
Akhirnya ketujuh penghianat itu di bawa ke kandang Lucia dengan kepala yang di tutup kain. Mereka menangis juga tidak mengubah apapun.
"Seharusnya kalian berpikir ribuan kali sebelum berkhianat pada tuan, sekarang terima akibatnya." Ujar anak buah Dustin yang membawa mereka ke dalam kandang.
"Maafkan kami, kami mohon." Ujar ketujuh pria itu.
Kaki dan tangan mereka di ikat, lalu kain penutup yang menutupi kepalanya di buka. Terlihatlah empat ekor Lucia yang sudah siap menerkam mereka yangvsaat ini masih berada di dalam kandang.
"Tolong, kami minta maaf." Ujar salah satu pria. Tapi anak buah Dustin yang mengikat mereka sama sekali tidak menatap wajah ketujuh pria itu. Bagaimanapun mereka dulunya adalah rekan.
Anak buah Dustin pun akhirnya masuk kedalam, dan menutup pintu besi yang membatasi dirinya dengan kandang Lucia. Setelah pintu terkunci, barulah salah satu dari anak buah Dustin yang lainnya menekan tombol, dan pintu kandang para Lucia sudah terbuka.
Terdengar teriakan memilukan, dari sana. Dan Dustin meminta agar pintu kedap suara di sana tidak di tutup, suapaya semua anak buajnya mendengar itu, dan berpikir ribuan kali jika ingin menghianati TITANES.
Sementara itu, Justin saat ini sedang di periksa kembali oleh dokter. Hasil dari pemeriksaan Justin, rupanya Justin keracunan, dan di curigai racun itu berasal dari pisau yang di tancapkan pada Justin.
" Jantungnya sudah menghitam, celakalah kita." Ujar Dokter 1.
Sebagai seorang dokter, seharusnya mereka melakukan pekerjaan mereka dengan teliti, tapi mereka melupakan kemungkinan bahwa pisau yang di gunakan untuk menusuk Justin, beracun.
"Jenis racun apa sebenarnya, mengapa kita tidak menyadarinya sebelumnya." Gumam Dokter 2.
Racun ini menyerang organ dalam dan berjalan lambat namun mematikan. Biasanya yang terkena racun ini akan mengalami kejang, sesak nafas, koma hingga mati dengan jangka waktu menghitung bulan bahkan hari.
Dua dokter itu pun semakin panik karena racun itu sudah berada di tubuh Justin selama satu mingguan ini.
"Cepat beri tahu tuan Dustin mengenai kondisi tuan Justin." Ujar dokter 1, dan dokter 2 mengangguk.
Dan di tempat Dustin sendiri, dia sedang duduk dan mengatupkan kedua tangannya seperti sedang berdoa, tapi tatapannya kosong menatap keluar jendela.
'Bagaimana bisa kamu masih berdebar ketika Qilin memanggilmu sayang, Dustin? Dia memanggilmu sayang karena dia mengira kamu adalah Justin, jadi jangan bodoh.' Batin Dustin, masih merutuki dirinya sendiri.
Sejak mengakhiri panggilannya dengan Qilin, Dustin tidak berhenti memikirkan betapa manis dan manjanya suara Qilin saat memanggilanya sayang dan memintanya mengatakan cinta.
"TING!!" Suara notifikasi ponselnya berbunyi. Dustin membukanya dan langsung terkejut ketika melihat isi pesan yang masuk tadi.
Adalah dokter yang menjaga Justin yang mengatakan bahwa Justin saat ini sedang sangat kritis, Dustin langsung bangun dan pergi dari ruangannya lalu mencari Cio.
"Dimana Cio?" Tanya Dustin pada anak buahnya.
__ADS_1
"Aku disini, ada apa kak?" Tanya Cio.
"Ayo ke tempat Justin." Ujar Dustin dan langsung menarik tangan Cio pergi.
"Ada apa? Kenapa kakak buru - buru sekali?" Ujar Cio sembari mengemudikan mobilnya.
"Justin di racuni, dan dia sekarat saat ini." Ucap Dustin, dan Cio terkejut.
"Apa!? Jadi kak Justin keracunan!?" Ujar Cio dengan terkejut.
"Bagaimana kalian bisa tidak tahu jika kakakku keracunan! Bukankah ada dua dokter yang menjaganya di sana? Dan kau selalu bilang bahwa kakakku masih sama." Ujar Dustin menjadi emosi.
"Karena racunnya tidak terdeteksi, kak. Dokter pun mengatakan padaku bahwa kak Justin baru menunjukan perbedaaan di kulitnya yang membiru belum lama ini." Ujar Cio menjelaskan.
Tiba tiba ponsel Dustin berdering, dan itu adalah nomor yang tidak di kenal, karena Dustin pikir mungkin itu penting, jadi dia mengangkatnya.
"Halo." Ujar Dustin.
"Hai.. Hai.. akhirnya kita bisa berbicara lagi, Dustin Edward." Ujar sebuah suara yang sangat Dustin kenal, Clins.
