Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 145. Jangan lupakan asal - usul Sierra.


__ADS_3

Masih di dalam dunia lain Justin, Justin terhisap begitu saja oleh cahaya itu dan dia masuk ke sebuah ruang yang membuatnya bingung. Tapi rupanya itu adalah perjalanan hidupnya yang di putar ulang, sejal dia kecil hingga saat ini.


Justin kemudian merasakan kepalanya sangat sakit, dan tiba - tiba ia seperti diangkat dan suara aneh itu kembali muncul.


"Selamat atas kelahiran kembalimu Justin Xander Edward, putra dari Sierra Leona. Engkau telah di nyatakan mati, namun kau memiliki satu kesempatan hidup lagi. Pergunakanlah dengan baik, dan lindungi orang - orang terkasihmu." Ujar suara itu


Setelah suara itu hilang. Justin berteriak dengan sangat keras, karena dia seperti merasa sedang di kuliti hidup - hidup.


Sementara di dunia nyata..


Jantung Justin yang menghitam perlahan berubah menjadi merah seperti jantung yang sehat pada umumnya, dan setelah berubah warna, detak jantung Justin pun kembali.


Para dokter dan Cio yang sedang bersedih itu terkejut ketika melihat detak jantung Justin yang kembali, dokter langsung mengecek kembali kondisi Justin.


"Cepat periksa, jantung nya kembali berdetak." Ujar Cio dan dua dokter itu langsung sibuk.


Tapi tanpa sempat dokter itu menyentuh, wajah pucat Justin perlahan kembali segar memerah, kulit tubuhnya yang membiru juga kembali segar seperti sebelum dia sakit.


Dan yang membuat Dokter serta Cio terkejut adalah, luka tusukan yang berada di bahu Justin yang tembus ke depan, hilang.


"Apa aku tidak salah lihat?" Gumam Cio, lalu ia mengucek matanya dengan kasar berulang kali.


Justin kemudian menghembuskan nafasnya kembali, dan langsung membuka kedua matanya.


'Apa itu tadi? Kenapa aku bermimpi sangat aneh.' Batin Justin. Justin lalu kemudian bangun dan duduk, dan saat itu juga Cio dan kedua dokter itu berteriak.


"HUAA!!" Teriak ketiganya, bahkan salah satu dari dokter otu pingsan ke lantai.


"Ada apa? Kenapa kalian berteriak?" Tanya Justin dengan heran.


"K- kakak hidup lagi? Astaga!" Ujar Cio dengan takut. Bagaimana pun Justin berarti adalah mayat hidup, karena dia sebenarnya sudah mati.


'Apa aku sungguh terlahir kembali?' Batin Justin, ia pikir sebelumnya dia hanya mimpi.


"Ya Tuhan! kak, aku tidak bisa berkata apa - apa, terimakasih telah kembali." Ujar Cio, lalu memeluk Justin.


Tiba - tiba ponsel Cio berdering, Cio langsung mengangkat panggilan itu yang adalah panggilan dari Ben.


"Halo, apa?! Oke, aku kesana." Ujar Cio, dan panggilan di akhiri.

__ADS_1


Dan sementara itu, di atap rumah sakit. Dustin dan Clins masih berduel dengan sengit, tubuh Clins dan Dustin, sama - sama sudah berdarah - darah, menandakan mereka berdua sama kuatnya.


"Kenapa harus keras kepala, Dustin Edward, kau lihat belati ini... ini adalah belati yang sama, yang aku gunakan untuk menusuk Justin, kakakmu." Ujar Clins dengan tawanya.


"Sekarang aku akan menggunakannya untuk menusuk dirimu juga, jadi kalian berdua akan di kuburkan satu peti bersama." Ujar Clins dengan senyum psikopatnya.


'Tidak, jika aku terkena belati itu, jantungku juga tidak bisa aku donorkan untuk kakak.' Batin Dustin.


"Kemari Dustin Edward, jika kau mengulur waktumu lebih lama lagi, takutnya upacara pemakaman kalian akan di lakukan secara terpisah." Ujar Clins.


Clins maju dan mengayunkan belati itu pada Dustin, dan dustin langsung menghindar.


"Takut?? Terlambat. Aku yakin kakakmu juga sudah tidur dengan nyaman dan damai." Ujar Clins dan semakin buas mengayunkan belatinya.


Dustin berusaha menghindar sebisa mungkin, dia masih mencari bagaimana baiknya dia melumpuhkan Clins.


