
Dan setelah dengan susah payah, akhirnya pohon Natal yang Justin rakit selesai juga. Pohon itu sudah berdiri tinggi menjulang, dan tinggal memasang bola - bola hias nya saja.
"Akhirnya, horee..." Qilin bertepuk tangan dengan senang.
"Fiuh.." Justin menghembuskan nafasnya, dan kini Justin tampak lucu karena dia penuh dengan gliter - gliter yang menempel dari pohon Natal itu.
"Bagaimana, sayang?" Tanya Justin pada Qilin, dan Qilin mengacungkan dua jempolnya.
"Tapi aku mengantuk, bagaimana jika kita lanjutkan besok saja?" Ujar Qilin, Justin terkekeh mendengarnya.
"Oke.. kita lanjutkan besok saja, aku juga sudah gatal - gatal." Ujar Justin akhirnya sambil garuk garuk.
"Kamu harus mandi, sayang. tubuhmu penuh dengan gliter." Ujar Qilin sembari terkekeh.
" Ayo kita naik ke atas." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk. Akhirnya keduanya pun naik ke atas, ke kamar mereka.
" Aku mandi dulu, sayang." Ujar Justin, dan Qikin mengangguk. Justin masuk kedalam kamar mandi, sementara Qilin, dia naik ke atas ranjang dan meraba perutnya yang mulai keras.
"Sayang, sebentar lagi mama akan meberi tahu semua orang tentang kehadiranmu di perut mama, mama sungguh sangat tidak sabar." Ujar Qilin dengan senyum manis.
Qilin kemudian menerawang jauh, dia mengingat kerasnya hidupnya yang besar tanpa kasih sayang, kemudian dia menghela nafas.
"Mama janji, akan memberikan semua yang terbaik yang bisa mama berikan untukmu, nak. Mama tidak akan membiarkan kamu mengalami apa yang mama rasakan dulu." Gumam Qilin.
"Mama ingin kamu hidup bahagia."Ujar Qilin lagi dan sebutir air mata lolos dari pipinya.
Tak lama Justin keluar dari kamar mandi, dan mendapati Qilin yang sedang menghapus air matanya. Justin pun langsung panik dan menghampiri Qilin.
"Ada apa, sayang? Apa ada yang sakit?" Tanya Justin dengan wajah paniknya, Qilin tersenyum lalu menggeleng.
"Lalu kenapa kamu menangis?" Tanya Justin, dan menghapus air mata Qilin.
"Hanya merasa bahagia, karena ada si bulat yang akan segera melengkapi kita." Ujar Qilin dan justin tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Ya ampun sayang, kamu sangat emotional, ayo kita tidur." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk
Qilin tidur memeluk tubuh Justin, dan Justin pun mendekap tubuh Qilin dengan sesekali dia menciumi kening Qilin. sementara semua orang sedang tidur, Cio dengan Niklaus saat ini sedang berada di markas seseorang. Cio duduk dengan Niclaus yang berdiri di belakangnya, dan di depan Cio saat ini terlihat Clins.
'Jadi dia orang yang sudah masuk kedalam rumah kakak iparku dan membahayakan nyawa kakakku? Tsk! cuma seorang hypers*x dengan wajah cabul.' Batin Cio.
'' Jadi anda adalah tuan Lucio? Sejujurnya aku tiidak mengenal nama anda, karena yang ada di kepala saya adalah Lucifer.'' Ujar Clins.
Clins menaikkan satu alisnya karena Cio hanya diam sejak tadi, dan yang menjawab semua pertanyaan Clins adalah Niklaus. Clins yang tidak sabar itu langsung bangun dan menodongkan senjata apinya kearah Clins.
'' Apa kau anggap aku ini adalah lelucon? Sombong juga harus tahu tempat tuan Lucio, saat ini anda berada di daerah kekuasaanku dan aku bukan orang yang penyabar.'' Ujar Clins, dan menatap tajam Cio yang saat ini masih diam dan duduk manatap Clins.
Tatapan Cio menjadi sangat tajam dan dia melihat seenjata api yang di arahkan Clins kepadanya lalu kembali menatap Clins. Tiba tiba saja Cio merebut senjata api itu tanpa Clins sempat menghindar dan Cio mengarahkan senjata api itu kearah Clins.
'Gerakannya tidak bisa di baca, sudah pasti dia bukan orang sembarangan. Aku tidak boleh bertindak gegabah, barangĀ kali aku bisa menariknya dan bergabung denganku untuk menghabcurkan Lucifer. ' Batin Clins dengan wajah pias.
