Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 49. Sierra berapi - api.


__ADS_3

Restoran itu benar benar riuh dengan pengakuan Justin yang melindungi Qilin dari mantan ibu adopsinya. Justin membuka jasnya dan menyelimuti Qilin dengan jas itu lalu menggendong Qilin pergi.


Qilin hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada Justin, dan anak buah Justin langsung membelah jalan untuk Justin keluar. Dan setelah Justin dan Qilin keluar, pintu masuk restoran itu langsung di jaga ketat oleh anak buah Justin yang di pimpin Ian.


" Tidak ada yang boleh pergi dari sini, sebelum kalian semua menunjukan ponsel kalian satu persatu padaku." Ujar Ian pada pengunjung.


" Kalian seharunsnya tahu bukan, undang undang pencemaran nama baik dan hak prifasi orang lain? Harap kalian patuh, dan ingat apa yang tuan Justin katakan tadi." Ujar Ian lagi dan tatapannya saat ini sangat tajam pada Desi yang masih berdiri dengan kaki lemasnya.


" Anda nyonya Desi, sebaiknya sebelum anda berniat menjatuhkan orang lain, berkacalah dulu di cermin yang besar. Sudahkah kau mendidik putri kandungmu dengan baik, atau belum.." Ujar Ian, dan memperlihatkan sebuah foto pada Desi.


Foto yang Ian ambil saat ia berpapasan dengan Gigi di luar restoran, lebih tepatnya di dalam mobil. Ian bahkan jijik melihat pemandangan itu, dimana Gigi dan papa tirinya saling bertukar lidah.


Desi menjadi kian pias dan tidak menyangka dengan apa yang di lihatnya, dia bahkan langsung berkaca kaca dan menangis di tempat tanpa suara.


" Sakit hati?? Tapi itu tidak seberapa di banding dengan apa yang kau lakukan pada nona Qilin. Ingan baik baik, lawan anda adalah tuan Justin.."


" Dan keluarga Edward." Ujar suara perempuan, Sierra. Yang datang dengan emosi dan memotong ucapan Ian.


" Bukankah anda yang mengatakannya sendiri kepada saya bahwa apapun yang terjadi dengan Qilin sudah tidak ada urusannya dengan anda? Sekarang Qilin merasakan hidup bahagia dan anda tidak terima lalu membongkar masalalunya di depan publik? Ibu macam apa anda??" Ujar Sierra berapi- api.


Desi yang perasaan nya sedang kacau itu menatap Sierra bahkan seperti raga tanpa nyawa.


" Walau bukan kandung, tapi anda membesarkannya sejak dia kecil bukan?? Tidakkah ada secuilpun rasa sayang di hati anda untuknya? Apa salah Qilin?!" Ujar Sierra lagi.


" Sayang, kendalikan emosimu." Ujar Arthur yang mencoba menenangkan Sierra.


Sierra bagai kobaran api yang menyala - nyala saat ini, sebagai wanita yang masa kecilnya juga pahit, dia merasa geram dan marah saat tahu bahwa Qilin di hina ibu adopsinya. Dia langsung datang ke restoran itu ketika mendapat kabar dari Ian.


Bahkan Sierra sampai berkaca kaca karena hatinya merasakan sakit ketika mendengar Qilin begitu di pojokkan, walau begitu, Sierra juga bangga dengan putranya yang dengan tegas mengatakan kepada semua orang bahwa Qilin kekasihnya.


" Kau adalah wanita berhati kejam." Ujar Sierra.


Desi kini terpojok, di tambah lagi kini dia memikirkan foto yang tunjukan oleh Ian padanya, ia menjadi begitu terombang ambing saat ini dna hanya bisa menangis dengan pilu tanpa suara.


Arthur memeluk Sierra, dan mereka pun melangkah pergi meninggalkan keriuhan itu sambil memberi kode mata Malvin untuk menyelesaikan semuanya.


Tapi Ian sudah mengurusnya, semua ponsel milik pengunjung itu di cek satu persatu oleh anak buah Justin untuk memastikan tidak ada foto Justin dan Qilin di dalamnya.


Ian berdiri di depan bilik toilet, sekaan sedang menunggu seseorang. Dan benar saja, seorang pria muncul dengan kamera di tangannya, paparazi.


" Berikan kameramu kepadaku." Ujar Ian.

__ADS_1


Ian bagai elang yang bermata tajam, tidak satupun pengunjung restoran itu lolos dari pemeriksaan nya.


Berpindah ke sisi Justin dan Qilin yang saat ini sudah sampai di rumah Qilin. Qilin menjadi begitu murung, padahal sebelum bertemu Desi, Qilin begitu ceria.


Justin menjadi begitu emosi ketika melihat air mata Qilin yang menetes di pipi, air mata yang pernah dia janjikan tidak akan tumpah lagi, nyatanya tetap tumpah.


' Aku berjanji, akan menghancurkan siapapun yang menyakitimu, sayang.' Batin Justin.


