Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 27. Justin pulang.


__ADS_3

Pagi harinya, Qilin bangun dan meregangkan otot ototnya. Ia bersikap biasa saja, seolah dia tidak menangis semalam di kamar Justin. Dia turun ke bawah dan bersiap untuk berangkat kerja.


Setelah siap, dia membuka lemari pendingin dan menuangkan susu ke gelas, dan meneguknya.


" Semangat Qilin." Gumam Qilin lalu dia pun pergi bekerja.


Setelah tidak ada Justin, rumah itu sangat sepi. Benar benar sepi tidak ada satu barangpun yang berantakan seperti saat masih ada justin.


" Selamat pagi my sunshine." Sapa Rena pada Fendy.


" Sunshine mu baru pergi, kau sudah menggoda orang lain." Ujar Fendy, dan Rena terkekeh.


Rena masih belum menikah, entahlah.. kekasihnya selalu mengatakan bahwa belum ada jatah cuti dari perusahaan tempatnya bekerja, jadi masih belum bisa menikah.


" Habisnya wajahmu kusut seperti baju tidak di setrika." Ujar Rena, dan Fendy hanya diam.


" Masih belum ada kemajuan?" Tanya Rena, dan Fendy menggeleng.


Yang Rena bahas adalah kemajuan hubungan Fendy dan Qilin. Rena sedikit menyesal telah menebak nebak bahwa Qilin menyukai Fendy, ternyata Qilin tidak memiliki perasaan seperti itu pada Fendy.


Dan sialnya, Fendy yang justru begitu berharap pada Qilin. Cinta Fendy bertepuk sebelah tangan, dan Rena hanya bisa mengasihani rekan kerja nya itu.


" Selamat pagi." Sapa Qilin yang masuk ke dalam cafe.


" Pagi Our sunshine.." Ujar Rena, dan Qilin terkekeh.


Sementara itu di tempat lain..


Dustin sedang berada di dalam mobil, kakak nya yaitu Justin, akan pulang dari AS dan dia begitu antusias menyambut kedatangan kakak kembarannya itu.


Penerbangan Justin menggunakan pesawat pribadi, jadi tidak memakan banyak waktu seperti penerbangan umum. Dan beberapa jam lagi, Justin akan mendarat di bandara International.


" Paman Malvin, bagaimana keadaan gadis itu sekarang?" Tanya Dustin pada Malvin.


" Dia terlihat baik baik saja, tuan muda. Dia juga bekerja seperti biasanya, tampaknya dia sudah bisa menerima kenyataan bahwa tuan muda Justin tidak akan mengingatnya." Ujar Malvin.


" Baguslah, dengan begini semua akan kembali seperti sediakala " Ujar Dustin.


" Kamu jangan bahas tentang gadis itu sedikitpun, oke? daddy tidak mau kakakmu menjadi kebingungan." Ujar Arthur.


" Astaga, iya dad.." Ujar Justin.


Dustin menunggu di mobil sambil mengurus pekerjaan nya, meski sudah dewasa dan sangat sibuk, Dustin tetap menjaga keharmonisan hubungan keluarganya terutama dengan sang kakak kembarannya.

__ADS_1


Dan setelah waktu makan siang tiba, Justin baru mendarat di bandara. Dustin, Arthur dan Malvin sudah terlihat menunggu di pintu keluar, hingga muncullah sosok yang di tunggu tunggu.


Justin berjalan dengan langkah lebar dan elegannya menggandeng tangan Sierra dengan wajah tanpa sedikitpun senyuman, dia kembali menjadi kutub utara tak tersentuh.


" Kakak, selamat datang kembali." Ujar Dustin dan memeluk Justin.


" Terimaksih." Ujar Justin.


Arthur pun menepuk pundak Justin, dan Malvin pun demikian.


" Selamat datang di tanah air, nak." Ujar Malvin.


" Terimakasih, paman." Ujar Justin.


Bahkan Malvin yakin, sosok Justin yang di hadapannya saat ini adalah Justin si makhluk dingin tak tersentuh yang dia momong sejak kecil.


Mereka semua pun pergi dari bandara dengan pengawalan anak buah Arthur, sepanjang jalan, Justin hanya diam dan sibuk dengan ponselnya, dia sudah kembali memimpin perusahaannya lagi sejak di LA.


Sierra dan Arthur pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, Justin yang seperti ini memang sedikit membuat mereka khawatir, Justin selalu gila kerja tidak pandang tempat dan waktu.


Tapi jika Justin idiot, mereka juga tidak akan tega membiarkannya, walau sejujurnya Sierra lebih suka dengan Justin yang seperti anak anak, menggemaskan.


