Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 111. Bulan penuh madu.


__ADS_3

Dan akhirnya keduanya sudah sampai di sebuah tempat di belahan lain pulau Bali yang indah itu. Qilin bisa melihat pantai yang biru dengan alam yang membentang indah.


" Indah sekali.. aku seperti melihat lukisan." Ujar Qilin dengan antusias.


" Mau mengabadikannya? " Tanya Justin, dan Qilin mengangguk antusias.


Justin pun terkekeh dan mengambil ponselnya dari saku. Justin mengabadikan Qilin yang sedang tersenyum begitu manis melihat pemandangan.


" Curang, kamu memotretku diam - diam." Ujar Qilin, dan Justin terkekeh.


" Sekarang pemandangannya jadi kalah cantik setelah ada kamu." Ujar Justin.


" Bicaramu manis sekali." Ujar Qilin.


" Ayo foto bersama." Ujar Qilin lagi.


" Tapi aku tidak pernah berfoto, sayang." Ujar Justin.


" Berikan padaku, mungkin aku masih ingat bagaimana caranya memotret." Ujar Qilin.


Justin memberikan ponselnya pada Qilin, dan kemudian Qilin mengarahkan kamera ponsel Justin sesuai dengan ingatannya ketika dia masih memegang ponsel dulu, mereka pun mengabadikan momen momen itu dengan bahagia.


Justin sesekali mencium pipi Qilin dan itu membuat Qilin terkekeh karena hasil fotonya jadi tidak jelas akibat pergerakan Justin yang tiba - tiba.


'' Justin.. fotonya jadi bergeser.'' Ujar Qilin.


'' Oke - oke, maaf sayang..'' Ujar Justin sembari terkekeh.


Dan akhirnya mereka mengambil dan mengabadikan banyak foto di sana.


'' Ayo kita ke dalam, pemandangan di dalam sana tidak kalah indah.'' Ujar Justin.


'' Mm.. ayo.'' Ujar Qilin dengan antusias.


Mereka berdua pun masuk kedalam hotel itu dan rupanya kamar yang mereka tempati berada di tepian jurang langsung, yang membuat Qilin bisa langsung melihat pemandangan indah dari atas.


Dan seperti di kamar hotel sebelumnya, di kamar hotel itu juga terdapat kolam renang pribadi. Qilin berjalan dan berdiri di ujung pagar, Justin pun dengan sigap mengabadikan pemandangan indah itu.


Justin berjalan dan melingkarkan tangannya di perut Qilin, dan kemudian mencium pundak Qilin.


'' Suka dengan tempat ini, sayang?'' Tanya Justin.


'' Hm, sangat suka. Aku adalah penyuka keheningan, dan di sini aku merasa damai.'' Ujar Qilin.


'' Mau kita tinggal disini saja?'' Tanya Justin dan Qilin terkekeh.


'' Meski aku penyuka keheningan, tapi bersosial juga perlu dan penting, bukan? Apalagi aku adalah istrimu sekarang.'' Ujar Qilin.


'' Tidak perlu khawatirkan itu, kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Aku tidak akan membuatmu menjadi tidak nyaman, sayang.'' Ujar Justin.


'' Jika merindukan tempat ini, apakah kita boleh datang kemari?'' Tanya Qilin.


'' Tentu saja boleh, kamu mau berapa kali kembali kemari juga boleh.'' Ujar Justin.


'' Kalau begitu akau akan datang kemari saja, tapi tidak mau tinggal di sini.'' Ujar Qilin.


'' Baiklah.. apapun untukmu, sayang.'' Ujar Justin.


Qilin memutar tubuhnya dan menghadap Justin, entah dapat keberanian dari mana.. tiba - tiba Qilin mengalungkan kedua tangannya di leher Justin.

__ADS_1


Dan tiba - tiba Qilin mencium pipi Justin, dan Justin pun terkekeh karenanya. Justin pun melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Qilin lalu mengeratkannya , membuat tubuhnya dan tubuh Qilin semakin menempel.


'' Nakal..'' Ujar Justin.


'' Aku tidak melakukan apapun.'' Ujar Qilin bingung.


'' Kamu diam - diam menciumku barusan.'' Ujar Justin dan Qilin terkekeh.


Justin langsung menempelkan bibirnya pada bibir Qilin, dan berakhir keduanya saling berciuman dengan manis di sana. Ciuman yang seharusnya menjadi ciuman singkat, kini malah menjadi semakin panas.


Mata Justin tiba tiba menggelap karena saat ini dia menginginkan Qilinnya, Qilin menyadari perubahan yang ia lihat dari Justin, ia pun tersenyum.


'' Apakah di bawah sana masih sakit, sayang?'' Tanya Justin dengan suara yang berat namun lembut.


'' Hmm.. '' Sahut Qilin sembari mengangguk.


Justin menghembuskan nafasnya dan akhirnya hanya membawa Qilin kedalam pelukannya. Ia tidak mau membuat Qilin semakin kesakitan lagi, jadi dia mau tidak mau harus menahan keinginannya.


'' Ada apa?'' Tanya Qilin.


'' Tidak ada, sayang. Kamu mau berenang?'' Tanya Justin mengalihkan pembicaraan.


Tapi Qilin tidak mau membuat Justin sedih, dia tahu Justin saat ini sedang tersiksa karena menginginkan hal itu darinya.


'' Kamu menginginkan ( itu )?'' Tanya Qilin, dan Justin terdiam. Rupanya Qilin peka padanya.


'' Tidak, sayang. Aku tidak mau membuat kamu tambah sakit lagi. '' Ujar Justin.


