
Arthur masih berdiri di ambang pintu keluar menuju balkoni dan menatap kepada Dustin dan Sierra yang saat ini sedang terkejut dengan kedatangan Arthur.
'' Apa tidak ada yang bisa jelaskan padaku apa yang sedang terjadi?'' Ujar Arthur.
Sierra tahu saat ini Arthur marah, karena dari nada bicaranya yang tajam dan penuh penekanan. Sierra pun maju dan menghampiri Arthur.
'' Dad, jangan marah - marah.'' Ujar Sierra mencoba menengangkan Arthur.
'' Katakan padaku apa maksudmu bicara begitu pada Dustin, Sierra.'' Ujar Arthur.
Kali ini adalah pertama kalinya Arthur marah dan menyebut nama Sierra secara langsung, Sierra tahu Arthur benar benar marah saat ini. Tapi dia tidak mau Arthur sampai gelap mata dan memukul Dustin, dia tidak mau suami dan anaknya bertengkar.
Dustin masuk dan menutup pintu balkon, kemudian dia berjalan menghampiri Arthur dan dengan tegas mengatakan..
'' Aku mencintai Qilin, Dad..'' Ujar Dustin dan saat itu juga Arthur melayangkan pukulan pertamanya pada Dustin selama 27 tahun Dustin hidup.
'' Daddy!'' Pekik Sierra dan menangis.
Beruntungnya, kamar yang Dustin tempati itu terletak di lantai lain dimana tidak seorang dari keluarga Edward maupun keliarga Khan yang menempatinya.
'' Kau bilang apa barusan? Bilang apa kau barusam, huh?!!'' Ujar Arthur.
'' Aku men..''
'' Dustin Xavier Edward!'' Bentak Arthur, dan Dustin memejamkan matanya mendengar nama panjangnya di sebut sang ayah, karena saat ini Arthur pun sudah melayangkan tangannya hendak memukul Dustin.
'' Dad, tolong jangan pukul Dustin.'' Ujar Sierra terisak.
Tidak sekalipun dalam hidup Sierra memukul kedua anaknya itu, dia selalu menyayangi mereka dan mendidik mereka dengan benar hingga tanpa menggunakan kekerasan pun, Justin dan Dustin tumbuh menjadi anak yang baik dan penyayang pada orang tuanya.
'' Kamu melindunginya? Apa yang dia lakukan salah, sayang.'' Ujar Arthur.
'' Aku tahu dia salah, tapi tolong dengarkan dulu.. jangan selesaikan menggunakan kekerasan, kita bisa bicarakan baik baik.'' Ujar Sierra.
Sierra pun mengelap darah yang terdapat di sudut bibir Dustin dengan hati yang ikut merasa sakit, dia seorang ibu yang sangat menyayangi anak anak nya.
'' Apakah sakit, nak?'' Ujar Sierra, namun Dustin tersenyum dan menggeleng.
'' Katakan apa maksudnya ini semua, Dustin.. Daddy tidak pernah mengajarkan kamu untuk menjadi penjahat, atau pencuri. Mommy dan Daddy memperlakukan kamu dan kakakmu dengan baik dan adil, kami tidak pernah pilih kasih terhadap kalian.'' Ujar Arthur.
__ADS_1
'' Siapa yang tahu hatiku akan jatuh pada orang yang sama, yang kakak cintai, dad. Tidak ada yang tahu kemana hati akan berpaut, aku pun tidak menginginkan hal itu terjadi. Tapi perasaan itu muncul dengan sendirinya.'' Ujar Dustin dengan menahan sakit di hatinya.
'' Aku tahu aku salah, maka dari itu aku aku akan pergi.. agar perasaan yang bisa menghancurkan satu keluarga kita ini hilang.'' Ujar Dustin memejamkan matanya.
Arthur menatap putranya itu dengan perasaan bercampur aduk, dia kecewa.. tapi memang Dustin benar.. hati tidak ada yang tahu kemana dia akan berpaut. Hanya saja mengapa itu harus terjadi pada kedua putranya itu.
'' Daddy jangan khawatir, aku juga menyayangi kakak, dan rasa sayangku padanya lebih dari apapun bahkan melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri, aku tidak akan menghancurkan hati kakak, dad.'' Ujar Dustin dan sebutir air mata lolos dari pelupuk matanya.
Arthur memijat keningnya dan sejujurnya saat ini dia juga ikut menghapus air matanya, dia tidak menyangka satu dari putranya akan mengalami hal seperti ini. Sierra bahkan hanya bisa terisak di sofa mendengar penuturan Dustin.
'' Tapi aku tidak bisa pergi sekarang.. kakak akan mempertanyakan kepergianku nanti, dia akan kecewa padaku dan aku tidak mau itu terjadi. Jadi aku akan pergi saat kakak dan.. kakak dan Qilin menikah.'' Ujar Dustin lagi.
