Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 22. Saling merindukan.


__ADS_3

Qilin bangun, dan dia mencabut paksa selang infus di tangannya. Qilin berjalan dengan kaki lemah dan membuka pintu. Lorong rumah sakit saat itu sedang sepi, jadi tidak ada yang melihat Qilin pergi keluar.


Qilin tidak tahu itu rumah sakit mana, jadi dia asal berjalan saja keluar dari rumah sakit menuju ke jalan raya, dan dia masih menggunakan pakaian rumah sakit.


' Kepalaku pusing sekali.' Batin Qilin.


Qilin melihat sebuah taksi, dan dia melambaikan tangannya.


" Pak, tolong antar saya ke jl.xx." Ujar Qilin, dan supir taksi itu mengangguk mengerti.


Qilin menyenderkan dirinya di jok taksi, kepalanya berputar putar saat ini, ia pun memejamkan matanya.


' Tuhan, aku merindukan dia..' Batin Qilin dan air matanya meleleh.


" Nona, kita sudah sampai." Ujar supir taksi.


" Pak, bisa tidak masuk ke dalam gang, ke depan rumah saya, saya akn ambil uang ongkosnya." Ujar Qilin.


" Baik." Ujar supir.


Taksi itu masuk ke dalam gang, Qilin pun turun dan masuk ke dalam rumah untuk mengambil uang. Setelah Qilin memberikan uang pada supir taksi itu, dia pun mengunci pagar dan masuk ke dalam rumahnya.


Dengan susah payah, Qilin naik ke atas lantai dua, dimana kamar Justin berada. Aroma khas tubuh Justin begitu menyeruak ke indra penciuman Qilin, dan dia merindukan sosok pemilik aroma tubuh itu saat ini.


Qilin merebahkan dirinya di ranjang Justin, dan memejamkan matanya. Rasa sakit di kepalanya begitu menghantam, dan sesak di hatinya juga begitu mencekiknya, Qilin menangis dalam tidurnya.


Sementara itu di kediaman Arthur, Justin sedang duduk diam di gazebo, dimana banyak ikan ikan koi hias di sana. Justin sudah kembali mengenakan pakaian yang bagus dari brand brand ternama, tidak lagi menggunakan pakaian murah.


Justin merasa ada yang aneh dengan hatinya, dia sudah pulang pada keluarganya, tapi dia merasa ada yang hilang.


" Kenapa dada Justin sakit?" Gumam Justin sambil menepuk dadanya.


Sierra datang dan membawa buah untuk Justin, dia melihat putranya itu menepuk dada berkali kali.


" Ada apa nak, kenapa menepuk dadamu begitu?" Tanya Sierra khawatir.


" Dada Justin sakit, mommy." Ujar Justin.


" Sakit, apakah sesak?" tanya Sierra, dan Justin menggeleng.


" Tidak mommy, di dalam dada Justin yang merasa sakit." Ujar Justin.


Sierra terdiam, dia menebak bahwa saat ini Justin sebenarnya sedang merasakan sesak di hatinya, hanya Justin tidak bisa menyampaikannya.


" Justin merindukan Qilin." Gumam Justin.

__ADS_1


Sierra menepuk pundak Justin, dia tidak tahu harus berkata apa. Semalam dia sudah mendatangi rumah Qilin, tapi Qilin tidak ada.


" Mommy akan cari dan panggil dia untuk datang kemari." Ujar Sierra.


" Benarkah?? Mommy akan bawa Qilin kemari?" Ujar Justin antusias, dan Sierra mengangguk.


" Makan buahmu, mommy akan bicara dengan daddy mu." Ujar Sierra dan Justin mengangguk.


Sierra pun kembali masuk ke dalam, dia mencari Arthur di ruang kerja nya, dan kebetulan di sana ada Malvin.


" Sayang, bisakah kamu cari Qilin?" Ujar Sierra.


" Qilin? untuk apa mencari Qilin?" Tanya Arthur.


" Justin sejak pagi hanya diam, dia tidak banya bicara. Tapi ketika membahas Qilin, dia begitu antusias, Justin merindukan Qilin." Ujar Sierra.


" Tapi kita akan terbang malam ini." Ujar Arthur.


" Sekali saja, pertemukan Justin dengan Qilin sebelum Justin melakukan pengobatan, kita juga belum mengucapkan terimakasih secara khusus padanya, mommy bahkan belum meminta maaf telah menamparnya." Ujar Sierra.


Arthur terlihat diam, sebenarnya apa yang di katakan Sierra ada benarnya juga. Akhirnya Arthur pun menganggukan kepalanya, mengiyakan Sierra.


" Baiklah, Malvin, tolong atur orang untuk menjemput Qilin, mungin dia sudah pulang sekarang." Ujar Arthur.


