
Dan akhirnya, Ian sampai di atas dengan susah payah. Dia bahkan berjalan merapat di dinding karena tidak bisa berdiri seimbang.
"Ya Tuhan, kakiku serasa patah." Ujar Ian ketika sudah sampai di ruangan Justin.
" Terimakasih, paman Ian." Ujar Qilin sembari terkekeh.
" Keponakanku, kau benar benar benar jahat pada pamanmu ini." Ujar Ian, sembari mengusap usap betisnya.
" Lebih baik aku pakai sepatu boot dan membawa beban lima puluh kilo, dari pada pakai sepatu ini." Gerutu Ian lagi.
" Jangan banyak mulut, apa jadwal hari ini?" Tanya Justin yang sedang mengecek layar laptopnya.
Ian manyun mendengarnya. " Sebentar saya ambil." Ujar Ian.
" Tunggu!" Justin menatap Qilin lalu bertanya pada Qilin.
"Sayang, apa kamu masih membutuhkan Ian?" Tanya Justin. Qilin pun tampak berpikir, tapi rasanya diamasih belum membutuhkan Ian lagi.
" Tidak, aku sudah tidak membutuhkan Ian, baby nya belum menginginkan sesuatu." Ujar Qilin. Ian yang mendengarnya menjadi bernafas lega.
" Baiklah, kau boleh pergi." Ujar Justin pada Ian.
" Terimakasih calon keponakan, paman tahu kamu sayang paman." Ujar Ian, lalu pergi keluar.
Di luar ruangan Justin, beberapa staf di sana masih menahan tawa ketika melihat Ian yang keluar menjinjing sepatu heels nya.
" Aihs sialan, pesonaku luntur karena heels sialan ini. Aku yakin calon keponakanku itu perempuan, belum lahir saja sudah tahu heels." Gumam Ian.
Padahal ketika ada wanita yang mendekat wajahnya justru menjadi es balok, tapi masih membahas pesona.
Ian masuk kedalam ruangannya, kemudian dia mengganti sepatunya lalu mengambil data - data yang harus dia berikan pada Justin.
" Eh, minggu depan tuan kan harus memimpin TITANES muda berlatih. Sedangkan nyonya hamil, apa tuan bisa meninggalkannya? " Gumam Ian.
" Aku akan tanyakan itu padanya." Ujar Ian lalu bangun dari duduknya dan kembali berjalan menuju ke ruangan Justin.
Ian masuk setelah mengetuk pintu, dia tidak melihat adanya Qilin yang sepertinya Qikin berada di ruang istirahat. "Tuan, ini laporan, jadwal, dan ada beberapa yang harus di tandatangani." Ujar Ian.
" Oke, terimakasih." Ujar Justin.
Ian kemudian berbicara dengan nada yang sangat pelan pada Justin " Tuan, minggu depan hari pelatihan TITANES." Bisik Ian.
Justin kemudian mengalihkan pandangannya dan menatap Ian yang sedang berdiri di hadapannya, terlihat wajahnya sedikit bingung saat ini.
" Sayang.." Panggil Qilin, dan Justin langsung bangun.
" Kita bicarakan nanti." Ujar Justin dan Ian mengangguk.
__ADS_1
" Ya, sayang." Sahut Justin dan masuk kedalam ruang istirahat.
Ian pun juga pergi dari ruangan Justin untuk mengerjakan tugasnya, tapi di benaknya dia juga ikut bingung dengan situasi.
Sementara di dalam kamar istirahat, Qilin rupanya sedang mual - mual. Justin langsung menggendong Qilin dan merebahkannya di ranjang.
" Bagaimana, sayang? Apakah masih mual?" Tanya Justin, dan Qilin memggeleng.
" Ugh sedikit! Rasanya aku ingin makan sesuatu yang asam, mungkin bisa mengalihkan rasa mual di perutku." Ujar Qilin.
" Kamu mau apa, di kulkas sudah tersedia segala macam jenis buah untukmu." Ujar Justin, dan qilin langsung berbinar.
" Sungguh? " Ujar Qilin, dan justin mengangguk.
Ailin langsung bangun dengan semangat dan menghampiri kulkas, saat dia membuka kulkas, itu adalah surga bagi ibu hamil. Segala macam buah, snack, jus, dan yang lain.. ada di dalam sana.
" Wah!" Hanya itu yang bisa Qilin katakan.
" Makanlah, aku menyuruh Ian menatanya untukmu." Ujar Justin.
" Memang paman Ian sangat baik, suamiku lebih baik lagi." ujar Qilin, dan Qilin terkekeh.
Qilin mengambil mangga yang sudah di potong, lalu mengambil garpu kemudian menancap mangga itu dengan penuh semangat empat lima dan memasukannya kedalam mulut.
" Hmmmm... enak sekali." Ujar Qilin dengan mulut penuh.
"Memang sangat manis." Ujarnya, dan Qilin hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya sembari mengunyah.
