Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 72. Nyaris bertemu.


__ADS_3

Qilin melihat kesekitar, ada bangunan bangunan megah yang tampak asing di matanya saat ini, Qilin pun menjadi kebingungan, namun juga kagum dengan keindahan bangunan di sana.


' Tempat apa ini sebenarnya? Kenapa banyak sekali orang asing.' Batin Qilin.


Tiba tiba sebuah gerbang besi terbuka dan beberapa anak buah Luca sudah masuk dengan speedboatnya. Qilin yang berdiam di dalam speedboat ikut masuk kedalam sana, karena dia harus mencari informasi tentang dimana ibunya berada.


Sementara itu, dari jauh Justin sedang menatap tempat itu menggunakan teropongnya saat ini. Dia berdiri di tempat yang tinggi dan mengamati tempat itu.


" Ini markas putra Agra, kak?" Tanya Dustin.


" Ya, entah ada atau tidak Qilin di sana. Aku mau kita jangan gegabah, karena yang terjadi di kediaman Agra sudah membuat kita kesulitan menemukan ekor ekor mereka." Ujar Justin.


Justin mendapatkan informasi dari informan nya yang lain tentang Agra Khan yang rupanya seorang ketua mafia. Agra memiliki dua putra. Satu putranya ikut terjun kedalaam dunia gelap seperti Agra, namun yang satunya selalu misterius.


" Apa hanya gerbang besi di air itu satu satunya akses keluar masuk mereka?" Ujar Dustin.


" Ada di bagian atas, sebuah landasan helikopter. Tapi atap landasan itu juga akan tertutup jika tidak ada yang keluar masuk." Ujar Justin.


" Berarti akses kita hanya pintu di air itu." Gumam Dustin.


" Aku akan kesana." Ujar Justin tiba tiba.


" Kak! itu berbahaya." Ujar Dustin.


" Aku ingin bertemu dengan Qilin, aku sangat merindukannya. Dia pasti tersiksa sendirian di ruangan yang entah apa itu." Ujar Justin.


" Tapi tidak kakak juga yang langsung kesana, bagaimana jika mereka mengenali kakak, atau kakak tertangkap." Ujar Dustin.


" Kirim saja mata mata untuk masuk kedalam dan mencari Qilin, sekaligus mencari tahu kabar lainnya." Ujar Dustin.


" Aku ingin melindungi Qilinku sendiri." Ujar Justin keras kepala.


" Kak! Lalu jika ternyata Qilin tidak ada di sana dan malah kakak yang terjebak di sana, bagaimana? Tolong jangan keras kepala." Ujar Dustin.


" Salah satu dari kalian, masuklah kesana dan cari Qilin." Ujar Dustin, dan anak buahnya mengangguk.


Dustin mengerti begitu besar kakaknya mencintai Qilin, tapi walau demikian.. keselamatan Justin juga harus tetap menjadi prioritas. Karena Dustin berpikir, jika Justin tiada.. maka Qilin dan Sierra akan sedih nantinya, dan Dustin tidak mau itu terjadi.


" Kita tunggu saja sampai mereka bisa masuk dan mendapatkan kabar, ayo pergi kak." Ujar Dustin.


" Kita sewa sebuah tempat di sini." Ujar Justin.


Dustin menghela nafasnya, tapi kemudian mengangguk. Akhirnya mereka menyewa sebuah penginapan dan menginap di sana sambil menunggu kabar dari anak buahnya.


Sayangnya Justin tidak melihat Qilin saat speedboat anak buah Luca datang, padahal Qilin sudah sangat dekat dengannya.

__ADS_1


Dan Qilin sendiri saat ini mengendap endap keluar setelah semua anak buah Luca pergi, Qilin pun muncul keluar, tempat itu seperti garasi speedboat. Qilin mendengar ada yang datang, jadi dia mencari tempat untuk sembunyi.


Terlihat seorang pria yang membawa senjata lengkap berjalan jalan di sana, berjaga di sana.


' Apa aku masuk kedalam markas mereka? ' Batin Qilin.


Qilin mengendap endap dan pergi dari sana tanpa di ketahui pria yang sedang berjaga itu. Hingga setelah beberapa langkah Qilin melangkah, Qilin mendengar seseorang berbicara dengan bahasa Indonesia.


Qilin senang, dia pikir mungkin dia bisa bertanya pada pria itu, tapi Qilin langsung menguringkan niatnya setelah mendengar apa yang pria itu katakan.


" Bernama Qilin, berambut perak seperti nyonya dan berusia sekitar dua puluh lima tahunan. Sebar informasi itu, siapapun yang menemukannya, tuan muda Luca akan memberi imbalan yang besar." Ujar pria itu.


" Bahkan jika gadis itu sudah menjadi jasad sekalipun, bawa kemari. Ini fotonya." Ujar pria tadi, dan Qilin langsung pias.


