Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 134. Malam duka.


__ADS_3

Malam itu adalah malam penuh duka untuk keluarga Edward. Bukan hanya Justin dan Qilin yang terluka dalam ledakan itu, tapi di kediaman lain, yaitu kediaman Arthur dan Dustin pun sama.


Sierra di gotong paramedis, lalu di susul oleh Arthur yang juga tidak sadarkan diri. Darah di kepala Sierra sangat banyak, dokter juga sedikit kesulitan untuk menangani Sierra, dia kritis.


"Pasien kehilangan banyak darah, hubungi rumah sakit pusat untuk segera menyiapkan ruang operasi." Ujar dokter satu ke dokter lainnya.


Di kediaman Dustin, Dustin masih sadar, bahkan dia baik baik saja. Karena ternyata Dustin tidak berada di rumah, tapi kemudian dia mendapatkan panggilan telepon dari anak buahnya.


"Tuan, rumah tuan besar juga terdapat ledakan yang serupa." Ucapnya dan Dustin langsung pias.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Dustin dengan panik dan masuk kedalam mobilnya.


"Nyonya kritis dan tuan besar juga tidak sadarkan diri, mereka di larikan ke rumah sakit pusat." Ujar anak buah Dustin.


"Aku kesana." Ujar Dustin dan mematikan panggilan teleponnya.


"Siapa?? Beraninya menyentuh keluargaku." Gumam Dustin. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Tak berapa lama, akhirnya dia sampai di rumah sakit pusat dan Ben menghampiri Dustin.


"Tuan, Tuan Justin dan nyonya Qilin juga berada di sini, tiga kediaman keluarga Edward di ledakan dalam waktu yang bersamaan." Ujar Ven dan Dustin langsung murka.


"Kemana semua pengawal dan penjaga! Kenapa bisa ada orang menanam bom dan kalian semua tidak tahu, huh!!?" Ujar Dustin dengan nada suara tinggi.


"Semua sistem kita di retas, tuan." Ujar Ben menjelaskan, Dustin hanya bisa berdecak.


" Tidak berguna!" Ujar Dustin dengan sangat emosi.


Akhirnya mereka masuk ke rumah sakit dan menemui Arthur yang berada di ruang perawatan. Arthur masih belum sadar, tapi lukanya sudah di tangani oleh dokter.


"Dimana ibuku?" Tanya Dustin pada Ben.


"Nyonya besar sedang di operasi, nyonya Qilin sedang di tangani dokter, kaki nyonya Qilin sepertinya patah. Dan tuan Justin juga sedang di tangani dokter, karena lukanya sangat banyak." Sahut Ben.


Dustin terlihat frustasi dan memejamkan matanya. Semua keluarganya sedang bertaruh nyawa saat ini.


Dan akhirnya setelah lama menunggu, operasi Sierra sudah selesai. Sierra kemudian di bawa keluar oleh para medis dan menuju ke ruang perawatan.


"Bagaimana operasi ibu saya, Dok?" Tanya Dustin pada Dokter yang menangani Sierra.


"Operasinya lancar, beliau juga sudah melewati masa kritis." Sahut sang Dokter.

__ADS_1


"Terimakasih, Dok." Ujar Dustin, dan dokter itu mengangguk dan pergi dari sana.


Tapi Justin masih belum selesai dari operasinya, Dustin sampai heran karena itu sudah lebih dari tiga jam lamanya.


"Tuan, tuan besar sudah sadar." Ujar Ben yang menghampiri Dustin.


"Aku akan kesana, kamu tunggu kakak di sini." Ujar Dustin dan Ben mengangguk.


Dustin pun berjalan pergi menghampiri Arthur yang saat ini sudah duduk.


"Dad, bagaimana keadaan daddy?" Tanya Dustin.


"Daddy baik, bagaimana mommymu, nak?" Tanya Arthur.


"Mommy sudah selesai di operasi, kakak juga ada di sini, dia juga sedang di operasi." Ujar Dustin dan Arthur terkejut mendengarnya.


"Kakakmu?" Tanya Arthur dengan wajah terkejut, dan Dustin mengangguk.


"Tiga kediaman keluarga Edward, mengalami ledakan serupa dengan waktu yang bersamaan." Ujar Dustin dan Arthur terkejut.


"Bagaimana dengan Qilin?" Tanya Arthur, ketika teringat dengan Qilin yang sedang mengandung.


"Dia belum sadar, dad. kakinya patah, tapi tidak memerlukan operasi." Ujar Dustin.


"Semua sistem keamanan di sabotase, anak buah TITANES di perintahkan oleh pelaku untuk menjaga di bagian - bagian yang terdapat bom, mereka banyak yang tewas." Ujar Dustin.


"Daddy jangan banyak berpikir, aku akan mengurusnya." Ujar Dustin, dan Arthur mengangguk.


'Apakah akhirnya semua yang aku bangun akan berakhir begini?' Batin Arthur. Tiba tiba muncul Ben, yang masuk dari luar.


"Apa kakak sudah selesai di operasi?" Tanya Dustin, dan Ben mengangguk.


"Sudah, tuan. Tapi beliau masih kritis. Dokter mengatakan bahwa tuan Justin mengalami cidera parah di kepalanya, dia juga patah kaki. " Ujar Ben. Dustin dan Arthur menghela nafas mendengarnya.


