
Ke esokan harinya..
Qilin turun ke bawah, dan mendapati Rena yang sedang menyeduh teh. Rena melihat Qilin dengan tatapan merasa bersalah.
" Boleh sekalian untukku?" Tanya Qilin, dan Rena mengangguk angguk.
Qilin masuk kedalam kamar mandi untuk membuang hajat paginya, dengan terkantuk kantuk. Setelah selesai, dia mencuci wajahnya dan sedikit terkejut karena keningnya membiru.
" Astaga, keningku bahkan biru. Apa kepala Justin tidak apa apa? " Gumam Qilin.
Tak lama, dia pun keluar dan duduk di meja makan bersama Rena yang masih saja menatap Qilin dengan merasa bersalah.
" Qilin, aku minta maaf, semalam aku tidak tahu bahwa ada tuan Justin, kalian tidak bersuara jadi aku pikir hanya kamu sendiri." Ujar Rena..
" Ha? " Ujar Qilin, dan baru ingat.. penyebab dirinya terbentur kening Justin adalah Rena.
" Ka- kamu tidak berpikir macam macam, bukan? Kami tidak melakukan apapun." Ujar Qilin justru panik.
" Apa yang aku pikirkan? Namanya juga sepasang kekasih. Tapi aku sungguh minta maaf telah mengganggu kalian." Ujar Rena.
" T- tidak apa apa, Rena." Ujar Qilin.
" Ya sudah, aku berangkat kerja dulu." Ujar Rena, bangun dan kemudian memeluk Qilin.
" Doakan aku, supaya kerjaku lancar." Ujar Rena.
" Amin.." Ujar Qilin, Rena pun pergi dari sana.
' Astaga Qilin.. kamu memalukan.' Batin Qilin.
Sementara itu di kediaman Justin, dia sudah rapi dengan stelan jas formalnya dan berjalan keluar dari kamar.
" Selamat pagi tuan." Ujar Ian pada Justin.
" Ayo jalan." Ujar Justin, dan Ian mengangguk.
Keduanya pun pergi dari sana menuju ke perusahaan.
" Tuan, ada kemajuan tentang orang yang kita cari." Ujar Ian.
" Apa?" Tanya Justin.
" Wanita misterius yang menitipkan nona Qilin di panti asuhan, merupakan warga negara Jerman, tapi sekitar tiga tahun yang lalu dia pindah ke tanah air. Dan tuan.. dia adalah anggota keluarga Simons." Ujar Ian.
" Simons.. apakah Joe Simons?" Tanya Justin, dan Ian mengangguk.
" Benar." Ujar Ian.
Joe Simons, adalah adik dari Carol. Ingat dengan Carol? pria yang membunuh kakak Arthur. Tatapan Justin menjadi dingin setelah mendengar itu.
' Dari sekian luasnya dunia.. kenapa?' Batin Justin.
" Wanita itu datang ke tanah air untuk mencari nona Qilin." Ujar Ian lagi.
__ADS_1
" Atur jadwal, dan undang dia untuk bertemu denganku." Ujar Justin.
" Baik tuan." Ujar Ian.
" Dan ya.. Temui teman Qilin, dan katakan kepadanya untuk bertemu denganku siang ini." Ujar Justin.
" Baik, tuan." Ujar Ian lagi.
Mobil sampai di perusahaan, dan Justin dengan langkah lebarnya menuju langsung ke ruangannya. Saat Justin membuka pintu, dia terkrjut melihat adiknya, Dustin.
" Kenapa kau pagi pagi ada di sini?" Ujar Justin.
" Mau bagaimana lagi, kamu terlalu sibuk kerja dan mabuk asmara, sampai tidak ada waktu untuk bertemu dengan adikmu." Ujar Dustin menyindir.
" Halo tuan kedua?" Ujar Ian ramah.
" Wah, Ian? Kau akhirnya di panggil kemari juga?" Ujar Dustin.
" Iya, tuan. Senang bertemu lagi dengan anda." Ujar Ian.
" Ish! Sok formal apa kau, huh! Kau adiku." Ujar Dustin dan merangkul Ian.
" Hehe, ini jam kerja." Ujar Ian.
" Ini, ada laporan dari markas.." Ujar Dustin.
" Itu saja, aku pergi." Ujar Dustin dan berjalan pergi.
Justin merasakan keanehan dari Dustin, akhir akhir ini Dustin tidak sehangat dulu. Biasanya jika bertemu dengannya Dustin akan melayangkan tinju ringan di dada Justin, sebagai tanda persaudaraan, tapi kini tidak.
Dustin menghela nafasnya ringan, lalu berbalik dan tersenyum kearah Justin.
" Salahmu banyak." Ujar Dustin, dan Justin tegang.
" Kakak tidak pernah lagi mentraktirku makan siang bersama." Ujar Dustin dengan wajah meledek dan Justin terkekeh mendengarnya.
