Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 128. SELAMAT.


__ADS_3

Qilin dan Sierra semakin ketakutan, dan ponsel Sierra juga tidak berguna sama sekali. Tidak ada sinyal, dan bahkan sinyal alarm untuk memberi kode bahaya juga tidak berfungsi dengan baik.


Qilin dan Sierra sudah ketakutan ketika para anak buah Clins mendekat kearah mereka. Tapi tiba tiba telihat mereka tewas dengan luka tembak ketika seseorang datang dari luar.


"Justin.." Ujar Qilin, karena melihat sosok Justin yang dengan gagah berani menembaki setiap penyusup itu.


Tapi Sierra mengenal sosok itu, dia bukan Justin, melainkan "Dustin, sayang. Dia bukan Justin." Ujar Sierra.


"Dustin?" Gumam Qilin, dan Sierra mengangguk.


Terlihat Dustin mengotak atik layar laptopnya dan sistem kembali menyala seperti sedia kala.


"TET! TET! TET!" Kode bahaya menyala setelah Dustin perbaiki.


" Mom, Qilin." Panggil Dustin.


Sierra pun keluar dari ruangan itu dan langsung berhambur ke pelukan Dustin.Dia merindukan putranya itu.


"Sukurlah kamu datang, nak. Mommy dan Qilin kebingungan." Ujar Sierra.


"Mommy." Gumam Dustin sembari memeluk Sierra erat.


"Kamu pulang?" Tanya Sierra.


"Ya, kakakku selalu meneleponiku untuk pulang, jadi aku pulang." Sahut Dustin.


"Bagaimana dengan di luar?" Tanya Qilin.


" Tidak apa - apa, anak buahku sudah mengurusnya." Ujar Dustin, dan Qilin tersenyum.


" Kring!!" Bunyi ponsel Sierra. Akhirnya ponsel itu juga mendapatkan sinyal setelah Dustin memperbaiki sistem.


" Halo dad." Ujar sierra setelah menerima panghilan dadi Arthur.


" Ya, ada penyusup. Unrungnya Dustin datang tepat waktu." Ujar Sierra.


Selama Sierra sibuk menelepon Arthur, Dustin menatap Qilin yang wajahnya saat ini masih sedikit panik.


"Kamu tidak apa - apa, kak?" Tanya Dustin pada Qilin yang memanggil Qilin dengan sebutan kakak.


"Aku tidak apa apa, terimakasih sudah datang tepat waktu, Dustin." Ujar Qilin, dan Dustin tersenyum mendengarnya.


"Mereka adalah musuh yang sedang kami cari, dia datang kemari karena tahu kak Justin sedang tidak ada di tempat." Ujar Dustin.


"Untuk sementara, lebih baik kakak tinggal di kediaman utama, di rumah mommy." Ujar Dustin lagi. Tanpa berpikir dua kali, Qilin langsung menganggukan kepalanya.


"Persiapkan barang - barang kakak, lalu kita pergi sekarang juga." Ujar Dustin, dan Qilin mengangguk.

__ADS_1


Qilin pun mulai mencari koper, Dustin tetap berdiri di sana untuk melindungi Qilin kalau kalau ada anak bua Clins lagi yang tersisa.


Dustin melihat banayk perubahan pada Qilin, secara fisik, wajah, dan semuanya masih sama. Hanya saja Dustin merasa Qilin terlihat lebih dan lebih cantik saat ini, mungkin karena hormon kehamilan.


Sierra menepuk pundak Dustin, dan menggelang. Sierra seakan memberi tahu Dustin untuk tidak melihat Qilin terlalu lama, dan Dustin mengangguk.


"Kita akan ke kediaman utama, mom." Ujar Dustin dan Sierra mengangguk.


"Apakah pelakunya tertangkap?" Tanya Sierra.


"Anak buahnya semuanya tertangkap, hanya saja dalangnya belum." Ujar Dustin.


"Aku sudah siap." Ujar Qilin, dan Dustin langsung membantu Qikin menyeret koper itu.


Mereka semua pun pergi dadi kediaman Justin, Qilin melihat jasad - jasad yang bergeletakan dan darah yang berada di mana - mana.


Dustin heran, karena Qilin tampak biasa saja dan tidak takut sama sekali dengan pemandangan itu. Tapi dia tidak bertanya dan melanjurkan langkah mereka.


Sementara itu, di hutan..


Justin merasakan perasaan nya tidak enak sejak tadi, tapi dia tetap fokus dan tetap menjalankan kegiatannya dengan para anak buahnya.


"Dimana senjatamu?"Ujar Justin pada salah satu anak buahnya.


"Maaf kapten, tertinggal di camp." Sahut anak buah Justin.


" Siap, kapten." Ujarnya. Posisi mereka saat ini ada di bawah tebing buatan, mereka akan melakukan panjat tebing malam - malam.


' Perasaanku tidak enak, Tuhan. Tolong jangan sampai terjadi sesuatu dengan istri dan anakku.' Batin Justin.


