
Dustin berdiri di kediamannya, gelap.. seluruh ruangan di kamarnya tidak ada pencahayaan sama sekali. Pikirannya masih terngiang dengan perkataan Clins yang mengatakan hanya dengan donor jantung maka Justin bisa selamat.
"Huffttt..." Dustin menghembuskan nafasnya. Dia benar - benar frustasi memikirkan jalan lain selain donor jantung yang harus dia lakukan.
"Tidak semua jantung bisa cocok, untuk mencarinya di butuhkan waktu yang lama. Satu satunya yang cocok dengan jantung Justin hanya aku, apakah aku akan mendonorkannya, aku pun masihbingin hidup." Gumam Dustin.
"Tapi jika aku egois, aku akan kehilangan kakakku, mommy dan daddy akan kehilangan putra mereka, Qilin akan kehilangan suaminya, dan anaknya.. akan kehilangan ayahnya sebelum dia lahir ke dunia." Gumam Dustin lagi semakin frustasi.
"Jalan satu - satunya adalah, kakakku harus hidup." Ujar Dustin lalu menghubungi Dokter yang menangani Justin.
"Siapkan operasinya besok, malam ini aku.... " Ujar Dustin, pembicaraan itu hanya Dustin dan dokter yang tahu, lalu panggilan itu langsung dia akhiri saat itu juga.
Setelah menghubungi dokter itu, Dustin kemudian menghubungi nomor Clins. Panggilan itu langsung tersambung, namun Dustin mendengar suara menjijikan dari sisi Clins, yaitu suara ******* wanita yang menjerit kenikmatan.
"Oh, halo Dustin Edward.. apa yang membuatmu menghubungiku malam - malam?" Ujar Clins dengan suara tidak stabil.
"Mari bertemu, bukankah kau ingin menghabisi aku juga? Jika aku mati, maka kakakku pun mati." Ujar Dustin.
Clins menyudahi aktivitasnya ketika mendengar apa yang Dustin katakan, dia langsung meninggalkan begitu saja perempuan yang sebelumnya sedang dia gempur, dan kini dia duduk di sofa sembari meneguk anggurnya.
"Apa ini? Kau ingin mati bersama - sama dengan kakakmu?" Ujar Clins, dengan sedikit bingung.
"Jika salah satu diantara kami tidak hidup, maka lebih baik tidak ada yang hidup sekalian." Ujar Dustin, dan Clins langsung terbahak.
"Hahahaha.. Dustin Edward, kau menyerah? Setelah semua yang ayahmu bangun, kau menyerah begitu saja?? Hahaha." Tawa Clins dengan renyah.
"Kau bunuh kakakku, kau bunuh juga aku sekalian. Tapi aku minta, setelah kami berdua tiada, jangan kau sentuh keluarga Edward yang lainnya." Ujar Dustin.
"Hmm.. menarik, sebuah penawaran yang sangat menarik. Kebetulan malam ini aku sedang tidak bisa tidur karena belum membun*h orang, jadi mari kita bertemu." Ujar Clins.
"Hanya kau dan aku, tidak dengan semua anak buahmu, aku pun demikian." Ujar Dustin.
"Baik.. baik.. dimana?" Tanya Clins, Dustin menyebut sebuah alamat, lalu panggilan itu di akhiri.
"Dan malam ini, aku akan menghabisimu, dengan tanganku sendiri, Clins." Gumam Dustin ketika panggilan itu di akhiri.
Dustin pun keluar dari kediamannya, dia tidak memberi tahu siapapun, tapi Ben melihatnya pergi. Ben langsung menginstruksikan anak buah Dustin yang lain untuk mengikuti Dustin.
Dustin dengan kecepatan tinggi langsung memebelah jalanan yang sepi karena itu sudah malam. Hingga ia tiba di sebuah rumah sakit milik keluarga Edward.
Ben yang mengikuti Dustin pun bingung, untuk apa malam - malam Dustin ke rumah sakit, pikirnya.
"Ikuti tuan, jangan sampai ada yang tahu. Aku yakin tuan akan melakukan hal tanpa sepengetahuan kita." Ujar Ben pada anak buah Dustin yang lain.
Dustin naik ke lift, beberapa anak buah Dustin naik tangga darurat, seorang peretas cctv menunggu di mobil untuk mengawasi kemana Dustin pergi. Ben melihat kesekeliling kira - kira siapa yang akan di temui Dustin malam malam.
__ADS_1
"Selamat malam, tuan muda." Sapa seorang petugas keamanan, Dustin pun mengangguk dan keluar menuju ke tangga darurat.
"Tuan Dustin menuju ke atap." Ujar peretas cctv kepada anak buah Dustin yang mengikuti Dustin.
Dustin sampai di atap, angin malam mengibarkan jas yang dia kenakan.
"Penembak jitu, sudah di tempat." Ujar salah seorang penembak jitu yang rupanya mengikuti Dustin dan berada di gedung sebersng rumah sakit Dustin.
"Semua sudah siap?" Tanya Ben, dan semuanya menjawab iya. Hingga tiba - tiba sebuah heli kopter terbang mendekat ke atap rumah sakit.
"Sial, dia pakai heli, aku naik dulu, beberapa jaga di bawah." Ujar Ben pada anak buah Dustin dan mereka semua mengangguk.
Ben verlari sekuat tenaga, dia tidak menghiraukan bahunya uang sakit bekas tertembak. Sementara Dustin saat ini sedang menatap Clins yang turun daei helikopternya.
Clins mengibaskan tangannya dan helikopter itu terbang tinggi pergi dari sana dan menyisakan Clins dan Dustin seorang di atap. Clins tersenyum ketika melihat Dustin yang sungguh datang sendirian.