Sementara itu, Qilin tampak sedang memakan makan siangnya di kantin. Jika dulu dia akan berlari pulang ke rumah untuk makan bersama Justin, kini Qilin selalu makan di kantin bersama Rena.


" Mm.. tidak, aku mau istirahat saja di rumah." Ujar Qilin.


" Ish, hidupmu membosankan sekali. Tidak ada ponsel, tv, tidak pernah jalan jalan juga. Nikmati hidupmu, Qilin.. kita hidup di dunia cuma satu kali." Ujar Rena.


" Justru karena aku hidup di dunia cuma satu kali, aku berusaha membuat hidupku lebih panjang dengan hanya berdiam diri di rumah." Ujar Qilin dan Rena menggelengkan kepalanya.


" Kamu ini agak lain memang.." ujar Rena, dan Qilin terkekeh.


" Aku sudah selesai, ayo." Ujar Qilin.


" Eh, tunggu, aku belum bayar." Ujar Rena, dan bangun dengan buru buru.


Qilin dan Rena pun berdiri di pinggiran jalan hendak menyeberang, dan saat itu juga.. Mobil yang Justin naiki lewat di hadapan Qilin.


Jantung Qilin tiba tiba berdebar tanpa sebab, begitu juga jantung Justin yang saat ini berada di dalam mobil. Justin melihat ke arah luar jendela, namun tak mendapati siapapun karena mobil itu melaju dengan cepat.


' Kenapa jantungku tiba tiba berdebar begini?' Batin Qilin.


" Hoy! Ayo.." Ujar Rena, dan Qilin mengangguk.

__ADS_1


Qilin kembali ke cafe dan bekerja seperti biasanya, hingga malam pun tiba dan shift berganti.


" Bye Ren, kak Fendy." Ujar Qilin melambaikan tangannya.


" Ya, hati hati di jalan, Qilin." Ujar Fendy dengan senyum manisnya.


" Ayo ke bar." Ujar Rena.


" Ha? Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Fendy.


" Tidak, aku bilang pada tunanganku bahwa aku berlanjut kerja sampai pagi menggantikan teman." Ujar Rena.


" Kau sedang ada masalah dengan sunshine mu?" Ujar Fendy, dan Rena hanya tersenyum.


" Mau tidak? Kalau tidak ya aku saja sendirian." Ujar Rena.


" Aku ikut." Ujar Fendy, dia tidak mungkin membiarkan temannya itu sendirian di Bar, apalagi Rena seorang perempuan.


Rena sebenarnya hendak mengajak Qilin, tapi Rena tahu bahwa Qilin adalah gadis yang polos, dia tidak mau merusak Qilin dengan membawanya ke Bar, Rena bukan teman perusak.


Sementara itu, Qilin sudah sampai di rumahnya. Ia meletakan tasnya, lalu menyenderkan dirinya di sofa.


" Aku lapar, kenapa tadi aku tidak beli makan dulu, dasar Qilin." Gumamnya.


Qilin bangun dan berjalan ke kamar mabdi untuk mencuci wajahnya agar lebih segar, dan dia melihat sikat gigi milik Justin yang sudah sebulan itu hanya menjadi hiasan di sana.


" Tidak, Qilin.. jangan menangis." Gumam Qilin, dan mengelap wajahnya dengan handuk.


Qilin pun kembali keluar dan mendatangi pasar malam, tempat dia biasa membeli makanan. Ia membeli semua makanan yang dulu sering dia pesan bersama Justin.


" Kamu tidak datang dengan kekasihmu lagi, apa kalian sudah putus?" Tanya penjual, karena setiap Qilin dan Justin datang ke sana, Justin selalu menempel pada Qilin.


" Hehe." Qilin hanya tersenyum canggung.


" Laki laki memang seperti itu, dia akan begitu lengket pada kita saat dia masih mencintai kita, tapi saat cintanya hilang, orangnya pun hilang." Ujar penjual makanan itu.


" Ini uangnya, terimakasih, bibi." Ujar Qilin dan pulang.


' Cinta.. sayangnya Justin tidak mencintaiku, dia hanya mengklaim aku sebagai miliknya, bukan kekasihnya.' Batin Qilin.


Sementara itu di sebuah kamar yang mewah, Justin sedang duduk di ruang bacanya. Saat ini Justin sedang menatap sesuatu di tangannya, menatap sebuah jepitan rambut.


Namun Justin tidak berkata apapun, dia hanya menatap jepit itu rambut itu dwngan tatapan tidak bisa di artikan.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2