
Ke esokan harinya..
Qilin sudah rapi dengan dress selututnya di pagi - pagi buta. Ya dia ikut bersiap siap seperti Justin yang saat ini bersiap siap.
Qilin juga memilih sepatu flat agar tidak membuat dirinya kesulitan berjalan, dia bukan pencinta heels. Dan setelah mengambil sebuah tas kecil, dia pun sudah selesai.
Qilin berjalan keluar dan melihat Justin yang sedang mengotak atik ponselnya. " Sayang, aku selesai." Ujarnya.
" Sudah selesai? Kalau begitu ayo kita berangkat." Ujar Justin mengecup lening Qilin, lalu turun ke perut Qilin.
" Anak papa sayang, baik - baik di dalam sana, oke. Semoga paman Ian tidak menggerutuimu nanti." Ujar Justin, dan Qilin terkekeh.
Kenapa dengan Ian? Apakah akan terjadi sesuatu padanya? Jawabannya hanya Qilin yang tahu. Dia mengidam ingin melakukan banyak hal pada Ian, sepertinya anak di dalam perutnya ingin sekali mengerjai calon pamannya itu.
Mereka pun keluar, dan terlihat Ian yang sudah siap di lantai satu sedang meminum jus buah. Dia asisten Justin saat bekerja, tapi saat sedang tidak bekerja, dia adalah adik Justin.
' Kenapa tiba - tiba aku jadi merinding, apakah ada hantu di belakangku?' Batin Ian.
Ian menengok ke belakang dan ia terjingkat kaget karena melihat Qilin sedang berdiri di belakangnya dengan senyuman aneh.
" Uaa Astaga!!" Ian berteriak dengan ekspresi wajah yang lucu.
" Oh maaf, apa aku mengejutkanmu?" Ujar Qilin merasa bersalah.
Ian mengusap dadanya karena saat ini jantungnya seperti habis maraton, berdetak sangat keras dan cepat.
" Astaga kak.. jantungku." Ujar Ian. Qilin hanya bisa menyengir melihatnya.
" Hehe, maaf." Ujar Qilin.
Tapi kemudian Ian menyadari ada keanehan dengan pasangan itu, Justin dan Qilin sama sama sedang menatapnya dengan sangat serius saat ini.
Ian menjadi mundur satu langkah, tapi Qilin juga ikut maju satu langkah. " A- ada apa ini? Kenapa kalian menatapku begitu?" Ujar Ian, dengan takut.
" Ayo ikut kami." Ujar Justin dengan suara bass nya dan menarik kerah belakang baju Ian. Ian pun berjalan mundur dengan susah payah.
Ian di dudukan di sofa dengan Justin dan Qilin yang berdiri di hadapannya. Ian menjadi seperti anak kecil yang ketakutan akan di marahi oleh orwng tuanya.
' Apa ini, aura mereka mengatakan akan terjadi hal tidak baik padaku, aku yakin perasaanku tidak pernah meleset.' Batin Ian.
" Seb- sebenarnya ada apa kalian membuatku seperti tahanan yang di interogasi begini?" Tanya Ian.
" Kami tidak mau mengintrogasimu." Ujar Justin.
" Tapi kalian berdiri seperti itu, dan juga.. kalian terus menatapku begitu." Ujar Ian.
Ian tiba tiba lompat dari sofa ke belakang sofa dan berlindung di balik sofa itu.
" Kalian tidak berencana memutilasiku, bukan? " Ujar Ian tiba - tiba.
" Sembarangan bicara apa kau, duduk yang benar kemari." Ujar Justin.
" Tidak mau, kalian mencurigakan." Ujar Ian.
__ADS_1
" Adrian!" Ujar Justin.
" Jangan marah - marah, sayang. Ian akan semakin takut jika cara bicaramu begitu. " Ujar Qilin. Qilin pun berjalan menghampiri Ian, tapi Ian tetap mundur mundur.
" Ian, aku tiak akan menyakitimu. Kami ingin meminta bantuan darimu." Ujar Qilin, tapi tangan Ian sudah seperti seorang yang hendak berkarate.
" Ban- bantuan apa?" Tanya Ian.
Akhirnya dengan sekali tarik, Justin berhasil membuat Ian jatuh di sofa dan kini Ian kembali duduk di sofa.
" Duduk yang benar dan diam." ujar Justin, dan Ian mengangguk - angguk saja dengan wajah panik.
" Mm.. Sebenarnya kami ingin memberi tahu dua hal. Satu kabar baik, dan satu kabar buruk untukmu." Ujar Qilin.
" Ha?" Ucap Ian bingung.
" Istriku hamil." Ujar Justin spontan, dan itu membuat wajah panik Ian berubah menjadi sumringah.
" Sungguh? Wah.. akhirnya, aku akan punya ponakan." Ujar Ian.
" Tapi jangan beri tahu yang lain dulu, karena ini akan kami jadikan kejutan saat Natal nanti." Ujar Justin.
