
Ke esokan harinya..
Udara yang begitu dingin menusuk hingga ke tulang Qilin, padahal dirinya masih terbungkus selimut. Dia pun bangun dari tidurnya.
Pemandangan pertama yang dia lihat adalah Justin yang sedang menatapnya dangan sangat dalam saat ini.
" Selamat pagi, istriku." Ujar Justin, dan Qilin langsung merona karenanya.
Qilin yang merona langsung menyembunyikan dirinya di balik selimut, dan Justin pun terkekeh.
" Kenapa bersembunyi, hum?" Ujar Justin mendekap Qilin dari luar.
Justin sudah menggunakan pakaian lengkap, karena pakaian mereka sudah di kirim. Saat pagi pagi buta, Justin mendengar seseorang yang berisik di luar kamarnya, rupanya Ian yang sedang menaruh koper Qilin dan Justin di depan kamar.
Justin pun alhirnya langsung berganti menggunakan pakaian lengkap, dan kembali merebahkan dirinya di sisi Qilin dan memandang istri kecilnya itu yang masih tidur.
" Aku malu." Ujar Qilin.
" Kita sudah menikah, jadi wajar jika aku panggil kamu istriku. Atau aku panggil kamu nyonya muda Edward?" Ujar Justin.
" Tidak mau, terlalu formal." Ujar Qilin dari dalam selimut, dan Justin terkekeh mendengarnya.
" Jadi, kamu pilih yang mana?" Ujar Justin.
" Istriku saja." Ujar Qilin dengan suara kecil.
" Apa? Aku tidak dengar." Ujar Justin.
" Tidak ada siaran ulang." Ujar Qilin.
" Sayang.. kamu bilang apa tadi, aku tidak dengar." Ujar Justin.
" Tidak ada." Ujar Qilin sembari menahan senyum.
" Atau aku gelitiki kamu." Ujar Justin dan langsung menggelitiki Qilin dari luar selimut.
Qilin pun terbahak sembari bergeliat karena kegelian, dan karena hal itu, Bathrobe nya juga jadi bergeser tidak karuan dan berakhir ikatannya lepas.
Kebetulan, saat itu juga Justin membuka selimut yang menutupi tubuh Qilin dan berakhir Justin melihat pemandangan surga.
Justin terdiam dan menelan ludahnya ketika melihat betapa menggodanya Qilin dengan nafas yang terengah - engah dan dua buahnya yang terekspos.
" Justin.." Panggil Qilin yang merasa aneh dengan tatapan Justin.
" Hm.." Ujar Justin.
Qilin tidak menyadari bahwa dua buahnya terpampang sangat jelas di hadapan Justin saat ini.
" Kamu kenapa?" Tanya Qilin masih dengan nafas memburu.
' Apa yang kamu lakukan Justin.' Batin Justin.
Justin menarik kembali selimut Qilin dan menutupi tubuh Qilin hingga ke lehernya, kemudian Justin mencium bibir Qilin. Mereka berciuman lumayan lama, karena sejujurnya Justin sedang teran*sang saat ini.
" Pakai bajumu, lalu kita sarapan." Ujar Justin ketika ciumannya terlepas.
" Tapi kan kita tidak punya baju." Ujar Qilin. Tapi kemudian dia menyadari bahwa Justin sudah memakai pakaian.
" Kamu dapat daei mana pakaianmu?" Tanya Qilin.
__ADS_1
" Ian mengantarnya kemari. Alu akan tunggu di balkon, kamu ganti baju dulu." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
Justin pun bangun dari atas tubuh Qilin dan turun dari ranjang kemudian berjalan keluar ke balkon. Qilin pun bangun dan membuka selimutnya, dan dia baru sadar bahwa bagian tubuhnya terekspos.
" Astaga!" Ujar Qilin dan langsung mengikat kembali bathrobenya.
Qilin menelan ludahnya, dan menyadari sesuatu.
' Apa tadi Justin melihatku begini? ' Batin Qilin.
Qilin pun bangun dan mengambil pakaiannya, lalu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Tapi dia jadi memikirkan kejadian tadi, dia yakin Justin pasti melihat bagian tubuhnya.
' Apa Justin tidak melihatnya? Tapi tadi wajahnya menjadi aneh dan langsung menutup kembali selimutku. Apa dia juga malu melihatku?' Batin Qilin.
Setelah berganti pakaian, Qilin pun keluar dan menatap Justin yang sedang melipat kedua tangannya dan menatap kearah pantai.
' Bagaiamana ini Tuhan..' Batin Qilin.
Justin berbalik, dan melihat Qilin yang sedang menatapnya, Justin pun tersenyum pada Qilin dan menghampiri Qilin.
" Kenapa malah melamun di sini? Ayo kita sarapan, yang alin dudah berada di restoran." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
Justin sama sekali tidak menunjukan wajah marah atau kecewa atau apapun, dia bersikap seperri biasanya.. Menyayangi Qilin, dan ceria.
Justin pun menggandeng tangan Qilin dan berjalan menuju ke restoran, sepanjang Jalan itu Justin terus mengusap tangan Qilin yang sedang di gandengnya dengan penuh kasih sayang.
" Nah.. itu dia pengantin baru kita." Ujar Sierra dengan antusias.
" Mom, jangan suka menyembunyikan barang barang orang, oke.." Ujar Justin pada Sierra dan Sierra tersenyum.
" Mommy tidak melakukannya." Ujar Sierra mengelak.