Arthur berjalan dan menghampiri Dustin, lalu memegang kedua pundak Dustin dan berkata..
'' Kamu membohongi daddy dan mommy mu, kan nak?'' Ujar Arthur dan Dustin menggeleng.
'' Tidak, Dad.. aku akan mengubur perasaan ini sendiri.'' Ujar Dustin menatap Arthur.
Arthur berjalan dan menggandeng Sierrra dan meletakan tangan Sierra di atas kepala Dustin, kemudian tangan nya yang dia letakan di atas tangan Sierra, dan kembali berucap.
'' Bersumpahlah.. atas nama mommy mu dan daddy, bahwa kamu akan membuang perasaan itu.'' Ujar Arthur dengan berkaca kaca.
'' Aku.. aku Dustin Xavier Edward bersumpah, atas nama ibuku Sierra Leona dan ayahku Arthur Edward.. bahwa aku akan.. akan mengubur perasaan cintaku pada Qilin.'' Ujar Dustin dengan mulut bergetar menahan tangis.
'' Katakan dengan lantang!'' Ujar Arthur, dan Sierra makin terisak di pelukan Arthur.
'' Atas nama ibuku, Sierra Leona dan ayahku Arthur Edward.. Aku Dustin Xavier Edward bersumpah, akan membuang perasaan cintaku pada Qilin.'' Ujar Dustin dengan lantang.
Arthur pun memeluk Dustin seteah sumpah itu terucap, dan air mata Dustin luruh begitu saja. Arthur harus membuat Dustin bersumpah karena jika tidak, Arthur takut akan ada perang saudara yang terjadi hanya karena wanita.
'' Pegang sumpahmu, nak.'' ujar Arthur dan Dustin mengangguk.
'' Daddy akan minta kakakmu untuk segera menikahi Qilin, agar kamu lebih cepat pergi dan tidak terluka melihat mereka bersama.'' Ujar Arthur, setelah melerai pelukannya dari Dustin.
'' Bukankan bulan depan?'' Ujar Dustin.
'' Daddy akan memajukannya menjadi minggu depan.'' Ujar Arthur dan Dustin mengangguk.
'' Istirahatlah.. ini sudah malam.'' Ujar Arthur lagi.
__ADS_1
'' Ayo, sayang.'' Ujar Arthur pada Sierra yang masih sesekali menangis.
'' Kami sangat menyayangimu, nak..'' Ujar Sierra dan Dustin menganggus sambil tersenyum.
Akhirnya Sierra dan Arthur pun keluar dari kamar Dustin, dan Dustin langsung memejamkan matanya dan kemudian air matanya kembali mengalir.
' Sesakit ini Qilin.. rasanya mencintai dirimu yang tidak bisa aku miliki. Bukan jarak yang menjadi penghalang, bukan juga waktu.. tapi keadaan. ' Batin Dustin, dan luruh terduduk di lantai bersandarkan sofa kamar hotel.
Dustin menangis tersedu sendirian menyembunyikan wajahnya di balik lengannya, kisah cintanya yang bahkan belum sempat ia perjuangkan, harus dia bunuh dan kubur sendiri, bayangkan betapa sakitnya Dustin saat ini.
Dia bahkan harus bersumpah membawa nama ayah ibunya, hanya untuk mencegah tumbuhnya perasaan cinta yang bahkan belum sempat bertunas itu.
Sementara itu di tempat lain..
Setelah Arthur mengantarkan Sierra ke kamar dan menenangkannya, Arthur mencari Justin di kamarnya. Arthur tahu Justin sudah pasti belum tidur karena dia selalu begadang sampai larut.
" Ding dong!" Bel kamar Justin berbunyi.
Dan benar saja, Justin masih belum tidur, dia masih duduk dengan di temani laptopnya, lalu kemana Qilin?? Qilin bersama dengan Rena, di kamar yang lain.
Justin bangun dan melihat dari lubang pintu, dia melihat Arthur yang berdiri di depan kamarnya dan ia pun langsung membuka pintu.
" Ada apa dad?" Tanya Justin.
" Tidak ada apa apa, hanya saja kita perlu bicara, nak." Ujar Arthur, dengan wajah tenang.
Arthur adalah orang yang bisa menyembunyikan kegelisahan dan apapun yang sedang dia rasa, membuat siapapun tidak bisa menebak apa yang sedang Arthur pikirkan.
Arrhur duduk di sofa dan kemudian Justin pun duduk di depan Arthur.
" Daddy bingung harus memulainya dari mana.." Ujar Arthur, dan itu membuat Justin menjadi mengernyit.
" Apa pernikahanmu tidak bisa di percepat saja, nak?" Ujar Arthur tiba tiba.
" Kenapa? Bukankah sebulan juga sudah termasuk cepat, dad?" Ujar Justin.
" Adikmu.. " Ujar Arthur menggantung.
" Kenapa dengan Dustin??" Tanya Justin menjadi kian penasaran.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...