
Dan ke esokan harinya..
Hari yang semua orang tunggu - tunggu terutama Justin dan Qilin akhirnya tiba. Satu hotel itu sudah di penuhi oleh rangkaian bunga bunga yang indah di setiap sudutnya.
Di dalam satu hotel yang begitu besar dan megah beserta seluruh pantainya, tidak menerima tamu lain yang menginap kecuali tamu undangan keluarga Edward dan Khan.
Sejak pagi hingga siang hari, semua orang sangat sibuk dengan pernikahan yang akan di laksanakan sore nanti. Penataan dekorasi bunga, tirai putih yang menjuntai di sepanjang jalan menuju ke altar pernikahan bahkan di kerjakan dengan sangat lama.
'' Jaga keamanan dengan baik, hari ini adalah hari spesial.'' Ujar Malvin pada anak buah Arthur.
'' Baik, tuan.'' Ujar anak buah Arthur.
Sementara itu, Justin sedang terlihat mengenakan stelan jas yang di bantu oleh Dustin dan Arthur dengan penuh haru.
'' Akhirnya tiba hari dimana kakak akan menikah.'' Ujar Dustin.
'' Hm, setelah kamu menyelamatkan kekasihmu, bawa dia kemari dan nikahi dia jika kamu benar benar mencintainya.'' Ujar Justin, dan Dustin hanya bisa tersenyum.
'' Kamu sudah tampan, nak.'' Ujar Arthur.
'' Aku selalu tampan, dad.'' Ujar Justin sembari terkekeh.
Tapi percaya atau tidak, di mata ketiga pria itu saat ini saling berkaca - kaca. Namun isi hati mereka tentu saja berbeda beda. Justin berkaca kaca karena akhirnya dia akan menikah dengan Qilinnya.
Dustin berkaca kaca karena dia juga bahagia sebab kakak nya akhirnya menikah, tapi di sisi lain juga hatinya sedang merasakan sakit yang luar biasa. Tapi dia menahan dan menutupinya dengan senyuman yang selalu menghias indah di wajahnya.
Sedangkan Arthur, dia berkaca kaca karena sedih dan bahagia yang bersamaan. Satu putranya akan berbahagia.. tapi satu lagi harus terluka.
'' Kalau begitu aku keluar dulu untuk mencari yang lain.'' Ujar Dustin dan Justin mengangguk.
'' Tunggu di sini dan jangan pergi kemanapun, daddy akan mencari mommy mu.'' Ujar Arthur dan Justin kembali mengangguk lagi.
Justin pun kembali melihat pantulan dirinya di kaca, dia sangat tampan dengan balutan jas berwarna abu - abunya, dan kemudian tersenyum.
Sementara itu di kamar lain yaitu pihak pengantin wanita, Qilin juga sudah siap dengan gaun putih yang sangat indahnya, dia sedang berdiri di depan pantulan kaca dan seseorang sedang membantu memasangkan ekor gaun nya.
Cahaya matahari sore yang menembus tirai dan menerpa wajah Qilin, membuat Qilin benar benar terlihat sangat indah bagai peri yang tidak nyata.
'' Kamu cantik sekali sayang.'' Ujar Sierra.
'' Terimakasih, mommy.'' Ujar Qilin.
__ADS_1
'' Mommy yakin Justin akan menangis jika melihat kamu dengan penampilan ini, kamu benar benar mengagumkan.'' Ujar Sierra dan Qilin hanya bisa tersenyum.
Di hati Qilin saat ini benar benar tegang, antara gugup, haru dan bahagia yang bercampur menjadi satu hingga dia tidak bisa berkata banyak hal.
'' Nyonya Edward, semuanya sudah siap.'' Ujar Dewi yang baru saja masuk.
'' Ah, iya.. saya jadi betah di sini.'' Ujar Sierra dan Dewi pun tersenyum.
'' Dia akan menjadi putri anda juga nanti.'' Ujar Dewi dan Sierra mengangguk sambil tersenyum haru.
'' Anda adalah wanita yang sangat beruntung karena telah melahirkan malaikat tak bersayap namun sangat sempurna seperti Qilin.'' Ujar Sierra dan Dewi terkekeh.
''Kalau begitu, kita akan bertemu di luar nanti.'' Ujar Sierra dan akhirnya dia pun keluar.
Dewi menghampiri Qilin yang sedang berdiri menatapnya, wajah Qilin benar benar seperti dirinya saat masih muda dulu, tapi tidak.. Qilin tetap lebih cantik.
'' Sudah siap sayang?'' Tanya Dewi.
'' Sudah, ma..'' Ujar Qilin dengan gugup.
'' Kamu gugup?'' Tanya Dewi dan Qilin mengangguk.
