
Sementara itu di tempat Agra, Agra kembali sadar dan dia hendak kembali mencabuti selang infus yang terpasang pada tangannya, tapi kemudian dia terkejut karena merasakan tangan nya di genggam seseorang.
' Dewi.. apakah ini nyata?' Batin Agra.
Dewi yang merasakan pergerakan Agra pun bangun dan bertatap muka dengan Agra. Dewi tersenyum dengan tulus pada Agra, dan itu membuat Agra tertegun. Karena saat dirinya meminta Dewi senyum, begitu sulut dan berakhir Dewi malah menangis.
'' Kamu menertawakan kondisiku?'' Ujar Agra tiba tiba dan itu membuat senyum Dewi memudar.
'' Apa itu yang kamu pikirkan?'' Ujar Dewi, namun tentu saja Agra tidak bisa mendengar karena sekarang dia menjadi tuli.
'' Kamu selalu ingin bebas, bukan? pergilah.. aku tidak lagi menahanmu. Aku bahkan sudah tidak bisa melakukan apapun, aku sudah cacat, jadi.. ''
Dewi menutup mulut Agra dan membuat Agra bungkam.. dan Dewi menggelengkan kepalanya. Dewi bingung harus bagaimana menyampaikan sesuatu kepada Agra karena Agra tidak bisa mendengar.
'' Tunggu sebentar.'' Ujar Dewi, lalu langsung berlari pergi.
Agra memejamkan matanya dan menangis, dia berpikir Dewi sungguh pergi begitu saja meninggalkannya tanpa perasaan. Tapi Dewi tidak pergi, dia mencari Luca dan meminta kertas catatan pada Luca dan sebuah pensil lalu berlari kembali ke kamar Agra.
'' Kenapa dia menangis?'' Gumam Dewi ketika melihat Agra yang memejamkan matanya namun meleleh air mata dari ujung matanya.
Dewi pun menyentuh tangan Agra hingga membuat Agra terkejut, Agra bingung mengapa Dewi kembali lagi.
'' Kamu tidak pergi?'' Ujar Agra, dan Dewi menggeleng.
Dewi menulis sesuatu di kertas yang dia dapatkan dari Luca, lalu dia menunjukannya kepada Agra, Agra pun membacanya dan kembali berkaca kaca.
'' Kamu tidak akan pergi dariku?'' Ujar Agra dan Dewi mengangguk sambil tersenyum.
Dewi kembali mengambil kertas dan menuliskan sesuatu, dan kali ini sedikit panjang. Dewi menceritakan kepada Agra apa yang terjadi dengan Lucio dengan panjang Lebar lalu memberikannya kepada Agra.
Agra membacanya dan wajah nya begitu terkejut, dan kemudian Agra menghapus air matanya. Tapi semakin dia baca air matanya justru kembali menggenang dan mengalir.
'' Bagaimana keadaan nya?'' Tanya Agra.
Dewi pun menuliskan jawabannya di kertas dan kembali menangis karena Cio mengorbankan diri sampai harus mengalami tusukan yang fatal. Dewi kembali menuliskan sesuatu yang berisi keinginan Lucio sebelum ahirnya hilang kesadaran dan menunjukannya kepada Agra.
Dewi juga menambahkan bahwa Luca.. sudah menerima kehadiran Qilin sebagai kakak nya.
'' Kamu ingin aku menerima putrimu juga?'' Tanya Agra pada Dewi, dan Dewi mengangguk.
Sebelum Agra menjawab, Luca masuk kedalam ruangan Agra dan melihat Agra yang sudah tampak baik baik saja.
'' Bagaimana papa, ma?'' Tanya Agra.
'' Mama sedang menceritakan kepada papamu kejadian yang terjadi kemrin, mama bilang padanya bahwa Cio mengorbankan dirinya untuk kedamaian kita semua.'' Ujar Dewi.
Luca ikut menuliskan sesuatu, lalu memberikannya kepada Agra, tulisan Luca berbunyi..
' Terimalah Qilin, pa.. kita bisa menjadi keluarga besar. Apa salahnya memiliki anak tiri, Qilin adalah anak tiri yang baik. Aku yakin papa akan bisa luluh padanya ketika papa bertemu dengannya, dia seperti mama yang baik hati dan penyayang.'
Agra menatap Luca dan Luca mengangguk dengan senyum bangga nya, Agra kemudian menatap Dewi yang juga tersenyum padanya. Tiba tiba Luca mencium pipi Dewi dan Dewi terkekeh karenanya. Luca pun bergelayut di lengan Dewi sewpwrti anak kecil, dan Dewi mengusap usap kepala Luca.
__ADS_1
Agra lagi lagi tertegun dengan pemandangan di hadapannya, Dewi bisa senyum merekah dengan manisnya. Senyumnya membuatnya teringat dengan saat pertama kali dirinya bertemu Dewi dan menjadi begitu terobsesi pada Dewi.
' Apa memang aku yang begitu egois dan keras kepala, hingga tidak bisa melihat bahwa hanya dengan hal kecil saja Dewi bisa bahagia.' Batin Agra.
' Anakku bahkan lebih bisa mengerti perasaan ibunya, aku .. suami yang buruk.' Batin Agra. Dewi kembali menatap Agra dan tersenyum pada Agra.
'' Apa hanya hal itu yang kamu inginkan selama ini?'' Tanya Agra pada Dewi, dan Dewi mengangguk.
