Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 122. Qilin, ibu hamil yang meresahkan.


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, Rena dan Fendy pun pulang karena sudah larut, Qilin mancari keberadaan Justin di kamar tapi tidak ada.


Sementara dari dalam ruang kerjanya, Justin sedang menatap Qilin yang mengendap endap mencari dirinya.


' Lucunya.' Batin Justin, tapi kemudian dia menjadi kembali kesal karena Qilin membagi daging buatannya untuk orang lain.


Terlihat Qilin berjalan menuju keruang kerja Justin, dan Justin pun langsung berpura pura fokus dan memasang wajah dinginnya.


" Sayang.." Panggil Qilin, dan berjalan mendekat kearah Justin.


Qilin menghampiri Justin dan mengalungkan tangannya di leher Justin dari belakang.


" Sayang, kamu marah padaku?" Tanya Qilin, tapi Justin hanya diam saja semakin di tanya dia justru semakin kesal.


Karena tidak mendapatkan jawaban, Qilin pun menarik kursi kerja Justin dan mengarahkannya menghadap dirinya.


Qilin mencangkup wajah Justin dan membuat Justin kini menatap pada dirinya.


" Sayang.. aku minta maaf, tapi aku dan Rena sudah seprti saudara. Kami selalu berbagi makanan dan apapun itu." Ujar Qilin.


Justin semakin menjadi kesal, dia beranggapan artinya jika Qilin mau, Qilin bisa membagikan dirinya juga pada Rena.


" Termasuk aku?" Ujar Justin, dan Qilin melotot mendengarnya.


" Mana ada! kamu hanya punyaku, miliku dan untukku. Orang lain tidak boleh memilikimu." Ujar Qilin dengan tegas.


Mendengar itu, hati Justin menjadi berbunga. Tapi itu belum membuatnya puas, jadi dia masih mempertahankan wajah datarnya walau sebenarnya dia ingin tersenyum.


" Sayang..." Rengek Qilin. Qilin menguyel - uyel wajah Justin menjadi berbagai bentuk. Justin bagai boneka saat ini, dan Qilin terkekeh geli sendiri melihat ekspresi dari hasil uyel - uyelnya itu.


" Hahaha.. kamu lucu sekali. Dan sejak kapan wajahmu jadi enak di uyel - uyel begini?" Ujar Qilin.


' Anak nakal ini, benar - benar minta di hukum.' Batin Justin.


" Yakin mau marah padaku??" Ujar Qilin dan Justin hanya diam.


" Ya sudah.. aku mau mandi." Ujar Qilin, dan pergi keluar.


Tapi Justin ikut bangun dan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat, Qilin tersenyum sendiri melihatnya, Justin marah pun tetap perhatian kepadanya.


' Nak, ayo kita kerjai papamu.' Batin Qilin sembari mengusap perutnya. Qilin berjalan masuk kedalam walk in closetnya dan membuka lemari pakaian.


Qilin tersenyum misterius, dan mengambil sebuah pakaian lalu dia kembali keluar.


Setelah selesai menyiapkan air hangat, Justin pun keluar dan kembali berjalan masuk kedalam ruang kerjanya.

__ADS_1


" Terimakasih, papa.." Ujar Qilin dan itu hampir membuat Justin memutar badannya.


Tapi Justin masih mempertahankan diamnya dan keudian masuk kedalam ruang kerja.


" Ya Tuhan, aku tidak kuat dengan keimutan itu, tapi aku masih kesal." gumam Justin.


Justin kembali duduk di meja kerjanya, tapi hanya menatap kearah kamar mandi, dia menunggu Qilin tanpa Qilin tahu. Dan tak lama Qilin keluar namun dengan pakaian yang...


" Ekhem!! Nakal sekali dia." Ujar Justin, ketika melihat Qilin menggunakan lingerie hitam.


" Apa dia ingin menyiksaku, astaga wanita hamil satu ini." Ujar Justin resah. Ya, dia resah, karena sesuatu di tubuhnya menunjukan reaksi.


Qilin berjalan menuju meja rias dan mengambil pengering rambut, ia pun duduk dan mengeringkan rambutnya. Tiba tiba Justin mengambil pengering rambut itu dan dia yang mengeringkan rambut Qilin.


" Papa.." Panggil Qilin dengan suara manja.


Justin hampir tersedak liurnya sendiri mendengar itu, saat ini Qilin terlihat sangat cantik, imut, menggemaskan dan menggoda. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilan, aura Qilin benar benar berbeda.


