Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 133. Kado Natal.


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Hari yang di tunggu - tunggu mereka pun akhirnya tiba, yaitu hari Natal. Hari ini Qilin, Justin, Dustin, Sierra, Arthur, Agra, Dewi, Lucio, Luca, Malvin, Ian dan Niklaus,melakukan ibadah di Gereja.


Qilin senang karena akhirnya di Natal tahun ini, dia sudah hidup lengkap dan bahagia bersama suami dan keluarganya, di tambah sebentar lagi akan ada seorang anak yang semakin melengkapi cintanya dengan Justin.


'Tuhan, terimakasih untuk semua yang telah kau berikan. Engkau membolak balikan hidupku hingga rasanya aku masih tidak percaya bahwa aku memiliki mereka, orang - orang yang aku cintai dan kasihi.' Batin Qilin.


'Semoga di Natal tahun ini, semuanya akan baik - baik saja. Engkau tidak menghentikan berkatmu, dan terus melindungi keluarga kami. Terimakasih..' Batin Qilin lagi.


Lain dengan yang Qilin doakan dari dalam hatinya, lain pula dengan yang Dustin ucapkan dari dalam hatinya. Dustin menatap Salib besar yang berada di hadapannya, dengan wajah yang sangat serius.


'Cukup sampai disini, Tuhan. Jangan kau siksa aku dengan perasaan bodoh ini. Lihatlah mereka, mereka hidup bahagia, dan aku pun ikut bahagia melihat mereka. Tolong hilangkan perasaan konyol ini, hapuskanlah.. sebab aku tidak ingin ada pertengkaran.' Batin Dustin.


'Aku sudah ikhlaskan dia, dan dia hanya akan menjadi kakak iparku, selamanya.' Batin Dustin lagi.


Justin menggandeng tangan kanan Dustin, karena Dustin berada di sisi kiri Justin. Sementara tangan kanan Justin, menggandeng tangan Kiri Qilin. Mereka semua berdoa bersama di pimpin oleh Pendeta.


Dan setelah ibadah selesai, mereka semua pun langsung pergi dari Gereja. Justin meminta semua orang untuk datang ke kediamannya, dan semua orang pun setuju.


Sesampainya di kediaman Justin, semua orang masuk kedalam rumah dan terpukau dengan pohon Natal yang berhiaskan bola - bola warna merah muda dan biru.


"Wah, kak. Pohon Natalmu Aestetik sekali, seperti lolipop." Ujar Cio, dan semua orang terkekeh.


"Haha, ya.. ayo kita semua makan." Ujar Qilin.


Ya, mau memberi kejutan juga harus liat kondisi, mereka pasti sedang kelaparan karena baru melakukan ibadah di Gereja, jadi mereka makan bersama.


"Mom, Dad, ma, pa dan semuanya, aku punya sesuatu untuk kalian." Ujar Qilin, setelah semua ketika semua orang sudah selesai dengan makan siang mereka.


"Apa sayang?" Tanya Dewi.


Qilin membawa kotak - kotak kado dengan bungkus berwarna merah muda dan biru, lalu membagikannya pada semua orang.


"Apa ini, nak?" Tanya Arthur, sambil melihat kotak kado di tangannya.


"Kado untuk daddy." Sahut Qilin. "Dalam hitungan ketiga, kalian semua boleh membuka kado di tangan kalian." Ujar Qilin lagi.


"Hahaha, oke.. papa jadi tidak sabar membuka kado Natal dari putri papa." Ujar Agra dengan kekehannya.

__ADS_1


"Baiklah, satu.. dua.. tiga, bukalah." Ujar Qilin, dan kemudian tersenyum pada Justin.


Arthur membuka kado untuk yang pertama dan dia mendapatkan baju bayi berwarna biru.


"Hahaha, Daddy dapat baju bayi." Ujar Arthur tertawa.


"Baca tulisan di baju itu dad." Ujar Justin, Arthur pun membuka lebar lebar baju itu dan membacanya.


" Halo, garandpa?" Ucap Arthur dan mengernyit bingung, Arthur sedikit tidak peka dalam hal itu.


"Oh my God! Kak, are you pregnant?" Ujar Luca dengan tatapan berbinar. Semua orang pun langsung terkejut menatap Qilin yang saat ini sedang tersenyum.


Dewi pun membaca kado baju bayi berwarna merah muda yang bertuliskan 'halo oma.' dan menangis terharu.


"Sayang, kamu sungguhan hamil?" Tanya Dewi dan Qilin mengangguk. Semua orang langsung bersorak bahagia.


"Best Christmas ever." Ujar Cio, dan menepuk pundak Dustin yang saat ini juga tersenyum senang.


