yang dia pikir bukan buku tentang bisnis, nyatanya itu adalah buku tentang bisnis.


" Haih, apa semua buku di sini tentang bisnis?" Tanya Qilin, dan Justin mengangguk.


" Aku tidak tahu harus berbuat apa.." Ujar Qilin dan Justin terkekeh kecil.


Justin akhirnya berjalan pergi sambil menggendong Qilin, Qilin yang takut jatuh tentu saja mengalungkan kedua tangannya di leher Justin. Tapi posisi mereka adalah posisi rawan dan berbahaya.


Karena Qilin tidak memakai bawahan, jadi Justin menyentuh paha Qilin secara langsung meski posisi gendongnya bukan gedong koala. Itu adalah ujian terbesar untuk Justin.


Justin akhirnya membawa Qilin duduk di kursi kerjanya dan memangku Qilin bersamanya.


" Hei, kenapa kamu bawa aku duduk di sini?" Ujar Qilin.


" Aku tidak bisa fokus jika melihatmu berkeliling, sayang." Ujar Justin.


" Ha??" Ucap Qilin bingung.


Bagaimana Justin bisa fokus, melihat Qilin yang hanya memakai kemeja dan berjalan kesana kemari bagai peri yang sedang penasaran dengan sesuatu, itu sangat menggoda Justin.


" Tidak apa apa, kamu duduk saja denganku, jadi aku lebih tenang." Ujar Justin.


" Ada ada saja, aku sudah besar, bisa menjaga diriku sendiri." Ujar Qilin.


Tapi tiba tiba pintu masuk di ketuk, Qilin panik karena posisinya sedang berada di pangkuan Justin, tapi Justin justru semakin mengeratkan tangannya untuk menahan Qilin agar tetap duduk di pangkuannya.


" Masuk." Ujar Justin.


" Justin, aku ada di sini." Ujar Qilin.


" Tidak apa - apa.." Gumam Justin lalu mengusap rambut Qilin.


Dan masuklah staf yang di minta untuk membelikan makanan untuk Qilin. Staf itu terkejut hingga hampir menjatuhkan makanan yang dia pegang ketika melihat CEO nya memangku seorang wanita.


" C- CEO, ini makan yang anda pesan." Ujar pria itu.


" Letakan di meja, lalu keluar." Ujar Justin dengan wajah datar dan dingin.


" Baik, CEO." Ujar pria itu, lalu langsung keluar.


Qilin hendak berbalik untuk mengucapkan terimakasih, namun Justin menahan wajah Qilin untuk tetap menghadap kearahnya, Justin tidak rela Qilin di lihat orang lain dengan kondisi pakaiannya yang seperti itu.


" Kenapa?? Aku ingin mengucapkan terimakasih pada orang tadi." Ujar Qilin protes.


" Tidak ada yang boleh melihat kamu yang begini, sayang." Ujar Justin.


" Begini bagaimana?" Tanya Qilin heran.


" Kamu terlalu menggoda untuk orang lain lihat, tidakkah kamu tahu aku sejak tadi sedang menahan diriku untuk tidak memakanmu?" Ujar Justin sambil menempelkan keningnya di kening Qilin.

__ADS_1


" Hanya aku yang boleh melihat kamu begini." Ujar Justin, dan mencium bibir Qilin.


TO BE CONTINUED...


__ADS_2