Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 28. Mimpi, Bukan?


__ADS_3

Qilin sampai di rumahnya, ia pun memakan makanan yang ia beli, sendirian. Bisa bayangkan tinggal di rumah sendirian, tanpa tv dan ponsel? sunyi dan senyap. Qilin bisa saja membeli ponsel dengan uang hasil kerja nya, tapi Qilin tidak mau, dia sudah terbiasa dengan keheningan.


'' Errk.. ups.'' Qilin bersendawa.


'' Sepertina aku terlalu kenyang, lebih baik aku sudahi makan nya dari pada nanti aku sakit perut.'' Gumam Qilin dan bangun untuk mencuci tangan nya.


Qilin melihat lampu kamar mandi menyala, dia tidak pernah membiarkan lampu menyala untuk menghemat energi, Qilin pun berjalan mendekat kearah kamar mandi dan mematikan nya.


'' Kamu teledor, Qilin.'' Gumam Qilin.


Qilin masuk kedalam kamarnya dan mengambil pakaian tidur lalu kembali keluar dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak lama Qilin keluar dan sudah segar dengan pakaian rumahnya , lalu ia duduk di sofa untuk mengeringkan rambutnya.


'' TAK!'' Sebuah suara terdengar.


Qilin menghentikan aktifitasnya dan menjadi waspada, Qilin lumayan penakut, dia takut petir dan hantu. Tapi Qilin tetap bangun dan mencari asal suara itu, Qilin khawatir itu adalah pencuri. Qilin mengambil sapu lalu naik keatas lantai dua, karena suaranya dari sana, tapi saat di lantai dua, tidak ada siapapun.


''Apa kucing tetangga?'' Gumam Qilin.


Qilin mengeratkan genggaman pada sapunya dan membuka pintu kamar Justin, tapi tetap tidak ada siapapun di sana. Saat Qilin berbalik dan hendak turun ke bawah, tiba tiba terdengar petir yang menggelegar.


'' JDER!!''


'' HUA!!'' Teriak Qilin, dan saat itu juga listrik menjadi padam.


Qilin menjadi panik dan mencari sesuatu untuk dia berpegangan, dengan susah payah Qilin meraih meja dan berjalan keluar dari kamar Justin.


Terdengar suara hujan yang sangat deras dan cahaya kilatan kilatan petir yang menyeramkan menurut Qilin, Qilin bahkan menuruni tangga dengan berpegangan sangat erat di tiang tangga.


'' Kenapa harus hujan petir..'' Gumam Qilin sambil gemetar.


Qilin seperti orang buta berjalan menuju ke kamarnya, dan langsung bersembunyi di balik selimut lalu menangis ketakutan.


" Hiks.. Hiks.. Hiks.." Tangis Qilin.


Dan tak terasa Qilin menangis hingga dia tertidur sambil sesenggukan dan menggenggam bandul kalung yang berada di lehernya.


Tiba tiba, entah karena Qilin merindukan Justin hingga ia terbawa mimpi, atau apa.. Qilin merasa Justin memeluknya dengan erat saat ini.


" Justin, aku takut." Gumam Qilin dengan mata terpejam, dan Qilin merasa pelukan Justin semakin erat.


Sementara itu, di tempat lain..


Rena dan Fendy berada di sebuah club malam saat ini, alunan musik yang memekak kan telinga benar benar membuat telinga Fendy sakit. Namun Rena seakan biasa saja dan langsung turun ke lantai dansa.


" DUM! DUM! DUM! DUM!" suara musik yang begitu kerasnya.


" Ren, telingaku sakit." Teriak Fendy.


" Ha, apa?? Aku tidak dengar." Ujar Rena juga berteriak.

__ADS_1


" Telingaku sakit." Teriak Fendy lagi.


" Ck, cemen." Ujar Rena.


Akhirnya Rena menarik Fendy menuju ke meja bar, di sana suara musik tidak begitu memekak kan telinga seperti di lantai dansa, Fendy pun mengusap usap telinganya.


" Ck, musik yang begitu indah tapi kau malah sakit telinga." Ujar Rena.


" Itu terlalu keras, Ren." Ujar Fendy


" Ya sudah, kita minum di sini saja." Ujar Rena.


Mereka berdua pun menikmati minuman yang mereka pesan, Fendy tidak begitu banya minum karena dia harus menyetir.


Semua berjalan normal normal saja, hingga tatapan Rena terkunci pada sosok pria yang sedang merangkul wanita dengan pakaian minim.