"Aah.. aku sangat merindukan momen ini, berbicara dengan mangsaku." Ujar Clins dari teleponnya, lalu terkikik.
"Eh, kenapa? Apakah dia sudah menunjukan tanda tanda kematian?? Beri tahu aku seperti apa dia terlihat sekarang, apakah sudah seperti mayat??" Ujar Clins dengan nada bicara khasnya yang santai tapi seperti psik*pat.
"CLINS!!" Bentak Dustin. Clin diam dari tawanya, dan terdengar keheningan sesaat.
"Aduh, kau teriak kencang sekali, sampai ponselku jatuh ke lantai." Ujar Clins, dan terdengar seperti dia meniup - niup ponselnya.
"Aku beri tahu kau sesuatu, Dustin Edward. Kakakmu.. tidak akan selamat, kau pikir semudah itu lari genggaman tangan Clins?? Tidak.... tidak semudah itu." Ujar Clins sembari menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Jika sampai terjadi sesuatu pada kakakku, maka aku akan mencarimu bahkan hingga ke lubang tikus sekalipun." Ujar Dustin dengan nada kebencian.
"Uuuhhh.. aku menunggunya.. aku menunggunya, aku sangaatt.. menantikannya. Mau kucing - kucingan denganku?" Ujar Clins, dengan tawanya. Tangan Dustin mengepal dengan kuat saat ini.
"Sampai ketemu di pemakaman Dustin.. Hahahaha.." Tawa Clins, lalu panggilan itu di akhiri.
Dustin langsung menghubungi anak buahnya untuk melacak keberadaan Clins lewat nomor ponsel tadi.
"Lacak nomor itu, itu milik Clins." Ujar Dustin, lalu panggilan kembali di akhiri.
__ADS_1
Hingga singkat cerita, Dustin sudah sampai di tempat Cio menyembunyikan Justin. Dustin terkejut melihat bagaiamana keadaan Justin saat ini, kulitnya sudah berubah warna bahkan detak jantungnya lemah.
Dokter sudah menjelaskannya pada Dustin mengenai kondisi Justin, dan Dustin sangat terpukul atas apa yang dia dengar.
"Apa sungguh tidak ada cara untuk menolongnya?" Ujar Dustin dengan frustasi.
"Tidak ada penawarnya, Tuan. Jantungnya sudah menghitam." Ujar Dokter.
Mendengar itu, nafas Dustin memburu dan dia langsung menghampiri Dokter itu lalu mencengkeram kerah baju dokter itu dengan keras.
"Aku memperkerjakanmu hukan untuk bersantai - santai, kepar*t! Kenapa sampai jantung kakakku menghitampun kalian tidak tahu, huh!!" Teriak Dustin.
"Kak, tenangkan diri kakak, kakak akan mengganggu kak Justin." Ujar Cio.
"Maaf tuan, kami sungguh tidak menyadarinya. Racun itu menyebar sangat lambat dan baru ketahuan baru - baru ini." Ujar Dokter.
"HAARG!!" Dustin mendorong dokter itu hingga tersungkur di lantai.
'Apa yang harus aku katakan pada mommy dan daddy, aku bahkan tidak bisa melindungki kakakku. Lalu bagaimana dengan Qilin, dia pasti akan sangat sedih mengetahui kak Justin seperti ini.' Batin Dustin.
Dustin kemudian mengeluarkan ponselnya dan keluar daei ruangan Justin, dia menghubungi nomor yang sebelumnya menghubungi dirinya, nomor Clins.
"Uuuuuuu.. siapa ini yang menghubungiku lebih dulu??" Terdengar suara menyebalkan Clins.
"Katakan kepadaku, apa yang kau berikan pada kakakku, Clins!!" Bentak Dustin.
"Sudahlah, tidak perlu repot - repot bertanya. Dia sudah mencapai batasnya, sebentar lagi dia akan menghadap Tuhan." Ujar Clins dengan santai sembari melihat kuku - kuku jarinya.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan dari kami Clins?" Ujar Dustin dan Clins langsung fokus, tatapannya berubah menjadi sangat tajam sekarang.
"Kematian kalian.." Ujar Clins dengan senyum smirknya. Dustin tertegun, dendam Clins sangat besar pada keluarganya.
"Oh, ngomong - ngomong aku ingin memberitahukan satu hal penting. Mungkin akan sangat terlambat tapi mungkin juga bisa membantu Justin sadar kembali." Ujar Clins, dan Dustin mengernyitkan keningnya.
"Kau tahu donor jantung bukan?? Mungkin dia akan hidup jika kau mendonorkan jantungmu." Ujar Clins dan tertawa, lalu Clins mematikan sambungan teleponnya.
Sementara Dustin terdiam ketika mendengar apa yang Clins katakan.
'Donor jantung..' Batin Dustin. Tapi jika Dustin mendonorkan jantungnya, itu berarti dia akan merelakan nyawanya hilang.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..