
Qilin duduk di ruang tengah rumahnya, ia memegang sebotol air putih dan menenggaknya berulang kali, di pikirannya saat ini masih memikirkan nasib Rena.
Sementara Rena sendiri sudah tidur di kamarnya, tapi Qilin masih tidak bisa tidur karena pikirannya itu.
Hingga tiba tiba seseorang mengetok pagar rumah Qilin begitu kerasnya di tengah malam, Qilin langsung terperanjat kaget karenanya.
" Siapa malam malam begini membuat onar." Gumam Qilin.
Qilin berjalan menuju ke jendela dan mengintip dari sana, Qilin menatap pria yang tak asing baginya, walau tidak pernah sekalipun mengobrol dengannya, mantan tunangan Rena.
" Apa dia tahu Rena di sini?" Gumam Qilin.
Mantan tunangan Rena terlihat begitu kuyu dan pucat, dia memanggil manggil nama Rena berulang kali, tapi Qilin hanya menatapnya saja dari dalam.
Tak lama, muncul dua orang yang entah siapa dan langsung menghajar mantan tunangan Rena. Qilin sampai terkejut melihatnya dan menutup mulutnya dengan ketakutan.
" Astaga." Gumam Qilin.
Mantan tunangan Rena kemudian di seret pergi dari depan rumah Qilin, dengan berdarah darah.
Qilin berbalik dan langsung berjalan menuju ke kamar Rena, ia mengintip Rena untuk memastikan Rena masih tidur, setelah itu dirinya sendiri pun naik ke atas kamarnya untuk tidur.
Ke esokan harinya..
Hari masih pagi, tapi Qilin sudah bangun dan langsung turun dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya, setelah itu dia langsung memakai jaket dan keluar diam diam dari rumah.
Qilin berjalan untuk mencari makanan untuk sarapan, dia pun berjalan menyeberangi jalan besar. Qilin melihat cafe tempatnya bekerja, dan dia merasa bersalah karena sudah beberapa hari ini dia tidak masuk kerja.
" Nanti malam aku akan masuk kerja." Gumam Qilin.
Qilin pun membeli banyak makanan bergizi, beberapa di antaranya adalah susu kedelai, buah, bubur ayam dan jajanan traditional. Qilin pun berjalan pulang dengan senang.
Saat hendak menyeberangi jalan, Qilin melihat ke kanan dan kekiri, dan di saat itu juga mobil mewah lewat di depannya, mobil Dustin.
Dustin yang sedang duduk menatap arah luar pun melihat Qilin dari jauh.
" Berhenti." Ujar Dustin pada supir.
Mobil Dustin berhenti tak jauh dari dimana tempat Qilin berdiri, dia menatap Qilin dengan tatapan yang entahlah, tidak bisa di tebak.
Qilin pun menyeberang, sepanjang itu juga, Dustin hanya menatap Qilin sampai Qilin masuk ke dalam gang.
" Jalan." Ujar Dustin, dan sang supir pun kembali melajukan mobilnya.
Qilin sampai di rumah, dan meletakan semua belanjaannya itu di atas meja makan. Ia mengeluarkan satu persatu makanan yang dia beli, juga menuangkan susu kedelai di gelas.
" Eh, selamat pagi.." Ujar Qilin pada Rena yang keluar dari kamar.
" Kamu beli banyak sekali makanan?" Ujar Rena.
__ADS_1
" Iya, ayo sarapan, mulai sekarang kamu harus sarapan yang sehat sehat." Ujar Qilin antusias.
" Qilin, aku belum tentu hamil, lho." Ujar Rena sambil menatap banyaknya makanan yang Qilin beli.
" Siapa yang tahu, kan? Sejujurnya aku tidak mengerti dengan hal hal seperti itu, tapi aku akan membantumu. Aku tidak memiliki keluarga, Rena.. tapi bagiku kamu keluargaku yang harus aku jaga. " Ujar Qilin.
" Jika kamu tidak hamil, itu bagus.. kamu bisa melanjutkan hidupmu lagi. Tapi jika kamu hamil.. ya kamu tetap melanjutkan hidup barumu nanti, dan aku akan menjadi orang pertama yang siap siaga menjagamu." Ujar Qilin, dan rena terkekeh.
" Kamu tidak pandai berkata manis, tapi aku sungguh terharu." Ujar Rena, lalu memeluk Qilin.
" Kita sama sama tidak memiliki siapapun, mulai sekarang aku akan menjadi saudarimu." Ujar Qilin dan Rena mengangguk.
" Ayo makan." Ujar Qilin lagi, dan Rena mengangguk.
Keduanya duduk dan memakan makanan yang Qilin beli bersama.
" Bagaimana keadaanmu setelah beberapa hari menginap di rumah tuan muda Justin?" Tanya Rena.
" Aku? Ya seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja." Ujar Qilin polos.
" Anak ini, bukan itu maksudku.. Apakah kalian berdua tidak.." Ujar Rena menggantung.