Tiba tiba Ian datang dan menepuk pundak Justin. "Kak, Ben datang." Ujar Ian pada Justin.


"Ben? Apakah Dustin pulang?" Tanya Justin, dan Ian mengangguk.


"Lebih baik kakak temui Ben, dia ingin bicara denganmu, biar aku yang memantau mereka." Ujar Ian.


Justin mengangguk, lalu kemudian dia pun pergi menuju ke camp mereka. Justin melihat Ben yang sedang duduk, lalu berdiri ketika melihat Justin tiba.


"Tuan." Ujar Ben menunduk.


"Apakah Dustin pulang?" Tanya Justin, dan Ben mengangguk.


"Ya, tuan." Ujar Ben. Tapi wajah Ben menunjukan ke khawatiran, Justin pun jadi semakin penasaran.


"Apakah terjadi sesuatu pada Dustin?" Tanya Justin, dan Ben menggelengkan kepalanya.


"Bukan tuan, tuan Dustin baik - baik saja, justru nyonya muda yang.."

__ADS_1


"Ada apa dengan istriku?!" Ujar Justin langsung memotong Ben.


"Kediaman tuan tadi di serang oleh the Wolf. Mereka pintar dan canggih tuan, dengan teknologi, dia menyabotase keamanan dan sinyal di rumah. penembak jitu bahkan tidak ada yang selamat." Ujar Ben, dan Justin langsung pias.


"Beruntungnya kami sudah sampai di tanah air dan menyadari keanehan dengan sistem TITANES, kami langsung datang ke rumah tuan dan kami melihat kekacauan itu." Ujar Ben.


"Apa istriku baik - baik saja?" Tanya Justin.


"Nyonya baik - baik saja tuan, mereka pindah ke kediaman utama." Ujar Ben, tanpa berkata apa apa lagi, Justin langsung bergegas menuju ke camp.


Justin terlihat langsung melepaskan alat - alat yang menempel di tubuhnya dan mengambil jaketnya kemudian keluar dari camp.


"Aku harus pulang, lanjutkan pelatihan." Ujar Justin, dan Ben mengangguk.


Justin langsung pergi dengan motornya dan melesat dengsn cepat kelusr dari hutan itu tanpa pengawalan dadi satupun anak buahnya.


Sementara itu di tempat lain, di sebuah ruangan yang gelap, Clins saat ini sedang marah karena dia gagal melancarkan aksinya.


"Kembarannya kembali di saat yang tidak tepat, sial!" Gumamnya.


Dan seorang perempuan masuk kedalam ruangan itu dengan baju tidur kimono yang menggoda. wanita itu langsung duduk begitu saja di pangkuan Clins, dan Clins langsung menciumi bagian dada wanita itu.


"Aku akan kembali mengincarmu, Lucifer. Akan aku pastikan kau mati di tanganku, tapi sebum itu aku akan membuatmu sengsara dengan melihat orang - orang yang kau sayangi mati satu persatu." Ujarnya.


Clins kemudian langsung merobek baju wanita di pangkuannya dan membawa perempuan itu ke ranjang.


Sementara itu, Justin sampai di rumah setelah 3 jam berkendara, dia sampai setelah jam 4 pagi, dan langsung berlari masuk kedalam rumah.


Justin langsung berlari keatas dan membuka pintu kamarnya, tapi tidak bisa karena di kunci dari dalam.


Dan dari dalam kamar, Qilin terbangun ketika ada yang mencoba mbuka pintu kamarnya. Dia langsung mengambil senjata api di bawah bantalnya dan turun dari ranjang.


"Apa kediaman ini juga di masuki orang?" Gumam Qilin dan menjadi sangat waspada.


Qilin mendengar pin pintu kamar Justin yang di tekan dari luar, dan suaranya benar, Qilin langsung mematikan lampu dan menarik pelatuk senjata apinya dan sudah bersiap menembak.


Pintu terbuka dan terlihat bayangan pria yang masuk. "Sayang, Qilin." Ujar suara itu, dan Qilin langsung bernafas lega mendengar suara yang sangat di kenalinya.


"Justin." Ujar Qilin dan menyalakan lampu. Justin langsung menutup kembali pintu dan berlari menghampiri Qilin lalu memeluknya.


"Sayang, sukurlah tidak terjadi apa - apa padamu." Ujar Justin, Qilin yang sebelumnya tidak menangis, menjadi menangis setelah melihat Justin.


"Justin, aku takut." Ujarnya mengadu.


"Jangan takut sayang, aku sudah pulang." Ujar Justin meemluk dengan erat istrinya itu.


Qilin mungkin kuat sebelumnya, tapi dia juga kuat demi anaknya yang berada di dalam perutnya, hingga dia lupa dengan rasa takutnya. Dia lega ketika melihat Justin datang, jadi emosi di hatinya meledak dan menjadi tangis lega.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2