Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 136. Rencana.


__ADS_3

Qilin menceritakan semua kejadian ledakan kemarin sambil menangis, dan Justin benar - benar menjadi emosi mendengarnya.


"Mommy bahkan sampai kritis, tapi untungnya kita semua selamat." Ujar Qilin, Justin kembali menghapus air mata Qilin sembari dirinya juga berkaca - Kaca.


"Sayang, sudah ya.. jangan menangis lagi, yang terpenting kita semua sudah selamat. Kaeihan anak kita jika kamu terus - terusan menangis." Ujar Justin dan mencium tangan Qilin.


Tiba - tiba pintu di ketuk dan terlihat Dustin yang masuk kedalam ruangan itu. Dustin tidak berpakaian formal, dia mengenakan jaket parasut berwarna hitam dengan celana yang juga hitam.


"Maaf, apa aku mengganggu kalian? Aku keluar saja dulu." Ujar Dustin hendak kembali pergi keluar, namun Qilin menahannya.


"Tidak apa - apa Dustin, kemari saja." Ujar Qilin, Dustin pun tampak kembali berbalik dan menghadap Justin dan Qilin, lalu dia tersenyum pada mereka.


"Bagaimana keadaanmu, kak?" Tanya Dustin sembari menghampiri Justin.


"Seperti yang kamu lihat." Ujar Justin, sembari melihat kedua kakinya. Dustin berdiri seakan ingin bicara, tapi dia tidak bisa mengatakannya di hadapan Qilin.


"Sayang, kamu kembalilah ke kamarmu, kamu jangan kelelahan." Ujar Justin pada Qilin, dan Qilin menggeleng.


"Aku ingin menemanimu." Ujar Qilin.


"Sayang, tubuhmu butuh istirahat, karena saat ini dalam dirimu ada satu nyawa lagi yang bergantung padamu. Jika kamu terlalu lelah, maka dia juga akan kelelahan." Ujar Justin tapi Qilin jadi menyendu.


"Tapi aku masih ingin disini denganmu." Ujar Qilin dan Justin terkekeh. Justin kemudian mengecup berulang kali tangan Qilin.


"Kita bisa bertemu lagi nanti, sayang. Atau aku akan meminta pada rumah sakit untuk memindahkan kamu kemari, agar kita di rawat di satu kamar?" Ujar Justin dan Qilin mengangguk antusias.


"Aku mau." Ujar Qilin, dan Justin terkekeh.


"Baiklah, kalau begitu kamu kembali dulu ke kamarmu untuk beristirahat, nanti aku minta pada pihak rumah sakit." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.


Justin pun menekan tombol bantuan, dan datangkah seorang perawat. Justin mencium tangan Qilin berulang kali sebelum akhirnya Qilin pergi.


Dustin yang melihat itu ikut senang, kedua orang yang dia sayangi masih baik - baik saja. Dia mungkin tidak bisa memiliki Qilin, tapi dia bisa menjadi bagian dari hidup Qilin, menjadi adik Qilin.


Akhirnya Qilin sudah kembali ke kamarnya setelah di bujuk berulang kali oleh Justin untuk beristirahat. Dan kini di ruangan Justin hanya ada Justin dan Dustin.


"Qilin sudah pergi, apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Justin pada Dustin, dia tahu Dustin ingin mengatakan sesuatu padanya.

__ADS_1


"Tentang pelaku peledakan bom itu." Sahut Dustin, dan dia duduk di kursi sebelah Justin lalu mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.


Dustin tampak berpikir, tapi akhirnya dia menatap kakaknya yang saat ini menunggu cerita darinya.


"Sebenarnya aku tidak berencana memberitahukan hal ini pada kakak, karena aku pikir agar kakak bisa fokus pada kehidupan kakak saja bersama Qilin dan calon anak kalian." Ujar Dustin.


( Jeda. )


"Tapi rasanya kakak harus tahu ini." Ujar Dustin dan memberikan ponselnya pada Justin. Justin pun melihatnya, itu adalah laporan tentang pria bernama Clins Wijaya.


"Siapa ini?" Tanya Justin. Tapi Dustin hanya memberi kode agar Justin membacanya sampai selesai.


"Jadi dia yang menyebabkan ledakan itu?" Tanya Justin setelah akhirnya membaca semua informasi yang Dustin berikan.


"Hm, dia seorang psikopat kak. Dia mengenal Lucifer dan TITANES, dan dia tahu bahwa Daddy adalah Lucifer pertama dan kakak yang kedua. Dia mengenal keluarga kita karena dia mengamati kita sejak dulu." Ujar Dustin, dan Justin menjadi serius.


"Dia pemimpin the Wolf, Cio yang pernah bertemu dengannya, dan dia yang memberitahuku tentang rencana pria itu." Ujar Dustin.


