Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 94. Pertemuan dua keluarga besar.


__ADS_3

Dan seteleah hari hari berlalu, besok adalah saatnya hari pertunangan Qilin di gelar. Dan saat ini Qilin dan Justin sedang berada di bandara untuk menyambut keluarga besar Qilin.


Dan yang pertama muncul adalah Lucio yang langsung melambaikan tangannya kearah Qilin.


" Kakak.." Panggil Cio.


Qilin tersenyum ketika melihat semua orang yang kini bisa ia panggil sebagai keluarganya itu datang bersama sama. Terlihat Agra juga sudah tidak emnggunakan kursi roda lagi.


" Kamu sudah sembuh?" Tanya Qilin.


" Oh, luka seperti itu tidak ada arti ya untukku." Ujar Cio, dan memeluk Qilin.


" Aku sangat merindukan kakak, bisa - bisa nya kakak pulang kemari tidak pamit padaku." Ujar Cio lagi.


" Maaf, kakak tidak ingat punya adik sepertimu." Ujar Qilin sambil bercanda.


" Jahatnya.." Ujar Cio, dan Qilin terkekeh.


" Mama.." Ujar Qilin dan berlari mengampiri Dewi, lalu memeluknya.


" Apa kabar kamu, nak?" Tanya Dewi.


" Baik, ma." Ujar Qilin.


Lalu Qilin beralih menatap Agra yang saat ini sedang tersenyum padanya Qilin tersenyum lalu memeluk Agra.


" Papa tidak di sapa?" Tanya Agra dan Qilin sedikit terkejut.


" Papa bisa dengar?" Tanya Qilin.


" Dengan ini.." Ujar Agra menunjukan sebuah alat bantu dengar, dan Qilin tersenyum.


" Aku di asingkan.." Ujar Luca.


" Mana ada.. kemari." Ujar Qilin dan akhirnya Luca memeluk.


Percaya tidak, saat ini ada yang sedang memasang majah sedatar tembok, dan seasam lemon hijau. Justin, sedang menahan kesal karena Qilin nya di peluk peluk pria lain meski itu adiknya sendiri.


" Ekhem! Halo ma, tuan Agra." Ujar Justin, dan itu membuat pelukan Luca langsung lepas.


" Halo, nak.. " Ujar Dewi dan Agra.


" Ayo kita langsung pulang saja, di bandara tidak aman." Ujar Justin, dan semua orang mengangguk.


Mereka pun naik kedalam mobil van besar milik keluarga Edward yang bahkan kesebelasan pesepak bola pun bisa muat di dalamnya.


" Ma, apa kita akan tinggal di rumah kakak?" tanya Cio.


" Mama punya rumah di sini, saat mama kabur, kita akan tinggal di sana." Ujar Dewi.


" Padahal aku ingin menginap di rumah kakak." Ujar Cio.


" Sejujurnya kakakmu tinggal bersamaku." Ujar Justin menimpali, dan Qilin melototkan matanya.


Jujur sekali Justin nya itu, yang tidak tahu pasti mengira bahwa mereka sudah melakukan hal yang di larang yang hanya boleh di lakukan pasangan suami istri.

__ADS_1


" Eh?? Sungguh??" Ujar Luca yang justru lebih dulu terkejut.


" Kak, kakak tinggal dengan tuan Justin?" Tanya Cio.


" Ya, aku tinggal dengan nya." Ujar Qilin, Dan dua orang pria itu langsung tidak berkata apa apa lagi.


" Karena aku menjamin keamanannya, dan kehidupannya, jadi dia tinggal denganku." Ujar Justin.


" Memang adalah kakak iparku." Ujar Cio mengacungkan jempolnya.


" Ma, tuan Agra, nanti malam ayah dan ibuku mengundang kalian untuk makan malam, agar kedua belah pihak keluarga setidaknya pernah bertemu." Ujar Justin.


" Baik, dimana nak?" Tanya Dewi.


" Di sebuah restoran, nanti orang orangku akan menjemput kalian." Ujar Justin.


" Baiklah.." Ujar Dewi.


Dan tak lama, mereka pun sampai di rumah Dewi yang ada di jakarta. Semua orang turun begitupun Qilin.


" Sampai ketemu nanti malam, ma." Ujar Qilin memeluk ibunya.


" Iya, sayang." ujar Dewi.


Qilin pun kembali pergi, dan rupanya di kediaman Dewi itu sudah ada penjaga yang di yakini adalah orang - orang Justin.


Singkat cerita, akhirnya malam yang di tunggu pun tiba.. Malam pertemuan antara dua keluarga besar Justin dan Qilin.


Sierra dan Arthur sudah tampak sangat menawan dan cantik, Qilin juga tak kalah cantiknya duduk di sisi Justin yang juga tak kalah tampan dari ayahnya.


" Apa Dustin tidak bisa datang, mom?" Tanya Justin.


' Malam ini.. satu putraku akan bahagia, dan yang satu lagi harus menahan sakit.. Ya Tuhan, kenapa harus kau buat kedua putraku mencintai orang yang sama.' Batin Sierra.


Dan tak lama, Dewi, Agra dan kedua putranya datang dengan di pimpin jalan oleh anak buah Arthur.


" Halo tuan Arthur." Ujar Agra ramah.


" Ah, halo tuan Khan, nyonya Khan." Ujar Arthur ramah.


