
Qilin mengeratkan genggaman senjata apinya pada Luca, dan tatapan nya pun menjadi bengis.
" Kau salah jika menganggap aku adalah Mia yang dulu, Mia yang dulu sudah mati." Ujar Qilin, dan langsung menembak Luca.
Tapi Luca menghindar, dan anak anak buah Luca juga langdung menyerang Qilin.
" JANGAN SAKITI MIA!!" Teriak Luca pada anak buahnya.
Akhirnya semua anggota Luca di sana tewas karena Qilin menembaki mereka satu persatu hingga tersisa hanya Luca seorang.
" Mia, kamu sudah puas? Kamu membunuh semua anak buahku, dan aku hanya membunuh kedua orang tuamu, bukankah itu lebih dari adil?" Ujar Luca.
" Tidak, sebelum aku membunuhmu." Ujar Qilin dan kembali menyerang Luca.
Karena pelurunya habis, Qilin pun menyerang Luca dengan belati di tangannya. Kecepatan, ketangkasan dan keseimbangan tubuh Qilin mampu membuat luka di wajah Luca.
" Mia, kamu menyakitiku." Ujar Luca.
" Karena itu yang Mia asli inginkan. B*jingan sepertimu, harus mati." Ujar Qilin.
' Anggaplah aku sedang mendidik adikku yang laknat, orang salah harus di hukum.' Batin Qilin.
" Apa maksudmu Mia asli, kamu Mia asli." Ujar Luca.
" Qilin!" Teriak sebuah suara, Cio.
" Qilin? Cio.. dia Mia." Ujar Luca.
" Dia Qilin." Ujar Cio.
Disini Qilin adalah pihak yang paling bingung. Cio muncul di tempat itu dan tampak akrab dengan Luca yang notabenenya adalah musuh Qilin, tapi Cio juga membantunya.
" Cio, kamu mengenalnya?" Tanya Qilin.
" Mia, Cio adalah adikku, kamu lupa?" Tanya Luca.
" Apa apaan ini, kamu adik Luca?" Tanya Qilin.
" Kakak, dia Qilin.. bukan Mia." Ujar Cio tidak menanggapi ucapan Qilin.
Qilin merasa paling di bodohi disini, Cio yang dia anggap orang baik adalah putra Agra. Kini dia melawan kedua adiknya sendiri.
" Lepaskan kakakku, Qilin.. Atau aku akan membunuh mama." Ujar Cio tiba tiba.
" Kau menipuku, Lucio?? " Ujar Qilin tidak habis pikir.
" Jadi dia bukan Mia? " Ujar Luca dengan kecewa.
" Pergilah, atau aku bunuh saja mama di hadapanmu?" Ujar Cio, dan menarik sebuah kursi roda dimana Dewi sedang duduk namun mulutnya di lakban.
" Mmm! Mmm! " Ujar Dewi dengan tangis histeris, dan menggelengkan kepalanya.
" Coba saja, maka aku akan membunuh kakakmu." Ujar Qilin dan langsung memasang belatinya di leher Luca.
" Jangan sakiti mama, adik! Apa yang kamu lakukan!" Teriak Luca.
__ADS_1
" Lucu bukan?? Seharusnya kita adalah keluarga, kita kakak beradik. Meski kita beda ayah, tapi ibu kita sama.. Kita lahir dari rahim yang sama." Ujar Lucio.
Cio membelai wajah Dewi dan tersenyum, Dewi hanya bisa menangis histeris tanpa bisa berbuat apa apa.
" Pilihlah.. " Ujar Cio.
Qilin dan Luca pun menjadi ikut bingung dengan apa yang Cio maksud.
" Qilin, jika kamu membunuh kakakku, maka aku akan membunuh ibu kita." Ujar Cio.
" Adik! Jangan gila dengan mempertaruhkan nyawa mama! Mama tidak boleh terluka." Ujar Luca.
Qilin tertegun mendengarnya, Luca begitu mementingkan nyawa ibunya, Luca menyayangi ibunya. Qilin pun melepas belati di leher Luca.
" Tidak bisakah kita damai?" Ujar Qilin tiba tiba.
" Aku tidak sudi mama memiliki anak lain, kamu harus mati!" Ujar Luca dan menyerang Qilin.
Dewi menjadi panik melihat Qilin dan Luca berkelahi, Cio pun akhirnya turun tangan hendak memisah mereka. Saat Luca berhasil merah belati dan hendak menancapkannya pada Qilin, Cio justru menghalaunya dan berakhir Cio yang tertusuk.
" Ugh!!" Cio kesakitan.
" Cio!" Teriak Qilin.
" Adik!" Teriak Luca.
Sementara Dewi, tangisnya kian menjadi jadi melihat ketiga anaknya itu, dia tidak mau ketiga anaknya saling bermusuhan.
" Adik! Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu melindunginya!" Teriak Luca panik.
" Cio.." Gumam Qilin.
Cio sekarat karena yang Luca menusuk dengan begitu dalam hingga Cio mengeluarkan banyak darah.
" Qilin.. bukan, Kakak.. aku Lucio adikmu, yang juga sangat menyayangimu." Ujar Lucio dan Qilin langsung terisak saat itu juga.
" Cio! Bertahanlah.. kamu akan baik baik saja." Ujar Qilin dan langsung bangun lalu berlari memanggil J.
