
Beberapa hari kemudian..
Qilin sudah sembuh dari diarenya, dan Qilin juga sudah terlihat ceria dan baik baik saja. Justin tidak sekalipun pergi ke perusahaan selama beberapa hari dan hanya fokus menjaga dan memastikan Qilin baik baik saja.
Justin hanya bekerja saat Qilin tidur saja, dia tidak membiarkan Qilin sedikitpun sendirian.
" Justin, aku boleh pulang?" Tanya Qilin pada Justin.
Saat ini keduanya sedang berada di kolam renang, Qilin mencelupkan kakinya di kolam sambil bermain dengan air kolam, sementara Justin sedang mengupaskan jeruk untuk Qilin.
'' Apa kamu tidak suka tinggal di sini denganku?'' Tanya Justin, sambil menyuapkan jeruk yang sudah dia kupas pada Qilin.
''Bohong jika aku bilang aku tidak suka tinggal di sini..'' Ujar Qilin.
'' Lalu kenapa kamu ingin sekali pulang?'' Tanya Justin, dan Qlin diam.
Banyak alasan mengapa Qilin ingin sekali pulang, pertama dia tidak mau merepotkan Justin yang harus selalu menemaninya di rumah.
Ada banyak nyawa yang bernaung di perusahaan Justin, jika Justin terus berada di rumah.. bagaimana dengan ribuan karyawannya yang bergantung pada Justin. Dan ada beberapa alasan lainnya yang membuat Qilin kukuh dirinya harus pulang.
'' Kamu adalah seorang pemimpin perusahaan di mana di dalamnya ada ribuan nyawa yang bernaung di perusahaanmu, jika pemimpinya saja tidak pernah masuk bekerja, bagaimana dengan mereka..'' Ujar Qilin.
Lagi lagi Justin di buat tidak habis pikir dengan Qilin yang rupanya mementingkan nasib para karyawannya, padahal Justin datang atau tidak ke perusahaan, semua orang di sana akan tetap dengan profesional bekerja dengan baik.
Dan satu hal lagi.. kekayaan Justin tidak akan habis begitu saja hanya karena Justin tidak masuk kerja beberapa hari.
'' Kamu mengkhawatirkan karyawanku?'' Ujar Justin dan Qilin mengangguk
Justin pun terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Qilin memang lain dari yang lain.
" Ayo masuk, sayang. Ini sudah siang, mataharinya sudah terlalu panas." Ujar Justin.
Qilin mengangguk lalu bangun dan berdiri. Tapi saat itu juga dia melayang dan tidak menyentuh tanah, Justin menggendongnya begitu saja seolah Qilin tidak punya beban.
" Astaga, aku pikir aku akan terbang ke kolam." Ujar Qilin, dan Justin terkekeh.
" Atau mau kita terjun bersama ke kolam?" Tanya Justin, dan Qilin langsung menggeleng kuat.
" Tidak, aku tidak bisa berenang." Ujar Qilin, dan Justin sedikit terkejut mendengarnya.
" Baiklah, kalau begitu kita masuk. Tapi besok kamu harus les berenang denganku." Ujar Justin, sambil berjalan pergi masuk kedalam rumahmya.
" Ha?? Les berenang??" Tanya Qilin.
" Penting bagi seseorang untuk bisa berenang, sayang. Berjaga jaga apabila tidak sengaja jatuh ke dalam air dan tidak ada orang di sekitar, jadi kita bisa menyelamatkan diri kita sendiri." Ucap Justin.
Memang benar, penting sekali bagi seseorang untuk bisa berenang. Tapi Qilin..
'Tapi aku takut air yang dalam.' Batin Qilin.
__ADS_1
Belum sempat Qilin mengucapkan isi hatinya pada Justin, dia melihat Dustin yang berjalan masuk dari luar ke ruang tengah. Qilin tahu itu Dustin karena Justin saat ini sedang menggendongnya.
Terlihat Dustin langsung berhenti di ruang tengah dimana saat ini Justin sedang meletakan Qilin di sofa. Dustin metap keduanya dengan tatapan tidak bisa di artikan.
" Apa ada sesuatu terjadi?" Tanya Justin.
" Mommy sangat khawatir dengan Qilin, tapi Mommy hari ini ikut daddy ke Dubai jadi tidak bisa datang. Dia memintaku untuk mengantarkan ini untuk Qilin." Ujar Dustin.
" Hm?? Apa itu?" Tanya Qilin dan bangun menghampiri Dustin.
" Sayang, jangan lari." Ujar Justin, namun Qilin tetap berlari kecil.
Bisa bayangkan betapa besarnya ruangan itu, Dari tempat Justin ke tempat Dustin berdiri saja Qilin berlari kecil.
" Wah.. Mommy membuatkan aku cup cake." Ujar Qilin dengan wajah sumringah.
Dustin bahkan bisa mencium bau wangi tubuh Qilin, dan dia bisa melihat wajah Qilin dengan sangat dekat.
" Momny bilang, makanan manis akan berpengaruh dengan suasana hati, jadi dia membuatkan ini untukmu." Ujar Dustin.
