
Rupanya bukan hanya sebuah catatan yang Niklaus tinggalkan di sana, terdapat juga sebuah tas ransel dan sebuah map cokelat di bawah meja. Qilin membua tas ransel itu dan terkejut karena tas itu berisikan uang tunai dengan nominal yang tidak di ketahui.
' Astaga, kenapa dia meninggalakn uang sebanyak ini.' Batin Qilin.
Qilin membuka map cokelat yang rupanya berisikan semua informasi tentang Agra Khan. Terkecuali identitas putra Agra yang satu lagi, Qilin sedikit bingung tapi dia tidak mempermasalahkannya.
Qilin sudah terjamin, dari persenjataan, uang, kendaraan dan tempat tinggal. Informasinya sangat jelas, dan dia siap untuk menghabisi Agra dan menyelamatkan ibunya.
Qilin berjalan keluar untuk melihat kendaraan apa yang tersedia, rupanya mobil mobil mewah.
" Ck! Mana aku bisa mengendarai mobil, aku hanya bisa mengendarai motor, itu pun milik tukang kebun papa dulu." Gumam Qilin menggaruk kepalanya.
Ada saja halangan disaat semuanya sudah siap. Tapi tiba tiba Qilin melihat sebuah roda motor, Qilin pun berjalan menuju kearah roda yang tertutup oleh sarung penutup.
Qilin menarik penutupnya dan ternganga ketika melihat isinya. Sebuah motor yang begitu gagah berwarna hitam menyala.
" Wah.. motor yang bagus." Ujar Qilin.
Kuncinya juga masih menyangkut di sana, Qilin menyalakan memutar kuncinya lalu menyalakan motor itu dan..
" BRUM! BRUM! "
Sebuah senyum cerah merekah di bibir Qilin, dan Qilin pun mencoba motor itu untuk sekedar keluar dari garasi, dan dia yakin bisa mengendarainya.
" Apa motor jaman sekarang di sediakan maps? " Gumam Qilin bingung.
" Baguslah, aku akan mendatangi Agra Khan." Gumam Qilin.
Malam harinya, Qilin sungguh bersiap dan mengendarai motornya membelah jalanan di kota itu.. Memang ada sedikit kendala karena lalulintas disana berbeda dengan di tanah air, apalagi Qilin tidak tahu menahu dengan tulisan dan nama nama jalan.
Beruntungmya motor itu di sediakan Maps, dan Qilin hanya harus mengikuti kemana maps membawanya pergi. Hingga tibalah Qilin di sebuah bukit.
" Apa apaan ini.." Gumam Qilin ketika melihat pemandangan di hadapannya.
Qilin melihat rumah Agra Khan yang sudah rata dengan tanah dari atas, tidak ada rumah lain di sana, hanya rumah Agra Khan seorang, tapi rata dengan tanah.
Qilin menuruni bukit itu dan turun dari motornya. Rumah itu benar benar hancur.
" Mama.." Batin Qilin.
Qilin jadi berpikir yang tidak tidak tentang ibunya. Qilin masuk kedalam dan melihat sisa sisa bangkai rumah itu.
Qilin melihat sebuah foto leluarga dimana ada wajah ibunya, Agra dan kedua putra Agra yang salah satunya adalah Luca. Namun foto putra yang satu lagi terbakar hingga tidak terlihat wajahnya.
__ADS_1
' Jadi pria bernama Luca adalah adikku? ' Batin Qilin.
Qilin sedikit sakit melihatnya, dia bahkan tidak memiliki foto bersama ibunya, tidak juga merasakan kasih sayang dari ibunya.
' Siapa yang satu lagi..' Batin Qilin.
Qilin akhirnya pergi dari sana ketika tidak mendapati apapun, pencariannya di lokasi pertama, buntu.
' Aku tidak akan menyerah untuk menemukan mama. Batin Qilin, tanpa Qilin tahu sebenarnya Dewi sudah aman dengan Justin.
Qilin pergi, dan berhenti di sebuah toko seperti swalayan. Qilin dengan ragu mengambil roti dan sebotol air. Ketika kasir bertanya Qilin hanya bisa menjawab dengan bahasa Inggris, dan itupun tidak fasih.
Qilin keluar dari toko swalayan, dan pergi.
Sementara itu, di markas Luca.. Luca mendapatkan sebuah video yang memperlihatkan pergerakan seorang wanita yang berbelanja di toko swalayan..
" Mia.. " Gumam Luca dengan tatapan berkaca kaca.
Luca bangun dari kursinya dan hendak pergi menyusul gadis yang di sebutnya Mia itu, namun anak buahnya lebih dulu masuk dan mengatakan bahwa adik Luca sudah datang.
" Tuan, tuan muda sudah datang." Ujar anak buah Luca.
Luca menjadi sedikit bimbang, dia ingin bertemu dengan Mia, tapi adiknya adalah orang yang tidak pernah pulang sekalipun sejak tiga tahun yang lalu dan memilih hidup di luar jangkauan keluarga Agra Khan.
