
Dan akhirnya setelah Qilin berpamitan, saat itu juga Justin langsung membawa Qilin ke bandara. Justin sangat khawatir dengan kesehatan Qilin. Beruntukngnya semua kejadian itu berakhir sebelum salju turun, jika tidak.. entahlah apa yang akan terjadi dengan Qilin.
'' Kita mau kemana?'' Tanya Qilin.
'' Bandara, sayang.'' Ujar Justin.
'' Ha, tapi aku belum mengurusi data diriku, aku masih berstatus sebagai Mia.'' Ujar Qilin.
'' Jangan khawatir, aku sudah mengurusnya, sayang.'' Ujar Justin.
Qilin kadang kadang bingung dengan mereka yang bisa dengan mudahnya mengganti ganti identitas orang lain, seakan negara itu tidak memiliki hukum.
Dan akhirnya mereka sampai di bandara International, Justin menggandeng tangan Qilin untuk membuat tangan Qilin tetap hangat walau sudah menggunakan sarung tangan. Mereka pun langsung naik ke pesawat, tapi Qilin bingung karena pesawat itu tidak memiliki penumpang lain.
'' Apa kita adalah penumpang pertama yang naik ke pesawat?'' Tanya Qilin, dan Justin tersenyum mendengarnya.
''Tidak, sayang.. ini jet pribadi milik keluarga Edward, milik daddy.'' Ujar Justin.
'' Woah, sungguh?'' Ujar Qilin terkejut dengan wajah lucu.
''Ayo.'' Ujar Justin dan membawa Qilin masuk ke bagian kamar.
Dalam pesawat itu, terdapat delapan kursi oenumpang yang bisa juga di jadikan kursi santai karena terdapat tv di sana, meja makan dengan empat kursi, satu ranjang besar berukuran king size, kamar mandi, lemari pakaian, benar benar seperti rumah dalam bentuk pesawat.
'' Jika kamu phobia ketinggian, kamu bisa tidur saja.'' Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
Justin pun menutup pintu pembatas antara kamar dan bagian tengah pesawat, barulah beberapa anak buah Justin yang mengawal Justin naik ke pesawat dan pesawat itu pun lepas landas.
Di tempat lain.. tepatnya di tanah air.
Dustin terlihat sedang sangat fokus dengan pekerjaan nya, di Jakarta sendiri saat ini sudah sore dan sudah mulai sering hujan. Tiba tiba salah satu anak buahnya masuk dan memberi tahu Dustin sesuatu.
'' Tuan, Tuan Justin sedang dalam perjalanan dari Swiss kemari.'' Ujar anak buah Dustin.
'' Hm, kau boleh pergi.'' Sahut Justin tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari layar laptopnya.
'' Baik.'' Ujar anak buah Dustin.
Dan setelah anak buahnya pergi, barulah Dustin menghentikan aktifitasnya. Dustin menyenderkan dirinya di kursi kerjanya dan memejamkan mata, lalu dia menghela nafas. Entahlah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
__ADS_1
Dustin kembali membuka matanya, lalu mematikan laptopnya kemudian dia bangun dari duduknya dan pergi dari ruang kerja nya.
" Kita pulang, kerumah utama." Ujar Dustin, dan anak buahnya mengangguk.
Rumah utama yang Dustin maksudkan adalah rumah Arthur dan Sierra.
Sementara di kediaman Qilin yang sudah lama tidak di ketahui kabarnya, Rena sedang berjalan kaki dengan membawa barang belanjaan dan masuk kedalam rumah.
Rena merasa rumah itu kurang lengkap tanpa kehadiran Qilin.
" Apalah Qilin sudah di temukan? Kenapa lama sekali tidak ada kabar." Gumam Rena.
" Kamu bergumam apa?" Ujar Fendy yang melihat Rena menggumam.
" Kamu pulang? Kan bukan jam istirahat." Ujar Rena terkejut melihat Fendy di rumah.
" Aku merindukanmu." Ujar Fendy dan berjalan lalu memeluk Rena.
Ya, setelah berjalan nya waktu, Fendy akhirnya nyaman dengan Rena dan muncul rasa sayang pada Rena. Akhir akhir ini, Fendy sering mengutarakan kata sayang dan rindu pada Rena.
" Dan dia.." Ujar Fendy mengusap perut Rena yang belum tampak besar.
Akhirnya Fendy pun mulai sesikit demi sedikit belajar memahami Rena yang tiba tiba sedih, tiba tiba senang, tiba tiba diam dan tiba tiba saja mengambek itu.
