Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 55. Meminta pertanggung jawaban Fendy.


__ADS_3

Malam harinya, ketika Rena sudah tidur, Qilin berjalan keluar diam diam dari rumah dan menuju ke cafe tempatnya dulu bekerja. Qilin mengumpulkan keberaniannya dan berjalan masuk ke dalam cafe itu.


" Qilin, kamu kembali??" Ujar Fendy dengan senyum ramah.


" Apa yang terjadi dengan wajah kak Fendy? " Tanya Qilin ketika melihat wajah Fendy yang babak belur.


" Hanya jatuh karena tidak memperhatikan jalan, kamu mau kembali bekerja?" Tanya Fendy, dan Qilin menggeleng.


" Kak Fendy, bisakah aku meminta waktu sebentar, ini tentang Rena.."Ujar Qilin, dan Fendy menjadi diam. Tapi kemudian Fendy mengangguk.


Dan akhirnya Qilin dan Fendy kini berada di taman yang berada di seberang cafe itu.


" Kak Fendy, aku tidak tahu harus memulainya dari mana, tapi sejujurnya aku tidak memberi tahu Rena bahwa aku menemuimu. Rena sudah ceritakan kepadaku tentang kecelakaan kalian berdua di hotel malam itu." Ujar Qilin.


" Kak Fendy, Rena hamil.." Ujar Qilin.


Terlihat Fendy diam tanpa ekspresi, seolah Fendy sudah tahu apa yang akan Qilin sampaikan, dan dia sudah siap mendengarnya.


" Aku tidak tahu ada hak apa aku di sini, tapi sebagai orang yang juga kelahirannya tidak di inginkan oleh orang tuaku, aku seakan harus maju melindungi anak yang tidak berdosa itu. " Ujar Qilin.


" Anak itu tidak bersalah, kak." Ujar Qilin lagi.


" Lalu apa maksudmu aku harus menikahi Rena?" Ujar Fendy, dan Qilin mengangguk.


" Aku bahkan tidak mencintai dia, Qilin. Yang aku cintai adalah kamu." Ujar Fendy akhirnya jujur.


Qilin terkejut mendengarnya, dia tidak pernah sedikitpun berpikir bahwa Fendy akan menaruh rasa kepadanya.


" Aku hanya menghiburnya sebagai teman, dan aku tidak sedikitpun berpikiran untuk melakukan itu dengan Rena. Semua terjadi begitu saja, dan aku.. aku belum siap jika harus menjadi seorang ayah." Ujar Fendy menyendu.


" Aku mundur dengan perasaanku padamu karena aku tahu aku akan kalah, karena lawanku adalah seorang tuan muda Edward, tapi aku tidak berencana memiliki kekasih." Ujar Fendy.


" Jadi kakak mau lari dari tanggung jawab?" Tanya Qilin.


Fendy terdiam, padahal dia pernah mengirimi pesan pada Rena yang mengatakan bahwa dia tidak akan lari dari tanggung jawab jika nanti Rena hamil.


" Kakak tahu, apa yang kakak lakukan saat ini.. tidak akan pernah terlupakan hingga di masa depan. Kakak membuang anak kakak sendiri dengan tidak bertanggung jawab terhadap Rena." Ujar Qilin.


" Aku pikir kakak bisa berpikir dengan dewasa, anak itu tidak bersalah.. kenapa juga dia menjadi korban di sini." Ujar Qilin.


" Kalau begitu aborsi saja." Ujar Fendy enteng.


" Kak Fendy!!" Bentak Qilin, emosi.

__ADS_1


" Lalu aku harus bagaimana Qilin, setiap hari aku berjuang untuk melupakan rasaku padamu, tapi aku selalu merindukanmu. Aku pernah mengirimi Rena pesan dan berkata akan bertanggung jawab jika sampai dia hamil, tapi dia tidak merespon. Jadi apakah salah jika aku mundur sekarang dadi tanggung jawab itu?" Ujar Fendy.


" Tolong pikirkan baik - baik, kak.. aku menganggap kakak hanya sebagai senior, tidak lebih. Jadilah laki laki yang bertanggung jawab, kak Fendy.. aku pergi." Ujar Qilin dengan wajah kecewa.


Saat Qilin hendak melangkah pergi, Fendy dengan tiba tiba menarik tangan Qilin dan hendak memeluknya namun tangan Qilin yang sebelah lagi tiba tiba di tahan seseorang sehingga kini posisi Qilin bagai menjadi rebutan dua pria.


" Beraninya kau mengganggu dia." Ujar pria itu.


" Justin.." Gumam Qilin, namun yang di sebut namanya hanya menatap tajam Fendy.


" Maaf, Qilin.." Ujar Fendy dan melepaskan tangan Qilin.


Fendy tidak berani mendekati Qilin jika ada Justin, dia pun akhirnya pergi dari sana bagai pecund*ang.


