Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 103. Melepaskan..


__ADS_3

Ke esokan harinya...


Qilin dan semua pihak keluarganya saat ini sedang melakukan sarapan di restoran hotel. Restoran hotel nya sendiri pun di suguhi pemandangan laut yang indah dengan alunan musik khas Bali yang semakin membuat tenang.


" Kak, ayo ke pantai." Ujar Cio.


" Kepantai kepalamu, kakakmu mau menikah, dia harus menjaga tubuhnya dari paparan sinar matahari." Ujar Agra.


Semua orang terkejut di sini, Agra secara langsung memarahi Cio hanya karena memgajak ke pantai.


" Kan bukan main air, pa.. Kakak hanya akan melihat kami bermain di sana." Ujar Cio.


" Tidak, kakakmu harus tetap bersama mama dan papa. Jika kamu mau main, ajak saja Luca." Ujar Agra.


" Kalau Luca sih sudah pasti ikut main.." Gerutu Cio.


" Ma, bujuklah papa, ma.." Ujar Cio pada Dewi.


" Anak ini, kenapa juga kamu mau kakakmu ikut ke pantai?" Ujar Agra.


" Papa tidak lihat, semua wanita di sini jika melihatku dan kak Luca mereka seperti melihat makhluk langka? Mereka akan menengok dua sampai tiga kali, lalu berbisik dengan temannya." Ujar Cio.


" Bukannya bagus, itu namanya kamu populer." Ujar Dewi.


" Ya justru karena kami ini langka, jadi kami ingin mereka tahu bahwa kami ini milik kakak kami." Ujar Cio, dan semua orang terkekeh.


" Selera humormu parah." Ujar Luca.


" Serius, kak. Aku ingin memberitahu semua orang bahwa aku adalah milik kakakku yang cantik ini.. jadi mereka tidak akan dengan intens melihat kearahku." Ujar Cio.


" Setelah itu, kau yang akan di potong potong Justin." Ujar Qilin sembari terkekeh.


" Benar, kau saja sana, aku tidak mau." Ujar Luca.


Benar, Cio tidak ingat bahwa ada satu orang lagi yang akan mengeluarkan khodamnya jika sampai melihat Qilin di tatap banyak mata laki - laki.


" Kalau begitu tidak jadi saja." Ujar Cio dan semua orang terkekeh.


Dan setelah sesi sarapan itu, Cio dan Luca akhirnya sungguh pergi ke pantai untuk berjemur. Sementara Qilin, dia kembali masuk ke dalam kamarnya. Qilin lebih suka duduk di kolam yang ada di depan kamar hotelnya.


" Kalau saja ada Rena, aku pasti tidak kesepian. Sayangnya aku tidak memiliki ponsel. " Gumam Qilin. Ya.. Qilin masih enggan menggunakan ponsel.


Tapi... Baru saja dia berbicara begitu, yang di sebut sebut itu membunyikan bel kamarnya.


Qilin bangun ketika mendengar bunyi bel, dia mengintip terlebih dahulu dari lubang pintu dan dia terkejut..


" Rena.." Gumamnya, dan langsung membuka pintu.


" Qilin.." Ujar Rena dengan wajah sangat bahagia.


" Rena, baru saja aku memikirkanmu, kamu sudah datang kemari." Ujar Qilin senang.

__ADS_1


" Ayo masuk." Ujar Qilin, dan Rena memgangguk.


" Apa sungguh kamu memikirkan aku? Bukan memikirkan tuan Justin?" Ujar Rena sembari meledek.


" Dia utama, tapi saat ini aku hanya butuh teman. Kamu dengan siapa datang kemari? " Tanya Qilin sembari duduk di ranjang.


" Dengan suamiku." Ujar Rena dan Qilin tersenyum.


" Cie.. Mentang mentang sudah mau menikah, panggilnya suami." Ujar Qilin meledek.


" Bukan mau.. tapi sudah." Ujar Rena, dan Qilin langsung diam.


" Ha? Kamu bercanda kan?" Ujar Qilin.


" Aku serius, aku sudah menikah dengan Fendy, Qilin." Ujar Rena dan Qilin menutup mulutnya.


" Kami menikah juga dadakan, dan sampai sekarang aku pun masih tidak percaya bahwa aku sudah menikah dengan Fendy." Ujar Rena.


" Dadakan bagaimana?" Tanya Qilin penasaran.


Akhirnya Rena menceritakan kejadian kemarin, semuanya sejak dia pergi dari hotel setelah pertunangan Qilin. Rena menceritakan bahwa dia mengalami pendarahan dan di larikan lerumah sakit, Qilin sampai meranga terkejut mendengarnya.


Rena bahkan menceritakan bahwa sebelum dia menikah dengan Fendy, dia lebih dulu di culik ayah mertuanya. Dan berakhir alhirnya mereka menikah.


" Seperti itu.." Ujar Rena.


" Astaga, kenapa aku merasa seperti film action.. sangat menegangkan." Ujar Qilin, dan Rena terkekeh.


" Lalu bagaimana dengan keponakanku? Apakah dia baik baik saja? " Tanya Qilin sembari menyentuh perut Rena.