" Tidak apa?" Tanya Qilin, dan Rena menepuk keningnya.
" Kalian tidak melakukan itu?" Tanya Rena, dan Qilin tahu kemana arah pembicaraan Rena setelah semalam di beri tahu.
" Tidak lah, aku tidak mau melakukannya sebelum menikah." Ujar Qilin.
" Ya, meski aku sangat mencintai Justin, aku tidak mau melakukan hubungan itu sebelum ada ikatan resmi di antara kita." Ujar Qilin mantap.
Rena sedikit iri dengan Qilin yang polos, padahal Qilin juga sama seperti dirinya yang sebatangkara dan bekerja sangat keras, tapi Qilin bisa menjaga kehormatannya.
" Errkkk!!! Ups." Ujar Rena yang kekenyangan.
" Sekarang aku hamil makanan, perutku kekenyangan." Ujar Rena dan Qilin terkekeh.
" Aku akan melamar pekerjaan baru hari ini, tapi aku kesulitan keluar jika Fendy dan mantan tunanganku selalu mengawasi rumah ini." Ujar Rena.
" Kamu melamar kerja di mana?" Tanya Qilin.
" Masih sama - sama cafe, hanya saja lebih elit. Cafe itu dekat dengan universitas, lumayan.. bisa lihat dede gula." Ujar Rena.
" Dede gula?" Ujar Qilin bingung.
" Hahahah.." Tawa Rena pecah ketika lagi lagi melihat wajah lugu Qilin.
" Kamu masih bayi, di larang tahu." Ujar Rena.
" Ren, aku sudah dua puluh tiga tahun, bukan bayi." Ujar Qilin protes.
__ADS_1
" Ya, aku tahu.. Tapi kamu masih sangat polos seperti bayi. Sudahlah, lebih baik kamu jangan tahu, dari pada nanti di hukum tuan muda Justin." Ujar Rena dan bangun lalu masuk ke kamarmya.
" Apa hubungannya dengan Justin?" Gumam Qilin bingung.
Qilin membereskan piring dan gelas bekas mereka makan, dan tak lama Rena kembali keluar dengan wajah frustasi.
" Qilin, baju apa yang bagus? Aku sungguh malas jika ketahuan oleh salah satu dari pria itu." Ujar Rena meminta pendapat.
" Mmm.. apa kamu membeli baju dengan model seperti ini semua?" Tanya Qilin, dan Rena mengangguk.
Rena tomboy, tapi dia suka memakai rok pendek dengan kemeja ketat, ala ala sekertaris se*si. Khodam tomboynya hanya keluar jika dia dalam keadaan bahaya seperti di jambret atau di ganggu pria.
Harap maklum, Rena sering tidur di luar dulunya, mungkin dia terbawa pergaulan.
" Bagaimana jika pakai punyaku, setidaknya untuk menyamar." Ujar Qilin.
" Ide bagus." Ujar Rena.
" Ayo ke kamarku." Ujar Qilin dan menarik tangan Rena.
Keduanya naik ke atas lantai dua, lalu masuk ke dalam kamar Qilin. Qilin membuka lemari dan mengeluarkan beberapa set pakaiannya.
" Ehhh... tapi pakaianku semuanya tertutup, apa kamu tidak apa apa?" Tanya Qilin.
" Apa sajalah, sepertinya aku juga harus merubah gaya berpakaianku." Ujar Rena.
" Pakailah ini, aku tunggu di luar." Ujar Qilin.
Rena mengangguk, dan Qilin keluar. Qilin memasukan pakaian pakaian kotor ke mesin cuci sembari menunggu Rena yang sedang berganti baju. Tak lama Rena pun muncul dengan penampilang yang sopan.
Sebenarnya Rena cantik, tapi mungkin karena selama ini Rena salah dalam berpenampilan, jadi tidak terlihat kecantikannya.
" Wooahh.. lihat siapa ini.. Clcantik sekali." Ujar Qilin, dan Rena terkekeh hingga salah tingkah.
" Qilin, kau meledekku." Ujar Rena.
" Aku serius, Ren. Kamu lebih baik berpenampilan seperti ini, cantik sempurna." Ujar Qilin.
" Benarkah?" Tanya Rena dan Qilin mengangguk.
" Kalau begitu ayo kita belanja untuk beli baju baju baru untukku." Ujar Rena.
" Ha? Bukannya kamu bilang mau melamar pekerjaan, kok jadi belanja?" Ujar Qilin.
" Kalau begitu setelah aku pulang dari sana, kita akan belanja." Ujar Rena, dan Qilin mengacungkan dua jempolnya.
" Aku pergi dulu, bye." Ujar Rena dan memeluk Qilin, kemudian pergi.
Qilin tersenyum melihat Rena yang sudah tidak sedih lagi, dia pun berbalik badan hendak melanjutkan aktifitasnya, hingga dia terkejut ketika mendapati seseorang berdiri di balkon.
__ADS_1
" KYYAA!!" Teriak Qilin.
TO BE CONTINUED..