
Hari berikutnya Qilin semakin giat berlatih, bahkan sebelum Cio datang.. Qilin sudah lebih dulu memulai aktivitasnya.
" Hup! Hup! Hup!" Qilin sedang melakukan lari sambil melompat lompat.
" Kau terlihat semangat hari ini." Ujar Cio yang datang.
" Cio.." Ujar Qilin.
" Lanjutkan saja, aku masih malas." Ujar Cio dan Qilin terkekeh.
Cio terkesima dengan senyum manis Qilin, tapi kemudian dia pergi.
' Jangan Gila Lucio.' Batin Cio.
Dan Qilin melanjutkan aktivitasnya. Rupanya Qilin sudah mulai sejak pukul tiga pagi, dan sampai sekarang dia belum beristirahat.
Qilin dan Cio akhirnya memulai latihan tahap selanjutnya, semangat Qilin bagai bara api yang menyala nyala, dia tidak kenal lelah dan terus berpacu bagai kuda petarung.
" Bagus, kamu sudah stabil.. Mari kita belajar bela diri." Ujar Cio tiba tiba.
" B- bela diri??" Tanya Qilin.
" Ya, bertatung itu bukan hanya menggunakan senjata, ketika musuh berada di dekatmu, kamu mau tidak mau harus melawannya dengan tangan kosong." Ujar Cio.
" Aku belum pernah melakukannya." Ujar Qilin.
" Maka dari itu aku memintamu belajar pernafasan, karena bela diri membutuhkan nafas yang stabil dan kuat." Ujar Cio.
" Tangkap!" Ujar Cio melemparkan senjata, dan Qilin dengan sigap langsung menangkapnya.
" Responmu bagus, kita akan cepat membuat kemajuan pada dirimu." Ujar Cio.
" Pukul telapak tanganku." Ujar Cio, namun Qilin ragu. Bagaimanapun dia tidak pernah memukul orang tanpa alasan sebelumnya.
" Bayangkan aku pria itu." Ujar Cio, dan Qilin menjadi terfokuskan.
" Pak!" Qilin memukul telapak tangan Cio, tapi tidak terjadi apapun pada Cio, Cio bahkan tersenyum setelah di pukul.
" Lumayan, dasar tenagamu sudah bagus. Kalau begitu, ayo kita berlatih." Ujar Cio dan Qilin mengangguk.
Tidak mudah mempelajari seni bela diri, biasanya bela diri di tekuni sejak masih kanak kanak untuk pembentukan tulang. Tapi Qilin.. Berharaplah dia beruntung dan tidak menangis karena patah tulang.
Cio memberi contoh gerakan demi gerakan dasar yang penting, dan Qilin mengikutinya. Dan karena pada dasarnya otak Qilin adalah otak yang mudah menyerap pelajaran, dia pun dengan cepat mengingat gerakan demi gerakan.
" Kaki!! Pasang kuda kuda yang kuat." Teriak Cio, dan Qilin memperbaiki posturnya.
" Hia! Hia! Hia!" Qilin melakukan gerakan dasar dan masih sering di pukul dengan rotan oleh Cio.
" Tanganmu!!" Teriak Cio, sambil menyabet tangan Qilin.
Jangan harap pelatihan Qilin berjalan enak dan tidak di hukum. Cio adalah guru, dan Qilin muridnya saat ini. Sebagai guru, Cio akan memukul bagian tubuh Qilin yang salah, tidak peduli apapun.
Hingga beberapa hari berlalu..
Qilin masih saja berkutat dengan pelatihan pelatihan yang Cio ajarkan.
__ADS_1
Tidak seharipun Qilin lewatkan, dia berlatih dan berlatih siang dan malam, sampai tubuh Qilin kini menjadi lebih berotot daripada berisi.
" Siap dengan latihanmu hari ini?" Tanya Cio, dan Qilin mengangguk.
" Apa makananmu tidak datang?" Tanya Cio ketika melihat Qilin mengonsumsi makanan formula yang dia berikan kepadanya.
" Tidak." Ujar Qilin.
Entah Qilin melihatnya atau tidak, tangan Cio mengepal. Namun kemudian Cio tersenyum kearah Qilin.
Tepatnya setelah kedatangan Agra beberapa hari yang lalu setelah badai, Qilin tidak lagi mendapat kiriman makanan. Untungnya Cio memberikan makanan formula untuk Qilin, Qilin masih bisa bertahan hidup dengan itu.
" Besok aku akan bawakan kamu makanan yang sesungguhnya." Ujar Cio.
" Terimakasih, Cio." Ujar Qilin.
Bagaimanapun itu adalah formula, jika terus terusan mengonsumsi itu juga tidak baik untuk lambung. Meski di dalam satu sachet makanan formula itu memiliki banyak kandungan zat yang di butuhkan tubuh, tapi Qilin tetap membutuhkan makanan sungguhan.
" Kita akan belajar gerakan baru, kamu sudah memiliki banyak kemajuan akhir akhir ini." Ujar Cio ketika mereka berada di ruang latihan.
Qilin mengernyitkan keningnya ketika Cio menutup tirai yang membatasi antara dirinya dan Cio, hingga tiba tiba saja Cio menyerangnya tanpa aba aba.
" Arrgh!!" Qilin terpukul oleh tongkat besi yang Cio arahkan padanya.