Dia tidak tahu saja bahwa pria yang ada di hadapannya saat ini adalah adik dari Qilin, yang siap membalik seisi dunia demi melindungi sang kakak. Bahkan Clins tidak menyadri bahwa tatapan Cio saat ini adalah tatapan ingin membunuh.
"Siapa yang tidak mengenal dia, semua orang sangat tahu dirinya. Tapi mereka tidak akan mengetahui rahasia Lucifer dan jati dirinya, sejauh ini aku adalah satu satunya musuh Lucifer yang mengetahui jati dirinya.'' Ujar Clins dengan bangga.
'Dia tahu identitas kakak ipar, sudah jelas dia adalah musuh besar kakak iparku.' Batin Cio. Tiba - tiba Clins memajukan wajahnya dan tersenyum smirk pada Cio.
''Apakah anda adalah musuhnya? Anda ingin mengajak saya untuk bekerja sama untuk mengalahkan dia? Selamat.. anda datang pada orang yang tepat." Ujar Clins dengan senang.
"Aku.. adalah Clins Wijaya, musuh bebuyutan Lucifer pertama dan Lucifer kedua." Ujar Clins dengan wajah sumringah tapi terkesan seperti psycopath.
Cio mengernyitkan keningnya, 'Lucifer pertama dan Lucifer kedua, itu artinya dia juga mengenal paman Arthur. Siapa sebenarnya dia?' Batin Cio.
Cio jadi menyadari, bahwa pria di hadapannya saat ini tidak semudah itu. Wajah santainya menyembunyikan ribuan arti, benar - benar psycopath.
Bisa jadi jika Cio membunuhnya akan ada lagi Clins - Clins lain nya yang akan terus meneror kehidupan kakaknya. Cio melihat semua yang ada di ruangan itu adalah sistem yang di kembangkan dengan suara Clins, tidak ada yang tahu apa yang Clins pasang di balik dinding - dinding bangunan nya itu.
'Pria ini psokipat, aku harus menggali untuk mencabut dia dari akarnya, aku yakin dia tidak semudah itu.' Batin Cio.
__ADS_1
"Ya, aku adalah musuhnya, dan aku ingin meminta bantuan anda untuk membunuhnya." Ujar Cio, dan Niklaus terkejut mendengarnya.
'Kenapa tuan tidak melakukan seperti rencana awal, apakah tuan menyadari sesuatu?' Batin Niklaus.
"Ho - ho - ho.. Akhirnya aku mendapatkan rekan." Ujar Clins tertawa senang.
"Tapi apa yang bisa membuatku percaya bahwa anda sungguh musuh Lucifer?" Tanya Clins.
"Dia menghancurkan rumahku dan membunuh kedua orang tuaku." Ujar Cio dengan tarapan penuh dendam yang di buat buat.
Clins menatap mata Cio, dan dia tersenyum puas ketika dia melihat tatapan penuh dendam dan amarah di mata Cio.
"Selamat datang di dunia Clins, tuan Lucio. Satu yang harus anda ketahui, bahwa Clins tidak semudah itu. Bertahun tahun aku memupuk dendam di hatiku, aku tidak akan biarkan keluarga Edward hidup bahagia." Ujar Clins, akhirnya menyebut nama kaluarga Justin.
'Benar dugaanku, dia tahu semua. Dia menyebut nama keluarga, yang berarti dia akan menghabisi semua yang merupakan anggota keluarga Edward.' Batin Cio.
"Aku sudah menyiapkannya secara matang matang, dan akan menghabisi mereka piece by piece." Ujar Clins dengan wajah mengerikan penuh dendam.
Dan akhirnya setelah pertemuan itu, Cio pun keluar dari sarang Clins. Cio menyadaei masalah mereka tidak semudah itu.
"Tuan kenapa.." Ujar Niklaus tertahan ketika Cio mengangkat tangannya dan menyuruh Niklaus diam.
Niklaus mengangguk dan mereka masuk kedalam mobil, lalu pergi dari sana.
"Setiap sisi dari bangunannya menggunakan sistem canggih, dan itu di kendalikan olehnya seorang. Dia pria yang mengerikan, kita harus memberi tahu kak Dustin." Ujar Cio, dan Niklaus mengangguk mengerti.
"Ayo ke tempat pelatihan TITANES." Ujar Cio.
"Baik, tuan." Ujar Niklaus.
"Tidak akan aku biarkan siapapun mengusik kakakku." Gumam Lucio.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1