
Qilin dan Justin pun sedang berjalan menyusuri jalanan kota, dan benar saja yang Justin katakan, hujan gerimis lagi lagi turun mengguyur bumi.
Justin berjalan sembari mendekap tubuh Qilin agar tidak terkena air hujan, Qilin justru menikmati gerimis yang menerpa jari tangannya.
" Nanti sakit sayang." Ujar Justin.
" Aku sudah terbiasa, tidak akan sakit." Ujar Qilin.
" Apakah di sini ada musim salju?" Tanya Qilin.
Dan baru saja Qilin bertanya.. Salju turun di telapak tangan Qilin, dan membuat Qilin terkejut.
" Eih, apa ini?" Ujar Qilin bingung dan menghentikan langkahnya.
" Itu salju, sayang." Ujar Justin dan Qilin menatap Justin tidak percaya.
" Salju?? Sungguh??" Tanya Qilin seakan tidsk percaya.
Qilin langsung keluar dari payung dan menatap langit gelap yang menurunkan bulir demi bulir salju. Qilin pun tersenyum melihatnya, senyum indahnya merekah dan membuat Justin jatuh cinta berkali kali pada Qilin.
" Justin aku melihat salju." Ujar Qilin dan berlari lari kecil.
Mungkin untuk sebagian orang itu terlihat memalukan, tapi bagi Qilin itu adalah momen bersejarah dalam hidupnya setelah sekian lama hidup dan baru melihat salju turun.
" Jangan lari, sayang.. nanti kamu jatuh." Ujar Justin.
Justin pun tidak masalah dengan hal konyol yang Qilin lakukan, selama Qilinnya bahagia, dia juga bahagia. Apapun tentang Qilin, dia menyukainya walau di mata orang lain itu aneh, itulah cinta..
Justin mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan tiap gerakan yang Qilin lakukan, dan tersenyum.
" Imutnya.." Gumam Justin.
Namun tiba tiba senyumnya langsung memudar dan Justin langsung berlari menghampiri Qilin ketika hampir saja Qilin tertabrak mobil.
" Sayang, awas! " Justin langsung dengan sigap menarik Qilin ke tepian jalan.
" BIIPPP!! " Klakson mobil itu ketika melewati mereka.
" Kamu tidak apa apa??" Ujar Justin khawatir.
" A- aku tidak apa apa.. maaf, aku hampir membuat kita celaka." Ujar Qilin dengan tubuh gemetar.
Melihat Qilin gemetar, Justin pun langsung memeluk Qilin dan mengusap usap punggungnya. Dirinya juga sama paniknya, takut jika sampai terjadi sesuatu pada Qilin.
Qilin yang di pelukan Justin pun bisa mendengar betapa keras jantung Justin berdebar.
" Kita pulang, hum?" Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
Justin pun memberi kode pada anak buahnya, dan sebuah mobil mewah mendekat. Ya, tidak mungkin Justin berkeliaran di sana tanpa pengawalan anak buahnya, apalagi ada Qilin di sisinya.
Justin hanya ingin memberikan kesan kesan romantis untuk Qilin, jadi dia melakukan apa yang di sarankan oleh Ian.
" Kamu masih takut?" Tanya Justin, dan Qilin menggeleng.
" Tidurlah, aku akan bangunkan kamu ketika kita sampai." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
Justin benar benar tidak melepaskan Qilin, dia mendekapnya bahkan di sepanjang jalan mobil itu melaju menuju ke rumah.
Di tempat lain..
__ADS_1
Di rumah sakit, Luca menunggu Cio yang masih belum sadar sejak kemarin, padahal dia ingin sekali memberi tahu kabar gembira pada Cio.
" Salju sudah turun, adik.. tidakkah kau ingin menikmati salju bersama kakak - kakakmu." Ujar Luca, dan menghela nafas lalu berjalan menuju jendela.
Tiba tiba saja Cio menggerakan tangannya dan perlahan membuka mata, Cio melihat sekitar dan tahu dimana dieinya berada saat ini.
' Si*l, aku benci bau rumah sakit.' Batin Cio.
Cio melihat ke samping dan melihat punggung Luca yang tampak berdiri membelakanginya.
" Apa terlihat bajak laut dari sana?" Ujar Cio dan Luca langsung berbalik badan.
" Adik, kamu sudah sadar?" Ujar Luca antusias dan menghampiri Cio.
" Wow.. Wow.. Wow.. Jangan peluk, lukaku akan terbuka." Ujar Cio, dan Luca menghentikan aksinya.
" Kakak Lupa, kamu terluka." Ujar Luca.
" Sukurlah, kamu sudah sadar. Kakak senang melihatmu masih berenergi, mama dan papa pasti senang jika kakak beri tahu kamu sudah sadar." Ujar Luca.
" Mama dan... Papa??" Tanya Cio tidak percaya.
" Hm.." Sahut Luca.
" Papa???" Tanya Cio lagi, dia benar benar tidak percaya.
" Iya, Astaga." Ujar Luca.
" Wahh.." Ujar Cio dengan wajah lucu seolah tidak percaya sekaligus terkejut.
