Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 25. Hari operasi Justin.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian..


Di LA Justin saat ini tengah duduk di sebuah ruangan yang serba putih, dia akan menjalani operasi hari ini. Namun Justin terlihat menyendu, sejak dia melakukan penerbangan dari tanah air.


" Justin, kenapa kamu diam saja, sayang?" Tanya Sierra.


" Justin merindukan Qilin, mommy." Ujar Justin.


Sammy yang masih tidak menyangka bahwa Justin hilang ingatan hingga menjadi idiot itu menggelengkan kepalanya. Justin sungguh seperti anak lima tahun.


" Bukankah kamu melakukan pengobatan ini untuk membuat kamu sembuh, dan kembali menemui Qilin?" Ujar Sierra.


" Iya.." Gumam Justin.


" Justin, jika kamu sembuh, kamu bisa langsung terbang dan menemui Qilin." Ujar Sammy, dan Justin tersenyum.


" Paman, lakukanlah dengan cepat, oke?" Ujar Justin dan Sammy mengangguk.


Justin pun merebahkan dirinya, Sammy memberi kode pada para perawat untuk membawa Justin ke ruang operasi. Sierra dan Arthur ikut mengiri kemana Justin di bawa.


' Qilin, Justin akan sembuh.. Justin akan menikah dengan Qilin, seperti cerita di buku itu.' Batin Justin.


Justin mengeluarkan jepitan dari kantong bajunya, itu adalah jepitan milik Qilin yang selalu dia bawa bawa seperti jimat.


Sammy memberikan Justin anastesi dan Justin pun perlahan kehilangan kesadaran. Sammy pun mulai melakukan operasi pada Justin, dengan terlebih dahulu menggunduli kepala Justin.


Di luar ruangan, Sierra menggenggam erat tangan Arthur. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi, satu yang Sierra harap, Justin baik baik saja dan sembuh.


" Semoga Justin sembuh, dad." Ujar Sierra.


" Iya, sayang." Ujar Arthur.


Sammy membutuhkan waktu selama kurang lebih empat jam untuk menyelesaikan operasi terhadap Justin, dan kini kepala Justin di perban.


Lampu tanda operasi sudah berubah menjadi hijau, yang tandanya operasi telah usai.


Sammy keluar, dan Sierra langsung berdiri.


" Bagaimana operasinya, kak?" Tanya Sierra.


" Jangan khawatir, Justin baik baik saja, dia akan sadar saat pengaruh obatnya hilang." Ujar Sammy.


" Terimakasih." Ujar Sierra.


Terlihat Justin di dorong keluar dengan perban di kepalanya. Sierra pun ikut mengiringi kemana Justin akan di bawa pergi.

__ADS_1


" Apakah operasinya sungguh berjalan lancar?" Tanya Arthur pada Sammy.


" Lancar, hanya saja aku tidak yakin bahwa Justin akan ingat semua hal yang dia lalui selama hilang ingatan." Ujar Sammy, dan Arthur mengangguk anggukan kepalanya.


Di tanah air..


Qilin sedang bersiap untuk berangkat kerja, meski Fendy berkata Qilin memiliki libur satu minggu, tapi Qilin tidak mau.


Qilin merasa, saat dirinya hanya sendirian atau berada di rumah, dia hanya akan semakin teringat dengan Justin, jadi dia memutuskan untuk menyibukan dirinya dengan bekerja.


" Semangat Qilin, kamu bisa." Gumam Qilin pada dirinya sendiri.


Qilin pun keluar dan mengunci pintu gerbangnya. Dia berjalan dan masuk menuju ke cafe tempatnya bekerja.


" Qilin, kamu kenapa masuk? Cutimu masih panjang." Ujar Fendy.


" Tidak, kak. Aku sudah baik baik saja, di rumah hanya membuatku semakin menjadi sakit." Ujar Qilin tersenyum.


Sakit yang Qilin maksud adalah sakit di hatinya. Qilin tidak akan memperlihatkan kesedihannya, Qilin sangat handal menyembunyikan perasaan di dalam hatinya.


" Kamu yakin sudah sembuh?" Tanya Fendy, dan Qilin mengangguk.


" Baiklah, selamat bekerja kembali, Qilin." Ujar Fendy, dan Qilin terkekeh.


Qilin masuk ke dalam, dan mengganti pakaiannya dengan seragam cafe, tak lupa ia menggunakan apron di tubuhnya. Qilin pun mulai kembali bekerja seperti biasanya.


" Qilin, kamu belum pulang? Biasanya kamu paling pertama kabur." Ujar rekan kerja Qilin.


" Hehe, tidak. Aku sedang malas menjadi pelari maraton." Ujar Qilin dan rekannya tertawa.