" Tuan, Nyonya..saya minta maaf, mungkin Qilin sudah tidak ada di kediamannya. Semalam, saya terang terangan memintanya untuk pergi jauh dari hidup tuan muda." Ujar Malvin.


" Apa?!" Ujar Sierra terkejut.


" Saya memberinya uang sebagai kompensasi selama tuan muda hidup bersamanya, tapi dia menolak. Dia berjanji tidak akan muncul di hidup tuan muda, dan meminta terakhir kali bertemu dengan tuan muda." Ujar Malvin.


" Malvin, kau.. bagaimana bisa kau begitu kasar pada seorang gadis?" Ujar Sierra.


" Saya pikir itu demi kebaikan tuan muda, dan saya juga tidak tahu bahwa tuan muda justru menyayangi Qilin." Ujar Malvin.


Arthur menyrntuh keningnya, ia melihat dari jendela di mana terlihat Justin yang tampak hanya duduk diam seakan tidak bernyawa.


" Cari, dan pertemukan Qilin dengan Justin sebelum kita melakukan penerbangan." Ujar Arthur.


" Baik, tuan." Ujar Malvin.


Waktu berlalu, Qilin bangun dari tidurnya dan mengusap matanya yang basah. Sepanjang ia tidur, sepanjang itu juga dia menangis.


" Astaga, aku bahkan menangis dalam tidur." Gumam Qilin.


" Aku bahkan bermimpi bertemu Justin, tadi. Dia sudah bahagia bersama keluarganya, Qilin. Bukankah ini yang kamu mau?" Gumam Qilin, dan kembali menghapus air matanya.

__ADS_1


Qilin hendak bangun, namun tangannya menekan benda keras. Qilin melihatnya dan rupanya itu sebuah jepitan rambut, dan secarik kertas bertuliskan semangat untuk Qilin.


" Justin beli jepitan rambut untukku?" Gumam Qilin.


Ia mengamati jepit rambut itu dan kembali menangis. Sangat cengeng memang, tapi itulah Qilin. Dia bukan gadis tidak berhati, dia kuat dalam menghadapi ujian hidup, tapi dia baru kali ini merasakan jatuh cinta, yang begitu membuat hatinya sesak.


" Hiks.. hiks.. hiks.." Tangis Qilin pecah.


Dari luar rumah Qilin, terdengar seseorang mengetuk pagar rumah Qilin. Qilin pun bangun dan menghapus air matanya, dengan lemah Qilin turun ke bawah, dan melihat siapa yang mengetuk pintunya.


Qilin berharap itu Justin, tapi rupanya itu adalah Malvin. Qilin menjadi takut, karena kemarin dia sudah membuat janji dengan Malvin bahwa dia tidak akan mengganggu hidup Justin.


" Nona, tolong buka pintunya, ini tentang tuan muda." Ujar Malvin.


" Justin? Apakah terjadi sesuatu kepadanya?" Tanya Qilin.


Qilin dengan segera membuka pagar, dan Malvin pun masuk dengan dua orang anak buahnya.


" Nona Qilin, tuan muda akan melakukan penerbangan ke luar negeri untuk melakukan pengobatan." Ujar Malvin, dan hati Qilin kembali berdenyut.


" Luar negeri?" Gumam Qilin.


" Ya, dan saya datang kemari untuk membawa anda menemui tuan muda, sebelum dia pergi ke luar negeri." Ujar Malvin.


" Apakah saya boleh bertemu Justin?" Tanya Qilin, dan Malvin merasa bersalah.


" Maaf jika saya berkata kasar kepada anda kemarin, saya hanya melakukan yang terbaik untuk melindungi tuan muda. Nyonya memanggil anda, untuk bertemu dengan tuan muda, karena tuan muda merindukan anda." Ujar Malvin.


Qilin tersenyum mendengar bahwa Justin merindukan dirinya, ia pun mengangguk.


" Tolong beri saya waktu untuk bersiap." Ujar Qilin, dan Malvin mengangguk.


Malvin pun keluar bersama dua anak buahnya, dan Qilin langsung bersiap menghanti pakaian nya. Meski Qilin masih pusing, mendengar dirinya bisa bertemu Justin lagi, dia merasa senang.


Tak lama, Qilin keluar dan langsung masuk ke dalam mobil Malvin, lalu pergi dari sana. Tak lama mobil itu pergi, terlihat Fendy masuk ke dalam gang dan mendatangi rumah Qilin.


" Qilin, apakah kamu di rumah?" Teriak Fendy.


Fendy panik karena saat dia sampai di rumah sakit, ia tak mendapati Qilin di ruangan nya. Fendy pun langsung kembali dan mendatangi rumah Qilin.


" Qilin." Teriak Fendy.


Namun tak ada sahutan dari Qilin.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2