Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 84. Mengukur Cincin Pernikahan


__ADS_3

Ke esokan harinya..


Qilin bangun ketika ia merasakan dingin di kaki nya, ternyata kakinya keluar dari selimut. Qilin pun duduk dan melihat kesamping ranjang, ternyata Justin sudah bangun lebih dulu.


" Astaga.. dinginnya. " Gumam Qilin.


Qilin bangun dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Ketika Qilin masuk ke kamar mandi, terlihat Justin yang masuk kedalam kamar membawa segelas susu hangat di tangannya.


" Sayang, kamu di kamar mandi?" Teriak Justin dari luar.


" Iya." Sahut Qilin.


" Okay, jika sudah selesai turunlah ke bawah, ada sesuatu untukmu." Ujar Justin.


" Okay." Sahut Qilin.


Justin membuka lemari untuk memastikan bahwa pakaian untuk Qilin sudah lengkap, karena kali ini disana sudah mulai masuk musim dingin. Justin mengeluarkan pakaian yang nyaman dan mencocokannya lalu dia letakan di atas ranjang.


Dan setelah Qilin selesai dengan ritual mandinya, Dia pun keluar dan melihat pakaian yang sudah Justin siapkan untuknya. Qilin tersenyum melihatnya, seharus nya dia yang menyiapkan pakaian untuk Justin, tapi ini sebaliknya.


'' Dia memang memiliki selera yang lebih bagus dari pada aku.'' Gumam Qilin setelah melihat pantulan dirinya di cermin.


Qilin pun turun karena Justin berkata ada sesuatu untuknya di bawah. Qilin melihat ada dua orang asing yang entah sedang membahas apa dengan Justin, Justin ysng melihat Qilin turun pun langsung bangun dan menghampiri Qilin.


'' Sayang, mereka adalah ahli pembuat perhiasan, aku memanggilnya untukmu. Katakan kepadan mereka desain apa yang kamu inginkan untuk cincin pernikahan kita nanti.'' Ujar Justin, dan Qilin terkejut.


'' Secepat ini??'' Tanya Qilin.


'' Kita akan bertunangan lebih dulu, baru kita akan menikah. Tapi aku pikir kamu mungkin ingin memiliki Cincin yang berbeda dari yang orang lain punya.'' Ujar Justin, dan membawa Qilin duduk di sofa.


'' Sejujurnya aku tidak tahu menahu tentang perhiasan, jadi kamu saja yang pilihkan untuku.'' Ujar Qilin tersenyum.


'' Mereka membawakan desain cincin pernikahan umum, kamu bisa melihatnya.'' Ujar Justin.


Justin meminta contoh desain cincin dari pria yang berada di hadapannya dan menunjukanya pada Qilin. Qilin tersenyum melihat betapa indahnya desain cincin yang sudah ada itu.


Tapi perhatian Qilin teralihkan pada kertas yang berada di meja, Qilin pun meraih kertas itu dan melihatnya dengan penuh kagum. Sementara Justin menjadi panik karena Qilin mengambil kertas itu.


'' Sayang, itu bukan salah satu contoh desain, itu gambar asalku.'' Ujar Justin, tapi terlambat.. Qilin sudah mengambilnya.


'' Desain yang indah.'' Ujar Qilin dengan tatapan yang berbinar.


'' Sayang, itu tidak bagus.'' Ujar Justin hendak merebut namun Qilin justru menjauh kan tangan nya, dan kedua pria asing di hadapannya itu merasa lucu dengan aksi Qilin dan Justin.


'' Siapa bilang? Aku mau ini saja.'' Ujar Qilin dan berdiri.


'' Sayang, desainku buruk.'' Ujar Justin hendak menangkap Qilin tapi kalah cepat, Qilin melesat dengan cepat.

__ADS_1


'' Aku mau ini, bukankah kamu yang bilang aku harus memilih.'' Ujar Qilin.


'' Ya, tapi jangan yang itu, sayang.. desainku tidak sebagus mereka.'' Ujar Justin.


'' Aku mau yang lain dari yang lain, kamu sudah mendesainnya.. jadi aku yang akan memakainya.'' Ujar Qilin kukuh. Dan akhirnya Justin pun menghela nafas dan pasrah.


'' Baiklah..'' Ujar Justin.


Qilin memberikan kertas itu pada pria asing yang sejak tadi tersenyum senyum melihat aksi konyol Qilin dan Justin. Justin pun memberi tahu orang itu untuk membuatkan cincin sesuai dengan desain yang dia buat, pria itu pun mengangguk.


'' Sayang, tunjukan tanganmu padanya, dia akan mengukur jarimu.'' Ujar Justin dan Qilin mengangguk dan memberikan jarinya kepada desainer perhiasan itu.


Setelah selesai, akhirnya dua orang itu pun pergi dari rumah itu. Qilin tiba tiba saja menghampiri Justin dan duduk di pangkuan Justin dan mengalungkan kedua tangan nya di leher Justin. Justin tentu terkejut karena itu adalah pertama kalinya Qilin berinisiatif duduk di atas pangkuannya.


'' Kenapa, hum?'' Tanya Justin sembari menyelipkan rambut Qilin ketelinganya.


Tapi yang di tanya hanya diam dan menatap Justin saja, Justin pun heran dengan aksi Qilin.


'' I love you.'' Ujar Qilin, dan itu membuat senyum Justin merekah.


'' Kamu sedang menggodaku, hum?'' Ujar Justin.


'' Tidak, tapi aku sedang kedinginan.'' Ujar Qilin dan memeluk erat tubuh Justi begitu saja hingga Justin terkejut.