" Aku duluan." Ujar rekan Qilin, dan Qilin mengangguk.


Qilin duduk di ruang ganti, dan dengan malas ia mengganti pakaiannya. Bahkan Fendy mengira bahwa Qilin sudah pulang, karena biasanya Qilin paling pertama pergi dari cafe.


Rena datang, dan terkejut melihat Qilin di ruang ganti yang duduk seperti tidak bernyawa.


" Qilin, kamu masuk pagi?" Tanya Rena.


" Tidak, aku masuk malam." Ujar Qilin.


" Tumben belum pulang, biasanya kamu hilang pertama." Ujar Rena.


" Tidak apa apa, aku sudah mulai masuk lagi seperti biasanya mulai semalam." Ujar Qilin.


" Bagus, jadi kita bisa satu Shift lagi minggu depan. " Ujar Rena senang.

__ADS_1


" Kalau begitu aku pulang dulu Ren, bye." Ujar Qilin, dan Rena mengacungkan dua jempolnya.


Qilin keluar dari cafe, tapi tidak langsung pulang. Qilin pergi berjalan dan duduk di halte bus. Entah Qilin hendak kemana, ketika bus datang, Qilin naik dan duduk di bagian paling belakang.


Qilin menatap jalanan kota Jakarta yang ramai saat pagi, dia menyenderkan kepalanya di kaca lalu memejamkan matanya.


Qilin ingin mengisi kekosongan hatinya, jika ia sendirian, ia hanya akan terus teringat dengan Justin. Qilin butuh waktu untuk menerima bahwa dia dan Justin tidak akan bisa bertemu lagi.


Dari luar jendela, Dustin yang melihat asal keluar jendela, melihat sosok gadis yang ia kenali, Qilin. Dustin tidak pernah bertemu secara langsung dengan Qilin, jadi dia agak terkejut melihat wajah damai Qilin.


' Bukankah itu adalah gadis yang bernama Qilin, dia tidur di bus?' Batin Dustin heran.


Sangat mudah mengenali Qilin, rambut peraknya adalah ciri khusus Qilin. Mungkin orang orang bisa mengecat rambutnya menjadi perak, tapi tidak akan sama seperti Qilin.


' Saat di cari cari dia tidak muncul, bahkan tidak bisa di temukan, sekarang dia berkeliaran di jalan, ck! Seperti hantu.' Batin Dustin kesal ketika mengingat bagaimana kerasnya semua orang mencari kakaknya.


' Dia menangis?' Batin Dustin, ketika melihat Qilin mengusap pipinya.


Bus pun melaju pergi, bersimpang arah dengan mobil Dustin. Hingga sampai di perusahaan, Dustin masih terpikirkan dengan Qilin yang menangis. Padahal dia tidak pernah peduli dengan perempuan selain Sierra dan Sahara, tapi bayangan saat Qilin mengusap air matanya, masih berputar di kepalanya.


' Haish! Masa bodo dengan dia.' Batin Dustin.


Wajah Dustin dan Justin benar benar sama, hanya saja gestur wajah Justin lebih tegas dari pada Dustin, orang orang yang tidak pernah bertemu dengan keduanya pasti sering salah mengenali.


Dustin masuk kedalam ruang kerja nya dan langsung sibuk dengan semua berkas di meja. Bagaimanapun Dustin harus mengurus dua perusahaan besar, miliknya dan Justin, dia menjadi super sibuk.


Waktu berlalu, Qilin bangun dan mendapati hari sudah siang, entah dia sudah memutar kemana saja, dia hanya tidur sepanjang jalan.


' Astaga, berapa lama aku tidur di bus.' Batin Qilin.


Qilin duduk dan mengamati jalanan kota, dan kebetulan bus itu kembali ke tempat semula saat ia naik. Qilin pun turun, dan berjalan menuju ke rumahnya.


Saat Qilin sampai di depan rumahnya, ia melihat ada buket bunga. Qilin melihat kesekelilingnya, guna mencari siapa yang mengirim, tapi tidak ada orang, gang itu selalu sepi.


' Ini bunga punya siapa?' Batin Qilin.


Qilin membaca tulisan yang tertera di sana, dan memang itu di tujukan untuknya, tapi tidak tertulis siapa pengirimnya.


Qilin akhirnya membawa masuk bunga itu, dan meletakannya di atas meja, lalu dirinya sendiri langsung masuk kedalam kamar mandi.


" Anggaplah aku berterimakasih karena kau telah menyelamatkan kakakku, dan merawatnya." Gumam Dustin.


Rupanya Dustin yang mengirim bunga itu untuk Qilin. Dustin pun menyuruh supirnya untuk kembali ke perusahaan.


' Tapi apa dia sejak pagi baru pulang dari bus? ck, siapa peduli.' Batin Dustin.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2