" Ini di sebut serangan bayangan. Yang harus kamu lakukan adalah.. mengatur pernafasanmu agar aku tidak mengetahui keberadaanmu." Ujar Cio.
" Dan kamu harus menghindari serangan dariku." Ujar Cio lagi.
" Aku tidak bisa." Ujar Qilin, karena bahunya terasa sangat sakit akibat tongkat besi itu.
Cio tidak memberi sedikitpun keringanan kepada Qilin, tidak belas kasihan ataupun iba. Belajar adalah belajar, Cio tidak akan memberi ampun pada Qilin.
" Tidak.. jangan." Ujar Qilin akhirnya.
" Siap?" Tanya Cio.
" Ya.." Sahut Qilin.
Tirai kembali di tutup, Qilin mengatur nafasnya dan mulai fokus dengan serangan yang akan datang. Sakit di kakinya dan di telapak tangannya tidak membuat dirinya menyerah.
" Hia!!" Teriak Cio mulai melakukan serangan.
Dan hebatnya, Qilin menangkis setiap serangan Cio. Qilin memutar tubuhnya kesana dan kemari dan kini Qilin mengetahui letak keberadaan Cio dari arah serangannya.
" ARGH!" Cio kesakitan ketika besi yang dia gunakan untuk menyerang Qilin justru menyerangnya.
" Cio! Kau tidak apa apa?" Tanya Qilin.
" Hahahaha.." Tawa Cio lepas, dan Qilin bingung di buatnya.
" Kenapa kamu tertawa?" Tanya Qilin.
" Bagus! Kamu mempelajarinya dengan cepat." Ujar Cio.
" Kamu dudah cukup kuat, ayo lanjutkan." Ujar Cio, dan Qilin mengangguk.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain..
Justin sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah tempat, dia dan para anak buahnya mendatangi sebuah bangunan megah yang rupanya adalah kediaman Agra Khan.
Setelah usahanya untuk mencari keberadaan Agra khan semelam membuahkan hasil, Justin langsung melakukan perjalanan menuju ke sana beramai ramai menggunakan motor motor besar.
' Sudah hampir satu bulan aku tidak melihatmu, sayang. Jika sampai saat aku melihatmu ada yang kurang dari dirimu walau segores luka, aku akan menghabisi keluarga ayah tirimu.' Batin Justin.
Justin datang kesana bukan sebagai Justin, tapi sebagai Lucifer. Lucifer pemimpin TITANES yang mencari Qilinnya.
Dan akhirnya setelah ber jam jam melakukan perjalanan, mereka sampai di atas sebuah bukit.
" Apakah itu kediaman Agra Khan?" Tanya Justin, ketika berhenti di atas bukit.
" Ya, dia selama ini tinggal di sana." Ujar Dustin.
" Tidak heran kita begitu kesulitan, dia tinggal di tempat yang begini." Ujar Justin.
Agra Khan tinggal di sebuah perbukitan, dan di bawah Justin berdiri saat ini ada sebuah bangunan megah dengan pekarangan yang luas, itu adalah tempat tinggal Agra Khan.
" Ayo." Ujar Justin, dan menutup helm motornya lalu menuruni perbukitan itu dengan motornya.
" Berpencar, dan habisi saja jika ada yang menghalangi jalan kita." Ujar Dustin pada anak buahnya, dan mereka semua mengangguk.
Justin, Dustin, dan beberapa anak buah lainnya menuruni bukit dengan motor, sementara yang lainnya menyebar untuk mengepung tempat itu.
" Tuan, ada yang datang." Ujar anak buah Agra pada Agra.
" Siapa?" Tanya Agra.
" Tidak tahu, tuan. Ada sekitar empat pria membawa motor." Ujar anak buah Agra.
Terlihat Dewi yang juga ikut penasaran, Dewi hidup dengan sangat baik, dia menggunakan pakaian mewah dan berkelas dan tidak tampak wajah sedih sedikitpun. Dewi menahan emosinya agar Agra tetap memberi makan Qilin.
" Masuklah, sayang." Ujar Agra pada Dewi.
Dewi tersenyum, lalu masuk kedalam. Dan setelah tidak bersama Agra, barulah Dewi menunjukan wajah penuh khawatirnya. Dewi tidak lagi melihat helikopter milik Agra terbang membawa makanan untuk Qilin, tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun.
' Ya Tuhan.. Apakah putriku baik baik saja? Aku adalah ibu yang buruk.' Batin Dewi.
Di luar, Justin menembak beberapa anak buah Agra yang datang menyerang. Dustin juga demikian, hingga kini mereka berada di depan pintu masuk kediaman Agra.
" Agra Khan, kau mau keluar atau aku yang akan membuka pintu ini sendiri." Teriak Justin.
' Siapa dia? ' Batin Agra ketika melihat dari monitor cctv siapa yang datang.
Sayangnya wajah Justin, Dustin dan anak buahnya di tutup menggunakan penutup wajah hingga menyerupa seperti ninja.
" AGRA KHAN!!" Teriak Justin tidak sabar.
' Kenapa aku seperti mengenal suaranya.. ' Batin Desi yang mendengar teriakan Justin dari atas kamarnya.
" BLEDUM!!" Akhirnya Justin menembak pintu kediaman Agra, hingga pintu itu lepas dan rusak.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1