" Kamu tidak apa apa?" Tanya nya pada Qilin.


" Kamu.. "


" Dustin.." Ujar pria itu yang rupanya adalah Dustin.


" Dustin?? " Ujar Qilin terkejut.


Rupanya Qilin tidak bisa dengan mudah membedakan Justin dan Dustin jika mereka tidak muncul bersama, keduanya memang benar benar kembar identik sehingga jika salah satunya saja yang muncul, tidak akan ada yang tahu siapa dia.


" Kenapa kamu terkejut begitu? Dan apa yang kau lakukan malam malam di taman bersama seorang pria, kamu tidak berencana berselingkuh dari kakakku, bukan?" Ujar Dustin.


" Ngomong - ngomong terimakasih sudah menolongku." Ujar Qilin dan tersenyum, sementara yang di senyumi hanya memasang wajah tembok.


" Ayo aku antar pulang." Ujar Dustin, dan Qilin langsung menggeleng.


" Tidak perlu, Dustin.. rumahku hanya masuk ke gang itu saja." Ujar Qilin.


" Aku juga tidak bilang rumahmu di Mars." ujar Dustin datar, tapi lalu dia menarik tangan Qilin untuk menyeberang jalan.


Qilin pun akhirnya berlari lari kecil untuk mengimbangi langkah kaki Dustin yang lebar itu, satu langkah kaki Dustin, sama dengan dua langkah kaki Qilin.


Dusrin bingung ketika melihat Qilin yang terengah engah bahai orang yang baru saja lari, padahal mereka hanya menyeberang jalan.


" Kenapa kau seperti orang habis lari?" Tanya Dustin.


" Kamu.. kamu jalan cepat sekali, kakiku pendek, aku tidak bisa mengimbangimu." Ujar Qilin dengan susah payah.


Dustin hendak tertawa tapi dia tahan, akhirnya dia hanya berdehem untuk mengontrol dirinya.

__ADS_1


" Ekhem! Masuklah.." Ujar Dustin, dan Qilin mengangguk.


" Sekali lagi terimakasih, Dustin." Ujar Qilin.


" Hm.." Sahut Dustin singkat, lalu pergi dari sana.


Qilin pun masuk kedalam rumah, dan Rena masih tidur dengan nyenyak di kamarnya. Qilin pun naik ke atas kamarnya untuk beristirahat.


Sementara itu, Dustin yang sejak tadi menahan tawa, akhirnya dia tertawa di dalam mobil.


" Hahaha.. kaki pendek, dia mengakuinya kakinya pendek, imutnya." Gumam Dustin.


Dustin lalu menekan panggilan di layar ponselnya, dia menghubungi kakaknya, Justin.


" Kak, aku sarankan untuk kamu lebih ketat menjaga Qilin, dia hampir di peluk pria barista di cafe tempat Qilin bekerja dulu." Ujar Dustin.


" Ya.. aku tidak melakukan apapun, pria itu langsung pergi. Jaga baik baik kekasihmu, atau nanti ada yang mengambilnya darimu." Ujar Dustin dengan tatapan tajam ke jalanan.


" Hm.. bye." Ujar Dustin.


Entah itu hanya sebuah pengucapan, atau sebuah niat dari dasar hati Dustin. Mengatakan agar Justin menjaga Qilin, sebelum dia ambil Qilin dari Justin.


Sementara itu, Justin saat ini sedang berada di markas. Dia tentu marah mendengar Qilinnya hampir di peluk Fendy, dia sampai melampiaskannya pada Desi yang sedang dia siksa.


" Ampun.. tolong ampuni saya, apa salah saya." Gumam Desi.


" Setiap rasa sakit yang kau rasakan, dan penyiksaan ini.. adalah apa yang pernah kau lakukan kepada Qilin." Ujar Justin.


Setelah di siksa, Desi di letakan di ruangan gelap, sangat gelap hingga tidak sedikit cahayapun bisa terlihat. Bahkan Desi tidak bisa melihat tangannya sendiri yang sedang meraba raba tempat itu, dan kini Justin yang kesal itu pun melangkah pergi dari sana.


" Jangan sampai dia mati, belum saatnya dia mati." Ujar Justin.


" Baik tuan." sahut anak buah Justin.


Justin dan Ian pun pergi dari markas Titanes. Wajah Justin benar benar muram saat ini, dia masih mengingat apa yang Dustin katakan.


" Antar aku ke rumah Qilin." Ujar Justin pada Ian.


" Tapi ini sudah malam, kak." Ujar Ian tidak formal.


" Siapa juga yang bilang ini pagi." Ujar Justin datar.


' Ya Tuhan, saat dia kesal kenapa dia menjadi sangat menyebalkan.' Batin Ian.

__ADS_1


" Baik.." Ujar Ian akhirnya, dari pada nanti Justin keluar khodam.


TO BE CONTINUED...


__ADS_2