
Dustin sedang berada di markasnya bersama Cio saat ini, mereka masuk kedalam sebuah ruangan yang gelap, dan sangat luas. Setelah Dustin menyalakan saklar lampu, barulah terlihat betapa luasnya ruangan itu.
"Tempat apa ini, kak?" Tanya Cio, dia melihat kesana kemari karena banyak kain hitam yang menutupi entah apa itu.
"Tempat eksekusi para musuh TITANES." Ujar Dustin.
Dustin kemudian menarik ujung kain hitam yang menutupi benda - benda di sana, dan seluruh kain itu pun terbuka hingga memperlihatkan deretan senjata api dan sejenisnya.
"Aku sudah lama tidak berperang dengan benda - benda menarik ini, bagaimana kalau kita mencobanya malam ini?" Tanya Dustin pada Cio dan Cio tersenyum smirk.
"Biar ku pimpin jalan ke sana." Ujar Cio, lalu kemudian mereka berdua pun mulai mengeluarkan satu persatu persenjataan itu dari sana.
Karena TITANES saat ini sudah kehilangan banyak anak buah dalam ledakan di tiga titik kemarin, Cio pun meminta Niklaus untuk membawa beberapa sniper handal mereka. Dan setelah semuanya siap, mereka pun mulai berangkat.
"Aku adalah sekutu dimatanya, jadi aku hanya akan memimpin jalan saja. Anak buahku akan masuk ke sana bersama kakak." Ujar Cio, dan Dustin mengangguk. Beberapa mobil pun melaju membelah jalanan kota di malam hari, mereka menuju ke bagian lain dari kota Jakarta.
Sementara itu di markas Clins, dia sedang tersenyum smirk melihat pergerakan mobil yang sedang melaju menuju kesebuah titik merah dari layar monitor raksasanya. Clins kemudian bangun dan bertepuk tangan dengan sangat meriah.
"HOHOHOHO... Sebuah petasana akan kembali meledak malam ini." Ujarnya dengan sangat senang. Dia kemudian menari seperti biasanya seolah dia sedang berdansa dengan iringan lagu.
Kemballi ke sisi Dustin dan Cio, Dustin menyadari ada yang tidak beres dengan mobil yang dia kenakan, dan benar Niklaus yang mengemudikan mobil itu langsung bingung ketika mobil itu mengemudikan dengan sendirinya.
"Tuan, cepat lompat mobil ini di kendalikan seseorang!" Teriak Niklaus dengan sangat panik. Tapi mobil itu juga terkunci dengan sendirinya.
Semua orang pun terkejut, Ben langsung mengeluarkan tablet dari saku jasnya dan mencoba masuk ke sistem mobil itu, dan benar.. mobil itu sudah di sabotase.
"Aku akan tangani ini, tanya yang lain apakah mereka mengalami hal serupa atau tidak." Ujar Dustin dan Ben mengangguk. Dustin pun langsung mengerahkan semua yang dia bisa, setidaknya di paham tentang pemrograman.
Ben berbicara dengan timnya tapi tidak tersambung, dan justru dia mendengar tawa seorang pria dari radio mobilnya.
"Hohoho.. hai.. hai.. kalian sedang kebingungan bukan? Oh, aku lupa memperkenalkan diriku lebih dulu, tapi apakah perlu?" Ucap pria itu. Cio memberi tahu Dustin bahwa itu adalah Clins, tanpa bersuara.
"Hmm.. Dustin Edward, Are you there?? Bagaimana rasanya kamu akan melihat satu persatu orang yang kamu kasihi meninggal? Apakah pernah?" Tanya Clins.
Dustin sama sekali tidak terganggu, dia tetap berkonsentrasi pada laptopnya dan berusaha memecahkan sandi dari sistem yang terpasang di mobilnya.
"Apakah kau pernah?" Tanya Dustin balik, Clins bersuara seolah dia sedang berpikir.
"Hmmmm... bagaimana bilangnya ya, aku tidak hanya melihat, tapi aku kehilangan semuanya. Dan kau tahu itu gara - gara siapa? Itu gara - gara Arthur Edward, kau kenal dia siapa, kan? Ayahmu." Ujar Clins.
__ADS_1
Dustin mengotak atik laptopnya dengan gerakan sangat cepat, Cio bahkan terkejut melihat bagaimana cara kerja jari jemari Dustin yang begitu cepat.
"Tuan, semua mobil kita di sabotase dan di arahkan ke sebuah jalanan kosong, menurut maps itu adalah bangkai kilang minyak tidak terpakai." Ujar Ben. Dustin semakin mempercepat gerakan tangannya.
"Ibumu yang bodoh, tidakkah kau menyadarinya?" Ujar Dustin memancing emosi Clins. Di tempat Clins, wajah Clins benar - benar murka dengan tatapan tajamnya.
"Kau diam? Jadi aku benar?" Ujar Dustin lagi, semakin memancing. Semakin Clins emosi, semakin juga kewaspadaan nya turun.