" Terimakasih Dustin." Ujar Qilin menatap Dustin, dan Dustin melotot terkejut.
" Kalau begitu aku pergi." Ujar Dustin dan langsung pergi begitu saja membuat Qilin bingung.
Qilin menatap kepergian Dustin yang buru buru itu dengan tatapan sedih.
Justin menghampiri Qilin sambil terkekeh, lalu memeluk Qilin dari belakang.
" Bukan dia tidak suka denganmu, sayang. Dia dan aku itu sama, sama sama tidak suka di dekati wanita. Maaf aku tidak memberitahumu." Ujar Justin.
" Tapi kamu dekat dekat denganku." Ujar Qilin dan Justin terkekeh.
" Itu karena aku mencintaimu." Ujar Justin.
" Kelak Dustin akan dekat dengan wanita yang dia cintai juga, sama seperti aku yang selalu menempel padamu." Ujar Justin, dan Qilin terkekeh.
Sementara itu, di dalam mobil mewah yang sedang membelah jalanan, Dustin terlihat sedang mengemudikan mobilnya dengan sebelah tangan, sementara tangan yang satu lagi sedang ia gunakan untuk menutup mulut dan hidungnya dengan posisi punggung tangannya yang ia cium.
Tiba tiba terbit sebuah senyum tipis dari sudut bibir Dustin, tapi kemudian dia menjadi kembali fokus mengemudikan mobilnya membelah jalanan yang sudah ramai itu.
' Menggemaskan sekali..' Batin Dustin.
Sementara itu, Qilin akhirnya memakan cup cake yang di bawakan oleh Dustin dengan begitu bahagia. Justin bahkan samapi menggelengkan kepalanya berulang kali ketika melihat Qilin yang menggelangkan kepalanya berulang kali dengan antusias.
'' Jangan terlalu banyak makan cup cake nya, sayang.. nanti kamu sakit perut lagi.'' Ujar Justin.
'' Hmmm.. '' Ujar Qilin namun dengan mulut yang begitu penuh.
Justin begitu senang melihat Qilin yang begitu bahagia, akhir akhir ini Justin merasa bahwa hari harinya bersama Qilin begitu indah. Tapi tiba tiba dia teringat dengan satu hal, dia belum jujur tentang siapa dirinya kepada Qilin.
__ADS_1
" Bzzzz..." Getar ponsel Justin bergetar di meja makan.
Justin mengambil ponselnya dan melihat pesan yang masuk dari Ian. Terlihat di ponsel Justin tertera jam dan tempat sebuah janji pertemuan.
Justin pun menatap Qilin yang saat ini sedang asik makan cup cake nya, dan kemudian Justin tersenyum tipis.
" Sayang, kamu sungguh mau pulang?" Tanya Justin.
" Iya, aku kasian dengan Rena yang sendirian." Ujar Qilin.
" Baiklah, aku antar kamu pulang setelah ini." Ujar Justin.
Dan akhirnya, yang awalnya Justin menghalangi Qilin pulang, kini Justin justru mengantarkan Qilin pulang ke rumahnya. Saat ini keduanya sedang berada di perjalanan.
"Jangan nakal, hum?" Ujar Justin ketika akhirnya mereka sampai di depan rumah Qilin.
" Mana ada aku nakal, kamu mau mampir?" Tanya Qilin dan Justin menggeleng.
" Aku tidak suka jika ada orang lain di rumahmu." Ujar Justin, dan Qilin hanya bisa tersenyum canggung, di rumahnya sudah pasti ada Rena.
" Kalau begitu hati hatilah." Ujar Qilin.
Justin mengangguk, lalu memeluk Qilin lumayan lama baru kemudian di lepaskan.
" Aku pulang.. besok aku datang lagi kemari, hum? " Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
Justin mencium Qilin lalu pergi dari sana. Qilin pun masuk ke dalam, dan melihat Rena yang sedang berbaring sakit di sofa.
" Rena, kamu kenapa?" Tanya Qilin khawatir.
" Qilin, kamu sudah pulang?" Ujar Rena ketika melihat Qilin.
" Astaga, kamu demam. Ayo kita ke klinik." Ujar Qilin khawatir.
" Aku tidak apa apa, hanya masuk angin. Mumpung kamu ada, aku mau minta tol.. uek." Rena tiba tiba seperti mau muntah.
Rena pun berlari kedalam kamar mandi, dan terdengar seperti Rena yang muntah muntah. Qilin pun menghampiri ke kamar mandi dan Rena terlihat keluar dengan lemas.
" Ayo kita ke klinik, kamu sakit." Ujar Qilin.
" Aku hanya masuk angin biasa, aku hanya butuh kerokan." Ujar Rena dengan wajah lemas.
" Baiklah.." Ujar Qilin.
Qilin memapah Rena duduk ke sofa, dan Qilin berlari ke dapur untuk mengambil air hangat untuk Rena. Tatapan Rena saat ini tertuju ke arah kalender yang berada tak jauh dari sana.
' Aku tidak datang bulan..' Batin Rena.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1