Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 26. Justin Sadar.


__ADS_3

Qilin sudah segar dengan baju rumahnya, ia menguncir rambut peraknya dengan gaya cepol dan berjalan menuju ke dapur. Qilin melihat bahan makanan di kulkas, tapi tidak ada apapun.


" Astaga Qilin, kau benar benar sudah menyiksa dirimu sendiri." Gumam Qilin.


Dia sampai lupa belanja bahan makanan untuknya, akhirnya dia mengeluarkan mie instan dan merebusnya.


Sambil merebus mie, pandangan Qilin jatuh pada bunga yang dia ambil dari depan rumahnya tadi.


" Sebenarnya siapa yang mengirim bunga, apa pengirimnya salah tulis nama?" Gumam Qilin.


Setelah mie itu matang, Qilin pun memakannya. Hari bahkan sudah hampir sore karena Qilin tidur di bus begitu lama tadi.


Di tempat lain..


Di LA, Sierra dan Arthur masih menunggu keajaiban untuk Justin sadar. Justin masih belum bangun setelah operasi, Sierra dan Arthur sampai tidak tidur sama sekali demi menunggu Justin sadar.


" Sayang, kamu tidur saja, Aku yang akan menjaga Justin." Ujar Arthur.


" Aku ingin melihat Justin sadar, dad." Ujar Sierra.


" Saat dia bangun, aku akan bangunkan kamu." Ujar Arthur.


Tapi baru saja Arthur berkata demikian, Sierra melihat Justin yang perlahan membuka matanya, Sierra pun langsung menghampiri Justin.


" Justin, kamu sudah sadar, sayang." Ujar Sierra senang.


Arthur pun ikut menghampiri Justin, dan sekaligus memanggil Sammy dari tombol yang tersedia di sana.


Justin perlahan membuka matanya, dan yang di lihatnya pertama kali adalah Sierra lalu Arthur.


" Mom, dad.." Ujar Justin.


Sierra senang mendengarnya, Justin masih mengenali dirinya dan Arthur.


" Iya, nak.. Ini mommy." Ujar Sierra.


Sammy datang, dan menghampiri Justin yang.


" Halo jagoan, kau sudah bangun rupanya? Bagaimana perasaanmu?" Ujar Sammy, namun Justin hanya diam.


" Eih, kamu tidak kenal pamanmu ini, kah?" Ujar Sammy.


" Ayolah paman, aku bukan anak kecil." Ujar Justin, dan Sammy tekekeh.


" Kau masih ingat rupanya, bagus - bagus. Katakan padaku, ini berapa?" Ujar Sammy menunjukan jarinya yang membentuk V.


" Dua." Ujar Justin singkat.


" Bagus, sepertinya ingatanmu sudah kembali." Ujar Sammy.


" Memang siapa yang hilang ingatan?" Ujar Justin dan itu membuat Sierra, Arthur dan Sammy saling pandang.

__ADS_1


" Kamu." Ujar Sammy.


" Aku? Hilang ingatan??" Ujar Justin, dan Sammy mengangguk.


" Jangan di pikirkan, fokus saja pada kesembuhanmu." Ujar Sammy.


" Kamu ingin sesuatu, nak?" Tanya Sierra, dan Justin menggeleng.


" Sejak kapan aku hilang ingatan, mom?" Tanya Justin.


" Sejak.. kamu jatuh dari helikopter saat kamu melakukan sky diving di Bogor." Ujar Sierra.


" Istirahatlah, kamu harus banyak istirahat." Ujar Arthur, dan Justin mengangguk.


Justin yang terlihat sekarang, sangat berbeda dengan Justin saat hilang ingatan. Justin sudah tidak berbicara layaknya anak kecil lagi.


" Dad, Justin tidak ingat dengan Qilin." Ujar Sierra pada Arthur ketika mereka berdua keluar dari ruangan Justin.


" Sammy sudah menjelaskannya, yang penting Justin sudah kembali dan ingatannya juga sudah pulih. Gadis bernama Qilin itu.. anggaplah tidak pernah ada." Ujar Arthur.


' Kasihan gadis itu..' Batin Sierra.


Mungkin karena sesama wanita, Sierra memikirkan bagaimana perasaan Qilin. Hanya saja, Justin tidak mengingatnya.. dia pun tidak bisa memaksa Justin untuk mengingat Qilin.


___________________________


SATU BULAN KEMUDIAN..


Di sebuah gedung tinggi, terlihat seorang pria yang sangat tampan dengan pakaian formalnya tampak sedang berdiri menatap keluar jendela kaca gedung itu.


" Kamu sudah siap, nak? Kita akan melakukan penerbangan untuk pulang ke Jakarta." Ujar suara Sierra.


