Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 38. Bertemu Sierra dan Arthur.


__ADS_3

Di rumah Qilin, Rena saat ini sedang menangis sendirian. Qilin tidak ada di sana jadi dia tidak memiliki teman curhat.


Fendy berulang kali menghubunginya, begitu juga dengan mantan tunangannya. Mereka berdua sama sama mencari keberadaan Rena, Rena benar benar sedang dalam kesulitan saat ini.


" Bagaimana ini Tuhan." Gumam Rena dalam tangisnya.


Mantan tunangan Rena mengirimi pesan ratusan kali sejak Rena pergi meninggalaknnya di kamar hotel hingga hari ini. Dia mengatakan bahwa dirinya sangat menyesal karena menyelingkuhi Rena.


Setelah Rena pergi, mantan tunangan Rena seperti kehilangan nyawanya. Dia bahkan meninggalkan selingkuhannya di hotel saat itu juga untuk mengejar Rena, namun tak menemukannya.


Sejujurnya Rena sangat mencintai mantan tunangannya itu, meski tidak ada kepastian kapan mereka menikah, tapi Rena tetap bertahan dan bersabar.


Rena ingin memberikan kesempatan kedua pada hubungannya, namun dia merasa dirinya tidak lagi pantas di cintai tunangannya itu, karena dirinya..


" Aku sudah kotor." Gumam Rena dalam tangisanya.


Rena memeluk lututnya sambil menangis di dalam kamarnya, dengan dering ponsel dari mantan tunangannya dan Fendy yang berkali kali menghubunginya.


Hingga pesan dari Fendy yang ke sekian ribu kembali masuk dan Rena melihatnya hanya dengan mengintip dari notifikasi.


' Rena.. kita harus bicara, jika kamu terus menghindariku begini, bagaimana aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku? Aku mengakui aku salah, kita berdua sama sama salah. Aku tidak mencintaimu, tapi aku akan berusaha bertanggung jawab jika sampai terjadi sesuatu kepadamu.'


Begitu isi pesan dari Fendy, Rena kembali menangis tersedu sedu. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, juga tidak mungkin dia bersama Fendy yang adalah teman baik di tempat bekerjanya.


Akhirnya Rena mematikan ponselnya, dan meringkuk di kamar itu sendirian dalam gelap. Dia menangis bahkan sambil tertidur.


Ke esokan harinya..


Qilin bangun dari tidurnya, dan pemandangan yang terlihat pertama kali adalah Justin yang sedang berkutat dengan laptopnya di sebelahnya.


Justin melirik ke kanan, dan ia tersenyum ketika melihat Qilin sudah membuka matanya. Dia pun langsung memindahkan laptopnya ke meja dan langsung mencium lening Qilin.


" Pagi.." Ujar Justin, dan Qilin tersenyum.


" Kamu tidak tidur?" Tanya Qilin.


" Tidur, aku terbiasa bangun sangat pagi " Ujar Justin sambil merapihkan anak rambut Qilin.


Qilin bangun dan duduk, Justin pun meraih segelas air putih dari nakas dan memberikannya pada Qilin. Qilin pun meminum air itu sampai habis tak bersisa.


" Kamu haus, sayang?" Tanya Justin sambil terkekeh.


" Hehe, iya." Ujar Qilin.


" Bersiaplah, lalu kita sarapan. Setelah itu kita akan ke rumah mommy." Ujar Justin dan Qilin melotot terkejut.


" R- rumah orang tuamu?" Tanya Qilin, dan Justin mengangguk.


Qilin pias, dia takut bertemu dengan kedua orang tua Justin.

__ADS_1


" Jangan khawatir sayang, mommy yang memintanya." Ujar Justin.


" Bagaimana beliau tahu aku ada di rumahmu?" Tanya Qilin terkejut.


" Mommy tahu apapun tentangku, sayang." Ujar Justin.


" Jangan takut, kamu hanya perlu bersiap dan menjadi dirimu sendiri, hm?" Ujar Justin, dan Qilin mengangguk dengan ragu.


" Kalau begitu aku mandi dulu." Ujar Qilin, dan Justin mengangguk.


Dan akhirnya setelah selesai sarapan, Justin dan Qillin saat ini sedang berada di perjalanan menuju ke kediaman Arthur. Qilin menjadi begitu tegang ketika mobil Justin sudah memasuki pekarangan rumah Arthur.


'' Ayo, sayang.'' Ujar Justin dan Qilin mengangguk.


Qilin turun, lalu berjalan bersama Justin masuk kedalam kediaman Arthur. Dan yang pertama menyambut kedatangan mereka adalah Malvin yang kebetulan berada di sana.


'' Selamat datang nona Qilin.'' Ujar Malvin ramah.


Qilin masih mengingat Mlavin, pria yang menyuruhnya pergi jauh dari hidup Justin ketika Justin di temukan dulu. Qilin pun mengangguk sambil tersenyum.


'' Terimakasih, tuan.'' Ujar Qilin.


'' Jangan panggil saya tuan, nona.. anda bisa memanggil saya paman Malvin. Saya juga snagat minta maaf sebesar besar nya untuk kejadian di hari itu, karena saya telah mengusir anda untuk pergi menjauh dari tuan muda Justin.'' Ujar Malvin.


