Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 140. Di kepung.


__ADS_3

Dustin naik kedalam mobilnya yang di kemudikan oleh Ben, dia membidik satu lagi helikopter milik anak buah Clins yang sedang membabi buta menghujani peluru ke segala sisi hutan.


"Tuan, tim kita banyak yang tewas." Ucap Ben. Dustin dengar itu, tapi dia tidak mau menyerah dan terus fokus membidik helikopter itu.


"Maju sedikit lagi, jaraknya terlalu jauh." Ujar Dustin pada Ben, Ben mengenal Dustin dengan baik, dia adalah orang yang sedikit keras kepala.


Ben maju dan Dustin semakin menajamkan bidikannya, lalu..


"****!! Lolos." Gumam Dustin. Ketika tembakannya meleset.


"Hai Dustin.." Teriak suara Clins tiba - tiba yang berada di belakang mobil Dustin.


Ben menghentikan mobilnya, karena di depannya muncul mobil hitam besar,dan kini mereka berdua di kepung dari empat sisi.


"Kita terkepung tuan." Ujar Ben, dan tatapan Dustin saat ini mengarah kepada Clins dengan sangat tajam.


"Uuuh.. kenapa kau menatapku sangat tajam begitu, aku jadi takut melihatnya." Ujar Clins, dan bangun lalu berdiri dari atap mobil yang terbuka.


"Kalian mau kemana? Jalannya buntu." Ujar Clins lagi dengan nada santai.


"Jadi kau Clins wijaya? Anak haram yang tidak di inginkan kelahirannya itu?" Ujar Dustin dan Clins menjadi tidak ramah mendengar itu.


Clin berganti - ganti ekspresi wajah dengan sangat cepat, Dustin bahkan tidak bisa membedakan yang mana ekspresi wajah Clins yang sebenarnya.


"Kenapa kau sangat kasar saat berbicara? Padahal aku sangat ramah." Ujar Clins dengan wajah ramah, tapi tatapannya adalah tatapan meremehkan.


Dustin tidak memberi aba - aba apapun, tiba tiba dia menembak anak buah Clins dari dua sisi dari kiri dan kanan nya.


"DOR! DOR!" Clins yang melihat itu tersenyum smirk, lalu bertepuk tangan.


"Prok! Prok! Prok!" Suara tepukan tangan Clins yang sangat meriah sembari ia tersenyum lebar layaknya psikopat.


"Kau memang adalah seorang ahli, tanpa harus berancang - ancang pun tembakanmu selalu tepat sasaran. Kenapa tidak kamu saja yang menjadi Lucifer kedua, alih - alih kakakmu yang payah itu." Ujar Clins, mencoba memecah belah persaudaraan Dustin dan Justin.


"Jika aku jadi pengikutmu, aku akan dengan semangat meneriakan namamu sebagai pemimpin TITANES." Ujar Clins.


"Kakakmu hanya orang payah yang buta karena cinta. Ya.. meskipun dulu dia sangat kuat sampai aku tidak bisa sedikitpun masuk ke pertahanannya, aku harus bersukur karena dia jadi bucin." Ujar Clins lagi.


"Apakah aku harus berterimakasih kepada istrinya itu? Karena sejujurnya berkat dia, aku bisa masuk sedikit demi sedikit, dan merusak pertahanan kalian. Ooh.. aku lupa, bagaimana jika aku beri tahu kakakmu saja tentang perasaanmu kepada istrinya?? Wah.. Dia akan merespon seperti apa, ya??" Ujar Clins, dengan alis yang di naik turunkan.

__ADS_1


"CLINS!!" Teriak Dustin, dan dia langsung mengarahkan senapannya kepada Clins.


"Kenapa?? Seperti keluargamu menghancurkan keluargaku, aku juga ingin melihat keluargamu hancur tentu saja. Tidak adil sekali.." Ujar Clins tatapannya berubah menjadi kebencian.


Ben mencoba mengotak atik tabletnya, dia mencoba menggiring pasukan Lucia agar keluar. "Ayo kalian kemari, cepat." Gumam Ben.


"DOR!!"


"AARGH!!" Ben di tembak begitu saja, ia tertembak di bahu sebelah kanan. Dustin langsung menembak Clins, tapi meleset.Clins masuk kedalam mobil lalu mundur.


"See ya, Dustin.. Aku akan menemui kakakmu, dan mengantarnya menemui Tuhan, hahahaha!!" Teriak Clins, lalu mundur dan berganti anak buah Clins yang maju menyerang Dustin.


Mobil Clins di tembaki pun tidak mempan karena mobilnya di pasangi anti peluru. Ben dengan susah payah akhirnya bisa melepaskan pasukan Lucia dan menggiring mereka keluar dari sangkar.


Sementara Dustin sendiri sedang kewalahan dan merunduk di dalam mobilnya saat ini, meski mobilnya terpasang anti peluru juga, tapi yang menghujani lnya dengan peluruh lebih banyak.


