Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 56. Cemburu hingga kehilangan akal.


__ADS_3

Qilin sudah terlelap di tidurnya, dan sebuah bayamgan muncul dari pintu masuk kamar Qilin yang sengaja tidak di tutup.


Qilin tidak menutup pintu kamarnya karena dia berjaga jaga jika Rena bangun dan muntah muntah kembali, jadi dia akan dengan sigap menolong Rena.


Justin masuk dan duduk di tepi ranjang Qilin, dia memandangi wajah damai Qilin yang sedang tidur itu lalu mengusapnya dengan lembut.


' Kenapa kamu masih menemui Fendy, sayang.. apa kamu juga memiliki rasa padanya.' Batin Justin.


Rasa cemburu kadang bisa membuat seseorang menjadi berpikir tidak logis, dia jadi berpikir hal yang tidak - tidak dan menjadi cemburu sendiri.


Justin marah, namun juga sedih. Justin tidak mau mengurung Qilin bersamanya terus karena Justin sangat mencintai Qilin, tapi Qilin.. bagai burung yang terbang kesana kemari.


' Apa cintaku saja tidak cukup untukmu? Aku tidak mau menjadi kejam dengan mengurungmu denganku, aku sangat mencintaimu.. ' Batin Justin lagi.


Justin merebahkan dirinya dan memeluk Qilin dari belakang, saat itu juga Qilin membuka matanya dan merasakan tangan besar malingkar di perutnya. Qilin sudah tahu itu siapa, sudah pasti itu Justin.


Hanya saja, Qilin merasa ada air yang mengalir di lehernya. Qilin pun langsung memutar tubuhnya dan kini tatapan keduanya bertemu.


" Justin, kamu menangis??" Ujar Qilin, saat melihat mata Justin yang basah.


Rasa marah Justin hilang ketika sudah melihat wajah Qilin dan mendengar suaranya yang begitu dia rindukan. Qilin mengusap air mata Justin dan menjadi ikut sedih melihat orang yang di cintainya menangis.


" Kenapa?? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Qilin, namun Justin justru menarik Qilin kedalam dekapannya.


" Tidak ada.. Apa kamu tidak punya cerita? Aku sangat ingin mendengar cerita darimu." Ujar Justin.


" Cerita?? Apa kamu mau dengar dongeng?" Tanya Qilin, dan Justin menggeleng.


" Cerita tentangmu satu hari ini tanpa diriku." Ujar Justin.


Qilin menjadi diam, apa dia juga akan bercerita tentang Rena yang hamil pada Justin? Tapi Qilin yakin Dustin sudah bercerita pada Justin tentang pertemuannya di taman dengan Fendy, Qilin tidak mau sampai Justin salah paham kepadanya.


" Kamu tidak punya cerita?" Tanya Justin.


" Ada.. tapi.. " Ucap Qilin ragu ragu.


" Jika tidak ada, maka kita tidur saja." Ujar Justin, dan semakin mendekap Qilin dengan erat.


Sejenak hanya hening yang terjadi, Justin begitu sedih karena Qilin tidak cerita padanya tentang pertemuan Qilin dengan Fendy, dan Qilin sendiri bingung untuk mulai bercerita dari mana pada Justin.


" Justin.." Panggil Qilin.


" Hm.." Sahut Justin.


" Rena hamil." Ujar Qilin tiba tiba dan itu membuat Justin membuka matanya.


" Aku mendatangi kak Fendy tadi untuk mrmberi tahu dia bahwa Rena hamil, Fendy harus bertanggung jawab atas anak yang tidak bersalah itu, tapi Fendy menjadi egois." Ujar Qilin mulai bercerita.


" Dia berkata belum mau menjadi seorang ayah di usia yang muda, lalu bagaimana dengan anak itu??" Ujar Qilin menjadi sedih.


Justin sedikit terkejut mendengarnya, rupanya apa yang dia pikirkan itu tidak pernah terjadi, dan dia hanya berpikir berlabihan saja.

__ADS_1


" Aku tidak masalah jika membantu Rena membesarkan bayi itu, tapi Rena sendiri juga sedih dengan kehamilannya. Justin, aku takut Rena mengaborsi bayinya.." Ujar Qilin, dan memeluk erat Justin.


" Aku juga anak yang tidak di inginkan orang tuaku, aku hanya tidak mau ada anak lain yang mengalami nasib sama sepertiku." Ujar Qilin lalu menangis karena merasa sedih sendiri.


" Anak itu tidak bersalah." Ujar Qilin lagi


Tahu bahwa Qilin menangis, Justin pun mengecup pucuk krpala Qilin berkali kali.


' Bagaimana bisa aku berpikiran bodoh seperti itu, Qilin adalah gadis berhati Malaikat.. seharusnya aku tahu Qilin tidak akan melakukan hal seperti yang aku pikirkan, kau bodoh Justin.' Batin Justin.


" Sst.. Jangan menangis, sayang. Aku akan membantumu untuk membuat Fendy bertanggung jawab atas perbuatannya." Ujar Justin.


" Sungguh??" Gumam Qilin, dan Justin mengangguk.