" Dengar ya keponakan kecil, mamamu ini adalah wanita yang hebat, dan selalu memperjuangkanmu. Kelak saat kau lahir, jadilah pelindungnya, oke?" Ujar Qilin dan Rena terkekeh.


" Apa sudah bisa di ketahui jenis kelaminnya?" Tanya Qilin.


" Aku dan Fendy setuju untuk tidak mengethui jenis kelaminnya, agar kelahirannya menjadi kejutan untuk kami nanti." Ujar Rena, dan Qilin tersenyum.


" Aku senang akhirnya kamu dan Fendy bisa saling menerima cinta kalian. Hiduplah dengan bahagia, Rena.. kamu layak mendapatkannya." Ujar Qilin, sembari memeluk Rena.


" Kenapa jadi kamu yang menangis?" Ujar Rena terkekeh.


" Karena aku terharu dengan perjalanan cinta kalian." Ujar Qilin, mangusap air matanya.


" Semua itu juga karena nasehatmu, aku beruntung bertemu orang baik sepertimu yang mau bahu membahu memperjuangkan hidup denganku." Ujar Rena, dan ikut menjadi emosional.


" Jangan menangis.." Ujar Qilin, tapi akhirnya mereka justru menangis dan tertawa bersama.


" Hei, calon pengantin tidak boleh menangis." Ujar Rena.


" Aku bahagia." Ujar Qilin.


" Jadi bagaimana kamu tahu aku ada di sini?" Tanya Wilin sembari menghapus air matanya.

__ADS_1


" Kami sedang berbulan madu di sini, atas perintah calon suamimu." Ujar Rena.


" Justin??" Ujar Qilin dan Rena mengangguk.


" Astaga, maaf kan dia Rena, dia sangat kurang ajar mengganggu kalian yang baru menikah." Ujar Qilin merasa tidak enak.


" Jamgan sungkan, aku juga yang mengiyakan, karena aku ingin melihat sahabatku ini menikah." Ujar Rena.


" Padahal aku tidak melihatmu menikah.." Gumam Qilin sedih.


" Hei, jangan sedih.. yang penting kan aku sudah menikah." Ujar Rena, dan Qilin mengangguk.


Tiba tiba di sela sela obrolan mereka, bel kamar Qilin berbunyi. Qilin pun bangun dan melihat di lubang pintu yang rupanya adalah Fendy.


" Suamimu menjemputmu." Ujar Qilin, pqda Rena lalu membuka pintu.


" Halo pengantin baru." Sapa Qilin dan Fendy tersenyum mendengarnya.


" Terimakasih, dan halo juga Qilin." Ujar Fendy pada Qilin. .


" Mau menjemput istri tercinta? Itu dia sedang duduk." Ujar Qilin.


Rena pun bangun dan mendekat kearah pintu danFendy tersenyum ketika melihat Rena. Sementara Qilin, dia menyingkir dan duduk di ranjang sembari memperhatikan interaksi keduanya.


" Ada apa?" Tanya Rena.


" Vitaminmu belum di minum, sayang." Ujar Fendy, yang dengan lantang menyebut Rena dengan panggilan sayang.


" Oh, aku lupa. Terimakasih." Ujar Rena.


Qilin bisa melihat, disini justru Rena yang masih malu - malu.


" Kalau begitu aku pergi dulu, aku akan datang lagi saat jam makan siang." Ujar Fendy, dan Rena mengangguk.


" Jangan terlalu lelah, oke?" Ujar Fendy lagi, dan Rena mengangguk sembari terkekeh.


Fendy pun akhirnya pergi, dan Rena kembali duduk di ranjang dengan tatapan aneh dari Qilin.


" Ekhem! akhirnya sudah go publik." Ujar Qilin, dan Rena tersenyum malu malu.


Sementara Fendy, dia berjalan sembari tersenyum ketika dia mengingat Qilin tadi. Bukannya masih ada rasa, justru setelah Fendy melihat Qilin lagi tadi, hatinya semakin yakin bahwa dia sudah tidak lagi mencintai Qilin.


Di sini kita bisa melihat, bahwa waktu.. bisa merubah perasaan seseorang dengan begitu singkat, Fendy yang sebelumnya sangat mencintai Qilin, kini justru lebih mencintai Rena.


Jadi.. Jangan khawatir kamu akan selamanya patah hati jika kamu tidak bisa memiliki orang yang kamu cintai, waktu adalah obat terbaik, dan Tuhan.. sudah pasti sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu.


' Terimakasih Qilin, hadirmu benar benar membuat banyak pergerakan bagiku. Kamu gadis pertama yang membuatku manjadi penasaran, dan membuatku jatuh cinta dengan semua tentang dirimu.' Batin Fendy.


' Kamu juga menjadi penyebab aku merasakan sakit hati karena cinta yang di tolak untuk pertama kalinya, juga menjadi orang pertama yang menyebutku pria bren*sek.' Batin Fendy.


' Selamat tinggal.. cinta pertamaku.' Batin Fendy dan melihat kearah kamar Qilin dengan senyuman.

__ADS_1


Sebaik baiknya orang adalah.. orang yang mengakui kesalahannya, dan tidak lari dari kenyataan itu.


TO BE CONTINUED...


__ADS_2