Luca kembali duduk di mejanya dan tak lama sebuah langkah kaki masuk kedalam ruangannya.
" Sepertinya kamu sedang terburu buru sekali.. kak." Ujar seorang pria dan Luca melihat kearahnya.
" Lucio.." Ujar Luca dan langsung bangun dari duduknya lalu memeluk Lucio.
Ya, Lucio Khan atau yang Qilin akrab panggil Cio.. adalah adik dari Luca Khan. Yang artinya Luca dan Cio adalah adik Qilin namun beda ayah.
" Aku pulang bukan untuk berpelukan menggelikan denganmu." Ujar Cio datar.
" Kau masih marah dengan kakak? Kakak tidak bermaksud untuk.."
" Dimana papa?" Ujar Cio memotong ucapan Luca.
Luca menjadi sedih, adiknya tidak mau mendengarkan apapun yang dia ucapkan.
" Papa ada di ruang perawatan, ayo aku antar. " Ujar Luca.
Cio pun berjalan di belakang Luca dan menuju ke ruangan dimana Agra di rawat. Saat pintu terbuka, langsung terlihat Agra dengan perban di beberapa bagian tubuhnya dan juga di bagian kepalanya.
__ADS_1
" Papa tuli, dia tidak bisa mendengar karena penyerangan di rumah kita." Ujar Luca menjelaskan.
' Rupanya ada saatnya aku melihatmu berbaring lemah tidak berdaya.' Batin Cio.
" Mama juga di bawa pergi oleh kelompok itu." Ujar Luca dan itu mengalihkan perhatian Cio.
" Kamu bilang apa?" Ujar Cio dengan tatapan serius.
" Mama di bawa pergi. Dan kau tahu adik.. Papa menyandra putri mama di pulau, tapi rupanya dia bisa melarikan diri dari sana." Ujar Luca.
" Ada seseorang yang membantunya dan melindunginya." Ujar Luca lagi dengan tatapan kemarahan.
Tapi saat ini di otak Cio begitu kacau.. Rupanya mamanya yaitu Dewi, sudah lebih dulu di bawa pergi.. dan Cio yakin itu pasti Lucifer dari TITANES yang mencari keberadaan Qilin saat ini.
" Kakak memanggilmu pulang adalah untuk meminta bantuanmu, kita selamatkan mama dan habisi gadis bernama Qilin itu, agar mama tidak lagi pergi dari kita." Ujar Luca.
Cio langsung menatap tajam kakaknya itu, mereka berbeda dua tahun, tapi Luca cenderung lebih kekanak kanakan dari pada Cio yang tegas sebagai adik.
" Bisakah kau tidak berpikiran egois seperti papa? Qilin bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang mama, dan kau bilang ingin membunuhnya?" Ujar Cio tidak habis pikir.
" Itu sebabnya aku lebih memilih pergi dari rumah, dari pada aku harus melihat ke egoisan kalian." ujar Cio lagi.
" Memang benar Qilin tidak merasakan kasih sayang mama, tapi dia mendapatkan seluruh hati mama. Mama bahkan dengan tanpa ragu meninggalkan kita dan mencari Qilin ke negaranya." Ujar Luca.
" Kita lahir dari rahimnya, hidup dengannya, dan tumbuh besar dari kasih sayangnya dan kau bilang kau tidak mendapatkan hati mama? Tidak mungkin seseorang memberi rasa sayang tanpa hati, kak!" Bentak Cio.
" Waraslah sedikit, kenapa kakak semakin lama semakin seperti papa, huh!?" Ujar Cio lagi.
Luca mengepalkan tangannya dan otot di rahangnya menjadi kian mengeras dengan nafas yang memburu karena emosi.
" Tapi pernahkah mama berkata dia menyayangi kita, huh!? Pernahkah mama semalam saja tidak menangis karena memikirkan anak si*lan nya itu?" Ujar Luca emosi.
" Kita anaknya, di depan matanya, tumbuh karena dia tapi hatinya hanya untuk anak si*lan nya itu! Kakak memang sudah tidak waras, anggaplah begitu. Tapi kakak hanya ingin keluarga kita kumpul dan bahagia, selayaknya keluarga lainnya. Selayaknya yang terpasang di foto itu!" Ujar Luca dan pergi dari ruangan Agra.
Cio mengikuti arah yang Luca tunjuk tadi, disana terlihat sebuah foto keluarga yang sama dengan yang Qilin lihat di rumah Agra yang runtuh.
Air mata Cio menggenang di pelupuk matanya, kemudian jatuh.
' Cio sayang mama.' Batin Cio
" Jika saja papa memperlakukan mama dengan benar, tidak mungkin mama berbuat seperti itu. Mama sangat menyayangi kita, walau mungkin mama tidak menyayangi papa, karena memang papa yang salah." Gumam Cio.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1