
Keesokan harinya, Qilin terbangun ketika dia mendengar suara helikopter yang mendarat di landasan namun Qilin tidak menghiraukannya, tubuhnya terllau sakit untuk di gerakan, bahkan Qilin tidur di sofa semalaman. Setelah suara helikopter itu pergi, barulah Qilin bangun dan berjalan keluar.
'' Kuat Qilin.. kamu harus kuat, agar bisa melakukan perlawanan pada pria yang menculik mama.'' Gumam Qilin.
Qilin berjalan dengan tertatih tatih dan keluar dari rumah itu, namun dia terkejut ketika melihat pria yang dia lihat di mobil Van itu berdiri di luar rumahnya, Agra Khan.. saat ini dia berdiri di depan pintu masuk.
'' Oh, kau masih hidup rupanya? aku pikir badai kemarin sudah membuatmu mati ketakutan, rupanya aku hanya banyak berpikir.'' Ujar Agra.
Qilin tentu menelan ludah nya dengan susah payah melihat pria yang sudah membahayakan nyawanya juga ibunya, Ingin rasanya Qilin menghajar pria itu, namun dia belum memiliki kekuatan.
'' Ibumu sangat suka tempat ini.. tapi dia tahu di sini selalu terjadi badai, jadi dia memintaku untuk datang melihatmu. Kemari, perlihatkan wajahmu pada ibumu.'' Ujar Agra dan memotret Qilin dengan tanpa perasaan.
Agra bahkan tidak peduli dengan luka luka di tubuh Qilin, dia hanya memotret dan memotret lalu pergi dari sana tanpa sedikitpun rasa iba di hatinya.
'' Sebaiknya kau tidak membuat ibumu menangis, atau kau tahu apa yang akan kamu rasakan.'' Ujar Agra sebelum pergi.
'' Apa ibuku baik baik saja?'' Teriak Qilin dan Agra menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap Qilin.
'' Kau tahu, sebenarnya aku benci mengakui aku memiliki anak tiri. Dan aku benci ada anak lain yang memanggil ibu dari anak anakku dengan sebutan ibu.. tapi karena dengan adanya dirimu, baru ibumu menjadi patuh.. aku mengijinkanmu hidup di dunia ini.. sementara.'' Ujar Agra.
'' Jika kau sudah tidak berguna nanti.. kau akan aku singkirkan, dengar itu baik baik. Jadi kau.. jangan pernah bertanya kepadaku mengenai kabar istriku, kau hanya harus tahu bahwa kau.. hidup hanya jika istriku bersikap baik kepadaku. '' Ujar Agra dan pergi dari sana.
Qilin meneteskan air matanya.. itu artinya dia dan ibunya tidak akan bertemu lagi, Tidak dalam waktu dekat atau nanti. Qilin mengepalkan tangannya.. kini dia semakin harus mengumpulkan keberanian dan tekadnya untuk berlatih, agar bisa mengalahkan seorang Agra Khan.
' Suatu hari.. aku kan berdiri di atas jasadmu, dan membawa ibuku pergi selamanya darimu.' Batin Qilin.
Gadis manis yang baik hati dan lugu itu kini harus memiliki rasa dendam di hatinya karena dia ingin menyelamatkan ibunya, Dia harus menjadi kuat untuk membebaskan dirinya dan ibunya.
''Kamu dendam padanya??'' Ujar sebuah suara yang tak lain adalah Cio.
Entah dari mana Cio masuk kedalam rumah itu, tiba tiba Cio sudah ada di dalam sana dan berdiri menyender di dinding, benar benar misterius seperti hantu.
__ADS_1
'' Cio..'' Gumam Qilin.
'' Belum satu minggu sebenarnya, tapi aku dengar ada badai di pulau ini.. jadi aku datang karena aku khawatir kepadamu.'' Ujar Cio dan berjalan, lalu duduk di sofa.
'' Aku belum menguasai semua yang ada di buku itu, tapi aku sudah mempelajarinya beberapa.'' Ujar Qilin, dan berjalan menghampiri Qilin.
'' Tidak apa apa, kamu bisa melanjutkannya lagi nanti, dan aku akan datang lagi minggu depan.'' Ujar Cio.
'' Tidak! tolong ajari aku apa tahap selanjutnya.. aku tidak memiliki banyak waktu.'' Ujar Qilin, ketika mengingat bahwa dirinya akan di singkirkan jika Agra sudah tidak membutuhkan Qilin lagi.