"Aku akan hubungi orang tua Qilin." Ujar Dustin, dan Arthur mengangguk. Dustin pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Lucio.


Lucio yang mendengar itu pun langsung bergegas datang ke rumah sakit walau keadaan nya masih pagi - pagi buta. Dia tidak memberi tahu orang rumah lebih dulu karena dia tidak mau ibunya menjadi khawatir.


"Clins.. ini pasti perbuatan Clins. Aku tidak menyangka dia bisa merencanakan hal seperti ini, dia memang di luar nalar." Gumam Cio di sela - sela mengemudi.


Tak lama akhirnya Cio sampai di rumah sakit, dan Dustin menemuinya di loby rumah sakit.

__ADS_1


"Apakah kak Qilin baik - baik saja, kak?" Tanya Cio pada Dustin, sembari mereka berjalan masuk kedalam.


"Dia patah kaki, dan belum sadar." Ujar Dustin dan Cio mengeraskan rahangnya.


"Aku tidak memperhitungkan Clins akan merencanakan hal sebesar ini, aku benar - benar meremahkan dia." Gumam Cio, dan Dustin ikut tersadarkan. Dari sekiaan banyak musuh TITANES hanya Clins yang mengetahui identitas para Lucifer TITANES.


Mereka sampai di kamar rawat Qilin, dan terlihat Qilin yang masih belum sadarkan diri dan kedua kakinya di pasangi gips. Cio sangat marah melihat itu, dulu kakaknya sudah nyaris mati, dan searang dia terluka lagi.


"Bagaimana dengan kandungannya?" Tanya Cio pada Dustin.


"Kandungan nya baik - baik saja, tapi dokter mengatakan dia mengalami syok berat." Ujar Dustin, dan Cio mengangguk.


"Lalu kakak iparku?" Tanya Cio.


"Dia kritis, otaknya mengalami pendarahan, dan kedua kakinya juga patah. Dia baru selesai di operasi." Ujar Dustin. Cio menatap kakaknya, dan bersumpah dalam hatinya akan melenyapkan Clins.


"Padahal sebentar lagi aku akan mendapatkan kendali penuh dari keseluruhan sistem yang Clins buat, tapi aku sama sekali tidak tahu bahwa dia sudah merencanakan kejadian ini dari jauh - jauh hari." Ujar Cio sembari menggenggam tangan Qilin.


( Jeda )


"Aku terlalu meremehkan dia, maafkan aku kak, aku gagal mellindungimu." Ujar Cio lagi. "Aku ingin mengunjungi kakak ipar, paman dan bibi." Ujar Cio, dan Dustin mengangguk. Mereka pun akhirnya pergi dari ruangan Qilin.


Sementara itu di tempat lain, Clins yang sedang di bicarakan oleh Cio dan Dustin sedang duduk di meja kebesarannya dengan wajahnya yang menunjukan kenikmatan, dia juga mengerang dan beberapa kali menggigit bibirnya sendiri.


"Hmm.. teruskan.."Ujarnya, dan tiba - tiba sebuah kepala wanita muncul dari bawah meja dan kemudian duduk di pangkuan Clins. Wanita itu menggunakan pakaian seragam pelayan, yang adalah pelayan yang bekerja di tempatnya.


"Menarilah diatasku, aku sedang malas bergerak." Ujar Clins, dan pelayan itu menganggukan kepalanya patuh. Bagi Clins siapapun yang bekerja di tempatnya, maka adalah miliknya, termasuk tubuh mereka.


Pelayan itu pun melancarkan aksinya, sesuai dengan keinginan Clins, dan Clins sendiri mengerang nikmat. Semua pelayan di tempat Clins harus patuh saat Clins meminta mereka melayaninya, jika tidak, nyawa mereka akan hilang.


Tiba - tiba Clins mendapatkan panggilan dari anak buahnya, Clins mengangkat panggilan itu di sela sela aktivitasnya dan tiba - tiba wajah Clins menjadi sangat di penuhi emosi ketika dia mendengar apa yang di katakan oleh anak buahnya.


"HAARGGH!!" Teriak Clins dan langsung melemparkan ponselnya hingga pecah. Dia mendapat kabar dari anak buahnya bahwa tak satupun dari keluarga Edward yang mati, mereka hanya luka - luka dan kritis.


"Tuan.." Ujar pelayan Clins ketakutan. Clins langsung mendorong pelayan itu hingga jatuh kebawah kakinya dan kepala pelayan itu terpentok meja.


"Keluar dari ruanganku!" ujar Clins, dan pelayan itu langsung bangun dengan ketakutan dan hendak pergi, tapi tiba - tiba Clin kembali memanggil pelayan itu karena miliknya masih tegak berdiri.


"Tunggu! Kemari kau, lanjutkan." Ujar Clins, dan pelayan itu pun menunduk dan kembali menghampiri Clins. Clins yang tidak sabar karena emosi langsung menarik pelayan itu dan membalik tubuh pelayan itu ke meja lalu menghujamnya dari belakang sambil berdiri.


" KELUARGA EDWARD, KALIAN HARUS MATI DI TANGANKU." Ujarnya di tengah - tengah aktivitasnya.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2