Justin menghampiri Qilin dan memberikan segelas air putih untuk Qilin.


" Minum, sayang." Ujar Justin.


Qilin menatap Justin, dan justru air matanya kian semakin deras mengalir. Justin pun menghapus air mata Qilin sambil menggelengkan kepalanya.


" Jangan menangis.." Ujar Justin.


" Yang bibi Desi katakan benar, aku tidak pantas untukmu, Justin." Ujar Qilin.


" Aku hanya anak panti asuhan yang di buang oleh orang tuaku, kamu tidak pantas denganku. Kamu lebih pantas dengan.."


" Sayang." Ujar Justin memotong ucapan Qilin.


" Kamu mendorongku untuk pergi?" Ujar Justin, dan tangis Qilin pecah sambil menggelengkan kepalanya.


Tangis Qilin pecah menyembunyikan wajahnya sambil memeluk kedua lututnya, terdengar sangat pilu dan menyayat hati. Bahkan Justin yang tidak pernah menangis dulunya, kini menjadi begitu emosional ketika melihat Qilin menangis.


Justin memeluk Qilin, dan menciumi kepala Qilin berulang kali sambil berkaca kaca, Qilin pun memeluk Justin dengan erat seakan tidak mau di tinggalkan oleh Justin.


'' Dengar.. di dunia ini, tidak ada yang lebih pantas untuk menjadi pendampingku selain dirimu. Aku hanya mencintai kamu seorang saja.'' Ujar Justin.


'' Tapi yang di katakan oleh bibi Desi itu benar, aku hanya anak yatim yang bahkan tidak di ketahui siapa orang tua kandungku. Aku tidak sepadan dengan kamu yang merupakan keluarga besar Edward, keluarga yang utuh dan memiliki segalanya.'' Ujar Qilin.


'' Jangan dengarkan.. aku tidak peduli dengan apa yang orang katakan, kamu Qilinku.'' Ujar Justin.


Tiba tiba Qilin merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya, dia meringis kesakitan dan meringkuk..


'' Ugh..'' Qilin kesakitan.


'' Sayang, kamu kenapa?'' Ujar Justin khawatir.


'' Sakit..'' Ujar Qilin.

__ADS_1


Tiba tiba, Qilin berkeringat dingin dan wajah nya menjadi kian pucat, Qilin pun menangis sambil memegangi perutnya.


'' Sakit.. perutku sakit.'' Ujar Qilin.


Justin yang panik, tanpa aba aba lagi langsung bangun dan menggendong Qilin dan memasukan Qilin kedalam mobil dengan penuh khawatir.


'' Sabar, ya.. kita kerumah sakit sekarang.'' Ujar Justin dengan buru - buru.


Justin langsung melajukan mobilnya dan menuju ke rumah sakit sore itu juga, anak buah Justin yang ikut pulang bersama Justin juga ikut membuka jalan untuk mobil Justin lewat.


'' Cepat siapkan dokter!!! Darurat.'' Ujar Justin yang menghubungi pihak rumah sakit.


Di rumah sakit semua orang sedang panik dan berlarian menuju UGD untuk menjemput Justin.


'' Siapa yang sakit?'' Tanya seorang dokter sambil berlarian.


'' Tuan Justin sendiri yang menghubungi pihak rumah sakit, tapi beliau tidak mengatakan siapa yang sakit, Dok.'' Ujar perawat.


Tak lama, Justin datang dengan panik dan buru buru sambil menggendong seorang gadis. Dokter itu dan perawat sampai saling pandang melihat pemandangan langka.


" Apa kalian sudah tidak mau bekerja lagi?!" Ujar Justin membuyarkan keheranan dokter dan perawat itu.


" Ah, maaf tuan.." Ujar Dokter.


" Cepat tangani dia, perutnya kesakitan." Ujar Justin dengan nada khawatir.


" Baik." Sahut sang dokter.


Qilin tidak lagi bergerak dan hanya bisa meringis kesakitan. Justin hendak meletakan Qilin di brankar rumah sakit, namun Qilin menggeleng, karena jika dia bergerak perutnya kian sakit.


" Sayang, biar dokter tangani kamu." Ujar Justin, namun Qilin menggeleng.


Dokter dan perawat itu kian terkejut mendengar Justin memanggil Qilin sayang. Sementara Justin menjadi kian bingung karena Qilin tidak mau di pindah.


" Tunjukan jalannya, aku yang membawanya ke ruang pemeriksaan." Ujar Justin.


" Tapi tuan, anda akan lelah." Ujar Dokter.


" Nyawa kekasihku lebih penting, cepat tunjukan jalannya!" Ujar Justin, dan Dokter pun mengangguk angguk dengan cepat.


Akhirnya Justin menggendong Qilin menuju UGD.

__ADS_1


" Sabar sayang, tolong jangan tidur.. kuatkan dirimu." Gumam Justin dengan ketakutan.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2