" Anggap saja papa sudah mendapatkan hidayah dari Tuhan." Ujar Luca.
" Tidak membunuhku, your as* hole! Kau menusuk begitu kerasnya sampai hampir seluruh belati itu menancap di dadaku, kau tau?!!" Ujar Cio emosi.
" Orang sakit di larang marah." Ujar Luca.
" Kakak yang membuatku marah, kalau aku tidak menghalangi kakak, kak Qilin sudah pasti tidak akan selamat. Dan saat itu terjadi, kita juga tidak akan ada yang selamat." Ujar Cio.
" Hm.. aku tau." Ujar Luca, dan Cio menatap Luca tidak percaya.
" Kenapa menatapku begitu?" Tanya Luca.
" Tau apa, kau?" Tanya Cio.
" Tahu bahwa jika Qilin.. "
" Kakak.." Uuar Cio memotong Luca.
" Iya, kakak.. jika kak Qilin yang meninggal, kita semua akan meninggal juga menemaninya, karena ternyata kak Qilin adalah kekasih seorang Lucifer TITANES. " Ujar Luca.
" Kakak sudah tahu?" Tanya Cio.
" Sudah, lah.. " Ujar Luca.
" Kau tidak sadar sejak dua hari yang lalu, banyak kejadian besar yang kamu lewatkan." Ujar Luca.
" Aku mau di rawat di rumah saja." Ujar Cio tiba tiba.
" No! Enak saja, diam diam kau di sini, lukamu sangat berat." Ujar Luca langsung melarang.
__ADS_1
" Tadi kau yang bilang aku tidak akan mati, dasar.." Ujar Cio.
" Jika dokter membolehkan kamu pulang, baru kota pulang." Ujar Luca dan Cio melengos saja.
Luca tersenyum melihatnya, sudah tiga tahun lamanya dia tidak melihat adiknya, karena pergi dari rumah. Dan kini adiknya itu kembali lagi, dan masih sama seperti dulu, sering mengajaknya berdebat.
Dia berpikir Cio tidak mau lagi bertemu dengannya dan terus memusuhinya, tapi rupanya Cio justru lebih dewasa darinya.
" Kenapa kau, senyum senyum seperti itu? Membuatku ngeri." Ujar Cio.
" Terimakasih.." Ujar Luca dengan wajah serius.
" Aku tidak memberimu permen." Ujar Cio dan kembali melengos.
" Aku tidak bisa mengungkapkan satu persatu rasa terimalasihku, tapi aku sungguh - sungguh berterimakasih padamu." Ujar Luca.
" Hm.." Sahut Cio singkat.
" Aku sedang serius, kau bisa serius sedikit, tidak?" Ujar Luca malah kesal.
" Ya aku harus bagaimana??" Ujar Cio.
" Ish, tidak berperasaan." Ujar Luca dan pergi duduk.
Cio sebenarnya menahan senyum melihat tingkah kakaknya itu, sebenarnya Cio berada diantara percaya dan tidak percaya kakaknya berkata seperti itu.
Terlebih lagi kakaknya mau mendengarkannya untuk menerima Qilin, dan kini bahkan ayahnya yang berkepala batu itu juga demikian. Cio merasa pengorbanan nya tidak sia sia.
" Kak.." Panggil Cio.
" Apa!" Sahut Luca kesal.
" Aku haus." Ujar Cio.
" Anak ini! Kakak sedari tadi berdiri di situ, kau tidak berkata apa apa." Ujar Luca.
Luca kembali bangun, meskipun menggerutu tapi dia tetap saja mengambilkan air minum untuk Cio, Cio pun terkekeh melihatnya.
" Senang kau, huh?!" Ujar Luca, dan Cio terbahak.
" Adik kurang ajar." Ujar Luca, sembari memberikan botol mineral untuk Cio.
" Terimakasih, kakakku yang baik." Ujar Cio dan itu membuat Luca menahan senyumnya.
Pada dasarnya mereka berdua saling menyayangi, Luca juga adalah seorang penyayang, tapi dia tidak bisa menunjukan dengan benar rasa sayangnya.
" Cepatlah pulih, agar kita bisa bermain ski bersama sama dengan kak Qilin." Ujar Luca.
Sementara itu, Qilin dan Justin sudah sampai di rumah. Rupanya karena salju pertama turun, jalanan menjadi lumayan macet, tapi Qilin juga tidak terbangun sama sekali sepanjang perjalananan.
Justin merebahkan Qilin di ranjang dan dia menyalakan perapian agar ruangannya menjadi hangat, Ia menyelimuti Qilin lalu mencium lening Qilin.
Justin mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.
" Besok, bawakan beberapa desain cincin pernikahan, hm.. Ke jalan Xx, terimakasih." Ujar Justin dan kembali mematikan ponselnya.
Justin tersenym melihat Qilin yang menggeliat karena kedinginan, dia pun naik ke ranjang dan memeluk Qilin.
" Aku mencintaimu, sayang." Ujar Justin dan mencium kepala Qilin.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..