"Hihi, kenapa wajahmu dingin sekali, Dustin Edward?" Ujar Clins sembari terkikik. Rambut Clins di kuncir ke belakang dan ia menggunakan stelan jas berwarna merah darah saat ini.
"Tidak sabar untuk membunuhmu." Sahut Dustin, dan Clins berekspresi terkejut tapi kemudian menyengir.
"Aku tidak takut." Ujar Clins dengan wajah tengilnya.
"Kau mau membunuhku dengan cara apa? Memukul, menembak, menusuk atau.. seperti cara ayahmu membunuh ayahku?" Tanya Clins. Dustin mengernyit bingung, siapa ayah Clins, pikirnya.
"Aku lahir dari wanita murahan yang menjajahkan tubuhnya pada banyak pria, lalu siapa ayahku dari sekian banyaknya pria yang ibuku tiduri? Kau bingung, kan? Aku juga heran." Ujar Clins.
"Sudahi omong kosongmu, aku tidak peduli dengan siapa ayahmu." Ujar Dustin.
"Tapi aku peduli! Aku mencarinya selama bertahun - tabun, tapi setelah aku menemukannya, rupanya dia sudah berada di perut salah satu peliharaan ayahmu." Ujar Clins.
"Aku bahkan belum sempat memanggilnya ayah, tapi dia bahkan tidak mwninggalkan tulangmya sedikitpun." Ujar Clins.
"Siapa ayahmu??" Tanya Dustin akhirnya.
"Carol.." Sahut Clins spontan. Dustin tentu terkejut, 'Carol???' Batin Dustin.
"Carol Simons.." Ujar Clins melanjutkan, Dustin terkejut mendengarnya. Clins justru terkekeh sendiri melihat wajah Dustin yang terkejut.
'Clins adalah putra Carol Simons? Si pria ped*fil dan gay itu?' Pikirnya tidak habis pikir.
"Mukamu terlihat sangat terkejut, aku puas melihatnya. Dendamku padamu dan keluargamu terutama ayahmu yang sudah membuatnya mati mengenaskan.. sangat DALAM, Dustin." Ujar Clins dengan tatapan kebencian.
Clins tiba - menyerang Dustin, dan dengan sigap Dustin menghindar. Clins dengan wajah psikopatnya, tersenyum mengerikan melihat Dustin.
"Aku juga punya peliharaan, namanya Dino. Aku berencana memberinya makan dengan seluruh anggota keluarga Edward." Ujar Clins, dan Dustin langsung emosi.
__ADS_1
"Jangan mimpi." Ujar Dustin dan menyerang Clins dengan hantaman - hantaman kerasnya.
Sementara Clins dan Dustin sedang berkelahi, Justin tiba - tiba berhenti bernafas. Dokter 1 sedang panik ketika monitor yang menunjukan detak jantung Dustin bergaris lurus.
"Dokter, tuan Dustin berhenti bernafas." Ujar Dokter 1. Dokter dua langsung panik, juga dengan Cio. Para dokter sedang berusaha untuk mengembalikan denyut jantung Dustin dengan memompanya.
"Kak." Gumam Cio, dan mencoba menghubungi Dustin, namun karena Dustin sedang berkelahi, Dustin tidak menggubris getaran ponsel di sakunya.
"Tuan, tuan Justin menolak kembali." Ujar Dokter kedua.
"Lakukan apapaun, atau kalian berdua menemaninya di liang lahat." Ujar Cio, dan dua Dokter itu ketakutan.
Sementara itu di alam lain Justin, dia sedang berdiri di sebuah tempat yang nyaman, berupa rumah yang berada di tempat yang tidak ada di dunia.
"Dimana aku?" Gumam Justin kebingungan. Ada seperti air terjun yang sangat indah, dan banyak tanaman bunga juga di sana.
Tiba - tiba Justin mengalami sakit yang teramat sangat, ia mengalami apa yang dia alami sejak sebelum bertemu Qilin hingga ia jatuh dari ketinggian saat terun payung.
"Qilin.." Gumam Justin ketika di kepalanya berputar wajah Qilin.
"Kau di beri kesempatan hidup dua kali, kau akan kembali di masa saat kau jatuh dari ketinggian." Ucap sebuah suara.
"Siapa kau?!" Ujar Justin terkejut, karena tidak ada rupa tapi ada suara.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, aku datang atas panggilan dari hatimu. Kau di berikan satu kesempatan lagi untuk hidup, dan kembali di masa dimana kau mengalami kecelakaan jatuh dari pesawat." Ujar suara itu.
"Tidak, aku tidak mau. Aku tidak mau kembali di masa itu." Ujar Justin menolak.
"Ibumu bahkan telah melewati kematian dan terlahir kembali di masa mudanya untuk mendapatkan keadilan bagi dirinya, kau tidak mau?" Ujar suara itu.
"Aku menemukan orang yang aku cintai, aku tidak mau kehilangannya." Ujar Justin.
"Kau bisa mencarinya kembali, dan mengubah jalan hidupmu sesuai yang kau inginkan." Ujar suara itu lagi.
"Aku tidak mau, aku sudah bahagia dengan hkdupku saat ini, aku sudah menikah dan aku sedang menunggu kelahiran anakku, tolong jangan pisahkan kami." Ujar Justin dengan sedih.
"Kau menolak terlahir ke masa itu?" Ujar suara itu dan Justin mengangguk.
"Aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai, Qilinku dan calon anak kami. Aku ingin mendampingi mereka hingga nanti.. aku bahkan belum melihat anakku lahir." Gumam Justin.
Tiba - tiba suara itu tidak terdengar lagi, tapi tiba - tiba ada sebuah cahaya yang muncul di hadapannya.
"Apa ini.." Gumam Justin.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1