
Cio dan Niklaus langsung pergi menuju ke hutan dimana Dustin berada, malam itu dia harus memberitahukan apa yang dia ketahui.
Cio sampai di hutan, dan dia langsung berjalan masuk bersama Niklaus kedalam hutan, tiba tiba ada beberapa anak buah Dustin yang berjaga di sana menghadang mereka.
"Siapa kalian?" Ujar mereka sembari menodongkan senjata.
"Katakan pada kak Dustin, Lucio Khan datang." Ujar Cio pada anak buah Dustin.
"Lucio Khan? Apakah anda saudara nyonya Qilin?" Tanya anak buah Dustin, dan Cio mengangguk.
"Maaf tuan muda Lucio, kami tidak mengenali anda." Ujar anak buah Dustin, dan Cio tersenyum memaklumi.
Anak buah Dustin pun langsung mengantar Cio masuk ke pedalaman hutan dan terlihat Dustin yang sedang mengawasi anak buahnya.
"Tuan, ada tuan Lucio Khan." Ujar Anak buah Dustin, Dustin melirik kearah Cio lalu tersenyum.
Dustin menyuruh Ben mengawasi yang lain, sementara dia menghampiri Cio yang sedang berdiri.
"Cio, ada apa kamu datang kemari?" Tanya Dustin.
"Dimana camp mu, aku lelah dan ingin beristirahat." Ujar Cio, dan Dustin terkekeh.
"Ayo ikut aku." Ujar Dustin, dan Cio pun mengikuti Dustin. Hingga akhirnya mereka sampai di camp dan masuk ke ruangan Dustin.
"Aku yakin kedatanganmu kemari bukan hanya karena ingin melihat camp ku, bukan?" Tanya Dustin, dan Cio terkekeh.
"Memang seorang Lucifer." Ujar Cio.
"Aku bukan Lucifer, Lucifer adalah Justin." Ujar Dustin, tapi Cio menggeleng.
"Kak Justin adalah Lucifer, tapi kak Dustin juga, Kalian sama sama hebat." Ujar Cio.
"Aku kemari karena ada hal penting yang harus meminta bantuan kakak, tapi jangan sampai kakakku dan kak Justin tahu." Ujar Cio, dan Dustin mengernyitkan keningnya.
"Ada apa?" Tanya Dustin.
"Clins Wijaya.. dia ingin menghancurkan seluruh keluarga Edward." Ujar Cio, dan Dustin terkejut mendengarnya, bukan terkejut tentang Clins, tapi terkejut karena Cio tahu tentang Clins.
"Ya, aku sudah tahu. Tapi dari mana kamu tahu?" Tanya Dustin.
__ADS_1
"Kakakku menikah dangan kak Justin yang notabenenya adalah seorang pemimpin mafia, sudah pasti kak Justin memiliki banyak musuh, dan aku hanya melindungi kakakku."Ujar Cio.
"Apapun yang terjadi dengan kakakku, aku akan tahu. Kemarin aku sedikit kecolongan, tapi lain kali tidak akan." Ujar Cio lagi.
Dustin menganggukan kepalanya, dia mengerti apa yang Cio rasakan. Tapi kemudian Dustin berpikir, 'Apa dia juga tahu tentang perasaanku pada Qilin?' Batin Justin.
"Clins bukan orang sembarangan, jadi kita juga tidak bisa sembarangan menghadapinya. Dia psikopat sesungguhnya, yang mengincar keluarga Edward." Ujar Lucio.
"Dia ingin membalas dendam atas sakit hatinya, dia adalah anak dari wanita yang pernah ayahku hancurkan." Ujar Dustin, dan Cio terkejut.
"Kalau begitu kita hanya harus menyusun rencana, untuk bagaimana caranya kita menyingkirkan dia. Aku yakin dia memiliki seribu cara untuk kembali menyerang." Ujar Cio, dan Dustin mengangguk.
"Terimakasih Cio." Ujar Dustin.
"Jangan berterimakasih, keluarga kakakku, adalah keluargaku. Oh, ya.. dan aku juga ingin memberi tahu bahwa aku sedang berpura - pura menjadi rekan dari Clins, jadi kemungkinan aku akan sedikit menyusahkan kakak." Ujar Cio.
"Jangan khawatir." Sahut Dustin, dan Cio mengangguk.
"Aku pergi dulu." Ujar Cio, lalu kemudian bangun dan pergi dari camp Dustin.
