
Berbeda dengan Qilin yang bahagia, saat ini ada orang yang enggan bangun dari posisi tidurnya, hingga sang ibu yang harus menghampirinya.
" Nak.. bangun, dan masuklah kedalam, ini hujan." Ujar Sierra, sembari menepuk pipi Dustin.
Ya, Dustin masih berada di Gazebo. Dustin tertidur sangat pulas di Gazebo itu dengan bertemankan hujan lebat.
" Dustin, sayang." Ujar Panggil Sierra lagi dengan khawatir.
Sierra mengusap bekas air mata Dustin, dan bertanya tanya mengapa putranya bisa begitu.
Biasanya Dustin bisa mengendalikan diri saat minum anggur, bahkan tidak pernah sampai mabuk, tapi hari ini Dustin bagai bukan dirinya.
" Kenapa dia tiba tiba mabuk begini?" Gumam Sierra.
" Dustin.." Panggil Sierra.
" Qilin.." Gumam Dustin dan seketika Sierra tertegun mendengarnya.
" Qilin.." Gumam Dustin lagi.
Sierra langsung menutup mulutnya dan berkaca kaca mendengar apa yang di gumamkan Dustin, dia menyebut nama Qilin.
" Astaga, nak.." Gumam Sierra.
Dustin yang mendengar suara Sierra akhirnya bangun, Dustin yang tidak bisa mengendalikan lagi hatinya itu langsung kembali menangis ketika melihat Sierra.
" Maafkan Dustin, mom.." Gumam Dustin.
Sierra akhirnya membawa Dustin kedalam pelukannya, dan mereka berdua menangis bersama. Dustin dengan perasaan sesaknya, dan Sierra dengan kebingungan nya.
Mereka lumayan lama saling menangis berpelukan, Sierra bahkan mengusap air matanya berkali kali.
" Apa yang kamu lakukan, nak.." Gumam Sierra akhirnya.
" Jangan khawatir, mom.. Aku tidak akan menyakiti kakak, tidak akan menyakiti kalian." Ujar Dustin.
" Dustin akan pergi.." Ujar Dustin, dan Sierra menggeleng.
" Pergi kemana, jangan pergi kemanapun." Ujar Sierra.
" Sakit, mom." Ujar Dustin, sembari menepuk dadanya dan Sierra kembali memeluk putra bungsunya itu.
" Kenapa bisa begini? Kamu menyukai Qilin?" Ujar Sierra, menatap Dustin.
" Cinta.. Dustin mencintai Qilin." Ujar Dustin pelan.
" Itu tidak benar, nak.. Qilin calon istri kakakmu." Ujar Sierra dan kembali mengalir air matanya.
Dustin mengulurkan tangannya dan menghapus air mata Sierra. Air mata yang seharusnya dia jaga agar tidak sampai tumpah, apalagi karena kekecewaan Sierra padanya.
" Aku tahu.. maafkan aku mom.." Ujar Dustin, lalu menghapus air matanya sendiri.
" Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan hal nekat apapun. Maaf karena mommy menjadi kecewa." Ujar Dustin.
" Setelah kakak menikah dengan Qilin, Dustin akan pindah keluar negeri." Ujar Dustin.
__ADS_1
" Lalu bagaimana dengan hatimu? kamu akan semakin terluka jika melihat mereka menikah." Ujar Sierra.
" Aku tidak mau melihat kakak sedih, karena menikah tanpa kehadiranku." Ujar Dustin.
" Anak mommy yang malang.. kenapa kamu jadi berada di posisi begini.." Gumam Qilin sambil kembali memeluk Dustin.
" Aku akan baik baik saja, seperti yang sebelum sebelumnya." Ujar Dustin.
Siapa yang sangka, cinta tumbuh di hati Dustin. Dustin juga sebelumnya tidak pernah dekat dengan wanita, tapi sekalinya dia jatuh cinta.. malah dengan kekasih kakaknya sendiri.
Dan beberapa hari setelahnya...
Qilin yang baru saja berolah raga pagi dengan Justin di kejutkan dengan kedatangan Sierra di kediaman Justin.
" Mommy.." Ujar Sierra.
" Halo, sayang.. Kalian baru berolah raga, ya?" Tanya Sierra.
" Iya, mom." Ujar Qilin.
" Sayang, aku siap siap ke kantor dulu." ujar Justin dan Qilin mengangguk.
Justin mencium kening Qilin, dan Sierra menyaksikan itu. Sierra ikut tersenyum melihat betapa rukunnya putra dan calon menantunya itu. Tapi dia jadi semakin merasa sedih untuk putra nya yang lain, Dustin.
" Mommy datang untuk menunjukan beberapa gaun untukmu, karena pertunangan nya sebentar lagi, para desainer juga kesulitan.. jadi untuk alternatifnya, kita pakai gaun yang sudah ada saja, bagaimana?" Tanya Sierra.
" Tidak masalah, mom." ujar Qilin.
" Sebentar lagi mereka akan datang, nah.. itu mereka datang." Ujar Sierra.
