
Siangnya Justin pulang dan mendapati ibu dan istrinya itu sedang melakukan perawatan di rumah. Sierra memanggil jasa spa langganannya, dan saat ini keduanya sedang melakukan spa bersama di halaman belakang Justin dimana ada kolam renang di sana.
Justin menghampiri Qilin dan Sierra yang sedang di pijat. ''Kalian disini rupanya.'' Ujar Justin.
Sierra membuka matanya lalu menaruh jari telunjuknya di depan mulut, membuat gerakan agar Justin diam. ''Shhh.. Istrimu sedang tidur.'' Ujar Sierra, dan Justin menganggukan kepalanya.
Hingga sampai Sierra selesai di spa, Qilin belum juga bangun dari tidurnya, padahal dia bangun sangat siang dan itu baru tiga jam setelah Qilin bangun dari tidurnya.
''Mommy pulang dulu, Qilin mungkin sangat kelelahan jadi tertidur.'' Ujar Sierra.
'' Mommy tidak mau makan dulu?'' Tanya Justin, dan Sierra menggeleng.
'' Daddymu pasti mencari mommy sekarang, mommy pulang saja.'' Ujar Sierra.
'' Baiklah, terimakasih sudah menemani Qilin, mom.'' Ujar Justin dan Sierra tersenyum.
Sierra menepuk pundak putanya.'' Qilin juga anak mommy.'' Ujar Sierra, lalu melangkah pergi.
Setelah mengantar Sierra hingga masuk kedalam mobil, Justin kembali masuk kedalam dan menghampiri Qilin yang masih tertidur. Justin menggelengkan kepalanya kemudian terkekeh kecil melihat Qilin yang tidur tengkkurap dengan sangat menggemaskan.
'' Istriku yang nakal.'' Gumam Justin, Justin pun langsung menggendong Qilin kedalam dan merebahkan Qilin di ranjang.
''Saat sedang tidur begini, dia terlihat sangat tenang bagai malaikat.'' Gumam Justin, lalu mengecup kening Qilin.
DUA BULAN KEMUDIAN.
Justin sedang berada di perusahaannya, tapi dia terlihat selalu memegangi kepalanya dan memejamkan matanya. Ian bahkan sering merasa aneh dengan Justin yang sering mual tanpa sebab.
''Apa lambungku kambuh, aku merasa aneh akhir akhir ini.'' Gumam Justin.
Ian meletakan dokumen yang sedang di bacanya. ''Kak, lebih baik kau ke dokter saja. Aku takut terjadi sesuatu padamu, kau sudah sebulanan ini sering begini.'' Ucap Ian, tidak formal.
''Aku yakin aku baik - baik saja.'' Ujar Justin.
''Kepala batu.'' Ujar Ian.
''Tolong antarkan aku pulang saja, aku tidak yakin bisa mengemudi jika kondisiku begini.'' Ujar Justin.
'' Ayo, aku antar pulang.'' Ujar Ian. Dan akhirnya keduanya pun pergi dari perusahaan Justin.
Bahkan saat di dalam mobil pun Justin memejamkan matanya karena dia merasa sangat pusing. Dan sampai akhirnya mereka sampai di rumah, Justin baru membuka matanya.
Justin masuk, dan melihat Qilin yang sedang memakan cup cake buatannya. Tiba - tiba Justin memeluk Qilin daei belakang seperti anak kecil yang mamaluk ibunya.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Tanya Qilin sedikit terkejut.
"Hm, aku merindukan istriku." Ujar Justin, dan menciumi pundak Qilin dari belakang.
__ADS_1
Qilin pun terkekeh mendengarnya." Manjanya, suamiku." Ujar Qilin.
Qilin memutar tubuhnya dan melihat gelagat aneh dari Justin. Justin seperti tidak sehat, dia terlihat sangat pucat.
" Kamu sakit, sayang?" Tanya Qilin.
" Aku pusing, mungkin hanya masuk angin." Ujar Justin.
Justin mencium bau sesuatu yang menarik perhatiannya, dia mengendus kesana kemari dan menemukan buah mangga yang sudah di kupas.
" Sayang, aku boleh minta?" Tanya Justin.
Qilin terkekeh karena Justin meminta ijin darinya. " Tentu boleh, ayo makan bersama." Ujar Qilin.
Justin pun duduk dengan Qilin di ruang tengah, entah mengapa rasa pusing dan mualnya hilang setelah sudah bertemu Qilin.
Qilin menyuapi Justin mangga, tapi dia menjadi khawatir melihat wajah pucat Justin." Besok kita akan berangkat untuk menemui keluargaku di sana, tapi kamu sakit. Kita tunda saja berangkatnya, ya?" Ujar Qilin.
" Aku tidak sakit, sayang. Aku hanya sedikit masuk angin, mungkin setelah aku minum obat, aku akan sembuh." Ujar Justin.
" Jangan paksakan dirimu, aku tidak mau kamu drop lebih parah." Ujar Qilin.
" Tidak akan sayang." Ujar Justin, tapi tiba tiba dia merasakan mual.
" Hmp!!" Justin hendak muntah namun di tahannya. Justin langsung bergegas menuju ke kamar mandi
Justin membasuh wajahnya agar lebih segar. " Aku tidak apa - apa sayang, mungkin lambungku sedang naik." Ujar Justin.