" Besok, kita makan siang bersama." Ujar Justin.
" Maka tepati janjimu, kakak." Ujar Dustin.
Dustin melangkah dan melayangkan tinju ringan di dada Justin sambil tersenyum, lalu berbalik pergi. Saat berbalik, senyum di wajah Dustin hilang dan Dustin menjadi sendu.
Waktu berlalu, siang harinya Justin benar benar bertemu dengan Rena. Ian dengan mudah menemukan tempat kerja Rena yang baru, dan membawa Rena masuk ke dalam ruang VIP restoran tempat Rena bekerja.
" A- ada apa tuan Justin mencari saya?" Tanya Rena takut, karena semalam dirinya tidak sengaja mengganggu Justin dan Qilin.
" Saya ingin minta bantuan darimu, ini.." Ujar Justin sambil memberikan beberapa lembar kertas berisi lowongan pekerjaan.
" Qilin sedang mencari pekerjaan baru, saya minta kamu beritahu dia rekomendasi dari salah satu yang ada di kertas itu." Ujar Justin.
Rena melihat selembar demi selembar kertas itu, yang mana semua dari tempat itu adalah tempat yang di bangun di bawah naungan Group Edward.
Rena pun tersenyum, mengetahui betapa Justin sangat mementingkan Qilin walau dia mengizinkan Qilin bekerja. Dengan Qilin bekerja di bawah naungan keluarga Edward, maka Justin bisa memastikan Qilin akan baik baik saja.
__ADS_1
" Anda sangat mencintai Qilin, maka akan saya lakukan." Ujar Rena.
" Ini untukmu." Ujar Justin memberikan selembar cek.
" Tulis saja berapa nominal yang kau mau di sana." Ujar Justin lagi.
Rena tersenyum melihatnya, memang adalah seorang Justin yang dingin dan tidak berperasaan pada wanita selain yang di kasihinya.
" Tidak, tuan.. terimakasih. Qilin sudah seperti adikku, justru saya ingin berterimakasih karena anda begitu mencintai dia. Dia adalah gadis yang lugu dan baik hati, saya tenang jika dia bersama anda." Ujar Rena mendorong kembali cek itu ke arah Justin.
" Apakah ini saja yang anda butuhkan dari saya?" Tanya Rena.
" Hm." sahut Justin.
" Baik, akan saya lakukan. Kalau begitu saya permisi, selamat siang tian Justin." Ujar Rena lalu pergi.
Tatapan Rena juga jatuh pada Ian yang sigap berdiri di belakang Justin, Rena pun keluar dari ruangan VIP itu.
" Dia seorang teman yang baik." Gumam Ian.
" Ayo pergi, ke rumah Qilin." Ujar Justin.
" Baik tuan." Sahut Ian.
Justin dan Ian pun pergi ke rumah Qilin, dan tak lama mereka sampai di depan rumah Qilin. Terlihat Qilin yang hendak keluar rumah namun ia terkejut karena mendapati mobil Justin. Justin pun turun dadi mobil.
" Mau kemana, sayang?" Tanya Justin, dan mengusap kepala Qilin.
" Aku mau beli makan siang." Ujar Qilin, dan tatapannya kebelakang pada Ian.
" Dia siapa?" Tanya Qilin pada Justin.
" Halo nona Qilin.. saya Ian, asisten tuan Justin." Ujar Ian memperkenalkan diri.
" Iya, halo." Ujar Qilin.
Justin langsung menghalangi pandangan Qilin agar tidak melihat Ian, entahlah.. apakah ini juga bisa di katakan sebagai cemburu pada asistennya sendiri?
" Ayo kita makan siang bersama." Ujar Justin, dan menggandeng tangan Qilin untuk masuk ke dalam mobil.
Tapi Justin membuka pintu depan samping kemudi, Qilin pun masuk ke sana. Kemudian Justin meminta kunci mobilnya dari Ian.
" Tuan, bagaimana denganku?" Tanya Ian.
" Kau cabuti saja rumput di rumah." Ujar Justin datar, lalu masuk kedalam mobil.
" Yang benar saja.. masa sudah kece begini mencabuti rumput? Memangnya aku tukang kebun, lebih baik aku mencabuti nyawa musuh saja.. " Gumam Ian setelah mobil Justin pergi.
" Tuan cemburunya tidak pakai kira kira, masa aku juga di cemburui? Toh aku yang mencari tahu swmua tentang nona Qilin." Gumam Ian lagi.
Anak buah Justin yang berada tak jauh dari sana pun terkekeh mendengar Justin menyuruh Ian mencabuti rumput, terlebih lagi karena lucu melihat Ian yang mengeluh..
" Awas kalian.." Ujar Ian pada anak buah Justin, dan mereka pun langsung diam.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..