" Tidurlah.. sudah malam." Ujar Qilin.


" Lalu kenapa kamu datang malam malam kemari? Bukankah kamu bilang kamu akan datang lagi besok?" Tanya Qilin, dan seketika Justin bingung sendiri.


Tidak mungkin Justin mengatakan kepada Qilin bahwa dia marah dan cemburu sampai tidak berpikir jernih, kan? Mau di taruh dimana mukanya, Justin bahkan berpikiran bahwa Qilin berselingkuh sebelumnya.


' Tidak mungkin aku mengatakan bahwa aku cemburu hingga tidak berotak, kan?' Batin Justin.


" Aku merindukan Qilinku saja." Ujar Justin akhirnya.


" Cih, padahal belum ada satu hari." Ujar Qilin, dan Justin terkekeh.


Justin pun kembali memeluk Qilin dengan erat, dan akhirnya mereka berdua pun tidur bersama.


Qilin bangun ketika mendengar suara Rena yang sedang muntah muntah, dan rupanya Justin juga masih berada di sana sambil memeluknya.


Qilin pun bangun dengan pelan pelan dan turun ke bawah menemui Rena. Terlihat Rena yang keluar dari kamar mandi dengan wajah basah, mungkin baru mencuci muka nya.


" Rena, kamu baik baik saja?" Tanya Qilin.


" Aku baik baik saja, maaf aku mengganggu tidurmu." Ujar Rena.


" Tidak, apa kamu menginginkan sesuatu?" Tanya Qilin.


" Aku ingin makan makanan yang asam." Ujar Rena.


" Sepagi ini?" Ujar Qilin tidak percaya.


" Hm.. Sepertinya enak untuk mengurangi rasa mual di perutku." Ujar Rena.


" Maka carilah ayah dari anakmu, dan menikah dengannya. Kau bisa meminta apapun yang kau inginkan, bukan dari Qilin." Ujar Justin yang turun dari tangga.


Qilin meringis kaku mendengar ucapan Justin, terdengar seperti tidak berperasaan.


" T- tuan Justin?" Ujar Rena terkejut.


" Justin.." Gumam Qilin merasa tidak enak dengan Rena.

__ADS_1


" Aku sudah memintanya datang." Ujar Justin, sambil duduk di sisi Qilin.


" Siapa?" Tanya Qilin.


" Ayah dari anak itu." Ujar Justin singkat.


Dan tak lama, pintu gerbang sungguh di ketuk seseorang.


" Bukalah.." Ujar Justin menatap Rena.


Rena pun mau tidak mau mengangguk dan bangun menuju pintu keluar, dan benar saja.. Fendy ada di luar sana.


Tatapan Fendy saat ini bertemu dengan Rena, keduanya tampak diam dan Rena pun membukakan pintu untuk Fendy.


" Rena.. kamu tinggal di sini selama ini?" Tanya Fendy, dan Rena mengangguk tanpa bersuara.


Entah mengapa ada rasa rindu di hati Rena pada Fendy, padahal Rena tidak mencintai Fendy dan hanya menganggapnya teman, apakah itu yang dinamakan bawaan bayi?


" Masuklah." Ujar Rena dan berjalan lebih dulu masuk ke dalam.


Justin pun melihat Fendy, semalam setelah Qilin bercerita dan Qilin tidur, Justin meminta seorang dari anak buahnya untuk mendatangi Fendy.


" Duduklah." Ujar Justin, dan Fendy mengangguk.


Terlihat ruangan itu menjadi begitu menegangkan, Rena hanya duduk diam dan Fendy juga seperti orang yang sedang di hukum oleh ayahnya, hanya menunduk. ⁿ


" Kalian berdua, selesaikanlah masalah kalian, dan jangan menjadi kekanak kanakan. Kalian berdua sudah dewasa, bukan? Kehamilan itu bukan lelucon, anak itu butuh sosok kedua orang tuannya." Ujar Justin.


" Bertanggung jawablah dengan perbuatan kalian, jangan menjadi egois dan menelantarkan anak itu." Ujar Justin lagi, dan bangun lalu menggendeng Qilin keluar dari rumah.


" Kita mau kemana?" Tanya Qilin.


" Memberikan mereka berdua privasi untuk bicara, sayang." Ujar Justin lalu keluar.


Sementara dua orang yang di tinggal di satu ruangan itu, kini menjadi saling canggung.


" Ren.."


" Uek!!" Rena mual ketika Fendy baru saja hendak bicara.


Rena berlari ke kamar mandi, dan Fendy langsung menyusulnya. Fendy membantu menekan nekan tengkuk leher Rena, dan entah mengapa terbesit kekhawatiran di hati Fendy melihat Rena yang lemas.


" Kamu tidak apa apa?" Tanya Fendy, dan Rena menggeleng lemah.


"Ayo aku gendong." Ujar Fendy.


Fendy menggendong Rena, dan entah mengapa Rena memeluk Fendy dengan erat lalu menangis.


" Bagaimana dengan anak ini, yang kamu cintai adalah Qilin.. " Gumam Rena.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2