Cio terdiam.. jika dia melihat dari tubuh Qilin memang sudah ada sedikit perubahan, Qilin sudah bukan lagi gadis penakut yang lemah sepetri yang dia temui minggu lalu. Dan juga dari tatapan Qilin.. ada bara api yang menyala nyala, api dendam.
'' Tolong.. aku tidak mau di pisahkan dari ibuku. Aku bahkan baru bertemu dengan nya satu kali dan langsung di pisahkan lagi. '' Ujar Qilin.
'' Aku ingin hidup..'' Ujar Qilin lagi.
Satu kata Aku ingin hidup yang Qilin ucapkan membuat Cio tersenyum, Qilin sudah benar benar di ambang keputus asaan saat ini.
'' Ayo ikut denganku.'' Ujar Cio dan Qilin mengangguk.
Qilin sebenarnya bingung, mengapa Cio seperti lebih mengenal tempat itu dari pada dirinya sendiri, padahal dia yang tinggal di sana.
Rupanya ada sebuah ruangan rahasia di dalam rumah itu, dan ruangan itu berada di bawah lantai yang berarti ada di bawah tanah.
'' Ruangan apa ini?'' Tanya Qilin.
'' Pelatihan..'' Ujar Cio.
Cio menyalakan lampu dan terlihatlah semua alat alat olah raga yang tampak sudah berdebu, entah sudah berapa lama ruangan itu tidak terpakai.
'' Woah.. debunya tebal juga.'' Gumam Cio.
__ADS_1
'' Kamu pernah tinggal di sini?'' Tanya Qilin, namun Cio hanya merespon dengan senyum smirk.
'' Ayo bersihkan.. Jangan beralasan bahwa tangan dan kakimu sedang sakit, kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tidak memiliki banyak waktu.'' Ujar Cio.
Qilin sejenak diam, tapi memang benar dia tidak punya banyak waktu lagi. Hanya saja semua peralatan di sana adalah alat alat berat, sementara tangan dan kakinya sungguh sedang terluka karena batu karang di laut kemarin.
'' Tidak mau? kalau begitu.. ''
'' Aku mau! akan aku kerjakan.'' Ujar Qilin langsung memotong ucapan Cio.
'' Aku akan bantu kamu bersihkan di bagian sana.'' Ujar Cio, dan Qilin mengangguk.
Qilin pun mulai merapihkan dan membersihkan semua alat alat yang ada di sana, dengan susah payah Qilin juga mengangkat besi besi yang di gunakan untuk angkat beban dan meletakannya di tempat yang seharusnya.
Tangan Qilin bahkan sampai berdarah darah karena Qilin paksakan untuk mengangkat benda benda berat itu, hingga akhirnya Qilin pun menyapu dan mengepel lantai itu beberapa kali agar benar benar bersih. Setelah akhirnya ruangan itu sudah bersih dari debu, Qilin pun duduk untuk beristirahat.
' Lelahnya..' Batin Qilin sambil menyeka keringat di keningnya.
Qilin yang tidak melihat keberadaan Cio pun bangun dan mencari keberadaan Cio. Rupanya di sisi lain ruangan itu ada sebuah ruangan untuk berlatih menembak, dan terlihat Cio yang sedang merakit senjata. Cio melirik kearah Qilin lalu tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Qilin.
Qilin masuk kedalam ruangan itu, dan melihat beberapa senjata api dari beberapa model dan ukuran. Tiba tiba Cio mengulurkan tangannya kearah Qilin. Qilin yang bingung pun hanya menatap tangan Cio, tanpa dia menyambutnya.
'' Berikan tanganmu jika kamu tidak mau tanganmu menjadi infeksi dan amputasi.'' Ujar Cio, dan dengan rag Qilin mengulurkan tangannya.
Rupanya Cio hendak mengobati luka di tangan Qilin yang terbuka dan berdarah darah, dengan hati hati dan telaten, Cio mengobati luka Qilin dan memperbannya ulang dengan perban yang baru. Cio lalu memberikan pistol kecil yang sebelumnya di rakit olehnya di tangan Qilin.
'' Apa??'' Tanya Qilin.
'' Bukankah kamu ingin berlatih? Karena fisikmu sedang tidak baik baik saja, jadi kita belajar dari menembak dulu saja.'' Ujar Cio.
'' Tembak.. atau kamu yang tertembak.'' Ujar Cio menatap Qilin dalam dalam, dan Qilin menelan ludahnya dengan susah payah.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...