Qilin memberanikan diri dan kembali mengalungkan tangannya di leher Justin dan mencium bibir Justin, Justin pun membalas ciuman itu dengan begitu lembut namun juga penuh dengan dominasi. Qilin semakin yakin bahwa saat ini Justin sangat menginginkan hal itu.


'' Lakukanlah..'' Ujar Qilin ketika melepas ciumannya, namun Justin justru menggelengkan kepalanya.


'' Aku tidak keberatan.. lakukanlah..'' Ujar Qilin.


Justin menatap mata Qilin, sejujurnya dirinya memang sangat menginginkan Qilin saat ini. Hanya saja dia takut menyakiti Qilin lagi. Tapi akhirnya dia kalah dengan pendiriannya.


Justin menggendong Qilin dan membawa Qilin kedalam kamar hotel itu, Justin merebahkan tubuh Qilin di ranjang dengan sangat perlahan.


" Bolehkah..??" Tanya Justin sekali lagi, dan Qilin mengangguk.


Akhirnya siang itu pun mereka melakukannya sekali lagi. Ibarat kata, sedang hangat hangatnya pengantin baru, mereka sedang di mabuk manisnya cinta mereka saat ini.


Sementara itu di tempat lain..


Sierra dan Arthur sedang duduk di sofa dengan sangat cemas saat ini, dia sudah sampai di Jakarta semalam, dan sejak semalam dia benar - benar tidak bisa tidur karena menghawatirkan seseorang.


" Bagaimana, dad? Apa ada kabar dari Dustin?" Tanya Sierra.


" Belum, sayang. Aku sedang mencoba menghubungi anak buahnya." Ujar Arthur.


Ya, Dustin sampai detik ini masih belum bisa di hubungi. Normalnya, meskipun Dustin berada di dalam pesawat dia masih akan bisa berkirim pesan dengan Sierra, tapi ini tidak..


Sebagai seorang ibu yang sangat menyayangi anak - anaknya, Sierra menjadi khawatir dengan keadaan putra bungsunya itu.


" Apa kita susul saja dia, dad?" Ujar Sierra.


" Sayang, Dustin sudah dewasa.. dia sedang menenangkan hatinya saat ini, sebagai orang tua kita harus yakin dan percaya padanya. Dia pasti baik - baik saja." Ujar Arthur.


" Tapi tidak biasanya dia begini, mommy tahu dia sudah dewasa tapi perasaan mommy tidak enak saat ini." Ujar Sierra.

__ADS_1


Entah saking terlalu khawatirnya dia dengan Dustin atau dia yang terlalu berpikir berlebihan, tapi dia gundah dan gelisah sejak semalam.


" Sayang, tenangkan hatimu.. aku sedang mencoba menghubungi anak buahnya, dia pasti tidsk akan perhi sendirian ke sana." Ujar Arthur, dan Sierra mengangguk.


" Halo, kenapa kalian sulit sekali di hubungi? Dimana Dustin?" Tanya Arthur.


" Maaf tuan besar, saya juga bingung. Saat di bandara kemarin tuan muda bilang dia akan pergi bersama kami, tapi tiba tiba tuan muda terbang lebih dulu dengan hanya membawa lima anak buah." ujar pria dari balik telepon.


" Apa maksudmu?" Ujar Arthur.


" Tuan muda tidak membawa semua anggota TITANES Muda, tuan. Tuan muda hanya membawa lima orang dari kami semua." Ujar anak buah Dustin.


" Kalian di mana, dan siapa yang ikut dengan Dustin?" Tanya Arthur.


" Ben, dan kelompoknya tuan." Ujar anak buah Dustin.


" Baik, terimakasih." Ujar Arthur setenang mungkin.


Arthur tidak mau membuat Sierra semakin kepikiran dengan Dustin yang saat ini tidak di ketahui keberadaan nya.


" Bagaimana, dad?" Tanya Sierra.


" Aku akan menghubungi Ben, sayang." Ujar Arthur.


Arthur pun mencoba menghubungi Ben dan terhubung, hanya saja tidak di angkat.


Di belahan negara lain..


Pria yang di sebut - sebut sebagai Ben, saat ini sedang menatap layar ponselnya, tapi dia bingung antara harus mengangkat panggilan dari tuan besarnya atau tidak.


" Apakah ibuku?" Tanya Dustin yang menyadari keanehan pada wajah Ben.


" Tuan besar." Ujar Ben.


" Katakan saja padanya aku baik baik saja, tapi jangan katakan dimana kita berada." Ujar Dustin, dan ben mengangguk.


" Halo, tuan besar." Ujar pria bernama Ben itu.


" Dimana Dustin? " Tanya Arthur.


" Tuan muda masih tidur, tuan." Ujar Ben.


" Kalian dimana?" Tanya Arthur.


" Maaf tuan, tuan muda melarang saya memberitahu lokasi kami." Ujar Ben.


" Apakah dia baik - baik saja?" Tanya Arthur.


" Baik, tuan.. tuan muda baik baik saja." Ujar Ben.


" Baiklah, katakan padanya untuk mengirimi kami pesan jika dia sudah bangun." Ujar Arthur, dan panggilan di akhiri.


Dustin pun hanya menatap jauh ke luar jendela, di tempat Dustin berada saat ini adalah pukul 1 siang, dan di sana saat ini juga sedang musim dingin, namun tidak bersalju.


" Tuan muda.. " gumam Ben.


Ben menjadi ikut bersedih dengan apa yang di alami tuan mudanya, Ben tentu adalah satu satunya orang yang tahu perasaan Dustin pada Qilin, sebelum Sierra dan Arthur. Karena Ben sering mengantar Dustin untuk memantau Qilin diam diam, dulu.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2