"Bukankah waktu itu the Wolf sudah kita hancurkan setelah dia mencuri persenjataan?" Tanya Justin heran.


Justin menyadari keseriusan masalah yang saat ini mereka hadapi, musuhnya kali ini lebih menakutkan dari musuh - musuhnya yang lain. Musuhnya yang lain mungkin sama - sama mafia tapi setidaknya mereka tidak mengetahui identitas dari pemimpin TITANES.


Sementara musuhnya kali ini, dia adalah seorang psikopat yang sama sekali tidak pandang bulu, psikopat yang mengincar seluruh keluarga Edward.


"Kita harus segera mengambil keputusan, karena dia benar - benar tidak bisa di tebak." Ujar Dustin, dan Justin menganggukan kepalanya.


"Pindahkan semua orang ke tempat yang aman. Bawa Mommy, daddy dan Qilin ke luar negeri dan sembunyikan mereka di tempat yang aman." Ujar Justin.


"Kemana?" Tanya Dustin. Dan tatapan Justin menerawang jauh..


"Swiss." Ujar Justin, karena yang terpikirkan di kepalanya saat ini adalah markas Luca yang dulu.


Dan malam harinya, akhirnya Qilin dan Justin akhirnya di tempatkan di satu ruangan yang sama, bahkan brankar mereka di tempatkan bersebelahan hingga seolah itu adalah satu ranjang.


Terlihat Fendy dan Rena dengan perut besarnya mengunjungi mereka berdua. Rena sangat bersedih atas apa yang menimpa sahabatnya itu.


"Untungnya kamu baik - baik saja, Qilin. Aku sempat mematung di depan tv saat melihat berita itu, dan aku baru di ijinkan oleh pengawalmu untuk mengunjungimu hari ini." Ujar Rena, sembari mengusap - usap tangan Qilin.

__ADS_1


"Tuhan masih melindungi kami semua." Ujar Qilin, sembari tersenyum.


"Bagaimana dengan perutmu?" Tanya Rena.


"Dia baik - baik saja didalam sana." Ujar Qilin, Rena pun menghela nafas lega.


Rena sangat terlihat berbeda setelah hamil, dia lebih cantik dan lebih keibuan. Mungkin karena hormon kehamilan, tubuh Rena juga semakin melar, bahkan pipinya sangat chuby.


"Sudah malam, kalian pulang dulu saja, besok jika kalian masih ingin kemari, kalian bisa langsung kemari tanpa hambatan." Ujar Justin.


Rena pun mengangguk, walau sebenarnya dia masih sangat merindukan Qilin. Karena memang se ketat itu penjagaannya, tidak sembarang orang bisa masuk ke lantai dimana saat ini satu keluarga Edward sedang di rawat.


"Aku pulang dulu, Qilin, tuan Justin, kalian beristirahatlah yang baik, dan jangan terlalu lelah." Ujar Rena, dan Qilin terkekeh mendengarnya.


"Iya, Ren." Ujar Qilin, Justin hanya mengangguk. Rena pun memeluk Qilin, sebelum akhirnya ia dan Fendy pergi dari ruangan itu.


Setelah Rena dan Fendy pergi, Justin mengulurkan tangannya dan mengusap usap - usap perut Qilin yang masih belum terlihat membesar.


"Anak papa, kamu harus selalu sehat dan baik - baik saja di dalam perut mama, oke? Beberapa bulan lagi kita akan bertemu, papa sudah sangat tidak sabar menunggu hari itu." Ujar Justin. Qilin tersenyum - senyum sendiri mendengarnya.


Padahal jika di lihat, mereka sangat lucu dengan kedua kaki mereka yang di gips. Tapi mereka tetap bisa saling romantis dengan keadaan seperti itu.


"Iya, papa." Ujar Qilin menirukan suara anak kecil.


"Istirahatlah, kamu butuh banyak istirahat, sayang." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.


"Sayangnya kita tidak bisa berpelukan, padahal aku ingin di peluk." Ujar Qilin. Justin yang mendengarmya pun merasa semakin sedih.


"Saat aku sembuh, aku akan kembali memelukmu seperti biasanya, aku janji." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.


"Kita bergandengan tangan saja." Ujar Qilin, Justin pun langsung menggenggam erat - erat tangan Qilin, dan sesekali menciuminya.


"Tidurlah.." Ujar Justin dengan sayang, dan Qilin pun memejamkan matanya.


'Bagaimana caraku agar bisa memberikan pengertian pada istriku, ya Tuhan. Aku sangat tidak ingin jauh darinya, tapi aku jika tidak, dia akan terluka.' Batin Justin bimbang, sementara dia harus cepat mengambil keputusan.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2