'' Itu wajar, bagaimanapun ini adalah pernikahanmu. Berbahagialah nak.. semoga kalian bisa selamanya bersama hingga maut memisahkan kalian.'' Ujar Dewi, dan Qilin mengangguk sembari berkaca kaca.
'' Sudah waktunya.'' Ujar suara Agra yang masuk kedalam kamar Qilin.
'' Kalau begitu, ayo kita bersiap keluar.'' Ujar Dewi.
Dan semua orang tampak sudah berada di pantai saat ini, ya.. pemberkatan Qilin akan di lakukan di luar ruangan. Dengan memanfaatkan pemandangan matahari yang akan segera terbenam di barat.
Justin sudah berdiri dengan gagahnya di altar pernikahan dengan seorang pendeta yang berdiri di sisinya, matanya terus tertuju ke arah dimana Qilin akan keluar nanti.
Puluhan tamu juga sudah terlihat duduk dengan rapi di kursi yang sudah tertata rapi.
" Kenapa Qilin tidak keluar juga." Gumam Justin.
" Anda sudah tidak sabar melihat pengantin anda, tuan Justin?" Ujar pendeta, dan Justin tersenyum.
Lagu kemudian di alunkan dan mulai terlihat pengiring - pengiring pengantin kecil, entah itu anak siapa tapi mereka sangat lucu dan berjalan membawa bunga menuju altar.
Dan momen yang di tunggu Justin pun akhirnya tiba..
__ADS_1
' Ya Tuhan, betapa cantiknya Malaikat yang engkau kirmkan untukku.' Batin Justin.
Justin berkaca kaca melihat betapa Cantik Qilinnya dengan rambut perak yang di tata dengan sangat indah, gaun nya yang berwarna putih juga begitu cantik di tubuhnya.
" Cantik sekali.. " Ujar Justin, sembari menghapus air matanya.
Qilin berjalan menggandeng tangan Agra Khan yang berperan sebagai ayahnya, Agra pun demikian merasa bahagia. Rupanya ada hari dimana hatinya begitu tersentuh dengan ucapan polos seseorang.
Qilin dengan hatinya yang begitu baik meminta pada Agra untuk mengantarnya ke Altar pernikahan. Agra sama sekali tidak pernah membayangkan Qilin akan meminta hal itu darinya.
" Papa adalah papaku sekarang, jadi papa yang akan mengantarkan aku pada calon suamiku, nanti."
Kata kata itu, adalah sebuah cahaya, kebahagiaan, tapi juga hal yang tidak di sangka bagi Agra, ketika mengingat betapa dirinya begitu kejam memperlakukan Qilin.
' Aku benar benar berdosa pada putriku yang sangat baik hati ini. Hatinya bagai Malaikat yang tidak memiliki dendam sedikitpun, tapi aku pernah memperlakukan dia dengan begitu buruk.' Batin Agra.
Di sisi lain, ada juga sepasang mata yang menatap Qilin dengan penuh kagum, tapi juga penuh luka.. Dustin.
' Dia berjalan dengan anggunnya, wajah cantiknya begitu berseri karena dia bahagia. Betapa sempurnanya dia yang tidak bisa aku miliki.' Batin Dustin.
Hingga sampailah Qilin di hadapan Justin yang saat ini tidak bisa berkata apa apa karena dia sedang menahan tangisnya, Justin sampai memutar tubuhnya karena menyembunyikan tangis harunya.
" Justin.." Panggil Qilin, dan Justin pun kembali menoleh sembari menghapus air matanya.
" Kamu.. kamu cantik sekali, sayang." Ujar Justin, dan Qilin tersenyum.
" Kamu juga tampan, tapi tidak tampan lagi jika kamu terus menangis." Ujar Qilin.
Sejujurnya Qilin juga begitu terharu, tapi dibandingkan dengan Justin, Qilin lebih bisa menguasai emosinya dan bisa menahan tangisnya.
" Boleh aku memeluknya?" Tanya Justin pada Pendeta, dan semua orang tertawa mendengarnya.
" Setelah anda mengucap janji pernikahan, maka anda boleh membawanya lari." Ujar Pendeta bergurau.
Tamu kembali tertawa mendengarnya, karena Justin benar benar bukan seperti Justin yang terkenal dingin di mata semua orang saat ini, tapi dia sedang dalam mode bucin.
Di sela - sela tawa banyaknya orang, Sierra menggenggam tangan putranya yang satu lagi, seakan dia memberi kekuatan pada Dustin.
Dustin pun tersenyum menatap Sierra dan berkata..
" Aku baik -baik saja, mom.." Ujarnya.
__ADS_1
Tapi siapa yang tahu apa yang dia rasa di dalam hatinya. Hancur, mungkin adalah kata yang paling tepat.
TO BE CONTINUED..