" Halo anak papa, kamu kamu sedang apa?" Ujar Fendy dan Rena terkekeh.
Hal kecil seperti itu bisa membuat ibu hamil senang, suasana hati yang buruk jadi hilang karena perhatian kecil sang suami, walau hanya menyapa buah hati yang masih dalam kandungan.
" Kau ini, dia belum bisa merespon apapun di dalam sana." Ujar Rena sambil terkekeh.
" Tetap saja, aku yakin dia akan mengerti bahwa papanya selalu menyapanya." Ujar Fendy, dan mengusap lalu mengecup perut Rena.
Physical touch atau sentuhan fisik juga sangat berarti bagi ibu hamil, karena itu bisa membuat ibu hamil merasa bahwa dirinya di perhatikan dan di sayangi oleh pasangannya.
" Kamu dari mana? " Tanya Fendy dan akhirnya berdiri.
" Beli perlengkapan mandi, dan snack." Ujar Rena, sembari menunjukan belanjaan nya.
" Kenapa tidak bilang saja padaku, aku bisa membelinya setelah pulang kerja." Ujar Fendy, dan mengambil alih kantong belanjaan itu.
__ADS_1
" Sekalian jalan jalan, aku bosan di rumah. Dan lagi pula memangnya kamu kapan bisa mampir ke super market, kamu selalu pulang malam, kalau tidak pulang pagi." Ujar Rena.
Tiba tiba saja Fendy menghampiri Rena dan menggendong Rena dengan tiba tiba. Rena pun sontak langsung mengalunkan tangan nya di leher Fendy.
" Maaf ya.. kamu jadi repot sendiri. Aku akan atur jadwal, agar bisa lebih lama menemani kamu, kamu mau jalan jalan kemana?" Tanya Fendy, sambil berjalan menuju kamar.
" Kamu mau cuti?" Tanya Rena.
" Mmm.. jika kamu mau, aku akan cuti." Ujar Fendy, dan Rena tersenyum.
Fendy merebahkan Rena di ranjang dengan perlahan, lalu dirinya pun ikut naik ke ranjang.
" Nanti saja cutinya, saat kita akan memeriksakan kandungan." Ujar Rena.
" Baiklah kalau begitu, tudurlah.. Kamu tidak boleh lelah." Ujar Fendy dan mencium kening Rena.
Rena mrngangguk, dan dengan sedikit ragu, Rena mengulurkan tangannya dan memeluk Fendy. Rena sangat senang mendapatkan perlakuan manis dari Fendy, tapi dia tidak tahu apakah Fendy sungguh menyayanginya atau hanya karena ada anaknya diantara mereka.
' Apa Fendy sungguh menyayangiku, atau karena ada anak yang aku kandung?' Batin Rena.
' Apa yang kamu pikirkan Rena, jangan membuat anakmu merasakan kesedihanmu.' Batin Rena lagi.
Setelah memastikan Rena tidur dengan pulas, Fendy pun bangun dari ranjang dan menyelimuti Rena. Setelah itu Fendy pun mengecup perut rata Rena.
' Bahagialah selalu di dalam sana, sayang.. papa akan berusaha me jadi papa terbaik untukmu.' Batin Fendy tersenyum sembari menatap perut Rena.
Fendy beralih menatap Rena, lalu mencium kening Rena dan memgamati wajah wanita yang sedang mengandung anaknya itu.
' Dulu kita teman, tapi siapa yang sangka kejadian satu malam itu.. membuat kita berada di situasi seperti ini. Situasi yang mengharuskan kita menjadi orang tua.' Batin Fendy.
' Aku tidak menyangka, wanita yang akan mengandung benihku adalah kamu. Wanita galak yang menjadi teman dekat sekaligus teman curhatku.' Batin Fendy lagi sambil tersenyum.
Takdir memang tidak ada yang tahu, bukan? Rupanya diam diam Tuhan sudah menciptakan sekenario tersendiri untuk umatnya.
' Aku berjanji.. akan berusaha mencintaimu, dan menjadi ayah dan suami yang baik untukmu dan anak kita, nanti.' Batin Fendy.
Maka dari itu.. janganlah kamu terlalu membenci musuhmu, karena bisa jadi saja musuhmu itu adalah orang yang akan kamu cintai mati matian.
Udang di balik batu, siapa yang tahu???
__ADS_1
TO BE CONTONUED...