Qilin mengelap wajah Justin dengan tisue" Ayo kita istirahat saja di atas." Ujar Qilin, dan Justin mengangguk.
Keduanya langsung naik ke atas, dan Justin langsung melemparkan dirinya ke atas ranjang. Qilin menjadi semakin khawatir karena dalam selama mereka bersama, Justin tidak pernah terlihat sakit atau kenapa - kenapa.
" Sayang, kemari.." Rengek Justin sembari merentangkan kedua tangannya, seperti anak kecil minta di peluk. Qilin terkekeh mendengarnya, dia pun menghampiri Justin.
" Kenapa?" Tanya Qilin. Tapi bukannya menjawab, Justin hanya menarik Qilin naik keatas ranjang lalu berbaring bersama dengan saling berpelukan.
Justin memeluk erat Qilin, dan mengendus tengkuk leher Qilin." Ah.. nyamannya, aku sangat suka wangi tubuhmu, sayang." Ujar Justin.
" Tidurlah, siapa tahu setelah kamu bangun nanti sudah sembuh." Ujar Qilin.
" Hmm.." Sahut Justin dan tidur sembari memeluk Qilin. Dan karena mereka tidur di sore hari, mereka kebablasan hingga malam berganti pagi.
Sekitar jam 4 dini hari, Qilin bangun karena merasa mual yang teramat sangat. Dia langsung bangun dan berlari kedalam kamar mandi, akhir akhir ini dia memang sering mual, tapi tidak seperti hari ini.
" Hoek!!" Qilin memuntahkan isi perutnya, hanya air.
Lumayan lama Qilin mual mual di dalam kamar mandi, ia mencoba memuntahkan isinya tapi tidak bisa, karena memang perutnya masih kosong.
Qilin membasuk mukanya, lalu menatap dirinya di kaca. "Masa aku juga ikut sakit, perutku eneg sekali." Gumam Qilin.
__ADS_1
Tiba tiba pintu kamar mandi di buka Justin yang sepertinya juga sedang ingin muntah. Qilin langsung menyingkir daei wastafel dan benar..
" Hoek!! Hoek!!" Justin muntah - muntah. Qilin langsung memijat tengkuk Justin dan akan memberi Justin minyak kayu putih tapi..
" Sayang jangan, itu bau hoek!!" Justin kembali muntah - muntah.
" Ini hanya minyak angin, sayang." Ujar Qilin, tapi Justin melambaikan tangannya dan menutup rapat hidungnya.
"Aku benci bau itu, hoek!!" Justin kembali muntah muntah, Qilin pun langsung menyingkirkan jauh jauh minyak kayu putih di tangannya.
Akhirnya keduanya berjalan dengan sama - sama lunglai menuju ranjang karena rasa pusing dan mual yang mendera mereka bersama.
" Sepertinya kita berdua sakit, kita ke rumah sakit dulu saja untuk periksa, hum?" Ucap Qikin dan Justin mengangguk.
" Ayo tidur lagi, sayang." Ajak Justin, dan merebahkan dirinya di ranjang. Qilin pun ikut naik kembali ke ranjang dan keduanya kembali berpelukan.
Justin memasukan tangannya kedalam baju Qilin dan mengusap - usap perut Qilin tanpa sadar, tapi tiba tiba Justin tiba - tiba membuka matanya.
" Sayang.." Panggil Justin.
"Hm.." sahut Qilin. Justin langsung kembali bangun dan duduk di hadapan Qilin dengan wajah seperti orang yang memikirkan sesuatu.
Justin langsung membuka ponselnya dan melihat kalender, kemudian dia mengingat ingat kapan terakhir kali Qilin menstruasi.
" Ada apa, sayang?" Tanya Qilin.
" Sayang.. kapan kamu terakhir kali menstruasi?" Tanya Justin.
" Dua bulan lalu.." Ucap Qilin, mendengar itu, Justin langsung tersenyum sumringah.
Qilin baru menyadari sesuatu, dia langsung menutup mulutnya sembari berkaca - kaca.
" Sayang, apakah kita hamil? Maksudku, apakah kamu hamil, sayang?" Ujar Justin dengan wajah penuh harap.
Qilin menggelengkan kepalanya karena dia tidak yakin," Sayang, coba kamu pakai alat tes kehamilan." Ujar Justin dengan antusias, dan Qilin mengangguk juga dengan antusias.
Qilin langsung masuk kedalam kamar mandi, dan melakukan tes. Justin sudah mengantisipasi semua nya, termasuk alat tes kehamilan untuk Qilin karena mereka memang menunggu kehamilan itu.
Qilin menggigit kukunyasembari menunggu hasil dari tes kehamilan itu. Dan ketika sudah bisa di lihat, Qilin langsung meneteskan air matanya, rupanya dia sungguh hamil.
" Aku hamil.." Gumam Qilin.
Qilin langsung membuka pintu kamar mandi dan terlihat Justin yang sedang menunggu penuh harap.
" Bagaimana sayang?" Tanya Justin, Qikin memberikan alat tes kehamilannya dan Justin langsung tersenyum bahagia.
"Sayang kamu hamil." Ujar Justin dan langsung memeluk Qilin dan menciumi Qilin bertubi tubi. Penantiannya akhirnya di jawab Tuhan.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1