" Aku sudah siap, mom." Ujar Justin.


Ya, Justin.. Wajahnya sudah kembali seperti sedia kala, tidak ada sedikitpun bekas luka di wajah Justin. Sifatnya juga tidak seperti Justin yang idiot, dia tampak sangat berbanding terbalik.


" Ayo.." Ujar Sierra.


Justin pun berjalan pergi dari sana bersama Sierra, sementara Arthur dia sudsh lebih dulu kembali ke tanah air karena dia harus mengurus bisnisnya.


Di Tanah air..


Qilin sedang bekerja di cafe tempat nya biasa bekerja, dia shift pagi sampai sore. Qilin terlihat sangat ceria dan menyapa para pelanggan dengan ramah.


" Terimakasih, jangan lupa mampir kembali." Ujar Qilin.


Rena sampai geleng geleng melihat Qilin yang tampak begitu semangat sejak pagi hingga sekarang.


" Qilin, kamu tidak lelah bergerak kesana kemari dan menyapa semua orang?" Ujar Rena.


" Tidak sama sekali." Ujar Qilin dengan senyum manisnya.

__ADS_1


" Hebat.." Ujar Rena.


" Kak Fendy, aku selesai." Ujar Qilin.


" Oke, terimakasih untuk kerja kerasmu, Qilin." Ujar Fendy.


Qilin pun masuk ke dalam dan mengganti bajunya, dia sudah selesai bekerja dan akan pulang ke rumah. Setelah selesai, Qilin pun berjalan leluar dari ruang ganti.


" Qilin, ini untukmu." Ujar Fendy sembari memberikan kotak hadiah pada Qilin.


" Lagi?? Kak Fendy aku sedang tidak berulang tahun, kenapa kakak memberiku hadiah setiap minggu?" Ujar Qilin.


" Dan aku mohon jangan di tolak lagi." Ujar Fendy.


" Aku tidak menerima hadiah secara cuma cuma, kak." Ujar Qilin sambil terkekeh kecil.


" Ayolah, kamu selalu menolak hadiah dariku, padahal niatku baik." Ujar Fendy.


" Aku tahu niat kakak baik.."


" Kalau begitu untuk kali ini saja, terimalah hadiah dariku." Ujar Fendy memotong ucapan Qilin.


Fendy bahkan memasang wajah menyedihkan agar Qilin menerima hadiah darinya.


" Tidak, kak." Ujar Qilin, dan Fendy menghela nafas.


" Aku pulang dulu, bye kak Fendy." Ujar Qilin dan pergi dari sana.


" Hmm.. Kamu masih harus berusaha lebih keras lagi, Fen." Gumam Fendy.


Qilin sampai di rumahnya, dan dia langsung membawa keranjang pakaian kotornya dan naik ke lantai dua, dimana di sana ada mesin cuci. Qilin memasukan pakaiannya, dan menekan tombol mesin cuci untuk mulai mencuci.


Saat Qilin hendak turun, dia menghentikan langkahnya dan melihat ke arah kamar yang dulunya di tempati Justin.


Qilin bukannya belum bisa menerima kenyataan, selama sebulan ini dia sungguh berjuang untuk melupakan bahwa Justin pernah tinggal di sana, dan menata hidupnya kembali seperti dulu, sepi dan sendirian.


Qilin bahkan tidak pernah sekalipun masuk ke dalam kamar Justin, setelah terakhir kali dia tidur di sana setelah kepergian Justin.


Qilin membuka pintu kamar Justin, dan masuk kedalamnya. Kembali berputar di ingatan Qilin semua tentang Justin saat masih tinggal di kamar itu.


" Sudah sebulan, Justin.." Gumam Qilin.


Qilin duduk di ranjang, dan matanya menyapu seluruh isi ruangan itu yang tampak berdebu karena tidak pernah ia bersihkan.


Qilin pun bangun dan keluar untuk mengambil alat bersih - bersih dan mulai membersihkan kamar Justin, seakan Justin akan tidur di sana lagi.


Tidak terasa dia memakan banyak waktu untuk membersihkan kamar Justin, setelah semua selesai, Qilin memasang kembali sprei, di ranjang Justin, dengan warna kesukaan Justin, biru.


Karena merasa lelah, Qilin merebahkan dirinya di ranjang itu dan memejamkan matanya. Tiba tiba saja, air mata meleleh dari pelupuk mata Qilin.


' Aku merindukannya, Tuhan..' Batin Qilin, dan menggenggam kalung salib kecil yang bertuliskan nama Justin di lehernya.

__ADS_1


Dia berusaha begitu keras untuk menerima bahwa Justin tidak akan kembali, tapi hatinya masih berharap. Qilin pun tertidur sambil menangis tanpa suara.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2