Cio menggenggam tangan Luca dan menatap Luca yang saat ini berwajah dingin.
" Kamu mengorbankan nyawamu demi dia?" Tanya Luca, dan Cio mengangguk.
" Ja- jangan begini kak.. dia kakak kita." Ujar Cio.
" Aku minta padamu, jika aku mati.."
" Kamu tidak akan mati, kamu tidak akan mati, adik." Ujar Luca.
" Dengar.. J- jika aku mati.. Damailah dengan diri kakak, jangan ikuti apa yang papa lakukan. Kita keluarga kak, seharusnya kita bersatu, bukan begini.." Ujar Cio.
" Mama sangat menyayangi kakak, sangat sangat menyayangi kakak.." Ujar Cio, dan Luca melihat kearah Dewi.
Dewi pun manganggukan kepalanya dengan keras sambil menangis tersedu sedu.
" Air matanya, adalah untuk kita.. Kesedihan, hati, pikirannya, semuanya adalah untuk kita anak anaknya. Mama tidak pernah pilih kasih, hanya saja.."
__ADS_1
" Hanya saja Qilin tidak pernah mendapatkan sedikitpun kasih sayang mama.." Ujar Cio.
Luca meneteskan air matanya mendengar itu, dia selalu di tutupi rasa benci pada Qilin selama ini.
" Berjanjilah, kak.. Sayangi Qilin, seperti kakak menyayangiku." Ujar Cio sambil semakin sekarat.
" Kakak janji." Ujar Luca, dan Cio tersenyum lalu hilang kesadaran.
" Cio.. Cio bangun, Cio.. CIO!!" Teriak Luca.
Dan saat itu juga, Qilin datang bersama J dan Niklaus, J langsung ikut menanis terisak, dan Niklaus langsung menghampiri Cio.
" Ayo bawa ke rumah sakit." Ujar Niklaus, dan Luca mengangguk.
Dan akhirnya semua orang sedang berkumpul di rumah sakit saat ini, Qilin berada di pekukan Dewi dan Luca menundukkan kepalanya. Niklaus dan J hanya bisa berdiri dan bersedih dengan langkah yang Cio ambil.
Cio ingin keluarganya damai, meski awalnya Cio ingin menyingkirkan ayah dan kakaknya sendiri, tapi ketika Luca mengatakan bahwa Luca menyayanginya, Cio menjadi berpikir ulang.
Cio juga sengaja membuat Qilin menjadi seperti Mia, karena itu adalah luka Cio.. Mia adalah obsesi terbesar Cio, jadi Cio ingin menghukum Luca dengan Qilin yang berpenampilan seperti Mia.
Rencana yang awalnya Cio buat, kini berakhir tidak sesuai dengan apa yang dia rencanakan, dan justru membuat dieinya sendiri yang menjadi korban.
" Kenapa dokter belum keluar." Gumam J pada Niklaus. Niklaus pun hanya bisa menggeleng.
Dewi melepas pelukannya dari Qilin dan berjalan menghampiri Luca yang tampak sangat terluka. Sentuhan halus di bahu Luca membuat Luca mengangkat wajahnya dan menatap Dewi.
" Maafkan mama, sayang." Ujar Dewi, dan seketika itu juga tangis Luca pecah.
Dewi memeluk Luca dan Luca pun membalas pelukan Dewi dengan memeluk perut Dewi.
" Mama menyayangi kamu, mama menyayangi kalian semua anak anak mama. Mama tidak bermaksud pilih kasih.. Mama sayang kalian semua." Ujar Dewi sambil menangis.
" Papamu adalah alasan mengapa mama ingin pergi dari kalian, mama tahu papa mencintai mama, tapi caranya salah. Sebagai seorang ibu, mama tidak mungkin sampai hati melupakan anak mama yang lain." Ujar Dewi.
" Mama hanya ingin kita menjadi keluarga, tapi papamu tidak mau dan justru mengancam akan membunuh Qilin. Mama tidak mau itu terjadi, anak anak mama haruslah saling menyayangi." Ujar Dewi lagi.
Luca menjadi sadar, memang papanya yang tidak pernah memberi Dewi kebebasan, apapaun itu harus papanya yang mengatur.
" Bisakah kamu terima Qilin sebagai saudarimu?" Ujar Dewi.
Luca menatap Dewi, dan Dewi menghapus air mata Luca. Luca pun memgangguk, dan Dewi kembali menangis bahagia.
" Terimakasih, sayang." Ujar Dewi, dan kembali memeluk Luca.
Luca menatap Qilin yang ikut menangis terharu, lalu bangun dari duduknya dan menghampiri Qilin. Qilin pun berdiri karena dia masih sedikit takut jika Luca akan labil.
" Kakak.." Ujar Luca dan memeluk Qilin.
Dewi ikut memeluk kedua anaknya itu, dan menatap pintu ruang operasi dimana saat ini satu anaknya lagi sedang berjuang antara hidup dan matinya.
Saudara tiri seringnya tidak mau berbaikan karena satu dan lain hal, entah itu merasa kasih sayang orang tuanya terbagi, merasa di kucilkan orang tuanya yang akhirnya berakhir menjadi iri dan benci.
Ada baiknya sebagai orang tua, harus mengimbangi dan menengahi anak anak nya, beri mereka kasih sayang yang sama rata, jangan di beda bedakan agar tidak timbul sifat permusuhan diantara anak anaknya.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1