Justin pun membalas pelukan Qilin lalu bangun dan menggendong Qilin menuju ke ruang tengah dimana ada perapian di sana. Justin menurunkan Qilin di sofa, tapi kaki Qilin masih saja melingkar erat di tubuh Justin.


'' Aku akan menyalakan perapian agar kamu tidak kedinginan, sayang.'' Ujar Justin.


Justin pun berjalan dan menyalakan perapian, dan kemudian dia melihat kaki telanjang Qilin lalu menggelengkan kepalanya.


'' Kenapa tidak pakai kaos kaki, sayang?'' Ujar Justin.


'' Aku lupa. '' Ujar Qilin.


Justin pun naik ke atas dan mengambil kaos kaki untuk Qilin, tal lama dia turun lagi dan duduk di sebelah Qilin. Justin meraih kaki Qilin yang rupanya sudah sangat dingin.


'' Ya ampun, sayang.. kakimu nyaris beku.'' Ujar Justin.


Justin pun memakaikan kaos kaki di kaki Qilin dan mengusap usapnya untuk memberikan rasa hangat di kaki Qilin, sementara yang di usap hanya bisa tertawa karena merasa kegelian.


Justin pun menyelimuti kaki Qilin dan kakinya, lalu menyalakan tv. Tiba tiba Qilin merebahkan dirinya di paha Justin dan Justin pun mengusap usap kepala Qilin.


'' Bagaimana dengan keadaan Rena, ya.. apakah dia dan kak Fendy menikah?'' Gumam Qilin tiba tiba.


'' Dua orang itu.. mereka sudah tinggal bersama di rumahmu, dan mereka bilang mereka akan menikah tapi setelah kamu di temukan.'' Ujar Justin.


'' Apa mereka tahu bahwa aku hilang?'' Tanya Qilin.


'' Aku memberitahunya sekaligus bertanya tanya saat aku sedang mencarimu saat kamu pertama hilang, mereka ikut terkejut dan khawatir mendengar kamu di culik.'' Ujar Justin.

__ADS_1


'' Aku merindukan tanah air, sepertinya aku tidak cocok disini.. aku bisa mati beku.'' Ujar Qilin dan Justin terkekeh.


'' Kalau begitu ayo kita pulang.'' Ujar Justin.


'' Tapi Cio masih belum sadar, aku tidak mungki meninggalkan dia tanpa berpamitan.'' Ujar Qilin.


'' Oh, ngomong - ngomong dengan hal itu, asistennya datang kemari dan memberitahu bahwa Cio sudah sadar.'' Ujar Justin.


'' Sungguh? Ayo kita ke rumah sakit.'' Ujar Qilin langsung bangun dari rebahannya.


'' Kamu mau ke rumah sakit?'' Tanya  Justin dan Qilin langsung mengangguk antusias.


'' Kalau begitu ambil mantelmu, lalu kita pergi ke rumah sakit.'' Ujar Justin.


'' Oke.'' Ujar Qilin dan langsung lompat turun dari sofa dengan semangatnya.


'' Jangan lari sayang, nanti jatuh.'' Ujar Justin sambil terkekeh melihat aksi Qilin.


Tak lama terlihat Qilin yang sudah turun dengan mantel tebalnya dan menghampiri Justin.


'' Ayo.'' Ujar Qilin antusias. Justin pun mengangguk dan menggandeng tangan Qilin dan keluar dari kediaman itu.


Baru keluar dari rumah pun Qilin sudah di sambut dengan salju yang sedang turun, tidak begitu lebat.. namun cukup membuat cuaca menjadi kian dingin.


'' Kita menikah di sini saja, menikah saat ada salju turun bukankah bagus?'' Ujar Justin.


'' Dan aku akan mati beku di sini.'' Ujar Qilin dan Justin terkekeh mendengarnya. Keduanya pun masuk kedalam mobil dan melaju pergi dari sana.


Sementara itu di rumah sakit sendiri saat ini Luca, Dewi dan Agra sedang mengunjungi Cio. Agra memaksa untuk mengunjungi putra nya yang sudah selama tiga tahun itu tidak di lihatnya.


'' Sudah, ma.. jangan terus menangis.'' Ujar Luca yang mengusap usap lengan Dewi.


'' Mama hanya terlalu bahagia.'' Ujar Dewi.


Tapi rupanya yang sedang menangis juga bukan hanya Dewi, ternyata Agra dan Cio saat ini juga sedang menangis. Cio menangis karena ayahnya sekarang sudah menjadi baik, tapi juga sedih kerena ayahnya menjadi tuli.


'' Maafkan papa, nak.'' Ujar Agra, dan Cio mengangguk anggukan kepalanya. Sudah berkali kali Agra meminta maaf kepada Cio, tapi rasa bersalahnya masih saja mengganjal di hatinya.


'' Apa kak Qilin tidak akan datang, ma?'' Tanya Luca.


'' Niklaus bilang dia sudah memberi tahu Justin. Tapi cuaca sedang sedang sangat dingi, mungkin Qilin kedinginan, dia pasti tidak terbiasa di tempat bersalju. '' Ujar Dewi.


Tapi baru saja di bicarakan, Qilin membuka pintu dan terkejut karena rupanya di sana ramai. Qilin lebih terkejut lagi karena di sana ada Agra, Qilin pun mengeratkan genggaman tangannya pada Justin, seakan takut.


Justin pun menyadarinya, dan dia menatap kearah Agra yang saat ini juga menatap kearah Qilin.


'' Jangan tajur, sayang.'' Ujar Justin menenangkan Qilin.


'' Qilin..'' Gumam Agra, dan Qilin menjadi pias sendiri.

__ADS_1


TO BE CONTINUED...


__ADS_2