'Terimaksih, Tuhan. Aku akan menjadi paman terbaik untuk keponakanku.' Batin Dustin, sembari menatap baju bayi berwarna biru bertuliskan 'halo uncle.'


Berbeda dengan keluarga itu yang sedang bahagia dengan kabar kehamilan Qilin, saat ini di tempat lain ada yang sedang sibuk menyusun sekenario.


"Hahahahaha." Tawanya terdengar sangat meriah dan memutar tubuhnya bak sedang berdansa.


"Hm.. Hm.. Hm.. Hm.." Dia melantunkan sendiri nada di setiap gerakannya.


Malam harinya, ketika semua orang sudah pulang, Justin dan Qilin pun duduk dengan santai di sofa. Qilin menyenderkan kepalanya di dada Justin dan mereka sedang menonton film bersama saat ini.


"Sayang, jika kamu lelah kita pindah ke kamar saja." Ujar Justin, sembari mengusap kepala Qilin.


"Aku masih ingin melihat kelanjutan filmnya." Sahut Qilin, lalu mengambil buah yang ada di meja depan nya.


"Baiklah, beri tahu aku jika kamu sudah mengantuk." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.


Tapi sejujurnya saat ini Qilin sedang merasa tidak enak, perasaan nya tidak nyaman seakan akan ada kejadian besar yang terjadi.


'Rasanya sama seperti saat aku ada di pulau terpencil, semoga hanya perasaanku saja.' Batin Qilin.

__ADS_1


Tapi baru saja Qilin membatin, Tiba - tiba, ledakan besar terjadi begitu saja hingga memecahkan kaca - kaca rumah Justin.


"BLEDAM!!" Suara yang begitu keras, Qilin sampai teriak karena terkejut, dan Justin langsung sigap memeluk Qilin untuk melindungi Qilin dari serpihan kaca.


"Justin, apa yang terjadi." Ujar Qilin, dan Justin langsung membawa Qilin pergi.


"Kita di serang, sayang. Ayo kita pergi dulu dari sini." Ujar Justin. Tak lama ledakan kedua terjadi, dan itu menghancurkan sisi belakang rumah Justin.


"Sepertinya kita di kelilingi bom." Ujar Justin, dan Qilin ketakutan. Dia memegang perutnya sambil berlari menggandeng tangan Justin dengan erat.


Justin mencoba menghubungi Ian, tapi tidak terhubung. Anak buahnya juga tidak bisa di hubungi, dan setelah ledakan kedua, ledakan ketiga pun menyusul dan itu tepat di depan Justin dan Qilin.


"BOOM!!! Hahahahaha." Tawa Clins yang melihat pemandangan itu dari atas helikopternya.


Dia melihat tiga spot yang meledak bagai kembang api dari atas dengan senyum puasnya. Adalah kediaman Arthur, Justin dan Dustin.


"Hm.. Hm.. Hm.. Kado dariku adalah yang terbaik, mereka pasti sangat terkejut hingga mati." Ujar Clins sembari bersenandung, benar - benar seorang psikopat.


"Kalian tidak perlu berterimakasih, Your welcome.. ayo pergi!" Ujarnya pada pilot yang mengemudikan helikopternya. Clins pun pergi menjauh dari sana.


Justin terluka sangat parah, kepalanya berdarah hingga darah segar itu mengalir dan menetes di wajah Qilin yang berada di bawahnya.


"Sayang, bangun sayang." Ujar Justin mencoba membangunkan Qilin yang pingsan.


Dengan susah payah Justin bangun dan menyingkirkan runtuhan tembok yang menimpa kakinya dan kaki Qilin. Dia menangis ketika melihat Qilin yang terluka dan berdarah.


"Tidak Tuhan, jangan sampai terjadi apapun pada istri dan anakku." Ujar Justin.


Dengan menahan sakit di kakinya, dia memaksakan dirinya bangun dan mencoba menggendong Qilin dengan susah payah.


"AAARGH!!" Teriak Justin ketika merasakan sakit yang teramat sangat di kakinya, tapi dia tetap memaksa berjalan keluar dari reruntuhan rumahnya.


Mobil pemadam kebakaran dan ambulance langsung datang beberapa saat setelah ledakan terjadi. Paramedis langsung membantu Justin dan mengambil alih Qilin dari gendongan Justin.


"Tolong, istri saya sedang hamil." Ujar Justin, dan paramedis langsung memeriksa kondisi Qilin.


Justin melihat rumahnya yang luluh lantak, lalu dia menatap Qilin yang sedang di periksa oleh dokter, dan dia pun ikut hilang kesadaran.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2