Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 117. Menjinakan singa (Justin ) yang marah.


__ADS_3

Justin masih berada di ruang rapat saat ini, suasana di sana begitu tegang karena Justin sedang marah pada para bawahannya. Dan rupanya itu sudah memakan waktu selama lebih dari dua jam.


" Saya membayar kalian bukan untuk bersantai dan saling melimpahkan pekerjaan pada rekan kalian yang lain, jika sudah tidak mau bekerja di perusahaan ini, maka silahkan keluar." Ujar Justin.


Semua orang tampak menunduk takut, rupanya Justin sudah menikah dan bulan madu pun masih bisa seketat itu dengan parusahaan nya.


" Dengar tidak!" Bentak Justin.


" Ya CEO." Ujar semuanya.


Ian melihat Qilin dari kaca, dan ia pun memiliki ide untuk membubarkan ketegangan itu. Ian keluar dari ruangan dan menghampiri Qilin.


" Nyonya kakak ipar, tolonglah kami." Ujar Ian pada Qilin.


" Ian? Ada apa?" Tanya Qilin bingung.


" Suamimu sedang menjadi singa ganas saat ini, semua orang jadi ketakutan. Bisakah kamu membantu kami?" Ujar Ian.


" Bagaimana caranya, aku tidak pernah membujuk dia marah." Ujar Qilin.


" Ikut aku saja." Ujar Ian dan mengarahkan jalan pada Qilin.


Pintu terbuka dan Qilin masuk, Qilin melihat semua orang yang tampak sedang menunduk karena di marahi oleh Justin.


" Justin." Panggil Qilin, dan Justin mengalihkan pandangannya.


" Sayang, kamu disini?" Ujar Justin yang langsung berubah ke mode lembut.


Semua orang di ruangan itu sampai terkejut dengan perubahan suara dan aura Justin, yang sebelumnya seperti singa menjadi lembut penuh kasih sayang.


Justin berjalan menghampiri Qilin, lalu memeluk Qilin dan mencium kening Qilin.


" Kenapa datang kemari, hum?" Tanya Justin dengan penuh kasih sayang.


" Aku bosan." Sahut Qilin.


" Maaf, ya.. Aku lama. Kalau begitu ayo kkta pergi." Ujar Justin.


" Apakah rapatmu sudah selesai?" Tanya Qilin.


" Karena nyonya ada di sini, biar saya yang melanjutkan." Ujar Ian.


" Hm, lanjutkan." Ujar Justin pada Ian.


Justin sampai lupa ada Qilin di ruangannya yang sedang menunggunya. Jika hukan karena semua bawahannya bermasalah, dia tidak akan mematok lama - lama di sana.


" Ayo sayang." Ajak Justin dan pergi dari ruang rapat.


Setelah Justin dan Qilin berjalan pergi, dan semua orang bernafas lega. Justin benar benar membuat mereka kesulitan bernafas hanya dengan duduk di kursinya saja.


" Terimakasih asisten Ian." Ujar salah seorang karyawan.


" Bukan aku yang berjasa, tapi nyonya CEO kalian. Hanya dia yang bisa meredam kemarahan CEO." Ujar Ian.


" Memang nyonya CEO terbaik." Ujar salah seorang karyawan itu.

__ADS_1


" Tapi bukan berarti kalian bisa bersantai, apa yang CEO katakan, lakukan dengan baik. Aku tidak memiliki wewenang apapun, dan hanya melanjutkan apa yang dia atur." Ujar Ian.


" Baik, asisten Ian. " Ujar semua orang.


Sementara itu, Justin dan Qilin saat ini kembali ke ruangan Justin. Tanpa aba aba, Justin menggendong Qilin begitu saja dan Qilin terkekeh karenanya.


" Tuan Justin yang terhormat, jika kenapa saat kamu marah wajahmu mengerikan, hum? Kau menakuti semua orang." Ujar Qilin saat Justin menggendongnya.


" Mengerikan??" Tanya Justin tidak percaya.


" Hum, seperti singa yang sedang marah." Ujar Qilin, dan Justin terbahak karenanya.


" Nakal." Ujar Justin.


Justin membawa Qilin masuk kedalam ruang istirahatnya, kemudian dia menutup ruangan itu.


" Kenapa kita masuk kemari? Bukankah kamu masih harus bekerja?" Tanya Qilin.


" Ada yang lebih penting yang harus aku kerjakan." Sahut Justin.


Justin merebahkan Qilin di ranjang, lalu mereka saling bertatapan saat ini.


" Apa yang lebih penting?" Tanya Qilin.


" Menghukum kucing kecil yang nakal." Ujar Justin dan mencium Qilin hingga Qilin terkekeh karena kegelian.


" Hahaha, Justin geli." Ujar Qilin.