'Sepertinya dia tidak tahu bahwa aku memiliki perasaan pada Qilin, baguslah.' Batin Dustin.
Dan pagi harinya..
Justin bangun lebih dulu karena dia bermimpi buruk. Seumur hidup, tidak pernah dia bermimpi begitu mengerikan. Mungkin dia pernah bermimpi mengerikan, tapi tidak semengerikan mimpinya hari ini.
'Apa - apaan, kenapa mimpiku buruk sekali.' Batin Justin.
Justin melihat Qilin yang masih setia dalam tidurnya, dia pun mendekap Qilin seakan mereka baru berpisah lama sekali. Justin bahkan masih merasakan kesengsaraan dari mimpinya tadi.
Dan karena gerakan - gerakan Justin, Qilin pun terbangun. Qikin merasakan tangan Justin yang melingkar di perutnya seperti orang yang ketakutan.
"Sayang.." Panggil Qilin. Dan Justin terkejut karena Qilin bangun.
"Hm?? Iya sayang, kamu bangun, apa aku membangunkanmu?" Tanya Justin, dan Qilin mengangguk.
Qilin berbalik badan, dan menghadap Justin yang saat ini terlihat sangat sedih. "Ada apa?" Tanya Qilin.
"Tidak ada apa - apa sayang." Ujar Justin, dia enggan mengakatakan bahwa dia saat ini sedang ketakutan karena mimpinya sendiri.
__ADS_1
"Tapi kamu terlihat tidak baik - baik saja, mau cerita?" Tanya Qilin dengan lembut, dan mengusap wajah Justin.
"Aku hanya bermimpi buruk, sangat - sangat buruk sampai aku masih merasakan kesengsaraan diriku di mimpi itu." Ujar Justin, dan Qilin tertegun.
"Jangan di bicarakan, sayang.. aku takut kamu akan memikirkannya, itu hanya sebuah mimpi lagi pula." Ujar Justin, dan mendekap Qilin, dan Qilin mengangguk.
"Tidurlah lagi, ini masih terlalu pagi." Ucap Justin sembari mengecup kening Qilin.
"Kamu juga." Ujar Qilin, dan Justin mengangguk. Tapi Justin tidak benar - benar tidur, dia masih saja memikirkan mimpinya.
'Tuhan, jangan sampai terjadi sesuatu kepada istriku dan keluargaku.' Batin Justin.
Justin mengusap - usap punggung Qilin tapi rupanya Qilin tidak kembali tidur, dia kembali membuka matanya. Justin pun terkekeh melihat betapa lucu wajah Qilin saat ini.
"Ada apa, sayang?" Tanya Justin, tapi Qilin hanya terdiam sembari merasa malu, dan menyembunyikan wajahnya di dada Justin.
"Kenapa kamu malu, sayang?" Tanya Justin, sembari terkekeh.
Entah apa yang terjadi dengan Qilin yang tiba - tiba menjadi malu - malu begitu. "Justin.." Panggil Qilin, dengan suara kecil.
'Bagaimana caranya aku memberi tahu Justin.' Batin Qilin.
"Kenapa, sayang??" Tanya Justin penasaran. Qilin mendongak menatap wajah Justin yang sangat tampan itu, dan tiba tiba dia mencium bibir Justin.
"Hm, nakal ya.. Kamu tidak mau tidur lagi?? " Ujar Justin sembari terkekeh. Tapi kemudian Justin melihat tatapan Qilin yang sangat dalam sembari menggelengkan kepala.
Qilin mendekatkan kembali wajahnya pada Justin dan kembali mengecup bibir Justin, seakan memberikan sinyal.
Justin sedikit terkejut melihat keberanian istri kecilnya itu, dia pun terkekeh karenanya, dan akhirnya membalas ciuman Qilin dengan ******n.
"Ngh.."Lenguh Qilin, Justin yang mendengar itu tahu, Qilin menginginkannya, tapi mungkin Qilin malu mengatakannya.
Akhirnya Justin yang berinisiatif untuk mengajak Qilin, karena dirinya sendiri pun mudah terpancing jika berada di dekat Qilin.
"Bolehkah, sayang?" Tanya Justin, dan Qilin mengangguk.
"Pelan - pelan." Ujar Qilin, dan Justin mengangguk. Justin memulainya sembari menciumi bibir Qilin yang membuatnya candu itu.
Akhirnya pagi yang seharusnya masih dingin, tidak berlaku bagi mereka, karena pagi itu mereka awali dengan hal panas.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..