Agra tampak diam, sperti seseorang yang sedang berpikir dengan begitu keras, tapi kemudian dia mengangguk. Dewi dan Luca pun tersenyum melihatnya dan langsung memeluk sang ayah.
Jika saja tidak ada keras kepala dan obsesi, seharusnya mereka bisa menjadi keluarga yang bahagia dan saling melengkapi tanpa harus saling menyakiti dan berkorban.
Sayangnya butuh waktu lama bagi Agra untuk menerima itu, mungkin jika tidak ada kejadian ini pun Agra akan tetap berkepala batu.
" Pulihkan keadaan papa, dan kita akan mengunjungi Cio." Ujar Luca melalui catatan.
Ke esokan harinya..
Justin membawa Qilin untuk berkeliling melihat pemandangan kota di sana. Mereka mengunjungi beberapa wisata yang terkenal.
" Kamu lapar??" Tanya Justin.
" Mmm.. sedikit." Ujar Qilin.
" Ayo aku bawa kamu untuk mencoba sesuatu." Ujar Justin.
Justin menggandeng tangan Qilin dan kembali masuk kedalam mobil. Mobil pun melaju, namun tak lama mereka sampai di sebuah danau.
Qilin takjub dengan pemandangan di sana, sangat indah. Apalagi di sepanjang jalan banyak daun berwarna oranye dan kecokelatan yang berjatuhan, Qilin tersenyum menikmati pemandangan itu.
Tiba tiba datang seorang pria yang mengantarkan sesuatu untuk Justin, pria itu menggunakan bahasa lokal di sana, dan qilin tidak tahu sama sekali artinya.
Qilin sedikit terkrjut karena Justin bisa menjawabnya dan mereka berbicara dengan bahasa sana. Setelah pria itu pergi, barulah Qilin bertanya.
" Kamu bisa bicara dengan bahasa asing?" Ujar Qilin kagum.
" Tidak banyak, sayang." Ujar Justin, merendah diri.
" Kamu hebat." Ujar Qilin dan mengacungkan dua jempolnya.
Justin sampai terkekeh melihat kekonyolan Qilin, padahal dirinya bisa saja berbicara dengan banyak bahasa, dan mungkin Qilin akan lebih takjub lagi.
" Ayo naik ke sana." Ujar Justin dan menggandeng Qilin naik ke atas perahu.
Tapi tiba tiba hujan turun, dan Justin pun berlarian menggandeng tangan Qilin hingga akhirnya mereka masuk kedalam perahu.
" Dingin." Gumam Qilin.
" Aku lupa untuk memberitahumu agar menggunakan mantel yang tebal, saat musim gugur hujan seperti ini sering turun." Ujar Justin.
" Hatchi!!" Qilin tiba tiba bersin.
__ADS_1
Justin langsung membuka mantel nya dan memakaikannya pada Qilin.
" Nanti kamu kedinginan." Ujar Qilin, khawatir.
" Tidak, sayang.. Jangan khawatir." Ujar Justin.
Perahu itu mulai jalan ketika Justin memberi kode pada pengemudinya, dan justin pun mengeluarkan sesuatu dari kantong kertas yang sebelumnya dari pria asing.
" Nah.. Kamu harus coba ini." Ujar Justin dan mengeluarkan seauatu yang brum dan berbau manis.
" Apa ini?" Tanya Qilin.
" Keju.." Ujar Justin.
" Keju?? " Tanya Qilin tidak percaya.
" Cobalah, kamu pasti suka." Ujar Justin. Justin pun menyendok dan menyuapkan keju itu pada Qilin.
" Hmm.. " Ujar Qilin.
" Kamu suka?" Tanya Justin dan Qilin mengangguk antusias.
Sepanjang mereka berkeliling menaiki perahu di danau, sepanjang itu juga Qilin dan Justin saling bercanda dan bahagia. Hingga akhirnya mereka berhenti di pemberhentian dan turun.
" Kita mau kemana lagi?" Tanya Justin.
" Aku tidak tahu apapun di sini." Ujar Qilin, dan Justin tersenyum.
" Kalau begitu kita pulang." Ujar Justin, dan tiba tiba Justin menghampiri toko yang menjual payung.
" Kita pulang, tapi kenapa kamu beli payung?" Tanya Qilin.
" Karena kita akan berjalan kaki." Ujar Justin dan Qilin melongo.
" Jalan kaki?? " Ujar Qilin tiba tiba antusias, Justin hanya bisa mengernyit bingung.
" Kenapa kamu senang kita akan berjalan kaki?" Tanya Justin.
" Jalan kaki di bawah hujan dengan payung.. itu menyenangkan. " Ujar Qilin dengan wajah sumringah.
" Kalau begitu, ayo." Ujar Justin sambil terkekeh.
" Mana punyaku?" Tanya Qilin.
" Apanya?" Ujar Justin bingung.
" Payung.." Ujar Qilin polos. Justin terkekeh, rupanya Qilin mengira mereka akan berjalan sendiri - sendiri.
" Satu payung berdua, lebih romantis." Ujar Justin, dan mengecup singkat bibir Qilin hingga wajah Qilin langsung merona.
" Justin.." Ujar Qilin memukul lengan Justin, Justin pun tertawa lepas.
__ADS_1
Hingga orang orang di sana ikut tersenyum melihat aksi lucu Qilin dan Justin walau mereka tidak tahu apa yang Qilin dan Justin katakan.
TO BE CONTINUED..