'' Tidak apa apa paman, saya tahu anda  hanya melakukan yang terbaik untuk melindungi keluarga anda.'' Ujar Qilin.


'' Kamu sungguh murah hati, nak.'' Ujar Malvin menjadi tidak formal.


Ketika keduanya sampai di ruang tengah, terlihat Sierra yang langsung bangun dari duduknya dan tersenyum manis sambil merentangkan kedua tangan nya.


'' Sayang, kemari.'' Ujar Sierra.


Justun pikir Sierra hendak memeluknya, dia pun berjalan menghampiri Sierra, tapi di lewatkan begitu saja oleh Sierra.  Justin pun heran dan mengikuti kemana Sierra berjalan, yang rupanya dia menyambut Qilin.


'' Selamat datang di rumah, nak.'' Ujar Sierra.


'' Terimakasih, nyonya.'' Ujar Qilin sopan.


'' Eit, kenapa panggil nyonya? panggil mommy, kan mommy mommy nya Justin, jadi mommy kamu juga.'' Ujar Sierra.


Sierra benar benar menjadi sangat ramah, dia bahkan tidak henti hentinya memikirkan nasib Qilin selama ini, Sierra kasihan dengan Qilin dan merasa bersalah kepadanya.


'' Dad, tambah satu putri tidak masalah, kan?'' Tanya Sierra pada Arthur yang sedang duduk.


'' Tidak masalah, Dustin tidak jadi bungsu lagi, dia akan memiliki adik.'' Ujar Arthur, dam Justin memutar bola matanya mendengar ucapan sang Daddy.


'' Dad, Qilin kekasihku.. bagaimana bisa daddy mau menjadikannya sebagai adikku?'' Ujar Justin dan Sierra terkekeh.


'' Salah siapa hanya diam diam saja selama ini, pakai tidak jujur segala dengan mommy dan daddy bahwa kamu ingat dengan Qilin.'' Ujar Sierra.

__ADS_1


" Mommy." Ujar Justin.


" Sudsh bagus mommy tidak menjadikan Qilin sebagai putri mommy, mommy sebenarnya ingin sekali memiliki seorang putri, sebenarnya jika kamu masih saja pura pura lupa dengan Qilin, mommy mau mengangkat Qilin sebagai putri mommy, biar kamu tahu rasa." Ujar Sierra lagi.


" Astaga, kejamnya." Ujar Justin, dan semua orang terkekeh.


" Kemari sayang, panggil mommy, dan panggil daddy pada daddy Arthur." Ujar Sierra sambil menggandeng Qilin untuk duduk di tengah tengah mereka semua.


" Terimakasih.. M- mom.."


" Mommy." Ujar Sierra memantapkan Qilin.


" Maafkan kami, ya? Kami sudah jahat terhadapmu, dengan menuduh kamu sebagai penculik dulunya." Ukar Sierra.


" Tidak apa apa, aku tahu kalian pasti sangat mengkhawatirkan Justin." Ujar Qilin tersenyum.


" Anak baik.. Astaga, mommy benar benar senang bertemu denganmu lagi." Ujar Sierra dan memeluk Qilin.


" Mom, sudah peluk peluknya." ujar Justin, dan Sierra melotot tak percaya.


" Apa apaan anak ini, kamu tidak memperbolehkan mommy memeluk Qilin?" Ujar Sierra tidak percaya.


" Qilin akan merasa tidak nyaman mom." Ujar Justin.


" Tidak, aku suka di peluk." Ujar Qilin, dan itu membuat semua orang melihat kearah Qilin.


" Karena aku tidak pernah di peluk seorang ibu." Ujar Qilin lagi.


Sierra langsung berkaca kaca mendengarnya, dirinya juga tidak merasakan pelukan seorang ibu setelah ibunya meninggal, tapi setidaknya dia merasakan kasih sayang ibunya saat dia kecil.


" Anak malang.." ujar Sierra, lalu kembali memeluk Qilin.


" Sekarang kamu punya mommy, mommy adalah mommy mu, jangan takut sendirian." Ujar Sierra sambil mengusap air matanya.


" Terimakasih, mommy." Ujar Qilin.


Justin dan Arthur saling pandang dan tersenyum melihat pemandangan yang memgharukan di hadapan mereka saat ini. Dua wanita yang mereka masing masing sayangi saling mengasihi.


" Dimana Dustin, dad?" Tanya Justin.


" Adikmu sedang di luar negeri, seharusnya dia kembali hari ini. " Ujar Arthur.


" Kita makan siang bersama, oke? " Ujar Sierra pada Qilin, dan Qilin mengangguk.


' Dia pasti juga di sia sialan oleh keluarga adopsinya, anak yang malang.' Batin Sierra.


Perempuan yang pernah mengalami luka di masa kecilnya, akan lebih mengerti dengan perasaan perempuan lainnya yang memiliki nasib serupa.


Qilin mungkin bukan anak yang tak di anggap, tapi lebih tepatnya anak yang di buang. Sama sama menyakitkan ketika mengingat mengapa orang tua mereka melakukan hal demikian.

__ADS_1


Dan sebagai wanita yang lebih dewasa, Sierra ingin menyayangi Qilin, walau mereka baru di pertemukan sekarang, tapi setidaknya Qilin akan merasakan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah dia rasakan, dari Sierra.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2