
Setelah bertemu dengan ibu kandung Qilin, Justin pun saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke perusahaan. Namun di otaknya hanya ada Qilin dan Qilin sejak tadi, Justin tidak bisa berhenti memikirkan Qilin.
Jika yang di katakan ibu kandung Qilin itu adalah sebuah kebenaran, maka Justin akan dengan tenang memberi tahu ayah dan ibunya, tentang identitas Qilin.
" Apa orang tuaku tahu tentang ini?" Tanya Justin pada Ian.
" Belum, tuan. Sebisa mungkin saya menutupinya dari mereka." Ujar Ian.
" Bagus, bagaimana dengan anak dan istri Zheri Arawan?" Tanya Justin.
" Putrinya masih koma di rumah sakit, ibunya benar benar wanita yang kejam, memukuli putrinya sendiri dengan botol bir sampai tempurung kepalanya retak." Ujar Ian, yang mengingat kondisi Gigi.
" Semua di TKP sudah saya rekayasa sedemikian rupa dan menghilangkan jejak Desi, membuat seolah itu adalah perbuatan ayah tiri yang melecehkan putri tirinya sendiri." Ujar Ian.
" Sementara Desi, dia sedang depresi berat di ruang penyiksaan." Ujar Ian lagi.
Siapa lagi yang bisa campur tangan dengan kasus yang bahkan bisa di bilang rumit seperti itu jika bukan Titanes.. Menghilangkan DNA dan jejak lainnya milik Desi, tanpa sehelai rambutpun tersisa.
" Itu yang dinamakan anjing makan anjing, mereka tidak lebih seperti binatang yang rela saling membunuh hanya untuk berebut seonggok bangkai." Ujar Justin dengan tatapan dingin.
" Rekayasa sedemikian mungkin aset milik Zheri, dan akusisi semuanya menjadi atas nama Qilin, mereka harus membayar apa yang mereka perbuat pada Qilin." Ujar Justin.
" Tuan, aset milik Zheri memang di wariskan kepada nona Qilin, semuanya.." Ujar Ian.
" Saya belum sempat memberi tahu anda kabar ini, identitas nona Qilin di ganti oleh Desi karena Desi ingin menukar identitas nona Qilin dengan Gigi, dan menjadikan Gigi sebagai ahli waris Zheri." Ujar Ian lagi.
" Beraninya mereka.. Kau urus itu semua, buat Desi kehilangan segalanya. Lalu siksa dia sesuai denga apa yang pernah dia lkukan kepada Qilin, lebih bagus jika lebih sadis." Ujar Justin, dan Ian mengangguk.
Hingga akhirnya mereka berdua sampai di perusahaan, dan Justin pun turun dari mobil.
Waktu berlalu..
Qilin sedang membersihkan rumahnya, sementara Rena terlihat sedang tidur di sofa. Setelah selesai dan semua barang di rumahnya itu sudah kembali rapi, Qilin pun naik ke atas kamarnya lalu merebahkan dirinya di ranjang.
" Lelahnya.." Gumam Qilin, dan memejamkan matanya.
Tapi saat Qilin hendak terbang ke alam mimpi, tiba tiba terdengar Rena yang muntah muntah di bawah. Qilin pun kembali bangun dengan panik dan turun ke bawah menghampiri Rena.
__ADS_1
" Ueek.." Terdengar Rena yang muntah muntah di kamar mandi.
Tak lama Rena membuka pintu dan Qilin melihat wajah Rena sangat pias dengan air mata yang menggenang.
" Ren, kamu baik baik saja?" Ujar Qilin khawatir.
Rena menggeleng lalu Rena langsung luruh ke lantai begitu saja hingga membuat Qilin menjadi panik. Qilin langsung menangkap tubuh Rena, dan kini Rena menangis di pelukan Qilin dan membuat Qilin kebingungan.
'' Ren, kamu kenapa?'' Tanya Qilin dengan panik.
Tapi Rena tidak menyahut dan justru larut dalam tangisannya, Qilin pun tidak bertanya lagi dan membiarkan Rena menangis sampai dia berhenti sendiri, Qilin yakin Rena akan bercerita kepadanya jika dia sudah selesai menangis. Dan akhirnya disinilah mereka berdua, di sofa ruang tengah dengan posisi Rena yang duduk sembari menekuk kedua kakinya.
'' Kamu mau cerita padaku?'' Tanya Qilin.