" My sunshine?" Ujar Rena.


Fendy mengikuti arah pandang Rena, dan iku terkejut karena melihat tunangan Rena sedang bercumbu dengan bebasnya bersama seorang wanita.


Rena melihat tunangannya itu bangun, Rena pun mengikutinya. Fendy sebagai teman tentu saja ikut mengikuti kemana Rena pergi.


Hingga mereka keluar dari bar dan masuk ke dalam hotel yang tidak jauh dari bar itu. Fendy mencekal tangan Rena yang hendak mengejar tunangannya.


" Rena." Ujar Fendy sambil menggelengkan kepalanya.


Sebenarnya Rena hendak menangis, tapi dia menahan air matanya, mereka masuk ke hotel dan mengikuti kemana tunangan Rena pergi.


" Bren*sek!" Gumam Rena, ketika mereka melihat tunangan rena memasuki lift.


" Pesan satu kamar, yang satu lantai dengan pasangan tadi." ujar Fendy.


Petugas hotel itu langsung memproses dan memberikan sebuah kunci pada Fendy, Fendy pun menggandeng tangan Rena dan mengikuti tunangan Rena.


Mereka tiba di lantai 25 dan melihat tunangan Rena masuk ke sebuah kamar. Dengan cepat Rena berlari dan langsung terbang menendang tunangannya itu hingga terpental masuk ke dalam kamar.


Rena adalah seorang gadis tomboy, tidak sulit dia melawan tunangannya.


" R- Rena?" Ujar tunangannya gugup.


" PLAK!" Rena menampar wanita yang bersama dengan tunangannya itu.


" Apakah di dunia ini laki laki sudah habis? Sampai kau memacari tunangan orang, huh?!! " Ujar Rena pada wanita itu.


" Oh, atau kau tidak laku?? Sampai menjadi selingkuhan orang, murahan!!" Ujar Rena pada perempuan itu.


" Kau salah bicara, di sini.. kaulah selingkuhannya." Ujar wanita itu.


Rena tentu saja mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


" Apa! Terkejut? Biar aku beritahu padamu, dia bersamamu karena tuntutan orang tuanya, dia hanya mencintai aku, jauh sebelum dia bertunangan denganmu." Ujar wanita itu.


Bagai di sambar petir, Rena tercengamg mendengar ucapan wanita itu. Rena pun menatap tunangannya seakan meminta jawaban.


" R- Rena.."


" Benar atau tidak?" Ujar Rena.


" Rena.."


" JAWAB!!" Bentak Rena.


" Iya." Sahut tunangan Rena.


Rena melepaskan cincin pertunangannya lalu melemparkannya pada tunangannya yang akan menjadi mantan itu.


" Kita selesai." Ujar Rena.


" Rena, tunggu." Ujar tunangan Rena tapi Fendy menghalanginya.


" Seharusnya kau bisa menghargai sebuah komitmen, pria yang tidak bisa menghargai sebuah komitmen tidak pantas di cintai." Ujar Fendy, lalu mendorong tunangan Rena sampai tunangan Rena jatuh ke lantai.


Fendy pun berlari mengejar Rena, mereka masuk ke dalam lift dan turun.


Rena hanya terlibat diam, dia tidak menangis hanya diam.


" Fan, maaf kita harus berpisah di sini, aku akan pulang sendiri." Ujar Rena, setelah sampai di loby.


Rena melangkah keluar namun Fendy mencekal tangan Rena dan membawa Rena kedalam pelukannya.


" Ren, jangan berpura pura kuat, bahkan super man pun bisa menangis." Ujar Fendy.


Dan entah mengapa itu membuat dada Rena menjadi makin sesak, akhirnya Rena menangis di pelukan Fendy.


Ke esokan harinya..


Qilin bangun dengan mata sembabnya karena dia menangis semalaman, ia pun duduk dan melihat ke sekelilingnya.


" Bisa bisanya aku bermimpi Justin ada di sini semalam, Qilin.. kamu sudah gila." Gumam Qilin.


Qilin bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.


Hari ini Qilin libur kerja, biasanya saat libur kerja Qilin hanya akan menghabiskan waktunya dengan duduk di dalam bus dan keliling kota Jakarta dengan bus itu. Sampai supir bus itu pun mengenal Qilin.


Tiba tiba dari luar ada yang mengetuk pagar rumah Qilin, Qilin pun keluar dan terkejut melihat Rena yang kacau.


" Rena??" Ujar Qilin dan membuka pintu.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2