Mereka saling bersalam sapa, begitu juga dengan Luca dan Cio yang menjabat tangan pria legendaris Arthur Adward.


" Halo nyonya Edward." Sapa Dewi dengan ramah.


" Nyonya, khan.. Akhirnya saya bisa bertemu dengan bibit dari gadis cantik bernama Qilin ini.." Ujar Sierra dengan tawa ramah nya.


" Astaga, nyonya.." Ujar Dewi terkekeh.


" Silahkan duduk - silahkan duduk." Ujar Sierra.


Kedua belah pihak keluarga itu bisa membaur dengan hangat, Justin dan Qilin pun saling menggenggam tangan mereka senang keluarga mereka akhirnya bisa bertemu dan akur.


Tapi di balik kehangatan keluarga itu, ada satu yang sedang menahan duka laranya, Dustin.. dia ada di di sana, namun dia masih belum bergabung dengan mereka yang sudah bercanda gurau.


Dustin menghela nafasnya, kemudian masuk dan bergabung dengan mereka semua.

__ADS_1


" Halo semuanya, maaf aku terlambat." Sapa Dustin dan duduk tepat di sebelah Qilin.


Sierra tertegun karena ada dua bangku kosong, tapi Dustin memilih duduk di sebelah Qilin. Meja makan itu bulat, berisikan sepuluh kursi makan yang berarti bisa di isi sepuluh orang.


Agra dan Arthur bersebelahan, Dewi di sisi kiri Agra, di lanjut Luca dan Cio. Sementara Sierra, dia di sebelah kanan Arthur dan di lanjut Justin, kemudian Qilin.


Dan di sebelah Qilin, ada dua kursi yang juga bersebelahan dengan Cio, alih alih duduk di sebelah Ciu, Dustin justru duduk di sebelah Qilin. Kini Qilin di apit dua pria dengan wajah serupa.


" Wah, kak kalian benar benar sama. Aku benar benar tidak bisa membedakan diantara kalian berdua jika sedang tidak duduk begini." Ujar Luca.


" Perkenalkan, aku Dustin.. saudara kembar Justin, kakaku." Ujar Dustin.


" Ya ampun, nyonya Edward, bagaimana bisa anda melahirkan dua putra yang benar benar sama? " Ujar Dewi, dan Sierra terkekeh.


" Keajaiban Tuhan, nyona Khan.." Ujar Sierra sembari terkekeh.


Hingga makananpun tiba dan semua mulai bersiap untuk makan. Makanan tidak di sajikan begitu saja di meja makan, tapi menggunakan step by step.


Sebelumnya, pramu saji sudah menghidangkan makanan pembuka terlebih dahulu, dan kini adalah makanan utama mereka.


" Sayang, makan ini saja, sudah aku putong." Ujar Justin dan menukar piringnya dengan piring Qilin.


" Terima kasih." Ujar Qilin dengan senyum manisnya.


Qilin pun memakan steak yang sudah Justin potongkan untuknya itu. Dan makan malam itu berjalan dengan lancsr hingga akhirnya hidangan terakhir di sajikan, yakni makanan penutup.


" Wah, apa ini.." Ujar Agra Khan, melihat satu gelas mangkuk berisi es yang berwarna warni.


" Itu es campur, kamu akan suka, cobalah." Ujar Dewi. Agra mencobanya satu sebdok dan..


" Kamu benar, sayang.. ini enak." Ujar Agra dan semua orang terkekeh.


Di meja makan itu hanya Dustin seorang yang tidak berkata apa apa, dia hanya diam saja sejak tadi. Namun dalam diamnya, dia juga senang karena bisa duduk sedekat itu dengan Qilin, dan sesekali tatapannya bertemu dengan Qilin.


" kak, apa kakak bisa membedakan antara tuan Dustin dan tuan Justin?" Tanya Cio tiba tiba.


Qilin yang di beri pertanyaan pun bingung, sejujurnya jika bukan karena Justin selalu bersamanya dia juga tidak pasti apakah akan mebgenali Justin atau tidak.


Mendengar pertanyaan Cio, Dustin mulai tertarik dengan pembahasan itu.


" Iya juga.. Apa kakak iparku bisa membedakan siapa diantara kami yang Justin dan Dustin?" Ujar Dustin menimpali, dan itu membuat Sierra menjadi takut.


" Kau mau aku hajar atau bagaimana, huh??" Ujar Justin, sembari terkekeh.


Dustin pun tersenyum, tapi dia sungguh penasaran dengan jawaban Qilin. Apakah dia bisa membedakan anatara Justin dan Dustin atau tidak.


" Maaf kak, tapi ini pertanyaan umat umat penasaran.." Ujar Cio.


" Sayang, apa kamu bisa membedakan kami?" Tanya Justin akhirnya.


Sierra menjadi kian tegang, sementara yang lainnya penasaran menunggu jawaban dari Qilin yang tampak diam solah berpikir.


" Tentu saja bisa.. Aku membedakannya dengan naluriku. Aku terbiasa dengan Justin, dan aku tahu siapa diantara mereka yang adalah Justin" Ujar Qilin dan Justin tersenyum mendengarnya.


" Waaahhhh..." Ujar semua orang dan bertepuk tangan.

__ADS_1


Tapi apakah yang di katakan Qilin benar??? Hanya Qilin yang tahu.


TO BE CONTINUED...


__ADS_2