" Qilin ganti baju sebentar, mom." Ujar Qilin, dan Sierra mengangguk.
" Nah, ini calon pengantinnya." Ujar Sierra.
" Wah, cantik sekali.. Nona seperti manekin." Ujar seorang dari desainer.
" Tplong buatkan gaun pernikahan yang indah untuknya." Ujar Sierra.
" Siap, nyonya.. " Ujar desainer itu.
" Sayang, cobalah beberapa gaun yang mereka bawa, untuk pertunanganmu nanti." Ujar Sierra.
Sierra bagai ibu kandung Qilin yang mengurus keperluan Qilin. Bahkan yang melihat pun bisa menilai, kasih sayang Sierra begitu besarnya untuk Qilin.
" Warna biru malam ini bagus." Ujar Qilin. Menyentuh sebuah gaun berwarna bitu malam.
Gaun itu sangat simpel, tidak seperti gaun gaun yang lain yang sangat terlihat mewah karena memiliki ekor ekor yang menurut Qilin terlihat berat.
" Rupanya selera nona sangat bagus, ini gaun keluaran terbaru dan belum di keluarkan. " Ujar salah seorang desainer.
" Kenapa in, sayang? Apa tidak terlalu simpel?" Tanya Sierra.
" Yang lainnya terlihat terlalu berat bagiku, mom.. ini saja, yang simpel dan lucu menurut Qilin." ujar Qilin.
' Bagaimana kedua putraku tidak jatuh hati padanya, dia adalah gadis baik dengan kepribadian yang baik juga..' Batin Sierra.
__ADS_1
" Silahlan nona coba lebih dulu, jika kebesaran kami bisa mengecilkannya." Ujar desainer.
" Baik." Qilin.
Qilin pun masuk ke kamar bawah bersama seorang Desainer, dan tak lama Justin turun.
" Kemana Qilin, mom?" Tanya Justin.
" Tunggulah sebentar, kamu akan melihat Qilinmu sebentar lagi." Ujar Sierra. Justin pun tersenyum dan duduk.
Sierra sungguh tidak bisa bayangkan jika tiba - tiba Justin tahu bahwa Dustin mencintai Qilinnya.
" Mommy kenapa?" Tanya Justin.
" Hanya tidak menyangka, putra mommy sebentar lagi akan menikah." Ujar Sierra berbohong.
" Bukankah mommy yang bilang ingin memiliki cucu, kenapa sekarang sedih?" Ujar Justin.
" Mommy tidak sedih, nak.. hanya terlalu bahagia." Ujar Sierra dan menghapus air matanya.
Tiba tiba pintu kamar bawah terbuka, dan Qilin muncul dengan gaun indah tadi. Justin benar benar terpaku melihat betapa cantik Qilinnya itu dengan gaun biru malam.
Rupanya gaun itu juga pas di tubuh Qilin, kelihatannya tubuh Qilin kecil tapi saat mengenakan gaun itu justru sangat pas. Lekuk pinggang dan punggungnya tidak sedikitpun gagal, Qilin terlihat sempurna.
Senyum indah nya terukir ketika melihat Justin, dan Justin bangun dari duduknya dengan ekspersi tidak bisa di jabarkan.
" Justin, kamu menangis." Ujar Qilin, tidak percaya dan justin langsung mengusap air matanya.
" Kamu cantik sekali, sayang." Ujar Justin, terharu.
" Itu belum di rias, kalau nanti Qilin sudah di rias.. maka kamu akan lebih tersedu sedu." Ujar Sierra meledek.
" Mari saya bantu pasangkan sayapnya, nona." Ujar Desainer.
" Sayap?" Tanya Qilin.
" Ya, gaun ini memiliki sayap untuk menutup sebagian pundak nona, dan ini akan menjadi semakin indah." Ujar desainer.
Qilin pun mengangguk dan menurut saja ketika di pasangkan sayap yang di maksud oleh desainer tadi. Qilin pikir adalah sayap - sayap seperti burung, tapi rupanya kain tipis yang jika Qilin merentangkan kedua tangan nya barulah terlihat menjadi seperti sayap.
Tapi memang itu semakin membuat gaun itu tampak lebih cantik dan indah, Qilin terlihat sangat cantik bagai peri sekarang.
" Itu saja, jangan ganti yang lain." Ujar Justin final.
" Bagaimana, sayang?" Tanya Sierra pada Qilin.
" Iya, mom.." Ujar Qilin tersenyum.
" Kalau begitu gaun ini saja." Ujar Sierra, dan para desainer itu mengangguk mengerti.
" Sana, bukannya kamu tadi mau bekerja?" Ujar Sierra pada Justin.
" Aku sedang mengagumi ciptaan Tuhan yang sebentar lagi akan mebjadi istriku, mom." Ujar Justin, dan semua orang terkekeh.
Justin lupa bahwa di sana banyak orang, Qilin sampai menpuk keningnya sendiri.
__ADS_1
" Bucinnya.. sabar, sebentar lagi juga kalian menikah." Ujar Sierra justru semakin meledek.
TO BE CONTINUED..