"Kau tahu, racun itu.. aku yang membuatnya, khusus untuk kalian berdua. Tidak ada penawar, tidak ada pertolongan medis manapun yang bisa menyembuhkan kalian berdua setelah kalian terkena belati itu." Ujar Clins dengan senyum smirknya.


"Aku tidak percaya." Ujar Dustin, Dustin melakukan perlawanan dengan mencoba menangkis serangan Clins.


"Tidak masalah, aku tidak memaksamu untuk percaya dengan hasil buatanku yang sangat luar biasa itu. Aku ini adalah seorang ilmuan racun paling mematikan." Ujar Clins masih terus berusaha menyerang Dustin dengan belatinya.


"BUGH! BUGH! BUGH!" Dustin memukuli Clins.


Sementara itu, Ben kesulitan membidik, antara Dustin dan Clins. Mereka berdua saling berubah posisi hingga Ben dan tim penembak kesulitan membidik.


"HHRAGH!! Teriak Clins dan langsung mendorong Dustin lalu berganti posisi, menjadi Dustin yang kini berada di bawah Clins.


Clins memukuli Dustin bertubi - tubi hingga Dustin muntah darah, bahkan hidungmya pun berdarah - darah. Dan saat itu, Clins mengeluarkan senjata apinya lalu menodongkannya di kening Dustin.


"Kau kalah, Dustin Edward." Ujar Clins, dan hendak menekan pelatuk senjata apinya, hingga.


"CLINS WIJAYA!!" Teriak seorang yang sangat Clins kenali.


Clins berbalik badan dan terkejut ketika melihat Justin berjalan dengan sehat dan baik - baik saja.


"HAARGH!!!" Justin menendang Clins dan Clins langsung terpental. Justin langsung menghajar Clins bertubi - tubi tanpa sempat Clins melawan.


"Beraninya kau, menyentuh keluargaku!" Ujar Justin dengan suara kemarahan.

__ADS_1


"DUAK!! DUAK!!" Justin menendang Clins berulang kali hingga Clin benar - benar berdarah - darah.


"Tidak benar, ini tidak benar. Mengapa kau masih hidup, Justin Edward? Seharusnya kau sudah mati." Ujar Clins dengan kesakitan dan panik.


"Karena aku masih belum membunuh dirimu." Ujar Justin dan kembali menghajar Clins.


Justin tidak sadar bahwa ada belati di dekat Clins. Clins tersenyum dan hendak mengambilnya namun..


"DOR!!"


"AARGH!!!" Teriak Clins kesakitan, karena tangannya di tembak Dustin.


"Tidak akan aku biarkan, kau menyakiti keluargaku lagi." Ujar Dustin.


Justin menghajar Clins hingga babak belur dan tiba - tiba muncul beberapa anak buah Clins yang menembak kearah Justin dan Dustin.


Justin dan Dustin langsung menghindar dan bersembunyi di balik dinding, Ben dan yang lainnya menembaki anak buah Clins dan baku tembak pun terjadi di atap rumah sakit itu.


Clins naik ke atas helikopter dan helikopter itu langsung terbang menjauh dari atap rumah sakit, Sementara anak buah Clins tewas oleh anak buah Dustin.


"Kak, kau baik - baik saja, sukurlah." Ujar Dustin dan langsung memeluk Justin.


"Tidak akan terjadi apapun padaku." Ujar Justin.


"Bagaimana bis.. Ugh!" Dustin merasakan kesakitan di punggungnya.


"Kau tertembak, cepat bantu aku bawa Dustin turun." Teriak Justin pada Ben, dan Ben mengangguk.


"Hey Justin Edward.. kita belum selesai bermain, masih banyak hal yang belum kamu tahu." Teriak Clins dari atas helinya.


"Dan kau Dustin Edward, bagaimana dengan rahasia kecil hatimu?? Hahahaha... " Teriak Clins pada Dustin, lalu terbahak.


Clins terbang menjauh, anak buah Dustin yang mencoba menembak Clins yidak ada satu orang pun dari mereka yang berhasik.


"SEEE YAAAA..." Teriak Clins.


"Aku bersumpah, akan membunuhnya dangan tanganku sendiri." Gumam Dustin.


Justin langsung memapah Dustin dengan bantuan Ben, lalu langsung di tangani dokter. Anak buah Dustin mengambil belati milik Clins, lalu menyimpannya.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2