" Beres!!" Ujar Ian mengacungkan jempolnya dengan antusias.
" Tapi kenapa kalian tadi berekspresi seperti orang yang ingin makan orang?" Tanya Ian.
" Kau saja yang berpikir berlebihan." Sahut Justin, dan Ian menggaruk kepalanya. Dia yakin tadi dia melihat wajah Justin dan Qilin yang menjadi seperti psikopat.
" Tentu saja kakak ipar, katakan saja apapun yang keponakanku ingin aku lakukan." Ujar Ian dengan suka hati.
" Hehe.. paman Ian yang baik, kalau begitu ayo kita berangkat." Ujar Qilin akhirnya.
Tapi Ian menjadi merasa ngeri dengan kekehan Qilin tadi, perasaannya kembali menjadi tidak enak sekarang.
Akhirnya mereka bertiga pun pergi dari rumah menuju ke perusahaan Justin. Sepenjang jalan itu Qilin tampak sangat senang, entah apa penyebabnya. Tapi Ian justru yang merasa ngeri sendiri sekarang.
' Sepertinya akau salah dengan menyanggupi ucapan kakak ipar, perasaanku tidak enak.' Batin Ian.
Dan setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai juga di perusahaan. Saat Ian hendak turun, Qilin menahannya.
" Paman Ian.." Panggil Qilin dengan suara lembut. Seketika Ian merinding sendiri mendengarnya.
" I- iya.." Sahut Ian.
" Keponakanmu sejak semalam ingin melihatmu berjalan dengan ini." Ujar Qilin sembari memberikan sebuah kantong kain berwarna putih.
" Apa ini?" Tanya Ian, menatap Justin dan Qilin bergantian.
" Buka saja, kau alan tahu." Sahut Justin.
Ian membukanya dan mengangkatnya tinggi tinggi barang yang berada di dalam kantong putih itu sembari membuka lebar lebar mulutnya.
" What the.." Gumam Ian, ketika melihat benda apa itu.
__ADS_1
" Heels??" Ujar Ian lagi. Justin sudah ingin terbahak rasanya, tapi dia menahan tawanya karena justru sebenarnya dia yang seharusnya memakai itu.
Justin harus berterimakasih pada Ian, karena image nya tidak jadi hancur.
" Iya paman Ian, keponakanmu sangat ingin melihat pria berjalan menggunakan Heels." Ujar Qilin, dan Ian langsung menatap Justin.
" Ayahnya kan pria." Ujar Ian spontan.
" Ekhem! Kau bilang kau akan memenuhi apapun yang anakku minta." Ujar Justin melindungi diri.
" I- iya.. tapi masa heels? Calon keponakan, kau tidak serius kan?" Ujar Ian menatap perut Qilin.
" Serius." Sahut Qilin.
Lemas sudah.. Ian bagai balon yang kehilangan anginnya.
" Ayo, waktu kita tidak banyak." Ujar Justin.
" Boleh menawar tidak, jangan di perusahaan, di rumah saja boleh, keponakan paman yang baik? " Ujar Ian.
" No, aku maunya di sini." Ujar Qilin kukuh.
" Astaga.." Gumam Ian, frustasi. Dia melihat pemandangan luar yang sekarang sudah ramai dengan karyawan yang sedang berjalan masuk ke perusahaan.
Dia melihat Heels itu, dan menghembuskan nafasnya.
" Calon keponakan, dengar ya.. paman Ian sangat sayang padamu, hingga rela mengorbankan masa depan paman." Ujar Ian.
Dan akhirnya Ian bersedia memakainya, Qilin dan Justin sudah lebih dulu turun dari mobil dan mereka menunggu giliran Ian yang turun.
' Gugur sudah wibawa Adrian yang tampan ini.' Batin Ian sedih. Akhirnya dia membuka pintu mobil dan mengulurkan satu kakinya keluar.
" Brak!" Suara pintu mobil di tutup.
Semua orang terkejut hingga melirik dua kali kearah Ian, ia berdiri tegak bagai jelangkung yang tinggi menjulang. Dan kini dia menjadi pusat perhatian semua orang di perusahaan.
" Ayo jalan.." Ujar Justin.
" Tuan, ini sangat memalukan." Gerutu Ian.
" Paman Ian, please.." Ujar Qilin, dan Ian menghela nafasnya.
" Fine.." Ujarnya. Dan dengan sempoyongan dia mecoba berjalan masuk kedalam perusahaan.
Semua orang menahan tawanya melihat pemandangan itu, Ian berjalan seperti zombi dengan kaki bergetar.
" Nyonya, apakah sudah selesai??" Tanya Ian dengan kaki bergetar san berjalan sempoyongan.
" Sampai ruangan Justin." Ujar Qilin.
" Ya Tuhan, aku belum memiliki pacar, bagaimana jika calon jodohku melihatku begini." Gerutu Ian.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1