" Aku kembali kerja dulu, hum? " Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
" Anak papa, jangan nakal di perut mama, hum? Kasihan mama mual-mual." Ujar Justin pada perut Qilin, dan mengecupnya.
Beberapa jam berlalu, tibalah saatnya makan siang. Justin masuk kedalam ruang istirahatnya dan mendapati Qilin yang sedang tertidur, lebih tepatnya ketiduran, karena di tangan Qilin terdapat ponsel yang masih menyala.
" Ibu hamil ketiduran." Gumam Justin lalu menghampiri Qilin.
Justin mengambil ponsel di tangan Qilin, rupanya Qilin sedang menonton video tentang kehamilan. Qilin menjadi sangat rajin mengetahui setiap hal tentang kehamilan.
Setelah mematikan ponsel Qilin, Justin pun membenarkan posisi tidur Qilin agar nyaman. Dan Qilin sama sekali tidak bangun atau merasa terusik sama sekali. Justin pun duduk di tepi ranjang sembari mengecupi kening Qilin.
' Bagaimana aku bisa meninggalkan mereka berdua, sedangkan mereka berada di sisiku saja aku masih sangat khawatir setiap waktu.' Batin Justin memikirkan Qilin dan calon anaknya.
' Tapi sebagai pemimpin Mafia, aku tidak bisa meninggalkan begitu saja tugasku.' Batin Justin semakin bingung.
Saat Justin melamun, Qilin membuka matanya dan mendapati tatapan kosong Justin. Tiba tiba Qilin memiringkan badannya dan memeluk pinggang Justin yang sedang duduk.
" Sayang, kamu bangun." Ujar Justin.
__ADS_1
" Hm, apakah kamu sedang banyak pikiran? Kamu tampak melamun tadi." Ujar Qilin. Justin mengusap kepala Qilin yang berada di perutnya.
" Tidak ada.." Ujar Justin.
" Kamu tahu, berbohong dengan ibu hamil itu percuma. Karena aku dan anakmu yang ada di dalam sana tahu bahwa kamu sedang berbohong." Ucap Qilin. Justin terdiam, dia jadi serba salah sekarang.
Qilin mendongak dan menatap Justin, kini tatapan keduanya pun bertemu. Justin tersenyum dan mengusap rambut perak Qilin.
" Ada apa??" Tanya Qilin, sembari mengusap pipi Justin.
" Sebenarnya ada hal yang harus aku lakukan dalam waktu dekat ini, sayang. Itu berkaitan dengan kelompok Mafiaku, tapi aku tidak mau meninggalkan kalian." Ujar Justin akhirnya jujur
Wajah Qilin menjadi sendu. " Apakah kamu akan melakukan hal yang membahayakan?" Tanya Qilin.
" Aku hanya akan melakukan pelatihan tahunan, semua kelompok mafiaku akan berkumpul di markas utama." Ujar Justin.
Justin tidak memberitahu secara rinci, dia tidak mungkin memberitahu Qilin apa saja hal yang alan dilakukannya. Ia takut Qilin khawatir, karena hal yang berkaitan dengan mafia sudah pasti membahayakan.
" Apakah lama??" Tanya Qilin.
" Dua minggu, sayang." Sahut Justin.
" Lama sekali.." Gumam Qilin dan menjadi sedih. Justin langsung membawa Qilin kedalam pelukannya.
" Jika kamu tidak mau aku pergi, aku bisa meminta Ian saja yang mewakiliku, atau aku juga bisa memanggil Dustin untuk pulang menggantikan aku.
" Dustin kan sedang mengurusi masalahnya sendiri, dan Ian.. Ian bukan pemimpin kelompokmu." Ujar Qilin.
Yang Qilin katakan benar, Juatin menjadi bungung sekarang.
" Tidak apa apa, kamu pergi saja." Ujar Qilin, dan justin terkejut mendengarnya.
" Hm? Kamu serius??" Tanya Justin, dan Qilin mengangguk.
" Mereka membutuhkan pemimpin mereka." Ucap Qilin.
" Tapi bagaimana denganmu, aku tidak tega meninggalkan kamu sendirian." Ujar Justin yang justru menjadi berat hati.
" Aku dan baby akan baik - baik saja, lagi pula minggu depan mama dan yang lainnya sudah ada di sini, kan?" Ujar Qilin.
Justin tampak diam, tapi akhirnya dia mengangguk walau hatinya berat.
" Berjanjilah kamu dan baby akan baik - baik saja." Ujar Justin.
" Kami akan baik - baik saja, lagi pula apa yang bisa terjadi padaku jika aku memiliki suami dan keluarga yang hebat." Ujar Qilin.
" Baiklah.." Ujar Justin akhirnya. Justin memeluk dan menciumi Qilin bertubi tubi, dan bukannya mereka makan siang, kini Justin justru ikut merebahkan dirinya di ranjang.
__ADS_1
TO BE CONTINUED.