"Kau bisa mengemudi?" Tanya Dustin pada Ben, Ben mengangguk.


"Bisa tuan." Ujar Ben, lalu ia menyalakn mesin mobil itu kemabli dan dengan kecepatan tinggi Ben melaju ke depan ia akan menabrak musuh di depannya.


Peluru terus menghujani mobil Dustin namun Ben tidak peduli dan terus malju kedepan. Tujuannya saat ini adalah membawa musuh ke area yang sudah dia siapkan.


"Kau mau kemana? Kenapa kita kembali ke dalam." Ujar Dustin pada Ben.


Musuh pun terpancing dan ikut kesana, Ben menghentikan mobilnya ketika dia melihat satu dari empat ekor pasukan Lucia.


"Kau yang melepaskan mereka?" Tanya Dustin terkejut.


"Ya tuan, kita tidak ada cara lain lagi." Ujar Ben dengan menahan sakit. Dustin mengangguk lalu dia melihat keluar.


Anak buah Clins tampak berhenti menembak dan turun dari mobil. Ada sekitar 4 mobil berisi setidaknya 8 orang.


"Keluarlah, dan serahkan kepalamu kepada kami, maka kami tidak akan membuatmu kesakitan." Ujar anak buah Clins di iringi tawa.


Dustin membuka pintu mobilnya lalu berdiri di luar. Ben yang mengendalikan keadaan, dia menekan remot dan menutup pintu gerbang yang berada di belakang anak buah Clins.


"Apa ini?! Kenapa ada pintu di hutan?" Ujar anak buah Clins.


Hingga empat ekor harimau itu akhirnya berdiri di belakang mobil Dustin. Anak buah Clins langsung pias ketika melihat harimau yang sangat besar, bahkan lebih besar tiga kali lipat harimau itu sendiri dari pada Dustin.

__ADS_1


Para anak buah Clins langsung bersiap dengan senjata mereka, sementara harimau - harimau itu berjalan menghampiri Dustin.


"Haha! hei bodoh, lihat di belakangmu." Ujar anak buah Clins.


Dustin berbalik menghadap kebelakang, lalu merentangakan kedua tangannya. Anak buah Clins sampai ngeri melihat betapa besar harimau - harimau itu.


"Dia bodoh atau bagaimana? Dia menyerahkan diri pada harimau?" Ujar anak buah Clins. Mereka mengira Dustin akan mati di makan harimau, tapi nyatanya tidak..


Harimau itu menjilati Dustin, dan Dustin menggaruki bulu - bulu mereka dengan kasih sayang, anak buah Clins terkejut melihatnya.


"Ternyata hanya harimau jinak." Ujar mereka.


"Kalian masih lapar? makanan kalian ada di depan sana." Ujar Dustin, lalu berbalik menatap anak buah Clins.


Seakan tahu, harimau - harimau itu menatap anak buah Clins dan menunjukan taringnya.


"ROOAR!!" Sangat menggelegar, hingga nyali anak buah Clins menciut.


"GO!!" Ucap Dustin, dan empat harimau itu langsung menyerang.


"Masuk mobil, cepat!!" Ujar salah seorang anak buah Clins, tapi terlambat, dengan beberapa lompatan kaki harimau. Salah satu dari mereka sudah tergigit.


"AAARGG!!!" Teriaknya ketika seekor harimau mulai menyersng mereka.


Semua orang kalang kabut menghadapi empat monster raksasa itu. Dustin tidak tinggal diam, dia mengambil senapan lalu menembaki beberapa anak buah Clins yang hendak menembak harimaunya.


Dustin melihat Ben yang sudah semakin lemah bahkan tidak bisa lagi menjaga kesadarannya, dia pun membuka pintu kemudi dan memapah Ben untuk berganti posisi di kursi penumpang.


"T-tuan, jika saya tidak bisa bertahan.." Ucap Ben dengan lemah.


"Diam!! Kau harus bertahan." Ujar Dustin memotong ucapan Ben. Ben tersenyum mendengar Dustin peduli padanya.


"Saya sangat bangga sudah mengikuti tuan." Ujar Ben.


"Aku yang tidak bangga jika kau tidak bertahan, jangan tidur dan tetaplah berusaha sadar, aku akan membawa mobil ini keluar." Ujar Dustin.


"Bagaimana dengan Lucia.." Gumam Ben.


"Aku atur itu nanti, toh mereka masih sibuk dengan mainan mereka." Ujar Dustin, dan akhirnya melaju pergi dari sana meninggalkan empat harimau itu yang berada di luar sangkar seharusnya.

__ADS_1


Sebenarnya saat ini mereka pun berada di kandang, karena itu wilayah milik keluarga Edward dan terdapat dinding tembok yang tinggi di sekelilingnya. Hanya saja, mungkin akan sulit memasukan mereka kembali ke kandang khusus mereka, di dalam markas.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2