Rena menatap Qilin, dia tahu Qilin orang yang baik bahkan Qilin sudah berpesan kepadanya untuk agar tidak mengaborsi kandungannya jika sampai dirinya hamil, tapi bagaimana dengan kehidupan dirinya nanti, dia belum menikah.
'' Qilin.. sepertinya aku hamil..'' Ujar Rena, dan Qilin menutup mulutnya.
'' Kamu sudah pastikan bahwa kamu hamil?'' Tanya Qilin dan Rena menggelengkan kepalanya.
'' Kita pastikan saja dulu, apakah kamu sungguhan hamil atau tidak.. ayo kita ke klinik atau puskesmas.'' Ujar Qilin.
'' Tapi aku malu.. '' Ujar Rena, bagaimanapun dia wanita yang belum menikah tapi sudah mengandung.
'' Kalau begitu aku kan bantu kamu beli alat tes kehamilan saja, bagaimana?'' Tanya Qilin.
'' Kamu tidak apa apa? bagaimana jika kamu yang di kira hamil?'' Ujar Rena.
'' Wanita hamil itu wajar, jika laki - laki yang hamil baru aneh.'' Ujar Qilin dan Rena tertawa di sela - sela tangisnya.
'' Tunggu aku, aku akan beli alat itu.'' Ujar Qilin dan Rena mengangguk.
Qilin pun keluar dari rumah dan berjalan menuju ke apotek terdekat, sesampainya di sana Qilin langsung bertanya pada pihak apotek letak alat tes kehamilan.
Qilin di beri tahu dan dia pun berjalan menuju rak dimana alat tes kehamilan itu berada, Qilin mengambil beberapa alat tes kehamilah dari beberapa merk, agar bisa yalin dengan hasil yang akan keluar nanti.
" Rena kan selalu mual, lebih baik aku sekalian belikan dia obat mual saja." Gumam Qilin.
__ADS_1
Qilin mengambil obat pereda mual juga, lalu berjalan menuju kasir. Dari rak tadi Qilin berdiri, muncul seorang pria dengan wajah piasnya, Fendy..
Fendy yang sedang membeli obat di apotek itu senang ketika melihat Qilin, dia handak menyapa tapi dia mengurungkan niatnya ketika melihat apa yang Qilin ambil, beberapa alat tes kehamilan.
Fendy menatap heran tapi kemudian telinganya menjadi segar ketika mendengar Rena mual mual, dari situ Fendy bisa menebak bahwa Qilin membeli alat tes kehamilan untuk Rena yang sudah lama hilang bagai di telan bumi.
" Apakah Rena hamil?" Gumam Fendy dengan wajah pucatnya.
Qilin sampai dirumahnya, dan langsung memberikan alat tes kahamilan itu pada Rena.
" Cobalah.." Ujar Qilin, dan rena mengangguk.
Rena masuk ke dalam kamar mandi dan langsung melakukan pengecekan dia menunggu beberapa saat hingga hasilnya muncul. Sambil menunggu, Rwna beberapa kali mendongakan kepalanya ke langit langit.
' Tolong Tuhan, jangan sampai aku hamil. Lasihan anak itu jika sampai lahir ke dunia tanpa hadirnya sosok seorang ayah.' Batin Rena.
Tapi terkadang, apa yang manusia harapkan dan doakan tidak sesuai dengan rencana Tuhan. Nyatanya Tuhan sudah membuat rencananya sendiri, dan Rena.. hamil.
Rena menangis ketika melihat hasil dari alat tes kehamilan nya yang menunjukan bahwa dia positif hamil. Dia berulang kali menghapus air matanya, tapi tetap mengalir.
Rena membuka satu kemasan lagi dan melakukan pengetesan sekali lagi untuk memastikan apakah hasilnya sama atau tidak, tapi tetap saja.. positif.
' Kenapa begini..' Batin Rena.
Belum juga dia hidup tenang dari gangguan mantan tunangannya yang setiap hari menghubunginya, kini dia harus menerima kenyataan dirinya hamil anak Fendy.
Kenapa yakin itu adalah anak Fendy, karena Rena pertama kali melakukannya dengan Fendy, dia belum pernah melakukannya dengan mantan tunangannya meski mereka tinggal satu atap.
Rena keluar dari kamar mandi dengan lesu, dan Qilin masih setian menunggunya di luar kamar mandi.
" Bagaimana??" Tanya Qilin penasaran.
" Aku positif hamil, Qilin.." Ujar Rena lalu menangis di pelukan Qilin.
Qilin hanya bisa mengusap usap pundak Rena, seakan memberikan kekuatan untuk Rena, walau sebenarnya dirinya juga ikut bingung.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1