' Aku menjadi buronan di negara ini.' Batin Qilin.


Qilin pun mengendap endap kembali keluar dan melihat pria yang berjaga itu masih berada di sana. Qilin mengamati dan terus mengamati pria itu yang terus menatap speedboat yang terparkir banyak di sana.


' Maaf, aku harus menghabisimu.' Batin Qilin dan menyerang pria itu.


Tapi rupanya pria itu dengan sigap dan menahan tangan Qilin yang hendak menancapkan belati ke tubuh pria itu.


" Qilin.." Ujar pria itu, dan itu membuat Qilin terkejut.


" Ayo ikut aku." Ujar pria itu dan membuat Qilin bingung, karena bukannya melawan dirinya, pria itu malah menanrik tangannyabdan pergi.


" Jangan takut, aku Niklaus teman Lucio." Ujar pria tadi.


Dia berwajah bule, namun dia bisa berbicara dengan bahasa Indonesia dengan fasih.


" Dimana Cio?" Tanya Qilin.


" Ada di suatu tempat, aku di utus untuk melindungimu. Ada beberapa rekan lain yang sudah berjaga untuk melindungimu juga." Ujar Niklaus


Qilin terharu dengan kebaikan Cio, padahal Cio berkata tidak ikit campur, tapi diam diam memberinya perlindungan.


" Dengar, kamu sudah menjadi buronan.. kamu harus mengubah penampilanmu agar tidak di temukan mereka." Ujar Niklaus


" Bagaimana caranya?" Tanya Qilin bingung.


" Ini identitas barumu, dan mari ubah penampilanmu." Ujar Niklaus.


Qilin melihat kertas yang di berikan oleh Niklaus dan mengangguk.


" Setelah kita rubah penampilanmu, baru aku akan membuat kartu identitas itu secara asli." Ujar Niklaus.

__ADS_1


" Baiklah." Ujar Qilin.


Niklaus memberikan tas yang berisi seragam di sana, dan menyuruh Qilin mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


" Ganti, jangan pakai lama. Lalu gunakan topi ini untuk menutup rambutmu. " Ujar Niklaus dan keluar.


Qilin pun bergegas berganti pakaian, lalu menguncir rambutnya dan menutupnya dengan topi, lalu keluar.


Niklaus pun membawa Qilin pergi dengan mengendap endap, saat tidak sengaja berpapasan dengan orang, Niklaus akan mencengkal kedua tabgan Qilin di belakang dan berbicara sangat keras pada Qilin.


Qilin mendengar Nicklaus berbicara dengan orang lain dengan bahasa yang asing, jadi Qilin hanya menurut saja entah itu di pukul atau di apakan, dan entah bagaimana caranya, tiba tiba Nicklaus berhasil membawa Qilin keluar dan naik mobil ambulance.


" Qilin, kita sudah aman. Di mobil ini adalah rekanku." Ujar Niklaus, dan qilin bernafas lega.


" Kenapa mereka tidak menahanku, apa yang kamu katakan pada mereka?" Tanya Qilin pada Niklaus.


" Mm.. aku mengatakan pada mereka bahwa kamu mengalami penyakit kelamin." Ujar Niklaus, dan Qilin meranga mendengarnya.


' Si*lan..' Batin Qilin.


Sementara beberapa rekannya di sana tertawa terbahak bahak.


" Apa mereka juga bisa berbahasa Indonesia?" Tanya Qilin pada Niklaus.


" Ya, mereka bisa." Ujar Niklaus, dan Qilin memejamkan matanya.


" Yang penting kita sudah keluar dari sana, karena hanya dengan cara itu aku bisa membawamu pergi." Ujar Niklaus menghibur Qilin.


" Lalu nanti jika mereka mencariku, bagaimana?" Tanya Qilin.


" Sudah di atur, tenang saja." Ujar Niklaus.


Dan entah bagaimana caranya mobil ambulance itu tiba tiba berubah menjadi mobil van ketika melewati sebuah jalanan yang sepi, rupanya mobil itu di desain seperti bunglon, bisa berubah warna sesuai yang kita mau.


Terdengar musik yang begitu kerasnya di mobil itu, mengiringi perjalanan mereka.


" Kita mau kemana?" Tanya Qilin.


" Merubah penampilanmu." Ujar Niklaus singkat dan kembali bernyanyi nyanyi dengan kedua temannya.


Karena Qilin sama sekali tidak tahu apapun yang di nyanyikan oleh penyanyi di radio, dia akhirnya memilih tidur, karena dia mengantuk.


' Terimakasih Tuhan, engkau mengirim orang orang baik ini untukku.' Batin Qilin.


Sementara Qilin, tidur di mobil.. Justin sedang was was menunggu kabar dari anak buahnya.

__ADS_1


' Semoga kamu baik - baik saja, sayang.' Batin Justin.


TO BE CONTINUED...


__ADS_2