" Singa ini sedang lapar, sayang." Ujar Justin.


" Kamu lapar? kita belum lama makan." Ujar Qilin.


" Lalu??" Tanya Qilin bingung.


Justin tidak menjawab, tapi kemudian dia membelai rambut Qilin yang menutupi wajah Qilin, Qilin sampai memejamkan matanya karena merasa merinding dengan sentuhan Justin.


Mereka kemudian saling tatap, dan Justin menyatukan bibirnya pada bibir Qilin. Ciuman lembut itu menjadi kian memanas, dan nafas Justin kininsemakin berat.


" Bolehkah, sayang?" Tanya Justin.


" Hm." Sahut Qilin menganggukan kepalanya.


Akhirnya mereka pun melakukan pergulatan manis mereka sore itu. Justin si singa lapar itu mendapatkan makanan manisnya.


Dan setelah beberapa saat berlalu, Justin terlihat menciumi pundak polos Qilin yang sedang tertidur pulas di pelukannya.


' Aku sangat tidak sabar memiliki versi kecil dari dirimu, sayang. Mereka pasti akan sangat lucu dan menggemaskan.' Batin Justin.


Justin mengusap perut Qilin yang masih rata, dan itu membangunkan Qilin dari tidurnya. Qilin bangun karena merasakan sentuhan tangan Justin di perutnya.


" Sudah bangun, sayang?" Bisik Justin.


" Umh, astaga ini sudah malam." Ujar Qilin ketika melihat jendela ruangan itu yang gelap.


" Tidak apa - apa, mau bermalam di sini juga tidak apa apa." Ujar Justin dan kembali menciumi pundak Qilin yang polos.

__ADS_1


" Jangan, aku tidak memiliki baju di sini." Ujar Qilin.


" Kalau begitu kita pulang saja." Ujar Justin dan Qilin mengangguk.


" Aku mandi dulu." Ujar Qilin, dan Justin mengangguk.


Tapi akhirnya justru Justin ikut menyusul Qilin ke kamar mandi dan mandi bersama. Tapi mereka tidak benar benar mandi bersama, mereka melakukan ( itu ) sekali lagi, sebelum akhirnya benar benar mandi dengan benar.


" Jahat." Ujar Qilin.


Saat ini Qilin sedang duduk di ranjang dengan Justin yang terkekeh sambil memakai kemejanya.


" Maaf, sayang." Ujar Justin.


" Sekarang aku tidak bisa berjalan dengan benar, kakiku lemas." Ujar Qilin.


Justin terkekeh, lalu mengusap kepala Qilin sambil terkekeh.


" Kalau begitu biar aku gendong saja." Ujar Justin.


" Malu.. nanti ada yang melihat." Ujar Qilin tidak mau.


" Tidak akan ada sayang, ini sudah malam, semua karyawan sudah pulang. Ayo.." Ujar Justin, dan menggendong Qilin.


" Lain kali aku tidak mau melakukannya di kamar mandi, itu melelahkan." Gumam Qilin.


Justin masih terus terkekeh karena Qilin yang sedang mengomel itu terlihat begitu menggemaskan.


" Iya, sayang.. aku minta maaf, dan tidak akan melakukan ( itu ) di kamar mandi lagi." Ujar Justin, dan mencium kening Qilin.


Mereka pun berjalan dan turun dari gedung. Dan benar yang hustin katakan, sudah tidak ada karyawan perusahaan di sana, hanya ada penjaga yang sedang berpatroli karena memang itu sudah malam.


Justin memasukkan Qilin kedalam mobil dengan sangat hati hati, lalu baru dirinya yang masuk kedalam mobil.


" Ingin makan sesuatu?" Tanya Justin.


" Mmm.. aku ingin makan makanan bakar di pinggir jalan, makanan favorit kita dulu." Ujar Qilin.


" Baik... kalau begitu kita kesana." Ujar Justin.


Qilin langsung sumringah mendengarnya, dia sudah lama tidak memakan makanan jalanan dan selalu makan makanan sehat.


Mobil pun berjalan membelah jalanan kota dan menuju ke tempat dimana Qilin dan Justin dulu sering membeli jajanan malam.


Qilin yang sebelumnya lemas, menjadi semangat dan berjalan dengan stabil menuju penjual makanan itu.


" Halo bibi, beli bakarannya." Ujar Qilin.


" Halo, wah kamu baru kelihatan lagi, nak." Ujar bibi penjual itu.


" Ya.." Sahut Qilin.


" Dia, kalian bersama lagi pada akhirnya? " Ujar Bibi penjual.


Qilin tersenyum. " Ya, kami sudah menikah, bi." Sahut Qilin.

__ADS_1


" Dan sekarang istriku sedang hamil." ujar Jistin menimpali, Qilin pun terkejut mendengarnya.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2