" Ekhem! kak, apa kakak ipar nakal padamu? Kakak jadi diam saja begitu?" Ujar Cio pada Qilin.
Tapi Qilin hanya tersenyum canggung mendengarnya.
" Segeralah buatkan kami cicit, nak. oma dan opa sudah terlalu tua, takutnya tidak bisa melihat cicit kami nanti." Ujar Sahara sembari terkekeh.
" Oma akan berumur panjang dan akan melihat cicit - cicit oma yang lucu nanti." Ujar Justin sembari tersenyum manis.
Sierra menatap sedikit keanehan pada Qilin, Qilin hanya diam dan seperti melamun saja sejak tadi.
' Qilin berjalan dengan sangat lancar dan sama sekali tidak kesakitan, apa mereka belum melakukannya?' Batin Sierra.
' Astaga! atau jangan jangan putraku ini sudah lebih dulu merusak Qilin, anak nakal.' Batin Sierra menjadi geram pada Justin.
" Sayang, ada apa? Kenapa kamu diam saja?" Tanya Dewi.
" Tidak apa - apa, ma." Uajr Qilin sembari tersenyum.
" Sarapan dulu, mungkin Qilin masih kelelahan." Ujar Sierra.
Arthur, Cornelius, Luca dan Agra hanya ikut menyimak obrolan itu saja, sembari memakan sarapan mereka.
" Makanan tiba, dan Qilin pun langsung memakannya, namun dengan otak yang masih memikirkan kejadian pagi tadi.
" Nak, mama, papa dan adik adikmu akan kembali ke Swiss setelah ini." Ujar Dewi tiba tiba.
" Cepat sekali.." Ujar Qilin.
__ADS_1
" Kami tidak mau mengganggu bulan madu kalian, kalian pengantin baru pasti butuh waktu berdua lebih lama." Ujar Dewi.
" Jika kamu merindukan kami, kamu bisa datang kesana, nanti." Ujar Dewi lagi.
" Jangan khawatir, Justin pasti akan lebih banyak menyita waktumu nanti." Ujar Agra, akhirnya bicara.
" Mommy dan daddy juga akan kembali ke Jakarta dengan oma dan opa, nak." Ujar Sierra menimpali.
" Kalian semua pergi??" Ujar Qilin, dan semuanya mengangguk.
" Kami tidak mau mengganggu waktu manis kalian.. jadi kami semua pergi." Ujar Sahara.
Tapi Qilin menjadi sedih mendengarnya. Hingga sesi sarapan selesai, Qilin masih memasang wajah sedihnya.
Saat ini mereka sedang berada di pantai, para wanita dengan para wanita, para pria dengan para pria. Sierra dan Sahara sedang menikmati pijatan di tepi pantai, sementara Qilin dan Dewi duduk di kursi pantai.
" Kenapa nak? Sejak sarapan kamu terlihat murung." Tanya Dewi akhirnya.
Qilin menatap Dewi, tapi dia bingung harus menjelaskan dari mana kegundahan di hatinya.
" Ceritalah pada mama, bukankah mama adalah mamamu?" Ujar Dewi lagi.
Akhirnya Qilin meyakinkan dirinya dan mengambil nafas, lemudian dia hembuskan.
" Ma, Justin.. Justin.." Ujar Qilin.
" Kenapa dengan Justin?" Tanya Dewi, yang semakin yakin telah terjadi sesuatu pada Qilin.
" Justin.. dia melihat bagian atas tubuhku." Ujar Qilin akhirnya.
" Lalu?" tanya Dewi.
" Aku malu, ma. Aku juga bingung, apa yang harus aku lakukan." Ujar Qilin.
" Apa Justin belum menyentuhmu?" Tanya Dewi.
" Menyentuh??" Ujar Qilin bingung.
" Apakah kalian belum melakukan hubungan suami istri?" Tanya Dewi yang melihat kebingungan Qilin, dan Qilin menggeleng.
" Nak.. Tugas seorang istri itu melayani suaminya. Karena kalian sudah menikah, maka wajar jika suamimu melihat bagian tubuhmu, karena memang tubuhmu sudah menjadi miliknya." Ujar Dewi memberikan pencerahan.
" Dia berhak atas dirimu, dan kamu pun sebaliknya. Apakah Justin marah karena kamu belum memberikan hak nya?" Tanya Dewi dan Qilin menggeleng.
Qilin pun menceritakan kejadian tadi pagi, dan Dewi tersenyum senyum sendiri mendengar Qilin bercerita, putrinya itu masih sangat polos dengan hal seperti itu.
" Jadi sekarang aku malu, ma. Tapi Justin juga tidak marah, dia terlihat biasa saja seperti biasanya." Ujar Qilin setelah bercerita.
" Itu tandanya dia sangat menghargai dan menghormati kamu, sayang. Dia sangat mencintai kamu, jadi dia tidak mau kamu terluka atau sedih." Ujar Dewi.
" Tunjukan bahwa kamu adalah istri yang baik padanya." Ujar Dewi.
" Caranya??" Tanya Qilin.
" Dengan memberikan haknya padanya." Ujar Dewi, dan Qilin terdiam.
" Jadilah istri yang baik, sayang. Bahagiakan suamimu karena hanya dengan kamu menunjukan cintamu padanya, dia akan bahagia. Mama yakin dia bisa mengambil keputusan." Ujar Dewi, dan Qilin diam sambil berpikir.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1