"Jika saja ibumu tidak melakukan hal bodoh pada ibuku, pasti ayahku juga tidak akan melakukan hal seperti itu pada ibumu. Apa kau tahu riwayat masalalu ibumu?" Tanya Dustin.
Clins semakin mengeratkan kepalan tangannya, dia tentu saja ingat. Ibunya seperti wanita murahan yang rela di jamah pria demi sebuah tender, lalu lahirlah Clins, yang entah siapa ayahnya.
Tapi tiba - tiba emosi di wajah Clins hilang begitu saja dan Clins kembali ceria seperi sebelumnya.
"What ever! Aku tidak ingat, yang aku ingat adalah aku akan menghabisi satu persatu keluargamu, Dustin Edward." Ujar Clins lalu terkekeh.
Setelah Clins mengatakan itu, Dustin berhasil membuka beberapa sistem. Mobilnya sudah bisa di kendalikan oleh Niklaus dan Niklaus langsung berbelok arah dan mendahului mobil - mobil lainnya.
Dustin juga berhaslil membuka beberapa sistem mobil lain, tapi beberapa diantara mobil itu masih terkunci.
"Tuan, itu kilang minyaknya." Ujar Ben dengan panik.
"Kau mungkin bisa selamat sesaat ini Dustin Edward, tapi aku akan selalu mengikutimu dan seluruh keluargamu. Nyawa kalian semua ada dalam genggamanku. Hahahaha.. " Ujar Clins.
Setelah Dustin berusaha dengan sangat keras, tapi dia tidak bisa membuka sistem di mobil - mobil anak buahnya, akhirnya dia hanya bisa melihat mobil anak buahnya satu persatu meledak setelah menabrak kilang minyak.
"DUAR!!"
"DUAR!!"
"BLARRR!!!"
Api membumbung sangat tinggi, karena ternyata di mobil itu terdapat bom yang akan meledak sesuai dengan urutan, di tambah mobil itu menabrak bangkai kilang minyak.
"Ninininit!!" Terdengar suara dari dalam mobil.
"SEMUANYA KELUAR!!" Teriak Dustin dan semua langsuang membuka pintu dan..
"DUAR!!"
__ADS_1
Satu persatu mobil itu meledak tepat setelah semua orang berlari beberapa langkah. Dustin tersungkur karena dia lari dengan sangat cepat, begitu juga Cio dan yang lainnya.
Mereka selamat, tapi mengalami luka luka. Cio tidak menyangka bahwa Clins mampu melakukan hal seperti itu.
"Dia tidak akan bisa melakukannya tanpa kaki tangan, temukan penghianatnya dan eksekusi mereka semua." Ujar Dustin yang rupanya memiliki pemikiran yang sama dengan Cio.
Sementara di tempat lain, Clins sendiri sedang bersenandung senang ketika melihat dari layar monitor raksasanya semua mobil yang di pasangi peledak itu meledak semuanya.
"Sukses tapi.. aku tidak yakin mereka semua tewas. Selama aku belum melihat jasad mereka, maka aku akan tetap mengejar mereka, sampai dapat." Ujar Clins dengan tangan yang bergerak seolah sedang meraih sesuatu dan meremasnya.
Keesokan harinya..
Justin bangun ketika dia merasa sedang di awasi, dan ketika dia membuka matanya ia melihat sebuah belati yang hendak menikam dirinya.
Dengan sekuat tenaga Justin menahan belati itu agar tidak menancap ke wajahnya.
'Siapa dia? Kenapa dia bisa masuk kemari.' Batin Justin sembari mencoba menahan belati itu.
Mereka saling menekan belati itu, pria dengan topeng di wajahnya itu menyunggingkan senyuman pada Justin dan melirik kearah Qilin yang masih tidur di sisi Justin.
'Tidak! Dia akan mengincar Qilin.' Batin Justin. Dia yang masih lemah tentu saja belum memiliki tenaga yang cukup kuat, di tambah kakinya di gips dan kepalanya masih dalam tahap pemulihan.
Pria itu menarik kembali belatinya, dan setelah terlepas dari Justin, pria itu langsung mengarahkannya pada Qilin. Justin langsung menghalaninya dengan memasang badan, alhasil dia yang tertusuk di bagian punggung.
Dan saat itu, Qilin terbangun dan langsung berteriak dengan kencang.
"Tolong!!! Ada penyusup!!!" Teriak Qilin. Karena panik, pria itu langsung berlari keluar.
Qilin baru sadar bahwa Justin berdarah sangat banyak, dia pun langsung menangis histeris.
"Sayang! Kamu berdarah." Ujar Qikin dan dengan susah payah dia menekan tombol bantuan berulang kali.
"Sayang." Ujar Qilin sembari memegang wajah Justin dan menepuknya berulang kali.
"TOLONG!!!" Teriak Qilin sangat keras, karena Justin mulai lemah, sebab belati itu menancap sangat dalam dan di cabut dengan paksa oleh pelaku.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1