Justin akhirnya menyerah dan menyambar bibir Qilin yang sejak tadi sangat menggoda di matanya. Mereka berciuman, dan ciuman itu menjadi semakin panas saja.


" Kamu nakal sekali, hum? Sengaja menggodaku, ya?" Ujar Justin setelah ciumannya terlepas.


Qilin terkekeh. " Hihi, Siapa suruh hanya diam saja." Ujar Qilin.


" Aku akan menghukummu." Ujar Justin, dan hendak menggendong Qilin.


" Memangnya tidak boleh jika papa menengoknya?" Tanya Justin, dan Qilin terkekeh.


" Dokter bilang untuk menghindari resiko, lebih baik jangan dulu." Ujar Qilin. Dan wajah Justin menjadi murung kembali.


" Nak, kamu menghukum papamu." Ujar Justin, dan Qilin terbahak.


" Kita sukses menghukum papamu, nak." Ujar Qilin pada perutnya.


Justin pun mencium pundak Qilin, dan kemudian melanjutkan mengeringkan rambut Qilin. Tapi sejujurnya ada yang demo di bawah sana, karena tidak mendapatkan haknya.


Setelah selesai, Justin menggendong Qilin dan berjalan ke ranjang. Justin menurunkan Qilin dengan sangat pelan di ranjang lalu mengungkungnya.


" Bagaimana ini sayang." Ujar Justin, karena dirinya benar benar tersiksa saat ini. Qilin bisa melihat mata Justin yang menggelap karena sedang menginginkan hal ( itu ).


" Pelan - pelan saja, hum?" Ujar Qilin.


" Tapi aku takut menyakitinya." Ujar Justin menatap perut Qilin.


" Jika kamu pelan - pelan, maka kamu tidak akan menyakitinya." Ujar Qilin, dan Justin mengangguk.

__ADS_1


" Sayang, maaf papa mengganggu tidurmu sebentar." Bisik Justin di perut Qilin, dan Qilin terkekeh.


Akhirnya Justin melancarkan aksinya, sia melakukannya dengan sangat pelan, benar benar pelan karena dia takut menyakiti calon anaknya.


Hingga akhirnya dia bernafas lega karena sudah berhasil mendapatkan haknya.


" Terimakasih sayang, terimakasih anak papa." Ujar Justin pada Qilin, sembari mengusap perut Qilin.


Qilin pun terkekeh." Iya papa." Sahutnya.


" Apakah sakit, sayang?" Tanya Justin, dan Qilin menggeleng.


" Tidak, karena kamu melakukannya dengan benar." Ujar Qilin, Justin pun memeluk Qilin erat dari belakang.


" Sekarang, bisa kamu ceritakan kepadaku, kenapa tadi kamu marah marah?" Tanya Qilin, mulai memancing Justin untuk bercerita.


" Entahlah, aku menjadi kesal begitu saja ketika melihat Fendy. Aku jadi teringat saat Fendy mengejarmu, aku jadi marah" Ujar Justin akhirnya bercerita.


" Astaga, jadi kamu marah karena itu?" Tanya Qilin.


" Hum.." Sahut Justin.


" Dengar ya sayang, sejak dulu aku tidak memiliki perasaan apapun pada Fendy, aku menganggapnya seperti kakak karena dia orang pertama yang menerimaku bekerja tanpa persaratan lengkap."


(jeda)


" Aku tahu dia menyukaiku dulu, karena dia pernah mengutarakannya padaku, tapi aku tidak sama sekali menerimanya." Ujar Qilin.


" Kenapa?" Tanya Justin.


" Karena sejak awal, hatiku hanya di isi oleh namamu, tentangmu, dan dirimu." Ujar Qilin.


Jusrin tersenyum senang mendengarnya, dia pun menciumi pipi Qilin berulang kali.


" Jadi jangan pernah berpikiran konyol seperti tadi lagi, oke?? Karena kamu adalah pemenangnya, dan selalu akan menjadi pemenang di hatiku." Ujar Qilin.


" You are the one, and only." Ujar Qilin lagi.


" Aku mencintaimu, sayang." Ujar Justin terharu.


"Ayo tidur, ini sudah sangat larut. " Ujar Qilin, dan Justin mengangguk.


Akhirnya mereka pun berbaikan dan tidur saling berpelukan.


Apapun masalahnya, lebih baik selesaikan dengan kepala dingin. Kerna salah paham kecil, bisa berujung kecurigaan yang besar.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2